"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Tujuh Ratus Juta dalam Sehari
"Potong yang cokelat dulu," kata Bayu.
Pak Gunawan sendiri yang mengoperasikan mesin di ruang potong belakang. Sikap dinginnya sudah hilang. Ia memeriksa garis yang ditunjuk Bayu dua kali, lalu mengunci batu pada ragum.
Hendra berdiri di balik kaca pelindung sambil memeluk kuitansi nol rupiah.
"Kertas ini harus dibingkai," katanya. "Bukti bahwa barang gratis benar-benar ada di dunia."
Mesin menyala.
Kulit cokelat terbelah perlahan. Saat potongan pertama dibuka, warna hijau apel memenuhi permukaan. Teksturnya halus dan kenyal seperti jeli, dengan warna yang menyebar hampir penuh tanpa retakan besar.
Tangan Gunawan berhenti di udara.
"Apple green. Tipe jelly."
Ia menyiram permukaannya, memeriksa dengan lampu, lalu menimbang ulang.
"Kalau bidang belakangnya tetap bersih, nilainya lewat empat ratus juta."
Hendra menempelkan kedua telapak tangan ke kaca. "Empat ratus juta dari barang gratis? Pak Gunawan, rak gratis Bapak masih buka?"
Gunawan tidak menanggapinya. Ia menatap Bayu. "Batu kedua?"
"Buka jendela di sisi bercak putih. Jangan dibelah penuh."
Kali ini Gunawan mengikuti tanpa pertanyaan.
Cakram gerinda mengikis kulit batu kedua. Abu-abu kusam berubah menjadi ungu lembut. Semakin dalam jendelanya dibuka, semakin jernih warna violet itu. Di bawah lampu, batu tersebut memiliki kejernihan high-ice dan sebaran warna yang rata.
Gunawan mematikan mesin.
"Violet high-ice," katanya pelan. "Minimal tiga ratus juta sebagai bahan."
Hendra menoleh kepada Bayu seperti sedang melihat makhluk yang baru turun dari langit-langit.
"Yu, jujur. Waktu kecil koen pernah jatuh ke sumur keramat?"
"Waktu kecil aku pernah jatuh dari sepeda."
"Pantas. Kepalamu berubah."
Gunawan tertawa singkat, lalu kembali serius. Ia menaruh dua batu yang sudah terbuka di atas kain hitam.
"Saya tawar tujuh ratus juta untuk keduanya. Pembayaran lewat rekening perusahaan, kuitansi resmi, pajak dan asal barang jelas. Mas bisa mencari pembeli lain dan mungkin mendapat lebih. Tapi butuh waktu, biaya gosok, dan risiko pasar."
Bayu melihat kedua batu itu. Cahaya emasnya masih kuat, tetapi tawaran Gunawan masuk akal. Ia mendapatkannya tanpa modal. Gunawan juga telah memberi akses dan bersedia membuat transaksi tercatat.
Tidak semua keuntungan harus diperas sampai tetes terakhir.
"Tujuh ratus juta," kata Bayu. "Dengan satu syarat."
Gunawan menegang. "Apa?"
"Batu Rp500 juta tadi tetap dikarantina sampai hasil laboratorium keluar. Kalau terbukti dimanipulasi, laporkan pemasoknya."
Gunawan mengulurkan tangan. "Sepakat."
Bayu menjabatnya.
Dokumen pembelian disiapkan. Foto kedua batu dilampirkan, nomor stok dari kuitansi hadiah dicocokkan, dan rekening perusahaan tercetak pada bukti transfer. Beberapa menit kemudian, ponsel Bayu bergetar.
Rp700.000.000 masuk.
Hendra membaca angka itu dua kali.
"Tujuh ratus juta," gumamnya. "Dalam sehari koen dapat lebih banyak daripada bengkelnya aku kumpulkan sampai rambutku putih."
"Bengkelmu baru tiga tahun."
"Jangan rusak dramaku."
Gunawan membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop hitam dengan cap emas.
"Pekan depan ada lelang batu tahunan Surabaya di hotel bintang lima. Undangan VIP terbatas untuk pemasok, kolektor, dan pemilik jaringan toko." Ia menyerahkan amplop itu kepada Bayu. "Datanglah. Orang dengan mata seperti Mas tidak boleh berhenti di gudang saya."
Bayu menerima undangan tersebut. "Terima kasih, Pak Gunawan."
"Kali ini saya yang berterima kasih."
Mereka baru melangkah keluar dari ruang potong ketika dunia di depan Bayu bergoyang.
Lampu toko memanjang menjadi garis putih. Suara mesin terdengar jauh. Rasa berat yang sejak pasar tadi hanya menekan belakang matanya kini berubah menjadi nyeri tumpul sampai ke tengkuk.
Kakinya kehilangan tenaga.
