NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 #Kehangatan yang semu

Terik matahari pukul satu siang menyengat pelataran Taman Kanak-Kanak Merpati. Di dekat gerbang sekolah, Bening berdiri menepi di bawah rindangnya pohon mangga. Tak jauh darinya, sedan hitam milik Gibran sudah terparkir rapi, dan sang pemilik mobil berdiri bersedekap dengan wajah datar yang memancarkan aura dominan.

​Gibran melangkah mendekati Bening, menatap mantan istrinya dengan pandangan dingin.

​"Kamu tidak perlu menjemput Kai lagi," potong Gibran langsung tanpa basa-basi. "Mulai sekarang, ini menjadi tugasku."

​Bening mendongak, menatap Gibran dengan raut wajah yang tegas namun menyimpan rasa perih. "Aku akan selalu menjemputnya karena dia putraku, Mas. Aku berhak berada di sini."

​Gibran menyipitkan matanya, merapatkan bibirnya sejenak sebelum bersuara dengan nada rendah yang dipenuhi rasa sesak. "Tapi kamu sudah menghabiskan waktu enam tahun penuh bersamanya, Bening! Sementara aku? Aku bahkan tidak tahu kapan pertama kali dia belajar berbicara... aku tidak ada di sana saat pertama kali dia belajar melangkah!"

​Gumpalan penyesalan dan rasa kehilangan yang terpendam di dada Gibran meletup seketika. Bening membeku, tenggorokannya terasa tersumbat mendengar rintihan terselubung dari mantan suaminya itu.

​Namun, sebelum ketegangan itu semakin memuncak, pintu-pintu kelas terbuka. Suara tawa anak-anak riuh memenuhi koridor.

​"Mama...! Papa...!"

​Sosok kecil Kaivandra berlari-lari kecil ke arah mereka dengan tas ransel di punggungnya. Bocah itu langsung menubruk dan memeluk erat pinggang Bening, lalu dengan riang berbalik memeluk kaki panjang ayahnya.

​Aura tegang di antara dua orang dewasa itu luntur seketika. Gibran berlutut, mengusap lembut kepala putranya. "Wah, Jagoan Papa sudah keluar. Bagaimana sekolahnya hari ini? Menyenangkan?"

​"Iya, Papa! Sangat menyenangkan!" seru Kai dengan mata berbinar-binar. "Tadi Kai belajar melipat kertas membuat katak hijau untuk hiasan di jendela kelas! Tapi... yang bikin Kai paling senang karena ada Mama dan Papa yang jemput Kai barengan!"

​Gibran tersenyum tipis, berdiri kembali sembari merangkul pundak kecil Kai. "Ayo, kita pulang."

​Bening hanya mematung di tempatnya. Dia datang ke sekolah ini murni hanya untuk memastikan keselamatan dan melihat senyum putra kecilnya. Dia sadar betul bahwa siang ini Kai harus kembali ikut ke rumah besar Aditama.

​Namun, baru saja Gibran hendak melangkah, jemari mungil Kai ditarik kuat untuk menggenggam tangan Bening.

​"Mama... ayo naik mobil sama Kai!" bujuk Kai antusias. "Mobil Papa dingin sekali, sama seperti mobilnya Om Arfan!"

​Deg.

​Pendengaran Gibran seketika terasa panas. Nama dokter muda itu kembali meluncur santai dari bibir anaknya. Kebencian dan cemburu yang menggerogoti dadanya membuat pikiran Gibran berkelana liar. 'Jadi... Bening dan Kai sudah seberapa sering bepergian menggunakan mobil pria itu? Seberapa dekat dokter itu masuk ke dalam kehidupan mereka?'

​Meski kepalanya mendidih, Gibran berjuang keras mengontrol ekspresi wajahnya di depan Kai.

​Bening yang menyadari perubahan aura Gibran buru-buru mengelak. "Sayang... Mama harus pulang ke rumah, ada pekerjaan kue yang..."

​"Masuklah," potong Gibran cepat dengan suara berat tak terbantahkan. "Aku yang akan mengantarmu pulang nanti."

​Kaivandra bersorak gembira. Bocah itu langsung memanjat masuk ke dalam jok belakang mobil yang luas. Bening yang merasa tidak punya pilihan akhirnya hendak melangkah masuk menyusul Kai ke kursi belakang.

​Namun, baru saja tangannya memegang gagang pintu belakang, suara sinis Gibran menahannya dari samping.

​"Kamu mau menjadikanku supirmu, begitu?" sindir Gibran dingin dengan satu alis terangkat.

​Bening menelan salivanya canggung. Dengan hembusan napas pasrah, ia menutup kembali pintu belakang dan berpindah menempati kursi penumpang di depan, tepat di samping kemudi Gibran.

