NovelToon NovelToon
Sukses Setelah Kau Campakkan

Sukses Setelah Kau Campakkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pengganti
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."

"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"

Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.

Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke Rumah

"Mas, dengar... itu suara mobil Alfa! Dia benar-benar datang!"

Suara bisikan Imelda yang setengah tertahan memecah obrolan serius di ruang tamu mewah kediaman Abraham.

Imelda bergegas meletakkan cangkir teh porselennya ke atas meja, lalu buru-buru menyentuh lengan Azad dengan tatapan mata yang dipenuhi peringatan.

"Aku mohon padamu, Mas. Nanti begitu Alfa masuk, jangan mengajaknya ribut atau memancing emosinya lagi. Tolong tahan egomu sedikit saja malam ini," bisik Imelda dengan nada memohon yang sangat rendah, memastikan suaranya tidak terdengar oleh dua orang tamu terhormat yang duduk di sofa seberang mereka.

"Biarkan Alfa merasa nyaman di sini, biar dia betah menghabiskan waktu makan malam bersama kita semua,"

Azad mengembuskan napas berat. Dia tahu istrinya benar. Jika dia langsung menyambut Alfa dengan bentakan seperti tadi sore di kantor, putranya yang keras kepala itu pasti akan langsung memutar balik mobilnya dan pergi tanpa memedulikan nama baik keluarga.

"Ah, sepertinya putra mahkota kita sudah tiba, Danuar," ujar Azad dengan ramah. Dia beralih menatap Helena, gadis muda bergaun desainer malam berwarna biru dongker yang duduk anggun di sebelah ayahnya.

"Helena, ayo, Danuar... kita langsung ke meja makan saja. Hidangan malam ini sudah siap. Kita tunggu Alfa bergabung di sana,"

"Tentu, Azad. Saya sudah tidak sabar untuk berbincang langsung dengan pemuda sehebat Alfa," balas Danuar sambil berdiri, diikuti oleh Helena yang tersenyum sangat manis dan santun, memperlihatkan kelasnya sebagai putri seorang taipan.

Sementara Azad menggiring Danuar dan Helena menuju ruang makan mewah di bagian dalam rumah, Imelda mengambil langkah berlawanan. Dengan senyum yang terkembang sempurna di wajahnya yang dirawat secara mahal, dia berjalan anggun menuju pintu utama untuk menjemput Alfa di depan rumah.

Pintu jati besar itu terbuka tepat saat Alfa baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga teratas teras rumah. Pemuda itu tampak sangat tampan namun memancarkan aura yang teramat dingin. Setelan jas kerjanya yang tadi sore sudah dia tinggalkan, diganti dengan kemeja kasual berwarna hitam pekat dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Alfa, sayang... akhirnya kamu datang," Imelda menyambut Alfa. Wanita itu melangkah maju, hendak meraih lengan Alfa untuk menuntunnya masuk.

Namun, sebelum jemari Imelda sempat menyentuh permukaan kain kemejanya, Alfa sudah lebih dulu mengambil satu langkah mundur secara tegas. Gerakan refleks yang penuh penolakan itu membuat tangan Imelda tertahan di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya wanita itu menurunkannya kembali dengan canggung.

Imelda tidak membiarkan senyumnya runtuh. Dia tetap menatap Alfa dengan binar mata seorang ibu yang hangat.

"Mama sangat berterima kasih karena kamu mau meluangkan waktu malam ini, Alfa. Di dalam sudah ada keluarga Helena. Dan kamu tahu? Mama sengaja turun ke dapur sendiri sore tadi untuk memasak kepiting saus Padang dan sup iga kesukaanmu. Semua sudah ditata di meja makan,"

"Anda tidak butuh berpura-pura menjadi orang baik di depanku, Tante Imelda," ucap Alfa dengan nada suara yang sangat datar, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang tajam.

"Semua sandiwara keibuan ini... sama sekali tidak berguna,"

"Alfa, Mama hanya ingin..."

"Aku tidak akan pernah bisa menganggapmu menjadi mamaku," potong Alfa dengan cepat, tanpa memberikan kesempatan bagi wanita di hadapannya untuk membela diri..

