Harya Aditya Mura, seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan di desa ternyata bukan sekedar pemuda desa biasa.
Satu persatu orang datang padanya dan menyuruh nya untuk pulang ke rumah. tetapi bukannya rumah nya di Desa?
Rahasia apa yang selama ini disembunyikan darinya? tidak, rahasia apa yang tidak diketahuinya selama ini.
Kisah perjalanan seorang pemuda Desa yang ingin mencari tahu siapa dirinya setelah ditimpa kemalangan saat masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloud_white, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
"DIA SUDAH BERANI MEMBUAT ADIK KITA MASUK MASUK RUMAH SAKIT!"
"POKOKNYA KITA HARUS MEMOTONG LENGAN YANG IA PAKAI UNTUK MENGHAJAR ADIK KITA"
"AKU SETUJU! AYO KITA CARI SAMPAI DAPAT DAN KITA HAJAR!"
"TAK PEDULI LAH APA STATUS NYA!"
Harya yang hampir tersedak karna teriakan keras orang-orang di luar Kost nya itu segera berjalan cepat menuju balkon.
"Orang-orang ini! kalau aku mati kesedak bagaimana!" geram Harya
Ia melihat ke kiri dan ke kanan tetapi tak melihat siapa pun, ia ingin masuk lagi kedalam kamar nya tetapi manik matanya menangkap seorang pria yang berlari dengan darah di tubuhnya.
'Apa baru saja terjadi tawuran?! di daerah mana!" pikirnya
Tak lama, segerombolan pria dengan badan kekar dan ber-otot datang menghampiri pria itu. ada yang membawa balok kayu, ada yang membawa tongkat Bisbol.
"Ini dia Ba jingan tengik itu, mau lari kemana lagi kau hah?!" ucap pria berbadan kekar yang memimpin gerombolan tersebut
Sedangkan pria yang berbadan kurus dan tak sebesar orang-orang itu, hanya menarik topi Hoodie nya agar menutupi wajahnya membuat Harya penasaran.
"Itu salah adik kalian sendiri! jika saja ia tidak menyinggung diriku maka ia tidak akan seperti sekarang!" ucap pria itu membela dirinya
BHUAK...
"Beraninya kau memukul ku! apa kau pernah memikirkan konsekuensi nya!" teriak pria yang mengenakan Hoodie itu
"Apa kami harus? kau bukan orang penting di Negara ini" bantah pria kekar itu
Perkelahian mereka berlangsung dengan lawan yang bisa dibilang tidak adik karna 1 lawan segerombolan orang itu.
Harya menopang wajahnya di pagar balkon hanya menyaksikan perkelahian tersebut, tak terselip dalam dirinya ingin membantu orang itu.
"Mereka berkelahi malam-malam begini huh, lagi pun siapa pria ber-Hoodie itu...mengapa malah ia yang di kroyok seperti itu" ucap Harya diam termenung
Namun di dalam hatinya ada sebuah dorongan yang menyuruh ia membantu pria itu, ada rasa khawatir dan marah saat Harya melihat pria itu digebuk habis-habisan.
"Aku ingin menolong mu kawan tapi...aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa" keluh Harya
Pria ber-Hoodie yang masih berkelahi itu mulai kewalahan karna lawan yang jumlah nya bisa dibilang banyak, bahkan ia tak menyadari bahwa salah satu orang itu menyelinap kebelakangnya dan menarik topi Hoodienya.
"Sialan! Kenapa kau menarik topi ku!" teriak nya hingga tersungkur karan di tendang
Harya menatap wajah pria itu yang tak asing baginya, seperti ia pernah melihat nya tapi dimana.
"Apakah itu....hmmm...Han...HANFI?!" ucap nya tak percaya
Tanpa pikir panjang, Harya melompat dari balkonnya dan terjun ke perkelahian itu untuk menolong Hanfi...teman sekampusnya yang songong minta ampun.
"MINGGIR MAS!" Teriak Harya
Ia menendang perut orang yang ingin memukul Hanfi dan berakhir dengan ia bergabung dengan perkelahian itu.
Harya yang menyimpan ilmu bela dirinya untuk diri sendiri kini ia pakai untuk melindungi teman Kampusnya, berjam-jam perkelahian itu berlangsung dan dimenangkan pihak Harya dan Hanfi.
"Huh..Hah...akhirnya selesai juga" keluha Harya kewalahan
Hanfi yang berdiri di samping Harya dengan darah di tubuh nya hanya menatap Harya yang sedang menyeka keringatnya.
"Apa yang kau lakukan disini-"
Belum sempat Hanfi selesai berbicara, Harya malah menarik topi Hoodie ya sehingga ia terseret sepanjang Harya berlari.