Hendra menangkap lengannya sebelum ia jatuh. "Yu!"
"Aku tidak apa-apa."
"Wajah koen seperti kertas kuitansi. Duduk."
Hendra memaksanya duduk di kursi dekat pintu dan mengambil air mineral. Bayu menutup mata. Setiap kali ia mencoba menggunakan Mata Dewa lagi, nyeri di kepalanya meningkat.
Ada batas.
Dalam kurang dari dua hari, ia memindai puluhan batu, menembus struktur berulang kali, dan memaksa kemampuan itu bekerja pada detail kecil batu palsu. Mata Dewa memiliki batas. Jangkauan dan kedalaman penglihatan yang lebih besar menguras lebih banyak tenaga.
"Kita ke klinik," kata Hendra.
"Tidak perlu. Istirahat sebentar cukup."
"Kalau pingsan, tujuh ratus jutamu aku pakai buat bayar ambulans paling mahal."
Bayu membuka satu mata. "Ambulans tidak perlu tujuh ratus juta."
"Berarti sisanya buat makan."
Candaan itu membuat napas Bayu sedikit lebih ringan. Setelah lima belas menit, pandangannya stabil. Ia menyimpan satu aturan baru di kepala: jangan memakai kemampuan tanpa perhitungan.
Sebelum pergi, ia membuka aplikasi bank.
Sepuluh juta rupiah dikirim kepada Sinta. Dua puluh juta dikirim ke rekening Ayah di Pacitan.
Telepon datang kurang dari semenit kemudian.
"Le."
Suara Suradi terdengar rendah. Di belakangnya, Bayu mendengar Ibu bertanya mengapa bank mengirim pesan berkali-kali.
"Inggih, Pak."
"Duit segini dari mana?"
Bayu menatap bukti transaksi dari Toko Zamrud Nusantara. "Dari jual batu, Pak. Ada kuitansi, ada pembeli, semuanya tercatat. Halal."
Ayahnya diam cukup lama hingga Bayu bisa mendengar suara televisi tetangga melalui sambungan.
"Kamu tidak berutang?"
"Belum ada."
"Bagian orang lain juga tidak kamu ambil?"
"Saya tidak menyentuh hak siapa pun, Pak."
"Baik." Suara Suradi melunak sedikit. "Uang besar membuat jalan terlihat pendek. Jangan sampai kamu lupa jurangnya."
"Saya ingat."
Ibu mengambil telepon dari tangan Ayah. "Le, kamu sudah makan? Dua puluh juta ini untuk apa sebanyak itu?"
"Perbaiki atap dulu, Bu. Sisanya simpan. Jangan bilang ke banyak orang."
"Ibu hanya mau kamu pulang dalam keadaan sehat."
Bayu menutup mata sesaat. "Iya, Bu."
Setelah telepon berakhir, saldonya tersisa sekitar Rp715 juta. Angka itu dapat membeli rumah kecil, kendaraan, atau membuka usaha. Namun peringatan Ayah terasa lebih berat daripada angka di layar.
Hendra menyodorkan kunci motor. "Aku antar ke kos. Koen tidak boleh menyetir."
Mereka melaju pelan melewati jalan yang mulai dipenuhi lampu malam. Udara Surabaya hangat, tetapi tubuh Bayu masih dingin oleh kelelahan. Ia tidak menggunakan Mata Dewa. Ia hanya membiarkan matanya beristirahat.
Ketika motor melewati salah satu gerai perhiasan Wibowo, rasa dingin lain menyentuh tengkuknya. Peringatan itu terasa jelas di balik lelahnya.
Bayu menepuk bahu Hendra. "Pelankan."
Di depan gerai, Intan baru saja keluar. Blazernya telah diganti dengan kemeja putih. Di pergelangan tangannya terpasang gelang giok bernilai tinggi, kemungkinan barang yang baru diambil dari toko.
Di seberang jalan, dua motor berhenti di bawah bayangan pohon. Mesin keduanya masih hidup. Empat pria berhelm tidak melihat etalase, tidak melihat lalu lintas.
Mereka hanya melihat Intan.
Salah satu pengendara menggeser motornya setengah meter, membentuk jalur lurus ke arah trotoar. Yang lain menutup arah menuju tempat parkir.
Hendra mengikuti tatapan Bayu. Wajahnya langsung mengeras.
"Begal, Bro. Incaran mereka cewek itu."
Bayu sudah menekan 110. Ia menyebut lokasi, jumlah motor, warna jaket, dan arah kendaraan kepada operator. Lalu ia turun sebelum motor Hendra benar-benar berhenti.
Ia tidak bisa berkelahi.
Namun ia bisa membuat para penjahat itu kehilangan satu hal yang paling mereka butuhkan: kesempatan.
"Intan!" teriak Bayu sambil melangkah cepat. "Mobil jemputan di sini!"