NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Apa Ini

Langkah kaki Yena terasa berat saat melangkah masuk ke dalam kamar yang sepi dan nyaman. Pintu tertutup pelan di belakangnya, menyisakan dirinya sendiri bersama sisa-sisa perasaan yang masih bergejolak di dada. Malam yang melelahkan itu belum berakhir dalam pikirannya, meski raganya kini sudah berada di tempat yang paling aman.

Tanpa membuang waktu, Yena melangkah masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir membasuh tubuhnya, seolah turut membersihkan segala rasa takut, jijik, dan lelah yang menempel sepanjang malam itu. Namun, betapa pun derasnya air yang jatuh, bayangan sosok seseorang tak kunjung sirna dari benaknya. Sosok yang tulus melindunginya, sosok yang menatapnya dengan penuh ketulusan—Juvan.

Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur yang nyaman, Yena berdiri terpaku di depan cermin besar yang menampakkan pantulan seluruh tubuhnya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri, lalu perlahan pandangannya jatuh pada bibirnya.

Detik itu juga, seolah ada sesuatu yang menyentuh ingatannya. Momen saat di pesta tadi kembali melintas jelas di benaknya. Saat itu, di bawah keramaian dan tepuk tangan para tamu, wajah Juvan mendekat perlahan. Tatapan mata yang hangat, napas yang menyentuh kulit, lalu... sentuhan lembut di bibirnya.

Jantung Yena seketika berpacu kembali kencang seolah ia sedang merasakannya untuk kedua kalinya. Ia teringat bagaimana bibir Juvan terasa begitu lembut dan murni, tanpa paksaan, tanpa keinginan buruk. Itu adalah ciuman yang tulus, polos, dan penuh rasa hormat—sangat berbeda dengan sentuhan kasar Arga yang penuh nafsu dan amarah.

Yena mengangkat jari, menyentuh pelan bibirnya sendiri seolah masih tersisa jejak sentuhan pemuda itu di sana. Wajahnya perlahan memerah merona hangat, suhu tubuhnya ikut naik tanpa sebab yang jelas.

"Perasaan apa ini..." gumamnya lirih pada pantulan dirinya di cermin, matanya mulai berkaca-kaca namun kali ini bukan karena sedih.

"Kenapa setiap kali teringat wajahnya, hatiku berdesir begitu hebat? Kenapa rasanya begitu nyaman dan damai?"

Ia menggeleng pelan seolah tak percaya pada perasaannya sendiri. Juvan masih muda, Juvan adalah sosok yang ia anggap sebagai adik atau teman yang baik. Namun, saat ini... benih-benih rasa yang semula samar kini mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri tanpa sadar, memikirkan tatapan mata Juvan, senyumnya, kelembutan ucapannya, serta keberaniannya membela Yena di saat-saat terburuk.

"Apakah ini cinta? batinnya bergumam pelan. Atau sekadar rasa nyaman karena ia selalu ada?"Yena tak yakin. Namun satu hal yang ia tahu, namanya Juvan kini telah tertanam kuat di hatinya, dan tak mudah untuk dihapus begitu saja.

Di tengah lamunan yang masih memeluk ingatannya, suara getaran ponsel di atas meja rias tiba-tiba terdengar memecah keheningan malam. Yena terkejut seketika, lalu segera meraih benda pipih itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar.

Saat layar menyala menampilkan nama pengirim pesan, jantungnya seakan meloncat sedikit lebih kencang. Juvan.

Dengan jari yang perlahan gemetar karena rasa penasaran sekaligus haru, Yena membuka pesan itu perlahan. Tulisan yang tertata rapi menyambut pandangannya:

"Kak Yena, aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Jangan khawatir ya. Kakak cepat istirahat dan semoga lekas pulih kondisinya. Selamat malam, Kak."

Singkat, padat, namun penuh perhatian dan ketulusan.

Senyum yang tadi sempat tersungging di bibir Yena kini melebar semakin lebar, menghapus seketika segala kegelisahan yang sempat menyelimuti hatinya. Di mana pun Juvan berada, ia tak pernah lupa pada janjinya. Pemuda itu selalu menepati setiap kata yang terucap, selalu memikirkan perasaan Yena terlebih dahulu sebelum dirinya sendiri.

