Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berkas yg membeku
Satu minggu telah berlalu dengan cepat sejak insiden mendebarkan di tepi kolam renang villa. Bagi Bima, hari-hari berjalan dengan sangat tenang dan teratur. Namun bagi Viona, setiap malam adalah siksaan batin yang luar biasa. Dia hanya bisa berbaring telentang di atas ranjang king size mewah miliknya dengan tubuh gelisah yang terus membalik ke kanan dan ke kiri. Pikirannya benar-benar terkunci pada urusan 'bawah perut' suaminya yang tidak sengaja dia lihat tempo hari.
Setiap kali menutup mata, bayangan siluet melingkar yang kokoh di balik celana pendek basah Bima selalu menari-nari di kepalanya. Sialnya, Bima sama sekali tidak peka dan masih tetap setia dengan perjanjian mereka: tidur dengan sangat pulas di atas sofa tanpa ada niat sedikit pun untuk pindah ke ranjang.
Senin pagi yang dinantikan pun tiba. Tepat jam delapan pagi, Viona sudah duduk rapi di balik meja kerja kebesarannya di dalam ruang direksi kantor pusat keluarga Utara. Di hadapannya, belasan tumpukan dokumen tebal sudah menanti untuk diperiksa. Viona mencoba fokus pada tumpukan kertas itu demi mengusir rasa frustrasi dan bayangan nakal tentang suaminya yang masih membekas di benak sejak semalam.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memecah keheningan ruangan. Pintu kayu ek setinggi tiga meter itu terbuka, menampilkan sosok sekretaris pribadinya yang melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak tegang dan sedikit cemas. Di tangannya, sang sekretaris membawa sebuah map dokumen berwarna merah marun yang terlihat cukup usang.
"Lapor, Nona Viona," ujar sang sekretaris sambil membungkuk hormat dengan sangat formal. "Ini ada berkas lama yang baru naik lagi dari divisi keuangan. Ini mengenai penagihan hutang besar dari mitra bisnis kita yang bermasalah di masa lalu."
Viona menerima map tersebut, namun begitu matanya membaca nama debitur yang tertera di halaman depan, tubuhnya mendadak membeku di tempat duduknya. Penandatanganan atau eksekusi dokumen ini adalah salah satu masalah paling pelik di perusahaan keluarga mereka. Viona tahu betul sejarah kelam di balik berkas ini. Selama beberapa bulan terakhir, sudah banyak penagih hutang tangguh dan pihak ketiga yang dia utus untuk mendatangi target tersebut. Hasilnya sangat mengerikan; jangankan membawa pulang uang tarikan, beberapa utusan terakhirnya justru harus pulang dengan tandu rumah sakit karena dihajar habis-habisan oleh kelompok penjaga dari pihak berhutang. Tidak ada satu orang pun yang berhasil menyelesaikan tugas ini.
Menyadari tingkat bahaya dan kerumitan dari masalah lama ini, Viona menghela napas panjang untuk meredakan ketegangan yang mendadak menghimpit dadanya. Dia meletakkan kembali map merah marun itu di sudut mejanya yang kosong.
"Baik, Bu," jawab sang sekretaris singkat, merasa lega karena tugasnya menyerahkan berkas panas itu sudah selesai. Dia pun membungkuk hormat sekali lagi lalu berbalik untuk melangkah keluar dari ruangan.
Melihat pintu hampir tertutup dan merasakan kepalanya yang mendadak pening akibat kombinasi kurang tidur semalaman serta tumpukan masalah kantor, Viona langsung bersandar pada kursi kerjanya. Dia mendongak menatap langit-langit ruangan sembari memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Tunggu! Bawakan aku minuman dingin yang segar sekarang juga!" teriak Viona setengah memesan, berharap rasa dingin yang membeku dari segelas minuman bisa menenangkan otaknya yang sedang memanas akibat urusan bisnis dan urusan bawah perut suaminya di rumah.