NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First kiss

Revan menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Suara air sudah berhenti.

Tidak lama kemudian, Serena keluar dengan rambut masih setengah basah, memakai kaus longgar dan celana pendek. Wajahnya masih merah, mungkin karena uap air panas.

Dia berhenti dua langkah dari Revan.

"Kak Re... belum pulang?"

Revan berdiri. Dia tidak menjawab. Matanya menyapu wajah Serena dari atas sampai bawah, pelan, seolah ingin memastikan Serena baik-baik saja.

"Gue berubah pikiran. Gue nggak jadi pulang malam ini."

Serena menunduk. "Tapi Kakak bilang mau pulang..."

"Gue nggak bisa ninggalin lo dalam keadaan kayak gini, Na."

Revan maju satu langkah, mengangkat dagu Serena pakai jari telunjuknya.

"Lo ketakutan. Dan itu salah gue."

Serena tidak berani menatap langsung. Dadanya berdebar kencang.

"Kamu nggak salah, Kak. Aku yang... yang bikin kamu marah."

Revan menghela napas pelan. Ibu jarinya mengusap pipi Serena lembut.

"Gue nggak mau lo takut sama gue, Na. Gue mau lo merasa aman cuma sama gue."

Serena mengangguk kecil. Suaranya pelan.

"Aku... aku merasa aman kok, Kak. Cuma takut kehilangan Kakak."

Kalimat itu membuat rahang Revan mengeras, tapi bukan karena marah.

Dia menarik Serena pelan ke dalam pelukannya. Kali ini tidak kasar, tidak mengekang.

Hanya erat, hangat, dan hati-hati.

"Gue nggak akan ninggalin lo," gumamnya di atas kepala Serena.

"Selama lo nggak dorong gue pergi, gue nggak akan ke mana-mana."

Serena memejamkan mata. Pelukan itu membuat semua ketegangan di tubuhnya perlahan luruh.

Dia mengangkat tangan, ragu-ragu, lalu membalas pelukan itu. Tipis.

Revan merasakan itu. Dia mundur sedikit, menatap wajah Serena.

Matanya turun ke bibir Serena sebentar, lalu naik lagi ke matanya.

"Gue boleh cium bibir lo, Na?"

Suaranya pelan, rendah, tapi ada rasa minta izin yang tulus.

Serena terdiam satu detik. Jantungnya seperti mau copot.

Tapi dia mengangguk pelan. "Iya, Kak..."

Revan tidak terburu-buru.

Tubuhnya merendah, mendekat perlahan, memberi Serena waktu untuk mundur jika mau.

Tapi Serena tidak mundur.

Bibirnya menyentuh bibir Serena dengan lembut.

Ciuman itu tidak ganas, tidak menuntut. Hanya pelan, hangat, dan penuh hati-hati, seolah Revan takut jika dia terlalu keras, Serena akan pecah.

Serena menutup mata. Tangannya mencengkeram ujung kaus Revan kecil.

Ciuman itu tidak lama, tapi cukup membuat napas keduanya jadi tidak teratur.

Saat Revan mundur, dahinya menempel di dahi Serena.

"Gue janji, Na. Gue nggak akan nyakitin lo. Nggak pernah."

Serena membuka mata. Ada air mata tipis di sudut matanya, tapi dia tersenyum kecil.

"Aku percaya, Kak."

Revan mengusap air mata itu pakai ibu jarinya.

"Tidur, ya. Gue jagain lo malam ini."

Dia menuntun Serena ke ranjang, menyelimutinya, lalu berbaring di sampingnya tanpa menyalakan lampu.

Di luar hujan masih turun pelan.

Di dalam, hanya ada napas Serena yang perlahan menjadi tenang, dan tangan Revan yang menggenggam tangannya erat.

07.30.

Serena bangun karena wangi mentega dan kopi yang nyangkut di udara.

Matanya masih berat, tapi bibirnya tanpa sadar melengkung kecil waktu ingat apa yang terjadi malam kemarin.

Revan tidak ada di sampingnya.

Tapi selimutnya masih hangat, dan di meja nakas ada segelas air putih dan obat sakit kepala yang kemarin dia bilang sedikit pusing.

Serena duduk, merapikan rambutnya yang berantakan.

"Pagi, Na."

Suara itu datang dari dapur.

Revan keluar memakai kaus abu-abu polos dan celana rumah, rambutnya masih acak-acakan tapi matanya jernih. Di tangannya ada nampan kecil.

Dia meletakkannya pelan di atas pangkuan Serena.

Di atasnya ada roti bakar, telur mata sapi setengah matang, dan susu hangat.