Jari-jemari lentiknya pun bergerak lincah di atas layar, membalas pesan itu dengan penuh kelembutan:

"Syukurlah kalau sudah sampai. Terima kasih sudah memberi kabar, Juvan. Kamu juga segera istirahat ya. Maaf sudah merepotkanmu malam ini. Selamat malam."

Tak butuh waktu lama, balasan itu masuk kembali. Kali ini hanya berisi satu kalimat yang sederhana namun mampu membuat pipi Yena memerah dan hatinya terasa menghangat:

"Tidak pernah merepotkan, Kak. Selamat bermimpi indah."

Yena meletakkan ponselnya perlahan di atas meja, lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Kali ini, senyumnya tak lagi ragu. Dadanya terasa ringan dan penuh kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seakan-akan kehadiran Juvan dan pesan singkatnya itu telah menjadi obat penenang paling ampuh bagi hatinya yang sempat terguncang hebat.

Perlahan Yena berbalik, melangkah menuju tempat tidurnya yang empuk. Saat ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata, bayangan wajah Juvan tak kunjung pergi. Justru semakin jelas terbayang di benaknya—senyumnya yang tulus, sorot matanya yang teduh, serta suaranya yang selalu lembut memanggil namanya.

Malam itu, di bawah selimut yang hangat, Yena akhirnya membiarkan dirinya mengakui sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dari diri sendiri. Perasaan yang dulu samar, kini mulai terasa nyata dan semakin mekar indah.

Sementara itu, di kamarnya yang tenang, Juvan baru saja selesai membersihkan diri. Ia berdiri sejenak di dekat jendela yang terbuka, namun pandangannya tak fokus pada apa pun di luar sana. Pikirannya justru melayang jauh, kembali pada momen di pesta tadi—saat bibir Yena menyentuh bibirnya.

Jantungnya berdegup kencang seketika, seolah momen itu baru saja terjadi detik ini juga. Baginya, itu adalah sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia dicium oleh seorang perempuan. Dan yang melakukannya adalah Yena—sosok yang ia kagumi, ia hormati, dan perlahan mulai mengisi setiap ruang di hatinya.

Belum lagi saat  Yena memeluknya erat di lorong yang sepi itu. Rasa hangat tubuhnya, aroma wanginya yang lembut, dan detak jantungnya yang terdengar samar di dada Juvan... semuanya masih terasa begitu nyata. Seolah pelukan itu masih melingkar erat di tubuhnya, seolah sentuhan lembut jari Yena masih melekat di kulitnya.

Juvan mengangkat tangannya menyentuh pelan bibirnya sendiri, tempat di mana bibir Kak Yena sempat bersentuhan. Wajahnya memerah padam, suhu tubuhnya ikut naik tanpa alasan yang jelas. Ia tak bisa berhenti tersenyum sendiri, merasa bahagia sekaligus malu yang bercampur menjadi satu.

"Kenapa rasanya begitu hangat..." gumam Juvan pelan pada dirinya sendiri, matanya menatap kosong ke arah lantai namun senyumnya tak pernah luntur.

"Ciuman itu... pelukan itu... semuanya terasa begitu lembut dan menenangkan. Aku tak bisa melupakannya."

Ia menyadari satu hal dengan pasti. Perasaan yang ia simpan untuk Kak Yena bukan lagi sekadar rasa kagum atau sekadar ingin melindungi. Sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih dalam, dan jauh lebih berarti mulai tumbuh subur di sanubarinya. Sesuatu yang membuatnya berjanji dalam hati—ia akan menjaga perasaan ini, dan menjaga Yena dengan segenap kemampuannya.

Juvan pun akhirnya merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, memejamkan mata berusaha membiarkan lelahnya membawa dirinya ke dalam tidur. Namun, betapa pun kuatnya ia mencoba memejamkan mata, tidur seakan engganmenjemputnya.