​Mobil sedan mewah itu membelah jalanan kota yang cukup padat. Suasana di dalam kabin terasa teramat hening dan canggung. Hanya suara desis AC dan dengungan mesin halus yang terdengar. Bening membuang pandangannya keluar jendela, sementara Gibran fokus menatap lurus ke jalan raya dengan jemari meremas kemudi cukup kuat.

​"Papa... Mama... Kai lapar sekali," celetuk Kai memecah keheningan dari jok belakang sambil menepuk perut kecilnya.

​Bening refleks menoleh ke belakang, menatap anaknya penuh kehangatan. "Nanti Kai makan di rumah Mama ya? Mama masak sup kesukaan Kai..."

​"Tidak perlu," sela Gibran tegas sambil melirik kaca tengah. "Kita mampir ke restoran terdekat saja."

​Tanpa menunggu persetujuan Bening, Gibran memutar kemudi membelokkan mobilnya memasuki pelataran sebuah restoran nuansa kayu yang asri dan ramah keluarga.

​Mereka bertiga melangkah masuk. Kaivandra melompat-lompat kecil dengan senyum terkembang lebar, menggenggam erat tangan kanan Gibran dan tangan kiri Bening. Bagi orang luar yang melihat, mereka bertiga tampak persis seperti keluarga kecil yang amat harmonis dan sempurna.

​Seorang pelayan mengarahkan mereka ke meja kayu kosong di dekat kolam ikan. Mereka duduk berhadapan, Gibran dan Kai di satu sisi, sedangkan Bening duduk di depan mereka.

​Di tempat inilah, atmosfer hangat dan riangnya Kaivandra perlahan membuat Bening terbawa suasana. Rasa lelah, trauma, dan benteng pertahanan Bening seolah meleleh sejenak. Untuk beberapa menit yang berharga, Bening merasa impian terbesarnya tentang keluarga bahagia bersama Gibran akhirnya terwujud.

​Seorang pelayan wanita datang menghampiri, menyodorkan dua lembar buku menu. "Selamat siang, mau pesan apa?"

​Bening membuka menu, lalu menatap Kai. "Kai mau sup ayam hangat, kan?"

​"Iya, Mama! Sama nasi putih!" jawab Kai riang.

​Bening mendongak menatap pelayan, lalu menyebutkan pesanan dengan lancar tanpa ragu sedikit pun.

​"Mbak, tolong sup ayam dua, lalu sup iga sapi satu..." Bening menghentikan ucapannya sejenak, lalu matanya refleks melirik pada Gibran yang duduk di depannya. Tanpa sadar, ingatan masa lalu yang terpatri kuat selama bertahun-tahun menguasai kesadarannya.

​"...dan untuk sup iga sapinya, tolong jangan pakai wortel sama sekali, jangan pakai daun bawang, dan jangan taburkan bawang goreng di atasnya, ya," tutur Bening begitu detail, lancar, dan tanpa jeda. "Karena sua..."

​Kata 'suamiku' hampir saja meluncur alami dari bibirnya. Bening seketika tersentak hebat. Lidahnya membeku, matanya membelalak menyadari kekhilafannya.

​Bening buru-buru membetulkan kalimatnya dengan nada suara yang bergetar canggung. "...karena... ayah dari anak saya ini sangat tidak menyukai hal-hal itu."

​Suasana di meja makan itu mendadak hening total. Pelayan wanita itu mengangguk paham sambil mencatat, lalu permisi pergi.

​Di tempat duduknya, Gibran membeku sempurna. Tangannya yang memegang buku menu mendadak kaku.

​Sepasang mata tajam Gibran mengunci Bening yang kini menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura sibuk merapikan buku menu yang baru saja dia baca.

​Dada Gibran bergemuruh dahsyat. Sebuah hantaman emosional yang amat besar bertubi-tubi menyerang pikirannya.

​Gibran mengingat betul betapa cerewetnya ia dulu jika ada potongan wortel atau taburan bawang goreng di dalam supnya. Dan fakta bahwa Bening wanita yang dituduh ayahnya sebagai pengkhianat tak berhati, masih mengingat setiap detail paling kecil tentang selera makan dan ketidaksukaannya setelah tujuh tahun berpisah... benar-benar menggoncang fondasi kebencian di hatinya.

'​Bagaimana bisa?' batin Gibran berkecamuk hebat, menatap Bening yang tak berani menatap matanya. 'Jika selama ini kamu hanya memanfaatkanku... jika cinta yang kamu berikan dulu hanya kepalsuan... bagaimana bisa kamu masih mengingat detail kecil tentangku sejelas ini, Bening? Siapa kamu sebenarnya? Pembohong yang sangat hebat... atau justru aku yang selama ini buta?'

​Rasa bingung, amarah, dan benih-benih kebenaran yang mulai menyeruak membuat dada Gibran terasa teremas begitu menyakitkan.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!