Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.
Kini, ia kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.
Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.
Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.
Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.
Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:
Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.
Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.
Melainkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak di Atas Sutra
Hisoka menggelengkan kepala. "Saya tidak punya waktu, Nona Indri. Dan Anda juga tidak. Semakin cepat Anda mengambil posisi Anda, semakin cepat Anda bisa menginjak leher Surya Rabinson."
Hisoka mengeluarkan sebuah kartu dari saku dalam tuksedonya. Kartu nama itu bukan dari kertas biasa, melainkan terbuat dari plat emas tipis, berkilau di bawah cahaya rembulan yang samar. Di atasnya terukir nama "Hisoka Adicambra" dan sebuah nomor telepon dengan tulisan elegan. Ia meletakkannya di telapak tangan Indri. Dingin, berat, dan terasa sangat nyata.
"Besok pagi, jika Anda siap menerima tawaran saya, hubungi nomor ini," kata Hisoka, suaranya mutlak, tanpa ruang untuk negosiasi. "Pikirkan baik-baik, Nona Indri. Ini adalah kesempatan Anda untuk kembali ke puncak, bahkan lebih tinggi dari yang pernah Anda bayangkan. Atau Anda bisa terus bermain game kecil Anda dengan Surya Rabinson yang hanya akan membuang waktu Anda."
Hisoka berbalik, meninggalkan Indri sendirian di balkon. Kartu emas di tangannya terasa membakar. Suara musik orkestra dari dalam pesta kini terdengar lebih jelas, seolah mengejek keraguan di benaknya. Menjadi wanita simpanan? Sebuah ciuman panas dan jijik dari Surya terasa lebih baik daripada menyerahkan kebebasannya pada Hisoka. Namun, dengan Hisoka, ia bisa menghancurkan Surya, dan mungkin juga Ardika, dari posisi yang jauh lebih tinggi. Sebuah pion yang kuat di tangan seorang kaisar. Pertanyaannya adalah, bisakah ia tetap menjadi dirinya sendiri di balik topeng yang lebih besar itu?
Indri meremas kartu emas itu di tangannya. Matanya memandang jauh ke bawah, ke gemerlap kota yang tak pernah tidur, tempat para predator berkeliaran. Hisoka Adicambra telah membuka pintu ke level permainan yang sama sekali berbeda. Level di mana ia harus mengorbankan segalanya, termasuk dirinya sendiri, untuk meraih kemenangan. Pilihan itu ada di tangannya, berat dan berbahaya.
Malam telah larut, namun tidur tak kunjung datang. Pikirannya dipenuhi gambaran Hisoka Adicambra, tatapan matanya yang tajam dan tawaran mengerikan itu. Wanita simpanan. Kata itu terasa seperti ludah pahit di lidahnya. Namun, di balik rasa jijik, ada perhitungan dingin yang bekerja. Hisoka adalah pintu gerbang menuju kekuasaan yang lebih besar, kehancuran yang lebih total. Menginjak Ardika dan Surya adalah satu hal, tetapi menghancurkan mereka di bawah bayang-bayang kaisar yang tak terkalahkan adalah kemenangan yang jauh lebih manis. Ia harus mengorbankan sebagian dari dirinya, ya, tetapi apa artinya harga diri jika balas dendam adalah satu-satunya mata uang yang ia punya?
Keesokan harinya, matahari Jakarta yang terik menyengat melalui jendela kaca penthouse. Indri telah membuat keputusan. Ia menghubungi nomor di kartu emas itu. Sebuah suara wanita yang dingin dan efisien menjawab, memberinya alamat di Menteng dan instruksi detail. Tidak ada tawar-menawar, hanya perintah. Sudah kuduga.
Siang harinya, mobil taksi yang Indri tumpangi melaju perlahan menyusuri jalanan Menteng yang rindang. Kediaman Hisoka Adicambra berdiri megah di balik gerbang besi tempa tinggi, dikelilingi tembok batu yang kokoh, seolah menyembunyikan rahasia di baliknya. Tidak ada papan nama, tidak ada indikasi yang jelas siapa pemiliknya, namun aura kekuasaan terpancar kuat dari setiap sudutnya. Suasana dingin, sunyi, dan dijaga ketat. Bahkan dari luar, tempat itu sudah terasa seperti sangkar berlapis emas.