"Kata lo kemarin lo suka sarapan yang gampang. Jadi gue bikin ini."

Serena menatapnya kaget.

"Kamu... masak ini, Kak?"

Revan duduk di tepi ranjang, nyender ke kepala ranjang.

"Gue bisa masak. Cuma males aja biasanya. Tapi kalau buat lo, gue mau."

Dia menyodorkan garpu ke tangan Serena.

"Makan. Dingin nggak enak."

Serena menggigit roti bakarnya pelan. Rasanya sederhana, tapi entah kenapa rasanya beda.

"Aku kira Kakak bakal pulang ke rumah tadi malam."

Revan tertawa kecil, tidak ada nada mengejek.

"Gue bilang kan, gue nggak ke mana-mana kalau lo nggak dorong gue pergi. Gue cuma pulang ganti baju doang tadi subuh."

Serena menunduk. "Makasih, Kak. Buat semuanya."

Revan mengulurkan tangan, menyingkirkan helaian rambut yang jatuh ke pipi Serena.

"Ngucap makasihnya nggak usah ke gue."

Jemarinya berhenti di dagu Serena, mengangkatnya pelan.

"Gue cuma mau lo senyum waktu bangun pagi. Itu aja."

Serena menatapnya lama. Di mata Revan tidak ada marah, tidak ada cemburu.

Hanya ada sesuatu yang perlahan membuat dadanya hangat.

Revan tiba-tiba mendekat, mengecup kening Serena cepat.

"Habisin sarapannya. Nanti gue anter kuliah. Dan denger ya, Na... gue janji hari ini gue nggak akan galak."

Serena tersenyum kecil, akhirnya mau makan tanpa rasa takut.

"Iya, Kak."

Revan bersandar lagi, menatap Serena makan dengan tenang.

Di luar matahari sudah naik, dan untuk pertama kalinya dari sejak lama, apartemen Serena kembali terasa hangat.

Kampus Universitas Mandala, 09.10

Revan menepati janjinya. Dia nganter Serena sampai di depan gedung F, turun dari mobil, membukakan pintu, lalu mencium kening Serena sebentar sebelum kembali ke mobil.

"Nanti gue jemput jam satu. Jangan telat keluar, Na."

Serena cuma bisa mengangguk, pipinya masih panas.

Begitu mobil hitam itu pergi, beberapa temen seangkatannya yang telah menunggu di depan gedung langsung heboh.

"Serenaaa!"

Alya, temen sebangku Serena, langsung menarik tangannya begitu Serena masuk.

"Lo dari mana aja sih dua hari ini? Terus... lo kok beda?"

Serena mengedip. "Beda gimana?"

"Nah itu!" Alya ngeliatin Serena dari atas sampai bawah.

"Wajah lo lebih fresh, nggak pucet lagi. Rambut lo juga rapi. Terus lo tadi dianter mobil hitam kan? Itu siapa, Serena? Pacar lo?"

Serena langsung diem. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

Mengaku? Tidak mungkin. Satu kampus bisa heboh jika tahu dia berpacaran dengan seorang pengusaha.

Bohong? Dia juga tidak pandai berbohong.

Untungnya Nia, temen yang lain, menjawab duluan.

"Ya kali pacar. Itu pasti kakaknya Serena. Kan katanya Kakaknya over protective banget."

Alya mengangguk-angguk tapi matanya masih curiga.

"Tapi tatapan cowok tadi ke lo beda, Ren. Kayak... nggak bisa lepas."

Serena pura-pura tidak mendengar. Dia duduk di bangku, mengambil buku, pura-pura fokus.

"Aku cuma dianter doang. Udah, jangan heboh."

Tapi Alya belum selesai.

"Terus kenapa lo senyum-senyum sendiri dari tadi? Jujur deh, ada apa?"

Serena cuma mengangkat bahu pelan.

"Gak ada apa-apa."

Padahal di kepalanya masih teringat ciuman pelan Revan pagi tadi di keningnya.

Dan kata-kata "Gue janji nggak akan nyakitin lo, Na."

Dari kejauhan, Jake memperhatikan adegan itu. Dia memperhatikan Serena yang terlihat lebih tenang, lebih hidup.

Tapi dia juga melihat bekas merah tipis di leher Serena yang tertutup kerah kaus.

Mata Jake menggelap sesaat, tapi dia tidak bicara apapun.

Kelas dimulai.

Serena berusaha fokus, tapi pikirannya tidak jauh dari Revan.

Dan tanpa dia sadar, setiap kali dia melirik ke ponselnya, tidak ada notifikasi dari Jake lagi.

Semuanya udah bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!