"Oi apa yang kau lakukan! beraninya kau menyeret anggota keluarga Rayendra!" teriak Hanfi yang kala itu diseret
"Nanti saja permasalah itu! sekarang kita sembunyi dulu!" protes Harya
Ia menyeret Hanfi sambil menaiki tangga dan akhirnya masuk kedalam kamar Kost nya, setelah mereka masuk Harya melempar batu dari balkonnya kearah semak-semak.
Rupannya masih ada gerombolan yang datang saat itu, Harya yang sudah tahu memilih menyeret Hanfi daripada direpotkan lagi.
"KAKAK-KAKAK! APA YANG TERJADI PADA KALIAN!"
"KAWAN TADI AKU MENDENGAR SUARA DARI SEMAK DISANA!"
"MUNGKIN HAMA KECIL ITU SEMBUNYI DISANA, AYO SEGERA!"
Hanfi menyaksikan itu dari balkon Harya dan berbalik memandang Harya yang tengah meminum air mineral.
"Tidak ingin berterima kasih? apa kau hanya akan memandang ku saja?" tanya Harya duduk di depan meja kecil nya tempat ia meletakkan nasi bungkus.
Hanfi hanya membuang muka nya dan berkata, "Iya"
"Mending kau obati luka mu itu, bisa infeksi nantinya" saran Harya
"Tangan kanan ku patah, aku tak terbiasa menggunakan tangan kiri" jawab Hanfi duduk didepan Harya
Harya akhirnya membantu Hanfi mengobati luka-lukanya dan mengoleskan anti septik yang ia bawa dari Desa.
"Terima kasih" ucap Hanfi dengan suara kecil
"Aku mendengar nya, sama-sama. apa kau lapar?" tanya Harya pada Hanfi
Hanfi mengangguk tanpa bicara sepatah kata pun, Harya memberikan satu bungkus nasinya dan berdiri untuk membuat kopi hitam.
"Makanan apa yang dibungkus kertas buku ini? apa ini bisa dimakan?" tanya Hanfi saat ia membuka nasi bungkus itu
"Itu bukan kertas buku mas, itu namanya kertas nasi dan tentu saja itu bisa dimakan nasinya tapi" jawab Harya yang tiba dengan 2 gelas kopi hitam di tangannya
"Lalu apa yang berbentuk kotak ini? mengapa ada garis-garis potongan diatasnya?" tanya Hanfi menunjuk 2 buah tempe goreng
"Itu namanya tempe, rasanya sangat enak dan gurih coba saja" jawab Harya yang tengah membuka nasi bungkus miliknya
"Lalu kenapa ikan ini sangat gosong? koki mana yang memasak nya...sepertinya harus dipecat" celoteh Hanfi tak berhenti-henti.
"Tuan muda Hanfi, mending dimakan saja daripada banyak tanya" saran Harya yang geram
Hanfi menggengam sendok di tangan kirinya dan menyuap nasi itu kedalam mulutnya, tampak rasa puas terlihat diwajahnya bahkan ia makan sangat lahap walau ia makan berhamburan.
'Sedih aku lihat anak Konglomerat makan sampai berhamburan gini haha, rada lucu' tawa Harya dalam Hatinya dan ikut makan menggunakan tangan.
Dua bungkus nasi itu habis dan kini berada di dalam kantung sampah, Harya mendorong gelas berisi kopi hitam pada Hanfi yang tengah membersihkan mulutnya.
"Apa ini?" tanya nya pada Harya
"Coba saja" Harya langsung meneguk kopi hitam itu tanpa berhenti karna rasanya sangat enak
Hanfi menatap gelas itu, 'Jenis teh baru? terbuat dari daun teh yang mana ini?'
PRFFTT...
Kopi yang diminum Hanfi kini tersiram di wajah Harya, Harya hanya pasrah pada Yang Maha Kuasa.
"Teh macam apa ini! kenapa rasanya pahit begini dan tidak nyaman dimulut!" protes Hanfi dan mendorong keras gelas kopinya
'Gusti-Gusti....cobaan apa lagi ini' sedih Harya yang mengelap wajahnya yang tersembur
"Ini namanya kopi hitam! bukan teh! apa kau tidak bisa membedakan mana yang kopi mana yang teh?!" geram Harya
"Coffee? mengapa warna nya terlihat gelap begini? sangat berbeda dengan Coffee Itali milik Dad" ujar Hanfi dengan raut wajah kesal
Diri Harya yang paling dalam menangis sekencang-kencangnya.
"Kopi hitam memang berbeda dengan Coffee Itali orang tua mu, tapi kopi ini sangat enak dan menyegarkan" ucap Harya menjelaskan
"Beri saja aku air mineral, minuman milikmu ada-ada saja dasar anak Kampung"
Harya menyerahkan segelas air mineral dan langsung diteguk habis oleh Hanfi yang kehausan.
"Oh ya, kenapa kau dihajar sama orang-orang itu Hanfi?" tanya Harya
...----------------...
udah baca dari awal endingya kaya taaaai anjiiing..
Emang Noveltoon anjiiiing