Bayangan wajah  Yena tak kunjung pergi dari benaknya. Senyumnya yang lembut, tatapan matanya yang teduh, rona merona di pipinya, hingga kelembutan suaranya yang memanggil namanya... semuanya terus berputar di dalam pikiran Juvan tanpa henti. Wajah gadis itu terlukis begitu jelas di balik kelopak matanya yang terpejam, seakan-akan  Yena sedang berdiri tepat di samping tempat tidurnya saat itu juga.

Juvan berkali-kali membalikkan tubuhnya, namun hatinya tetap berdebar tak tenang. Ia tersenyum sendiri di tengah kesunyian malam, merasa bahagia sekaligus malu yang bercampur menjadi satu.

Hingga perlahan, rasa kantuk akhirnya mulai menyelinap masuk dan menarik kesadarannya perlahan-lahan. Namun, bahkan di ambang antara sadar dan mimpi, Juvan tetap merasakan kehadiran itu. Ia seakan bisa merasakan sosok Yena berada sangat dekat dengannya. Seolah gadis itu ada di sampingnya, seolah ia bisa merasakan kehangatan tubuhnya, aroma wanginya yang lembut, dan detak jantungnya yang berirama tenang.

Dalam setengah sadarnya, Juvan tersenyum tipis. Ia merasakan seolah-olah  Yena sedang menemaninya tidur, melindunginya dari kejauhan, dan menjaganya sepanjang malam. Perasaan hangat itu membuatnya merasa damai, aman, dan dicintai. Perlahan, diiringi perasaan yang begitu lembut di dadanya, Juvan pun akhirnya terlelap dalam tidurnya yang indah, membawa nama dan wajah Yena ke dalam setiap mimpi-mimpinya.

Matahari pagi menyelinap lembut masuk lewat celah jendela kamar, menyentuh wajah Juvan yang terlelap dengan senyum tipis tak sengaja terukir di bibirnya. Perlahan kelopak matanya terbuka, menyambut cahaya pagi yang hangat. Saat kesadarannya kembali sepenuhnya, Juvan terbangun dengan perasaan yang tak biasa—hatinya terasa ringan, damai, dan penuh kehangatan, seolah ia memang ditemani sosok yang ia rindukan sepanjang malam tadi.

Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur, menatap sekeliling kamarnya yang sepi namun terasa begitu nyaman. Segala bayangan tentang  Yena masih membekas jelas di benaknya, seolah tak ada jeda pun ia melupakannya meski sedang terlelap. Juvan tersenyum malu sendiri sambil mengusap wajahnya pelan.

"Pagi yang indah..." gumamnya pelan, suaranya terdengar lembut penuh harapan.

Sementara itu, di rumah Yena, pagi itu juga terasa berbeda. Yena terbangun bukan karena dering alarm atau suara bising di luar, melainkan karena perasaan tenang yang menyelimuti hatinya sepanjang malam. Ia membuka mata perlahan, menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak kejadian menyakitkan itu, ia terlelap nyenyak tanpa mimpi buruk.

Saat Yena melirik ponsel di samping bantalnya, seketika jantungnya berdebar hangat. Sebuah pesan masuk dikirim tepat saat fajar menyingsing. Pengirimnya: Juvan.

Yena segera membukanya dengan jari yang tak sabar. Tertulis di sana:

"Selamat pagi, Kak Yena. Semoga Kakak bermimpi indah dan bangun dengan perasaan yang menyenangkan hari ini. Jaga kesehatan ya."

Singkat, sederhana, namun seketika membuat seluruh isi hatinya mekar dipenuhi kehangatan. Pipi Yena memerah merona, dan senyum terindah pun merekah di bibirnya seketika. Ia memeluk ponselnya erat seolah memeluk pengirim pesan itu sendiri.

Yena pun segera membalas dengan penuh kelembutan:

"Selamat pagi juga, Juvan. Terima kasih... Kakak bermimpi indah sekali malam ini. Semua berkat doa dan kebaikan hatimu. Kamu juga semangat menjalani hari ya."

Di seberang sana, saat pesan balasan itu masuk, Juvan tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Membaca baris kalimat tulus dari Yena, ia merasa seolah pagi ini adalah awal dari sesuatu yang sangat indah. Cahaya matahari pagi pun terasa tak sebanding dengan kehangatan yang meluap di dadanya.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!