NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035: Sidik Jari Ditemukan, DNA Cocok

Hasil VMD datang saat semua orang hampir kehabisan sabar.

Pukul sembilan lewat empat puluh pagi, Adira menerima panggilan dari laboratorium Polda Jatim. Ia tidak menyalakan speaker. Ia hanya mendengarkan, menulis tiga baris, lalu mengangkat wajah.

Bambang yang sejak tadi mondar-mandir langsung berhenti.

"Bu?"

Adira menutup telepon.

"Mereka berhasil memulihkan jejak. Tidak sempurna. Tapi cukup."

Arka berdiri dari kursi.

"Berapa titik?"

"Sembilan titik karakteristik pada sidik jari parsial. Ada juga residu biologis mikro. DNA bisa dibaca."

Ruangan hotel mendadak terlalu hening.

Bambang menatap Arka. "Tiga puluh lima persen itu ternyata suka kejutan."

Arka tidak tersenyum dulu. "Cocok dengan siapa?"

Adira melihat catatan lagi, seolah memastikan ia tidak salah membaca.

"Mawar Anggraini."

Bambang mengucapkan satu kata pendek, lalu menarik napas panjang. "Akhirnya."

Arka menutup mata sebentar.

Leganya belum penuh.

Lebih seperti satu pintu berat terbuka setelah didorong berhari-hari.

Sistem muncul.

[Hasil Laboratorium Diterima]

[VMD: Sidik Jari Parsial Terpulihkan]

[Titik Karakteristik: 9]

[DNA Mikro: Cocok Dengan Mawar Anggraini]

[Status Bukti: Menghubungkan Subjek Dengan Area Kritis Pengait]

[Progres Misi: 63%]

Arka membaca kalimat terakhir dengan hati-hati.

Menghubungkan subjek dengan area kritis.

Itu penting.

Bukan sekadar Mawar pernah menyentuh pengait di luar. Jejaknya berada di alur dalam, area yang sebelumnya ditemukan tidak wajar dan terlindung dari kontak biasa.

Itu membuat alasan "tidak sengaja tersentuh" menjadi jauh lebih sempit.

Adira membuka laptop. Laporan awal digital masuk lima menit kemudian. Ada foto hasil deposisi logam. Jejak sidik terlihat seperti bayangan perak tipis di bagian cekung pengait.

Tidak cantik.

Tidak utuh.

Tetapi cukup untuk membuat orang yang membayar akun gosip mulai kehilangan tidur.

Bambang membaca bagian kesimpulan dengan suara keras.

"Jejak laten parsial pada alur bagian dalam pengunci memiliki sembilan titik kesesuaian dengan pembanding Mawar Anggraini. Sampel swab mikro dari area sama menunjukkan profil DNA campuran rendah dengan alel dominan konsisten dengan Mawar Anggraini."

Ia berhenti dan menatap Arka.

"Dok, saya menyerah. Dari alur dua milimeter bisa keluar begini."

"Jangan menyerah. Catat saja."

"Saya catat sambil hormat."

Adira sudah membuka map berkas.

"Kita susun dasar permohonan penangkapan. Mawar sekarang terkait dengan empat jalur: dana ke Raka, pengarahan saksi Lilis, pemberian alat menurut BAP Raka, dan jejak fisik pada pengait."

Arka menambahkan, "Jangan lupa serangan media. Itu jalur pendukung untuk menunjukkan upaya memengaruhi proses."

"Benar. Tapi dasar penangkapan tetap bukti pidana."

Bambang menunjuk papan. "Ratna?"

"Ratna masuk setelah Mawar," jawab Adira. "Untuk Ratna, kita punya BAP Raka, runtuhnya alibi, dan indikasi komunikasi. Tapi Mawar harus diamankan dulu. Dia pusat koordinasi."

Kevin masuk lewat video call dari Surabaya.

"Saya juga punya kabar. Ponsel cadangan Raka sebagian berhasil dipulihkan. Ada chat terhapus dari nomor prabayar. Belum isi penuh, tapi metadata cocok dengan waktu instruksi. Nomor itu pernah terhubung ke Wi-Fi kantor manajemen Mawar dua hari sebelum kejadian."

Adira menulis lagi. "Masukkan dalam lampiran pendukung."

"Siap."

Arka menatap papan. Potongan-potongan yang kemarin masih lepas sekarang saling mengunci.

Pengait yang dikikir.

Serbuk logam di meja kontrol.

Raka sebagai pelaksana.

Uang Rp 75.000.000.

Gambar struktur pengait.

Lilis yang dibeli Rp 3.000.000.

Sidik jari dan DNA Mawar pada alur kritis.

Setiap bukti sendirian masih bisa diserang.

Bersama-sama, mereka mulai membentuk dinding.

