"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
Sebuah undangan tiba di rumah keluarga Gultom.
Acara silaturahmi Persit Kartika Chandra Kirana.
Levia membaca undangan itu cukup lama. Dalam ingatan pemilik tubuh asli, undangan seperti ini hampir selalu berakhir di tempat sampah.
Levia selalu menolak datang. Alasannya bermacam-macam. Kadang sakit kepala. Kadang sedang sibuk. Kadang malas. Padahal alasan sebenarnya hanya satu.
Ia minder.
Dengan tubuh seberat lebih dari seratus kilogram, Levia selalu merasa menjadi pusat perhatian.
Belum lagi para istri prajurit sering berbincang mengenai penugasan, satuan, latihan, hingga kehidupan militer. Sedangkan dirinya...
Hampir tidak tahu apa pun.
Vivian menghela napas pelan. "Kalau aku mau menjalani hidup sebagai Levia... aku harus mengenal dunianya."
Malam itu ia membuka laptop. Ia mulai membaca tentang sejarah TNI, struktur kepangkatan, berbagai matra, hingga tugas Satgas Perdamaian PBB.
Sesekali ia mencatat hal-hal penting. Bahkan ia menonton beberapa dokumenter tentang prajurit Indonesia yang bertugas di luar negeri.
"Jadi selama ini... pengorbanan mereka sebesar ini."
Ia semakin memahami mengapa menjadi anggota Satgas Perdamaian merupakan sebuah kebanggaan.
***
Hari pertemuan akhirnya tiba.
Saat akan memasuki aula, Levia menarik napas panjang. Lalu menenangkan dirinya sendiri.
"Santai. Mereka bukan juri lomba.Mereka cuma manusia biasa."
Lalu dengan langkah mantap Levia memasuki aula, suasana mendadak berubah.
Beberapa istri prajurit saling berpandangan.
"Itu... Levia?"
"Dia datang?"
"Aku gak salah lihat?"
"Biasanya dia gak pernah hadir."
Pandangan mereka kemudian tertuju pada pakaian yang dikenakan Levia.
Alih-alih mengenakan busana yang terlalu longgar seperti biasanya, kali ini Levia memilih blus putih berpotongan sederhana dengan aksen lipit di bagian depan, dipadukan rok A-line biru tua sepanjang betis. Potongannya tetap sopan sesuai suasana pertemuan Persit, tetapi berhasil membuat tubuhnya terlihat jauh lebih proporsional.
Ia juga mengenakan sepatu hak rendah berwarna nude. Rambutnya disanggul sederhana, sementara riasannya begitu tipis hingga hanya memberi kesan segar.
Tubuh Levia memang belum berubah. Namun cara berpakaiannya membuat banyak orang hampir tidak mengenalinya.
"Levia... kamu cantik banget hari ini."
Levia menoleh sambil tersenyum. "Terima kasih."
Seorang istri prajurit lain ikut mendekat. "Aku suka bajumu. Belinya di butik mana? Potongannya bagus, kelihatan nyaman dipakai."
Levia tersenyum kecil. "Enggak beli."
"Hah?"
"Aku yang mendesain. Terus dijahit sama penjahit langgananku."
Beberapa orang langsung saling berpandangan.
"Kamu yang desain?"
"Iya."
"Wah... pantesan beda."
"Bagus, lho."
"Kalau kamu buka butik, aku mau pesan."
Levia tertawa kecil. "Terima kasih. Kebetulan memang dunia desain itu bidang yang paling aku suka."
Percakapan itu langsung mencairkan suasana.
Beberapa orang yang tadinya hanya memandang dari jauh kini ikut mendekat untuk melihat detail pakaiannya.
"Halo, Levia."
Levia tersenyum ramah. "Halo."
"Akhirnya datang juga."
"Iya."
"Kirain masih males kumpul."
Levia tersenyum kecil. "Dulu iya."
"Sekarang?"
"Sekarang aku sadar." Ia menatap beberapa istri prajurit yang sedang berbincang sambil tertawa. "Aku terlalu banyak melewatkan kesempatan untuk mengenal orang-orang hebat."
Jawaban itu membuat wanita tersebut tersenyum.
Percakapan demi percakapan mulai mengalir.
Ketika salah satu istri bercerita, Levia ikut menyimak.
"Suamiku lagi ikut latihan prapenugasan," ujar salah seorang istri prajurit. "Katanya capek banget. Habis itu masih ada pemeriksaan kesehatan lagi."
"Oh..." Levia mengangguk. "Jadi memang semua personel harus dipastikan benar-benar siap sebelum berangkat?"
"Iya. Fisik, kesehatan, semuanya diperiksa lagi."
"Pantas saja prosesnya panjang."
Wanita itu tersenyum. "Aku kaget, kamu sekarang ngerti juga soal beginian."
Levia terkekeh pelan. "Masih belajar, kok."
Tak lama kemudian topik berganti ke Satgas Perdamaian PBB.
Levia ikut berkata,
"Aku baru tahu ternyata prajurit yang berangkat harus melewati seleksi fisik, psikologi, kemampuan bahasa, sampai latihan bersama. Pantas saja itu menjadi kebanggaan."