Saat Indri keluar dari taksi, dua penjaga berbadan kekar muncul dari pos keamanan. Mereka tidak tersenyum, tidak berbicara. Hanya tatapan mata tajam yang menyapu Indri dari kepala hingga kaki, menilai, menimbang. Seperti yang diharapkan. Indri tidak gentar. Ia berjalan dengan kepala tegak, gaun sutra berwarna abu-abu gelap memeluk tubuhnya, memancarkan elegansi yang dingin dan tak tersentuh. Ia sudah mengenakan topeng terbaiknya.
Salah satu penjaga membuka gerbang, membiarkan Indri masuk ke halaman yang luas dan terawat rapi. Pohon-pohon tua dan patung-patung marmer mendominasi lanskap, semuanya terasa mahal, namun hampa dari kehangatan. Langkah Indri bergema di atas jalan setapak menuju pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir.
Pintu terbuka secara otomatis, menampakkan seorang kepala pelayan dengan wajah datar. "Nona Indri," sapanya, suaranya monoton. "Tuan Adicambra sudah menunggu Anda."
Indri mengangguk singkat. Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Interiornya lebih mengintimidasi dari eksteriornya. Marmer gelap, perabot antik yang megah, lukisan-lukisan mahal tanpa ekspresi, semuanya memancarkan aura kekuasaan yang absolut. Udara di dalam terasa dingin, seolah AC rumah ini diatur untuk membekukan emosi. Tidak ada kehangatan, tidak ada kelembutan. Ini adalah benteng, bukan rumah.
Kepala pelayan membawanya menyusuri koridor panjang, melewati berbagai ruangan yang tertutup, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu ganda besar di ujung. Ia mengetuk dua kali, lalu membukanya dan memberi isyarat agar Indri masuk.
Hisoka Adicambra berdiri di balik meja kerjanya yang besar, terbuat dari kayu eboni yang mengkilap. Ruangan itu adalah lambang kekuasaan. Rak buku yang menjulang tinggi dipenuhi jilid-jilid tua, peta dunia yang besar tergantung di dinding, dan pemandangan kota Jakarta terhampar luas dari jendela kaca yang menguasai satu sisi ruangan. Hisoka mengenakan kemeja sutra gelap, lengannya digulung sebatas siku, memamerkan pergelangan tangan yang kokoh. Matanya yang tajam mengunci Indri, menyambutnya tanpa senyum.
"Nona Indri," sapa Hisoka, suaranya seperti gema di ruangan yang luas itu. "Saya senang Anda datang."
"Saya selalu menepati janji, Tuan Adicambra," balas Indri, suaranya tenang, tanpa getaran. Ia merasakan tekanan mental yang memancar dari Hisoka, namun ia tak akan menunjukkan kelemahan.
"Bagus," kata Hisoka. Ia memberi isyarat ke arah kursi kulit mewah di depan mejanya. "Duduklah."
Indri menurut, duduk dengan punggung tegak, matanya tak lepas dari Hisoka. Ia bisa merasakan setiap gerakan pria itu penuh dengan perhitungan.
Hisoka meraih sebuah amplop tebal dari tumpukan dokumen di mejanya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang lebar, yang terlihat seperti kontrak hukum, namun tanpa logo perusahaan yang jelas. Ia meletakkannya di antara mereka, di atas permukaan meja yang dingin.
"Ini adalah kesepakatan kita," kata Hisoka, menunjuk dokumen itu dengan jari telunjuknya. "Sederhana, namun mengikat. Anda akan menjadi milik saya. Setiap penampilan publik, setiap interaksi sosial, setiap napas Anda akan diatur oleh saya. Anda akan menjadi bayangan saya, topeng saya, tangan kanan saya. Anda akan mematuhi setiap perintah saya, tanpa pertanyaan, tanpa keraguan. Sebagai imbalannya, Anda akan mendapatkan kehancuran mereka yang telah menyakiti Anda. Dan perlindungan saya. Tidak akan ada yang berani menyentuh Anda, Nona Indri, setelah Anda secara resmi menjadi 'milik' Hisoka Adicambra."
Milik.Kata itu terasa seperti rantai yang mengikatnya. Rasa jijik membanjiri dirinya, namun ia menelannya mentah-mentah. Ini adalah langkah yang harus kulakukan.
"Apakah ada klausul yang tersembunyi?" Indri bertanya, suaranya nyaris berbisik. "Atau ini semudah yang Anda katakan?"
Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.
Terima kasih.