NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Menjelang sore. Indri berjalan menuju area parkir setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Hari itu terasa cukup melelahkan.

Saat hendak membuka pintu mobilnya, seseorang memanggil dari belakang.

"Bu Indri."

Indri menoleh.

Riko menghampiri sambil membawa sebuah map berwarna biru. "Maaf mengganggu. Sepertinya map ini tertinggal di ruang rapat."

Indri menerima map itu. "Terima kasih. Untung kamu menyadarinya."

Riko tersenyum ramah. "Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi."

Indri mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya dan perlahan meninggalkan area parkir.

Namun Riko tidak langsung pergi.

Ia masih berdiri memandang ke arah mobil Indri hingga kendaraan itu menghilang di balik pintu keluar. Senyum tipis masih tergambar di wajahnya.

Dari lantai atas gedung yang dindingnya didominasi kaca, seseorang menyaksikan pemandangan itu tanpa berkedip.

Evan. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis di gedung sebelah dan tanpa sengaja melihat area parkir Haris Group dari jendela ruang rapat.

Tatapannya tertuju pada sosok Riko yang terus memperhatikan kepergian Indri. "Siapa dia?" gumam Evan pelan.

Rio yang berdiri di sampingnya ikut melihat ke arah yang sama.

"Saya kurang tahu, Pak. Mungkin salah satu karyawan baru."

Evan tidak menjawab. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat perasaannya terusik. Ia sendiri tidak mengerti alasan di balik rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul.

Rio melirik wajah atasannya. Selama ini Evan tidak pernah peduli dengan orang-orang di sekitar Indri. Namun kali ini berbeda.

Tatapan Evan tidak lagi dipenuhi amarah seperti biasanya. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan belum mampu ia akui pada dirinya sendiri.

Evan mengalihkan pandangannya dari jendela. "Cari tahu siapa pria itu."

Rio mengangguk. "Baik, Pak."

Sementara itu, Riko akhirnya berjalan menuju mobilnya sendiri.

***

Dua hari setelah orientasi karyawan baru, suasana Haris Group kembali berjalan seperti biasa.

Riko mulai beradaptasi dengan ritme pekerjaan yang cepat. Kemampuannya menganalisis pasar membuat atasannya beberapa kali memujinya dalam rapat divisi.

Di sisi lain, Indri tetap disibukkan dengan proyek kerja sama antara Haris Group dan perusahaan Evan. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain.

"Bu Indri." Nisa mengetuk pintu ruang kerja. "Pak Arman meminta Ibu menghadiri rapat evaluasi pukul sepuluh."

"Baik. Tolong siapkan semua dokumennya."

"Sudah, Bu."

Saat Indri keluar dari ruangannya, Riko yang sedang berjalan di koridor berpapasan dengannya.

"Selamat pagi, Bu."

"Selamat pagi, Riko. Sudah mulai terbiasa?"

"Alhamdulillah, teman-teman banyak membantu."

"Bagus. Terus belajar."

Percakapan singkat itu berakhir ketika masing-masing melanjutkan langkah. Namun tanpa mereka sadari, seseorang melihat momen tersebut dari kejauhan.

Di gedung Evara Capital, Rio menyerahkan hasil penyelidikannya.

"Pak, pria itu bernama Riko."

Evan membuka berkas. "Karyawan baru Haris Group?"

"Iya. Prestasinya cukup baik." Rio berhenti sejenak. "Sejauh ini tidak ada hal mencurigakan."

Evan menutup map. "Terus pantau."

Rio mengernyit. "Hanya karena dia berbicara dengan Bu Indri?"

Evan menjawab datar. "Karena proyek ini terlalu penting."

Rio tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya, tetapi ia memilih diam.

Sore harinya, Haris mengumpulkan para pimpinan divisi.

"Kita akan mengadakan presentasi proyek minggu depan. Semua tim harus bekerja sama."

Arman mengangguk. "Baik, Pak."

Haris lalu menoleh kepada Indri.

"Kalau memungkinkan, libatkan beberapa karyawan baru agar mereka mendapat pengalaman."

"Baik, Pa."

Sepulang rapat, Indri membuka daftar nama. Pandangannya berhenti pada satu nama. Riko. Ia menandai nama itu sebagai salah satu anggota tim presentasi.

***

Ruang rapat utama Haris Group pagi itu dipenuhi suasana yang jauh lebih formal dibanding biasanya.

Di atas meja panjang tersusun dokumen kerja sama, proyeksi anggaran, serta rancangan jadwal pelaksanaan proyek yang akan menentukan arah kedua perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.

Haris duduk di ujung meja sebagai tuan rumah. Di sisi kanannya duduk Indri bersama Arman dan beberapa kepala divisi.

Sementara di sisi berlawanan, Evan datang didampingi Rio serta tim dari Evara Capital.

Beberapa karyawan baru turut hadir sebagai peserta observasi agar memahami proses negosiasi proyek besar. Salah satunya adalah Riko.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu," ucap Haris membuka rapat. "Saya berharap kerja sama ini memberi manfaat bagi kedua belah pihak."

Evan mengangguk singkat. "Kami juga memiliki harapan yang sama."

Suasana kembali hening ketika layar presentasi mulai menyala.

