Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Langkah Lagi untuk Pergi
Malam perlahan menyingkir, digantikan semburat jingga yang mulai menghiasi ufuk timur. Cahaya matahari menyelinap melalui celah jendela, menerangi sudut-sudut rumah yang semula diselimuti keheningan.
Hari kembali bergulir seperti biasa.
Ainun telah mengenakan pakaian mengajarnya. Tas selempang menggantung rapi di bahunya, sementara jemarinya memeriksa kembali isi tas sebelum berangkat.
Baru beberapa langkah meninggalkan dapur...
“Pagi...!”
Suara ceria itu membuat langkah Ainun terhenti.
Ia menoleh.
“Mbak Liona...?” gumamnya pelan.
Wanita itu berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa kotak makanan di kedua tangannya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya.
“Di mana Mas Sagara? Belum bangun?” tanya Liona antusias.
Ainun mengangguk kecil.
“Sepertinya belum, Mbak.”
“Sayang sekali.” Liona terkekeh pelan. “Ya sudah, aku mau panggil Mas Sagara dulu. Aku bawakan sarapan. Mas Sagara pasti suka.”
Ainun membalas dengan senyum tipis.
“Iya, Mbak.”
“Oh ya.” Liona kembali menoleh kepadanya. “Kapan kamu pergi?”
Ainun menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.
“Nunggu Laras, Mbak,” jawabnya pelan. “Aku berencana ikut sama sahabatku. Sekalian mau mengajukan pengunduran diri.”
“Terserah.”
Jawaban singkat itu membuat Ainun hanya mengangguk pelan.
‘Memang sudah waktunya aku pergi.’
Ia kembali melangkahkan kaki.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara sepatu pantofel yang menuruni anak tangga terdengar jelas di dalam rumah.
Langkah Ainun kembali terhenti.
Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik langkah itu.
“Sayang.” Suara Sagara terdengar dari belakang. “Kamu pagi-pagi sekali datangnya?”
Ainun menundukkan pandangan.
Dari ekor matanya, ia melihat Liona berjalan menghampiri Sagara, lalu dengan akrab memeluk lengan pria itu.
“Aduh.” Liona tertawa kecil. “Soalnya hari ini aku senang banget. Mas mau ajak aku jalan-jalan, kan?”
Ainun tetap diam. Tak ada alasan baginya untuk menoleh lebih lama.
Beberapa detik kemudian, suara Liona kembali terdengar.
“Kamu mau berangkat mengajar?”
Ainun mengangkat wajah sekilas.
“I-iya, Mbak.” Ia mengulas senyum sopan. “Kalau begitu aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” balas Liona.
Ainun mengangguk pelan, lalu berbalik melangkah menuju pintu.
Ia tidak menoleh sedikit pun.
‘Untuk apa?’
‘Mas Sagara memang nggak pernah memedulikanku.’
Dengan langkah tenang, Ainun meninggalkan rumah itu, membiarkan suara percakapan di belakangnya perlahan memudar bersama embusan angin pagi.
.
Perlahan, langkah kaki Ainun menghilang di balik pintu utama. Suara pintu yang menutup pelan menjadi penanda kepergiannya, menyisakan keheningan singkat di dalam rumah.
Sagara masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya sempat mengarah ke pintu yang baru saja dilewati Ainun, sebelum akhirnya beralih kepada Liona yang sejak tadi masih memeluk lengannya dengan erat.
“Mas ayo sarapan.”
“Tidak bisa nanti siang saja?” tanya Sagara tenang. “Aku ada pekerjaan.”
Liona langsung mengangkat paper bag yang dibawanya.
“Tapi aku sudah bawakan sarapan, loh,” ujarnya sambil tersenyum manis.
“Tidak perlu repot-repot begini,” balas Sagara datar. “Kan ada Bibi Ani yang memasak.”
“Tapi, Mas...”
Senyum di wajah Liona perlahan memudar. Bibirnya mengerucut, memperlihatkan raut kecewa.
Sagara memandanginya beberapa saat. Ia mengembuskan napas pelan.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Jangan pasang wajah seperti itu.”
Seketika wajah Liona kembali berbinar.
“Nah, begitu dong, Mas.” Ia tersenyum lebar sambil menarik pelan lengan Sagara menuju meja makan.
Setibanya di sana, Liona segera memanggil seseorang.
“Bibi!”
Bibi Ani yang sedang berada di dapur segera menghampiri.
“Iya, Nona?”
“Tolong simpan semua makanan yang ada di meja ini. Biar Mas Sagara makan makanan yang saya bawa.”
“Baik, Nona.”
