Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Perkawinan Tanpa Doa di Aula Penjara
Sore itu, tidak ada selembar pun kain hiasan berwarna merah keemasan yang digantung untuk merayakan apa pun di gerbang batu Aula Penjara Kuil Tinggi. Lorong panjang yang menuju ke arah meja pengadilan kuno tersebut tampak sangat kaku, gelap, dan diselimuti oleh kabut kelabu tebal yang terus-menerus meneteskan sisa air hujan merkuri dari langit Planet Akuma. Suasana di sepanjang lorong batu hitam itu terasa begitu mati, memancarkan hawa ketegangan yang luar biasa mencekam bagi siapa pun yang melangkah masuk. Aturan kejam di klan Shinto menetapkan bahwa ritual pengikatan darah yang dilaksanakan di bawah status hukuman pengusiran harus dijalankan secara sunyi, tanpa ada suara tabuhan genderang, dan tanpa ada barisan doa restu dari pasukan pengawal.
Di dalam ruangan yang sangat dingin tersebut, Sayuri berdiri tegak di depan sebuah altar batu hitam yang sudah retak permukaan atasnya. Gaun sutra putih mewahnya yang bersulam benang perak tampak kusam. Sebagian kain bagian bawahnya bahkan telah kotor terkena noda lumpur hitam akibat dipaksa melintasi jalanan kuil bawah tanah. Wajah cantiknya yang putih bersih terlihat sangat pucat pasi, memancarkan perpaduan rasa benci, muak, dan harga diri bangsawan yang hancur lebur tepat di depan mangkuk perak upacara. Setiap hela napasnya berjalan sesak, menahan rasa terkejut dan frustrasi mendalam atas keputusan sepihak dari ayahnya, Gendo Kuil Tinggi.
Di samping kanan Sayuri, Ryuken berdiri dengan posisi tubuh kurusnya yang diam membeku tanpa bergerak satu milimeter pun. Baju hitam miliknya yang compang-camping masih bersimbah noda darah kering sisa pertarungan sengit melawan pangeran Ren dan Valen Vorash di Altar Baja Utama tadi siang. Tangan kanannya yang dipenuhi kapalan kasar bekas latihan malam hari dibiarkan menggantung lemas di samping tubuh, sedangkan katana tua berkarat di pinggang kirinya tetap tersimpan bisu di dalam sarung kayu yang telah lapuk dimakan usia. Tidak ada setitik pun rasa puas atau kesombongan keluar dari sepasang mata hitam legamnya yang setenang kematian. Ryuken membiarkan tubuhnya mengering dengan sendirinya, menolak untuk menunjukkan kelemahan di hadapan para saksi adat kuil.
Seorang pendeta tua berwajah kaku dari faksi kuil tradisional melangkah maju hanya membawa sebilah belati perak kecil untuk upacara. Tanpa mengucapkan satu patah kata sambutan pun yang ramah, sang pendeta langsung menarik pergelangan tangan kanan Sayuri dengan kasar, lalu menggores permukaan kulit jarinya hingga mengeluarkan tetesan darah merah segar. Sayuri memalingkan wajah cantiknya ke arah kiri dengan gerakan tubuh yang sangat angkuh, membiarkan rasa perih itu membakar jarinya tanpa ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya yang mendadak dingin kaku.
CRACK...
Hal yang sama dilakukan oleh pendeta tersebut ke ujung jari manis kanan Ryuken. Ia membiarkan darah Ryuken mengalir keluar lambat, berbaur dan menyatu dengan tetesan darah Sayuri di dalam wadah mangkuk batu hitam altar pemurnian. Ini adalah detik di mana janji pernikahan politik paksa resmi mengunci masa depan dan seluruh silsilah kehidupan Sayuri ke dalam takdir Ryuken seumur hidupnya, di bawah aturan klan yang sangat kejam dan mengikat kaku. Pengikatan darah ini bertindak sebagai keputusan mutlak yang mengunci hak waris pertama Kuadran Utara, menghancurkan sepihak seluruh rencana perjanjian dagang Kekaisaran Vorash di depan umum.
Setelah ritual pengikatan darah selesai dilakukan tanpa adanya doa dari dewan tetua, Sayuri seketika menarik kasar tangannya dari genggaman pendeta tua. Ia membalikkan tubuh anggunnya dengan gerakan yang sangat angkuh dan dingin melintasi lantai kuil yang berdebu kotor. Air mata yang telah membeku di sudut kelopak matanya kembali mengalir deras membasahi pipinya yang mulus, berubah menjadi hawa dingin yang menyayat hatinya yang terluka parah. Tangisan itu murni meletus karena luapan rasa ngeri, terkejut, dan frustrasi yang gila akibat kehancuran total seluruh martabat keluarganya di depan publik perguruan.
"Jangan pernah bermimpi untuk berani menyentuh selembar kain pakaianku atau melangkah masuk melintasi batas kamar tidurku, Ryuken!" desis Sayuri. Nada suaranya terdengar sangat tajam bagai sebilah belati es yang memutus keheningan aula seutuhnya. Ia menatap sangat benci dan penuh penolakan ke arah tubuh kurus Ryuken yang masih berdiri kosong di samping mangkuk darah. "Perjanjian darah ini hanyalah alat busuk yang dirancang Kaelen dan ayahku untuk menghina diriku! Di mataku, kau akan tetap menjadi seonggok budak pembersih cacat yang paling menjijikkan di dunia! Pergilah mati di dalam gudang kayu lapuk Sektor Belakangmu itu sebelum malam ini menghabiskan sisa nyawamu!"
Ryuken tidak membalas racun penolakan kejam dan makian kasar dari wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya tersebut dengan teriakan marah atau kepalan tangan penuh dendam yang murahan. Ia hanya menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda menghormati pelayan Kuil Tinggi, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan menutupi sebagian wajah pucatnya yang tenang. Ryuken berbalik secara perlahan. Ia kembali menyeret sepasang kakinya yang linu melintasi tumpukan debu batu hitam luar ruangan, melangkah tertatih-tatih kembali menuju ke arah gudang tempat tinggalnya untuk mengemasi sisa pakaiannya, sebelum batas waktu pengusiran dari Kaelen habis seutuhnya.
Sayuri berdiri termangu sendirian di bawah cahaya lilin redup yang bergoyang kaku. Ia mencengkeram erat jemarinya yang mendadak dingin menahan gejolak rasa asing yang sangat menjengkelkan di dalam hatinya. Gengsi kasta kuil tingginya hancur lebur ditelan kenyataan pahit pernikahan tanpa perayaan ini. Ia menolak untuk memaafkan takdir yang telah mengunci darahnya bersama pria miskin berkarat tersebut, tanpa tahu bahwa di masa depan yang tak berujung, tubuh pria yang baru saja ia usir dengan kata-kata keji inilah yang akan berdiri sebagai perisai daging terakhir. Pria itu akan menyerahkan seluruh nyawanya demi melindungi Sayuri dari pembantaian badai pembunuh bayaran bertopeng hitam di tanah Planet Akuma seutuhnya.