Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Tak terduga
"Tujuh puluh ribu koin emas untuk kalung zamrud sebesar telur puyuh ini? Dan Anda membelinya hanya karena warnanya persis sama dengan warna mata Tuan Duke?"
Suara Odette melengking memecah kesunyian ruang kerja. Pelayan itu mengangkat sebuah kalung dengan bandul zamrud hijau tua yang dikelilingi berlian berukuran tidak wajar. Ia memegangnya tinggi-tinggi seolah sedang memamerkan barang bukti kejahatan di depan hakim persidangan.
Geneviève mengurut pangkal hidungnya perlahan. Kepalanya yang sudah berhenti berdenyut kini mulai terasa pening lagi. Ia duduk di balik meja kayu ek berukuran besar yang penuh dengan tumpukan buku besar bersampul kulit. Tumpukan dokumen keuangan wilayah Montmirail dan catatan pengeluaran pribadinya berserakan di mana-mana.
"Itu belum seberapa, Odette," jawab Geneviève dengan nada datar. Matanya tidak lepas dari deretan angka di buku kas yang terbuka di hadapannya. "Coba kau lihat kotak beludru merah di sebelah kiri kakimu."
Odette menunduk. Ia menendang pelan kotak itu hingga terbuka. Matanya langsung menyipit silau karena pantulan cahaya dari dalam sana. "Sebuah bros emas berbentuk kepala singa. Mulut singanya menggigit batu mirah delima. Dan tunggu sebentar. Kenapa di bagian belakangnya ada ukiran huruf L dan G yang diikat dengan pita?"
"L untuk Lucien. G untuk Geneviève. Wanita yang dulunya menempati ruang di kepalaku ini mengira itu adalah ide yang romantis," sahut Geneviève tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. Tangannya dengan lincah mencoret angka-angka pengeluaran menggunakan pena bulu. "Bros itu seharga empat puluh ribu koin emas. Jika kita mencairkan seluruh perhiasan norak di ruangan ini, kita bisa mengumpulkan setidaknya setengah juta koin emas dalam waktu seminggu."
Odette meletakkan kalung zamrud itu kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan. Tatapannya beralih pada majikannya. Ia menatap Geneviève dari ujung rambut yang kini disanggul rapi ke belakang hingga ke kerah gaun rumahan berwarna biru pucat yang sangat sederhana. Sama sekali tidak ada renda berlebihan. Sama sekali tidak ada warna neon yang mencederai mata.
"Nona, saya harus bertanya sekali lagi untuk memastikan kewarasan Anda," ucap Odette curiga. "Anda benar-benar akan menjual semua barang ini? Barang-barang yang Anda kumpulkan selama tiga tahun terakhir demi menarik perhatian Duke Vaudémont? Anda bahkan pernah menampar seorang penjaga toko perhiasan karena dia berani menjual bros singa itu kepada wanita lain."
"Aku akan menjual semuanya tanpa sisa," tegas Geneviève. Ia menutup buku besar di depannya dengan bunyi debuman keras. "Aku butuh modal segar. Menyimpan perhiasan dengan desain memalukan ini tidak akan menghasilkan bunga pinjaman. Mulai hari ini, aku akan membuka bisnis perhiasan. Sesuatu yang elegan. Sesuatu yang berkelas. Aku akan menamai tokonya Le C'eow. Semua perhiasan norak ini akan dilebur menjadi modal awal."
Mata Odette berbinar terang. Mendengar kata modal awal dan bisnis langsung menyentuh sisi materialistis di dalam hatinya. "Kalau begitu, saya kenal beberapa rentenir pasar gelap dan pandai besi yang bisa melebur emas ini tanpa banyak bertanya. Mereka tidak akan peduli pada ukiran huruf L dan G yang menggelikan itu."
"Bagus. Urus itu besok pagi." Geneviève menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa sedikit lega. Setidaknya rencana finansialnya mulai berjalan.
Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Pintu ruang kerja diketuk tiga kali dengan ketukan yang sangat teratur. Pierre, kepala pelayan keluarga Montmirail yang rambutnya sudah memutih, melangkah masuk dengan ekspresi tegang.