Beberapa istri langsung mengangguk antusias.
"Iya! Betul."
"Akhirnya ada juga yang ngerti."
"Selama ini kalau ngobrol begitu, kamu langsung pergi."
Levia tersenyum malu.
"Dulu aku memang kurang mau belajar."
Suasana yang semula canggung perlahan berubah hangat.
Di sudut ruangan, beberapa orang mulai berbisik.
"Levia berubah banget."
"Iya."
"Dia sekarang enak diajak ngobrol."
"Gak nyangka."
Tanpa disadari Levia...
Kabar perubahan dirinya mulai menyebar dari satu istri prajurit ke istri prajurit lainnya.
***
Acara akhirnya selesai.
Levia berpamitan dengan beberapa anggota Persit yang baru dikenalnya.
"Levia, minggu depan datang lagi, ya."
"Iya."
"Eh, nanti kalau jadi buka butik jangan lupa kabarin."
Levia tertawa kecil. "Pasti."
Mereka berjalan bersama menuju area parkir sambil mengobrol santai.
Di sisi lain gedung...
Vandra baru saja keluar dari ruang briefing bersama beberapa rekan Satgas.
"Kita lanjut besok pagi," ujar salah seorang perwira.
Vandra mengangguk.
Baru beberapa langkah, suara tawa para wanita membuat mereka spontan menoleh.
"Eh, itu bukannya istrimu, Van?" tanya Dimas.
Vandra mengikuti arah pandang rekannya. Langkahnya langsung terhenti.
Di kejauhan, Levia berjalan bersama beberapa anggota Persit. Wanita itu mengobrol santai sambil sesekali tertawa kecil. Beberapa wanita di sekelilingnya tampak ikut tersenyum, bahkan salah seorang meraih lengan Levia dengan akrab.
Tak ada wajah canggung. Tak ada sikap kikuk. Seolah Levia sudah lama menjadi bagian dari kelompok itu.
"Itu... Levia?" gumam Rian tak percaya.
"Bukannya dia biasanya langsung pulang?"
"Iya. Dulu pernah ikut acara juga, tapi gak sampai lima belas menit udah ilang."
Dimas mengernyit. "Sekarang malah kelihatan akrab."
Mereka terus menatap ke arah Levia.
Salah seorang istri prajurit melambaikan tangan. "Levia, hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa datang lagi bulan depan!"
Levia membalas lambaian itu sambil tersenyum. "Pasti."
Dimas sampai melongo. "Van... mereka manggil istrimu buat datang lagi."
Vandra tidak menjawab. Matanya terus mengikuti sosok Levia. Ia ingat betul. Dulu setiap ada acara seperti ini, Levia selalu pulang lebih dulu. Bahkan sering kali tidak datang sama sekali.
Kalaupun hadir, ia hanya duduk sebentar, lalu pergi tanpa berbincang dengan siapa pun.
Sekarang... wanita itu justru berjalan paling belakang sambil tertawa bersama yang lain.
Entah kenapa... pemandangan itu terasa begitu asing.
"Dia benar-benar berubah?"
***
Malam itu.
Ponsel Levia yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama di layar membuatnya sedikit terdiam.
Ibu Ratih.
Vivian mengingat-ingat sejenak.
Ratih...
Ibu Vandra. Wanita yang sejak awal memperlakukannya seperti anak sendiri.
Tanpa ragu Levia menggeser ikon hijau. "Halo, Bu."
Beberapa detik tak ada jawaban. Barulah terdengar suara Ratih dari seberang sana.
"Via..." Suaranya pelan. Bahkan terdengar sedikit serak. "Ibu..."
Ratih berhenti sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "...apa kamu marah sama Ibu?"
Levia mengernyit. "Marah?"
"Ibu tahu... Vandra sudah keterlaluan sama kamu." Ratih menarik napas panjang. "Sebagai ibunya, Ibu minta maaf."
Levia terdiam. Dari nada bicaranya, ia menangkap sesuatu yang ganjil. Suara Ratih terdengar lemah. Seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Bu..." Levia tanpa sadar berdiri. "Ibu lagi sakit?"
Di seberang sana terdengar tawa kecil. "Gak apa-apa. Cuma kecapekan."
Namun sebagai orang yang pernah beberapa kali mendampingi rekan kerja sakit saat masih menjadi Vivian, ia tahu. Suara itu bukan suara orang yang hanya kelelahan. Ratih sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ibu sebenarnya telepon karena..." Ratih kembali terdiam beberapa saat. "Soal perceraian itu..."
Kalimatnya menggantung.
Levia menggenggam ponsel sedikit lebih erat.
-
...✨"Perubahan sejati tidak lahir ketika kita berhasil meyakinkan seseorang, melainkan ketika orang lain mulai melihatnya tanpa perlu diberi penjelasan."...
..."Masa lalu mungkin membentuk luka, tetapi masa depan selalu memberi kesempatan untuk menjadi pribadi yang berbeda."...
..."Kadang yang paling berat bukan mengubah hidup, melainkan mengubah cara orang memandang kita."...
..."Tak semua permintaan maaf datang terlambat. Ada yang hadir tepat saat hati mulai belajar memaafkan."✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