Tanpa banyak bicara, Bibi Ani mulai mengangkat satu per satu hidangan yang sebelumnya telah tersaji di atas meja.
Tak lama kemudian, Liona membuka paper bag yang dibawanya. Satu demi satu kotak makanan dikeluarkan dan ditata rapi di hadapan Sagara.
“Oh ya, Mas.” Liona menoleh sambil tersenyum. “Aku sudah nyiapin tema pernikahan kita, temannya kerajaan, bagaimana?”
Sagara tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada wajah wanita di hadapannya.
Beberapa saat kemudian, ia membuka suara.
“Bagaimana mimpimu?” tanyanya tenang. “Sudah tercapai?”
Senyum Liona perlahan memudar.
“Itu...”
“Gagal?” sela Sagara. “Makanya kamu pulang ke sini.”
Liona membeku. Tatapannya dipenuhi rasa tidak percaya.
“Ya...” jawabnya lirih. “Aku menyesal, Mas. Seharusnya aku nggak bertindak seperti itu.”
Sagara hanya mengembuskan napas pelan.
Keheningan kembali menyelimuti meja makan.
Liona kembali memberanikan diri membuka percakapan.
“Jadi...” katanya hati-hati. “Jadi kapan kita akan mempersiapkan perintilannya?”
Sagara tetap tenang.
“Akan aku pikirkan.”
Jawaban singkat itu membuat senyum Liona kembali memudar.
“Jangan lama-lama, Mas.” Jemarinya saling bertaut di atas meja. “Aku butuh kepastian darimu.”
Sagara tidak memberikan jawaban.
Ia hanya meraih sendok, lalu mulai menyantap sarapan yang dibawa Liona dengan wajah tetap datar.
‘Masih ada sesuatu yang harus kuselesaikan lebih dulu.’
.
Di tengah suasana yang masih lengang itu, Ainun melangkah pelan menyusuri jalan menuju sekolah. Tas selempang yang menggantung di bahunya bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya.
Ia mengembuskan napas panjang.
Brum...
Suara mesin sepeda motor yang mendekat membuat langkah Ainun terhenti. Kendaraan itu berhenti tepat di sampingnya.
“Ayo naik,” ujar seseorang.
Ainun menoleh. Matanya sedikit membulat saat mengenali sosok yang duduk di balik kemudi.
“Laras?” gumamnya pelan.
Tanpa banyak bertanya, Ainun langsung menaiki jok belakang. Ia merapikan letak tas selempangnya, lalu memegang pegangan di sisi jok ketika motor kembali melaju.
Angin pagi menerpa wajahnya, membuat beberapa helai rambut yang keluar dari balik hijab bergerak tertiup angin.
“Kenapa bisa lewat sini, Ras?” tanyanya.
Laras terkekeh pelan.
“Lagi pengin jalan-jalan sambil cari sarapan,” jawabnya santai. “Sekalian berangkat kerja.”
Ainun mengangguk pelan.
“Oh ya,” lanjut Laras setelah beberapa saat, “semalam ada email masuk. Pengajuan perpindahanku sudah disetujui.”
Ainun menoleh sekilas.
“Benarkah?”
“Iya.” Laras mengangguk mantap. “Besok aku sudah mulai pindah. Untuk jadwal aku masuk kerja jadi p3k, aku masih menunggu informasi dari pusat.”
Senyum tipis terukir di bibir Ainun.
“Selamat, ya, Ras.”
“Terima kasih.”
Percakapan mereka kembali terputus. Yang terdengar hanya deru mesin motor dan embusan angin yang menemani perjalanan.
Beberapa saat kemudian, Ainun kembali membuka suara.
“Nanti malam jemput aku, ya.”
“Siap.” Laras meliriknya sekilas. “Berarti hari ini kamu benar-benar mau mengundurkan diri?”
Ainun mengalihkan pandangan ke jalan yang membentang di depan.
“Mau bagaimana lagi, Ras?” ucapnya pelan. “Aku memang harus melakukannya.”
Laras mengembuskan napas panjang.
“Baiklah.” Senyum kecil menghiasi wajahnya. “Tapi kamu masih punya utang penjelasan sama aku, loh.”
Ainun terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar lirih, tetapi cukup untuk mencairkan suasana.
“Tenang saja,” balasnya. “Nanti aku ceritakan semuanya.”
‘Kalau aku sudah benar-benar siap mengatakannya.’
Motor itu terus melaju membelah jalanan pagi, membawa Ainun menuju sekolah, sementara pikirannya perlahan mempersiapkan diri menghadapi keputusan besar yang akan diambilnya hari itu.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