"Mohon ampun karena mengganggu Anda, Nona Muda," ucap Pierre seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Tetapi ada tamu yang tiba-tiba datang berkunjung. Mereka sedang menunggu di ruang tamu utama sekarang."
Geneviève mengernyit. "Aku tidak punya jadwal menerima tamu hari ini, Pierre. Siapa yang datang berkunjung di jam kerja seperti ini tanpa mengirim surat pemberitahuan lebih dulu? Sangat tidak sopan."
Pierre menelan ludah. Keringat dingin terlihat di pelipisnya. "Itu adalah Yang Mulia Putri Mahkota Camille de Chanteclair. Beliau datang dikawal langsung oleh Yang Mulia Duke Lucien de Vaudémont beserta ksatria pribadinya."
Hening turun menyelimuti ruangan itu dengan sangat cepat.
Geneviève menghentikan gerakan tangannya. Odette yang sedang menghitung jumlah kotak perhiasan langsung menjatuhkan bros singa ke lantai.
Kemarahan segera merambat di dada Geneviève. Ini adalah bentuk ketidaksopanan kelas atas di kalangan bangsawan Valerand. Datang tanpa pemberitahuan ke rumah seorang putri Duke adalah penghinaan terang-terangan. Terlebih lagi, Camille membawa Lucien bersamanya. Membawa pria yang kemarin baru saja mempermalukan Geneviève di depan umum. Ini bukan kunjungan persahabatan. Ini adalah pamer kekuasaan.
Di novel aslinya, Putri Mahkota Camille memang digambarkan memiliki sindrom penyelamat dunia. Ia suka memposisikan dirinya sebagai malaikat yang penuh belas kasih. Mengunjungi penjahat wanita yang sedang patah hati pasti akan membuat nama Camille semakin harum di kalangan sosialita ibu kota.
Benar-benar trik rendahan yang membuat mual.
"Nona," bisik Odette panik. Pelayan itu langsung melompat ke arah lemari pakaian darurat di sudut ruangan. "Apakah Anda butuh gaun yang baru? Saya masih bisa mencari gaun warna ungu terang yang kemarin belum sempat Anda bakar. Anda tidak boleh terlihat kalah dari Putri Mahkota. Kita harus merias wajah Anda agar lebih cerah. Tolong jangan menangis sekarang."
"Tutup lemarinya, Odette," perintah Geneviève tenang. Ia berdiri dari kursinya.
Odette menoleh dengan wajah bingung. "Tetapi Nona, Tuan Duke ada di bawah sana. Bersama wanita yang Anda benci setengah mati."
"Lalu kenapa?" Geneviève merapikan lipatan gaun rumahan berwarna biru pucatnya. "Ini adalah rumahku. Jika mereka tidak punya sopan santun untuk mengirim surat, aku juga tidak punya kewajiban untuk merias diri menyambut mereka. Mari kita temui tamu tidak diundang kita."
Geneviève melangkah keluar dari ruang kerja dengan dagu terangkat tinggi. Odette mengikuti di belakangnya sambil meremas celemeknya sendiri. Di dalam hati, Odette bersiap menghadapi badai air mata dan amukan histeris yang biasa terjadi jika majikannya melihat Lucien bersama wanita lain.
Mereka menuruni tangga marmer ganda yang melengkung indah di tengah rumah utama. Sepatu Geneviève tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat menyentuh lantai. Saat ia melangkah masuk ke ruang tamu utama, pemandangan di depannya terlihat persis seperti lukisan klasik yang membosankan.
Putri Mahkota Camille duduk di sofa tunggal berlapis beludru merah muda. Wanita itu terlihat sangat menawan. Gaunnya berwarna putih bersih dengan sulaman benang emas di sepanjang ujung roknya. Rambut pirangnya bergelombang sempurna memantulkan cahaya matahari dari jendela. Senyumnya terlihat sangat rapuh dan polos, persis seperti malaikat turun dari surga.
Dan berdiri tidak jauh darinya, kaku layaknya patung penjaga, adalah Lucien de Vaudémont.