Indri berdiri lebih dulu. Dengan suara tenang, ia menjelaskan perkembangan studi kelayakan, proyeksi biaya, hingga pembagian tahapan pekerjaan. Setiap pertanyaan dari peserta rapat dijawabnya dengan lugas.

Haris memperhatikan putrinya dengan bangga. Beberapa bulan terakhir, kemampuan Indri memimpin rapat berkembang pesat.

"Apakah ada masukan dari pihak Evara Capital?" tanya Indri setelah presentasi selesai.

Rio membuka catatan di depannya. "Dari sisi kami, ada beberapa penyesuaian jadwal."

Ia menjelaskan beberapa poin teknis.

Indri mencatat setiap usulan tanpa memotong pembicaraan.

Di sudut ruangan, Riko memperhatikan jalannya rapat dengan saksama. Sesekali ia menoleh ke arah Indri ketika wanita itu menjawab pertanyaan peserta. Baginya, cara Indri memimpin rapat jauh berbeda dengan bayangannya tentang seorang direktur muda.

Tenang, tegas, dan tidak mudah kehilangan kendali.

Di seberang meja, Evan menangkap arah pandangan Riko.

Awalnya ia tidak terlalu memedulikannya. Namun beberapa menit kemudian, Riko kembali melirik ke arah Indri ketika ia sedang berdiskusi dengan Arman.

Evan mengalihkan pandangannya ke dokumen di depan, berusaha tetap fokus. Akan tetapi, tanpa disadari, matanya kembali terangkat. Riko kembali melihat ke arah yang sama.

Rio yang duduk di samping Evan memperhatikan perubahan kecil itu. "Pak?"

Evan tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan.

Rio mengikuti arah pandangan atasannya dan melihat Riko sedang mendengarkan penjelasan Indri. Ia kembali menoleh kepada Evan. Ekspresi pria itu tetap datar. Tetapi rahangnya tampak mengeras.

Rapat berlanjut membahas pembagian tugas setiap tim.

Haris berkata, "Untuk koordinasi harian, saya percayakan kepada Bu Indri dari pihak kami."

Evan mengangguk. "Dari pihak kami, koordinasi akan dilakukan melalui saya dan Pak Rio."

Arman kemudian mengusulkan agar beberapa staf muda dilibatkan sebagai tim pendukung. "Selain membantu proyek, mereka juga bisa belajar langsung."

Haris menyetujui usul itu. "Silakan tentukan nama-namanya."

Arman membuka daftar.

"Dari divisi kami ada Riko."

Mendengar nama itu, Evan mengangkat kepala.

Pandangannya tertuju pada pria muda yang duduk beberapa kursi dari Indri.

Riko segera berdiri. "Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."

Ia kembali duduk dengan sikap tenang.

Menjelang akhir rapat, peserta mulai berdiskusi dalam kelompok kecil.

Indri sedang menjelaskan beberapa data kepada Arman ketika Riko menghampiri.

"Bu Indri."

"Iya?"

"Tadi ada bagian presentasi yang ingin saya pelajari lebih dalam."

Indri menerima berkas yang dibawanya. "Kalau ada yang kurang jelas, nanti kita jadwalkan pembahasan bersama tim."

"Baik, Bu."

Percakapan mereka berlangsung singkat dan sepenuhnya membahas pekerjaan. Namun dari tempat duduknya, Evan memperhatikan semuanya.

Rio menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bapak kelihatannya sangat memperhatikan karyawan baru itu."

Evan menjawab tanpa mengalihkan pandangan. "Aku hanya ingin tahu orang-orang yang terlibat dalam proyek ini."

Rio tersenyum tipis. "Hanya itu?"

Baru kali ini Evan menoleh.

"Menurutmu ada alasan lain?"

Rio mengangkat kedua tangannya. "Saya hanya bertanya."

Evan kembali memandang ke arah meja diskusi. Dalam hati, ia mengakui satu hal yang enggan diucapkannya. Ia tidak menyukai cara Riko memperhatikan Indri.

Bukan karena Riko melakukan sesuatu yang salah. Melainkan karena tatapan itu membuatnya merasa tidak nyaman dengan cara yang tidak mampu ia jelaskan.

Rapat akhirnya ditutup menjelang siang. Para peserta mulai meninggalkan ruangan sambil membawa berkas masing-masing.

Riko berjalan keluar bersama beberapa rekan barunya. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekilas ke arah Indri yang masih berbincang dengan Haris.

Tatapan singkat itu kembali tertangkap oleh Evan.

Ia menarik napas pelan.

"Rio."

"Ya, Pak?"

"Pastikan seluruh anggota tim bekerja secara profesional."

"Tentu, Pak."

"Kalau ada persoalan yang berpotensi mengganggu proyek, laporkan kepadaku."

Rio mengangguk. "Baik." Ia memahami bahwa yang dimaksud Evan bukan hanya persoalan pekerjaan. Namun untuk saat ini, ia memilih menyimpan dugaannya sendiri.

1
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Nurlinda: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
ken darsihk
He he cemburu kata kan saja bos 😂😂😂
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya cembukor tuh mas Evan 😂
Eva Karmita
mulai ada percikan api kecil di hati Evan 🤣🤣🤣
Nurlinda: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!