Adira menelepon Waskito Harjono pukul sepuluh lewat tiga belas.

"Siap, Pak. Hasil VMD keluar. Sidik parsial sembilan titik dan DNA mikro cocok Mawar Anggraini. Kami ajukan Surat Perintah Penangkapan dan penggeledahan kamar hotelnya."

Suara Waskito terdengar dari speaker karena Adira menyalakannya setelah meminta izin.

"Berkas dasarnya lengkap?"

"Dana, BAP Raka, barang bukti pengait, hasil lab, pengarahan saksi, dan data digital awal."

"Koordinasi dengan Polda dan Polres Batu. Jangan beri ruang dia hilang sebelum surat turun."

"Siap."

"Dokter Arka ada?"

Arka mendekat. "Siap, Pak."

"Temuan Anda di alur pengait itu sekarang jadi bukti. Ingat baik-baik: setelah ini, pihak lawan tidak akan menyerang logam. Mereka akan menyerang orang yang menemukan logam."

"Saya paham, Pak."

"Bagus. Tetap di prosedur. Biar mereka kehabisan tempat menggigit."

Telepon ditutup.

Bambang menepuk meja pelan. "Saya suka kalau Pak Waskito mulai pakai kalimat begitu. Artinya kita boleh jalan."

Adira menatapnya. "Kita boleh jalan sejak ada dasar hukum. Bukan sejak kalimatnya keren."

"Siap, Bu. Dasar hukum yang keren."

Arka akhirnya tersenyum tipis.

Menjelang siang, surat penangkapan disiapkan. Permohonan penggeledahan kamar Mawar juga diproses. Polda memberi dukungan. Polres Batu menyediakan personel tambahan untuk menjaga hotel dan menutup akses keluar.

Adira memeriksa ulang daftar.

"Mawar menginap di hotel produksi. Lantai empat. Kamar 407. Ratna di kamar 411. Kita ambil Mawar dulu. Jangan beri Ratna waktu menghapus apa pun."

"Kalau Ratna live lagi?" tanya Bambang.

Adira menatapnya. "Kalau dia ingin panggung, kita bawa surat ke panggung itu."

Arka melihat pesan masuk dari Dimas.

Dimas: Dok, media masih goreng nama Anda. Tapi komentar mulai kebalik setelah ada kabar polisi pegang bukti baru. Jangan baca terlalu banyak.

Arka membalas: Saya baca bukti saja.

Dimas: Itu sebabnya netizen suka Anda. Terlalu dingin.

Arka memasukkan ponsel ke saku.

Sistem muncul lagi.

[Aturan Inti Terpenuhi]

[Informasi Sistem Telah Dikonversi Menjadi Bukti Prosedural]

[Mode Pindai Mendalam: Validasi Lapangan Berhasil]

[Target Berikutnya: Penangkapan Mawar Anggraini]

Kalimat itu terasa seperti penanda.

Sistem bisa memberi cahaya, tetapi tidak bisa masuk berkas.

Yang masuk berkas adalah foto, swab, VMD, DNA, tanda tangan, dan orang yang berani menunggu hasil saat semua orang berteriak di luar.

Sebelum surat itu turun, Adira meminta semua orang membaca ulang berkas singkat tanpa bicara. Sepuluh menit pertama hanya diisi suara halaman dibalik dan bunyi keyboard Kevin dari panggilan video.

Arka menemukan satu bagian yang perlu dirapikan: kalimat tentang DNA tidak boleh berdiri sendiri tanpa menyebut kualitas sampel rendah. Jika tidak, pengacara bisa menyerang seolah polisi menyembunyikan kelemahan bukti.

Adira mengangguk dan mengubah redaksi.

"Tulis apa adanya," katanya. "Bukti yang kuat tidak perlu dibuat tampak lebih kuat."

Bambang menatap papan. "Lucu ya. Mereka memelintir fakta di luar sana. Kita malah sibuk memastikan satu kata tidak berlebihan."

"Itu bedanya penyidikan dan panggung," jawab Arka.

Pukul enam sore, surat turun.

Adira membaca satu kali. Bambang membaca dua kali. Arka tidak perlu membaca lama. Satu kalimat cukup.

Perintah penangkapan terhadap Mawar Anggraini terkait dugaan keterlibatan dalam perencanaan dan pelaksanaan tindak pidana yang menyebabkan kematian Kirana Ayu Prameswari.

Bambang memasang rompi.

"Malam ini?"

Adira memasukkan surat ke map hitam.

"Malam ini."

Di luar jendela hotel, lampu kota Batu mulai menyala.

Di lantai empat hotel produksi, Mawar mungkin masih berpikir opini publik bisa dibeli sampai pagi.

Ia belum tahu bahwa di alur pengait yang lebih sempit dari ujung kuku, tubuhnya sendiri sudah memberi kesaksian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!