Pria itu mengenakan kemeja berkerah tinggi khas bangsawan Prancis yang sangat pas di badan atletisnya, dibalut dengan rompi berwarna hitam pekat. Wajahnya sangat tampan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata hijau tuanya memancarkan aura dingin yang membekukan ruangan.
Di sudut ruangan dekat pintu, bersandar seorang pria berpakaian zirah kulit serba hitam. Gaspard. Ksatria bayangan Lucien itu menatap lurus ke depan, wajahnya sekaku batu bata. Odette langsung membuang muka saat tidak sengaja bersitatap dengan ksatria itu.
Geneviève tidak memedulikan aura dingin yang dibawa rombongan tamu tersebut. Ia berjalan mendekat dan melakukan gerakan salam hormat yang sangat standar. Tidak berlebihan, tidak juga kurang.
"Salam kepada Cahaya Kekaisaran, Yang Mulia Putri Mahkota. Dan salam untuk Anda, Tuan Duke," ucap Geneviève dengan nada suara yang sangat datar. Ia kemudian mengambil tempat duduk di sofa seberang tanpa menunggu dipersilakan. Lagipula, ini rumahnya sendiri.
Mata Lucien sedikit melebar. Pria itu menatap Geneviève dari atas ke bawah. Tidak ada gaun norak. Tidak ada riasan tebal. Tidak ada tatapan memuja dan air mata yang biasanya menggenang di mata wanita itu. Geneviève yang duduk di depannya saat ini terlihat seperti orang asing yang sangat elegan.
Senyum manis di wajah Camille sedikit kaku, namun wanita itu segera menguasai dirinya.
"Geneviève, temanku sayang," sapa Camille dengan suaranya yang lembut dan mendayu-dayu. Suara yang dirancang khusus untuk membuat siapa pun merasa disayangi. "Aku harap kunjunganku yang mendadak ini tidak mengganggu waktu istirahatmu. Aku sangat mengkhawatirkan kondisimu sejak kemarin."
Geneviève menatap lurus ke arah mata biru Camille. "Saya dalam keadaan sangat sehat, Yang Mulia. Apakah ada alasan khusus mengapa Anda harus mengkhawatirkan saya di jam sibuk seperti ini?"
Camille menghela napas pelan, pura-pura bersimpati. Ia melirik sekilas ke arah Lucien sebelum kembali menatap Geneviève. "Aku dengar dari para pelayan istana tentang kejadian di gerbang kemarin sore. Tentang kereta kudamu dan... kue yang kau siapkan untuk Duke Vaudémont. Aku tahu perasaanmu pasti sangat hancur. Kau menangis sangat keras sampai penjaga gerbang mendengarnya. Karena itu aku meminta Duke Vaudémont untuk menemaniku ke sini. Aku ingin menengahi kesalahpahaman di antara kalian."
Rasa frustrasi Geneviève merangkak naik perlahan. Wanita ini benar-benar ular berbisa. Camille sengaja mengungkit kejadian memalukan itu di depan pelayan dan ksatria demi memojokkan Geneviève. Camille ingin melihatnya menangis histeris. Camille ingin melihatnya melempar barang.
"Anda pasti salah dengar, Yang Mulia," balas Geneviève sambil tersenyum tipis, sebuah senyum sopan namun tidak mencapai matanya sama sekali. "Saya menangis keras kemarin murni karena debu jalanan yang sangat tebal berterbangan ke mata saya. Saya rasa dewan kota harus mulai memperbaiki jalan berbatu di depan gerbang istana. Saya sama sekali tidak hancur. Kereta kuda saya hanya perlu dibersihkan."
Lucien mengerutkan keningnya. Alis tebalnya bertaut. "Kau tidak perlu berpura-pura tegar di depan Yang Mulia Putri Mahkota, Nona Montmirail. Kelakuanmu kemarin sudah cukup mengganggu ketertiban umum. Aku datang ke sini murni atas perintah Yang Mulia untuk memastikan kau tidak melakukan tindakan nekat yang membahayakan nyawamu sendiri."
Suara Lucien bariton, berat, dan dipenuhi dengan rasa muak yang tidak ditutupi. Pria itu menatap Geneviève seolah sedang melihat noda kotor di karpetnya.
Di kehidupan aslinya, Geneviève pasti akan merasa hatinya dicabik-cabik mendengar nada bicara setajam itu. Namun sekarang, ia murni hanya merasa kesal karena waktunya terbuang.
"Tindakan nekat?" Geneviève tertawa kecil. Suara tawanya terdengar kering dan sangat sinis. Ia menumpukan sikunya di sandaran sofa dan menopang dagunya. "Tuan Duke, Anda sangat melebih-lebihkan nilai diri Anda di mata saya. Menyakiti diri sendiri demi seorang pria yang menolak kue buatan saya adalah investasi emosional yang sangat merugikan. Saya memiliki ratusan hal yang lebih penting untuk diurus hari ini daripada menangisi masa lalu."
Keheningan kembali menyergap ruang tamu itu. Odette yang berdiri di belakang sofa Geneviève harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak bersorak kegirangan.
Lucien terdiam kaku. Ada kilatan kebingungan melintas di mata hijau tuanya. Jawabannya tertahan di tenggorokan. Selama tiga tahun ini, Geneviève selalu mengejarnya bagai anjing yang kelaparan. Memanggil namanya dengan penuh kerinduan, mengirim hadiah-hadiah mahal, dan menangis jika ia bersikap dingin. Kini, wanita di depannya menatapnya dengan pandangan kosong. Sama sekali tidak ada jejak cinta di mata cokelat terang Geneviève. Ruang kosong yang tiba-tiba hadir di antara mereka entah kenapa membuat dada Lucien terasa sedikit sesak.
Camille menyadari perubahan suasana tersebut. Tangan wanita pirang itu meremas sapu tangannya dengan kuat. Rencananya memamerkan kekuasaan sama sekali tidak berjalan lancar. Geneviève tidak terpancing. Geneviève tidak terlihat menyedihkan.
"Geneviève, kau mungkin merasa terluka sekarang, tapi tidak apa-apa," ucap Camille. Suaranya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Ia tiba-tiba berdiri dari kursinya. Gaun putihnya berdesir halus di atas lantai marmer.
Wanita suci itu melangkah maju melintasi meja teh. Tanpa peringatan apa pun, Camille menunduk dan meraih kedua tangan Geneviève yang berada di atas pangkuan.
Geneviève terkejut. Invasi ruang pribadi yang tiba-tiba ini melanggar etika dasar. Ia baru saja akan menarik tangannya ketika kulit Camille bersentuhan dengan kulitnya.
Seketika, hawa dingin yang tidak wajar merayap naik dari telapak tangannya. Dingin itu menjalar cepat melewati lengan, merayap ke leher, dan langsung menembus masuk ke dalam kepalanya.
Camille tersenyum sangat manis. Mata birunya menatap tepat ke manik mata Geneviève. Sebuah tatapan polos yang menyembunyikan jurang mematikan di baliknya.
Kepala Geneviève mendadak berdenyut hebat. Pandangannya mulai berbayang. Ruang tamu itu tampak berputar. Suara napasnya sendiri terdengar bergema di telinganya. Dan di saat yang bersamaan, sebuah suara bisikan halus, suara yang persis menyerupai suaranya sendiri, mulai bergema di dalam otaknya.
Kau mencintainya. Kau sangat mencintai Lucien. Kau rela mati untuknya. Rebut dia kembali. Menangislah sekarang. Sujud di kakinya.
Geneviève melebarkan matanya. Kepanikan mulai meronta di dadanya. Tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Ia menatap wajah malaikat Camille yang masih tersenyum tanpa dosa. Di titik inilah Geneviève sadar sepenuhnya. Ini bukan serangan panik. Ini adalah Sihir Putih. Sihir halusinasi pengendali pikiran yang sedang disalurkan Camille tepat ke dalam otaknya.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa komen atau like. Sesekali berkunjung di Tiktok dan Instagram aku untuk mendapatkan update ceritaku yang lainnya🫶🫶
Tiktok & Ig: nadnote__