"Karena sejak kecil, di dalam hidupku, aku sudah tidak punya mama. Dan tempat itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, termasuk Anda yang masuk ke rumah ini dengan status istri baru Papa,"

Imelda tidak merasa sakit hati sama sekali oleh penolakan Alfa, karena sejak awal, dia memang tidak pernah mengedepankan perasaan dalam mengurus anak tiri yang keras kepala ini.

Imelda mengembuskan napas pelan, lalu senyumnya kembali terkembang, kali ini tampak lebih santai dan realistis.

"Baiklah, Alfa. Jika memang begitu penilaianmu, Mama... maksudku, Tante, tidak akan memaksamu lagi," ujar Imelda dengan nada suara yang tetap lembut, tidak menunjukkan riak ketersinggungan sedikit pun.

"Tante juga tidak pernah menuntutmu untuk menganggapku sebagai ibu kandungmu yang menggantikan posisinya. Hubungan darah memang tidak bisa dipalsukan,"

"Tapi, bagaimana jika kita memulai hubungan yang baru? Kamu tidak perlu menganggap Tante sebagai ibu. Mungkin... kita bisa menjadi sepasang sahabat? Seseorang yang posisinya netral di rumah ini, di mana kamu bisa berbagi cerita, berbagi beban tentang pekerjaan di kantor, atau tentang hal lain dengan apa adanya tanpa perlu takut dihakimi seperti saat kamu bicara pada papamu,"

Alfa justru mengeluarkan kekehan pendek yang terdengar sangat hambar dan meremehkan. Dia menatap Imelda dari atas ke bawah, seolah sedang melihat sebuah taktik bisnis yang sangat mudah ditebak arahnya.

"Sayangnya, Anda salah menawarkan hal itu pada orang yang salah, Tante," balas Alfa, tatapannya mengunci mata Imelda dengan sorot yang luar biasa hampa.

"Di dalam hidup seorang Alfa Abraham... tidak ada tempat untuk menjadi sahabat bagi siapa pun. Aku tidak butuh teman bercerita, dan aku tidak butuh mata-mata yang berkedok sebagai pendengar yang baik di rumah ini,"

Setelah mengucapkan kalimat pamungkas yang meruntuhkan seluruh usaha pendekatan Imelda malam itu, Alfa langsung melangkah lebar melewati tubuh wanita paruh baya tersebut. Dia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi, meninggalkan Imelda yang berdiri sendirian di bawah lampu teras yang temaram.

Imelda memandangi punggung tegap Alfa yang perlahan menghilang di balik lorong menuju ruang makan. Senyuman manis yang sejak tadi menghiasi wajah wanita itu perlahan-lahan luntur.

"Keras kepala sekali anak itu," desis Imelda dengan suara yang sangat rendah.

Sementara itu, Alfa melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan ekspresi wajah yang kembali datar dan terkendali. Ruang makan itu tampak sangat megah, dengan meja panjang dari kayu jati utuh yang di atasnya telah tersaji belasan menu makanan mewah beraroma menggugah selera.

Di ujung meja, Azad sedang tertawa lepas mendengarkan cerita dari Danuar, sementara Helena duduk di samping kursi kosong yang sengaja disediakan untuk Alfa. Begitu sosok Alfa muncul di ambang pintu, suasana ruang makan mendadak berubah menjadi lebih formal.

"Ah, ini dia Alfa!" seru Danuar dengan wajah berseri-seri, langsung berdiri untuk menyalami pemuda yang digadang-gadang sebagai calon menantunya itu.

"Selamat malam, Alfa. Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu setelah sering mendengar prestasimu di koran bisnis,"

Alfa membalas jabat tangan Danuar dengan sopan santun khas seorang pebisnis kelas atas, namun tidak ada kehangatan di dalamnya.

"Selamat malam, Om Danuar. Mohon maaf saya agak terlambat karena jalanan Jakarta cukup padat sore ini,"

"Oh, tidak apa-apa, Alfa. Kami juga baru saja duduk," sahut Helena dengan suara yang lembut dan tertata rapi.

Gadis itu menatap Alfa dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya. Wajah tampan, tubuh tegap, dan aura misterius yang dimiliki Alfa malam itu benar-benar jauh lebih memikat daripada foto-foto yang pernah dilihatnya di media.

"Silakan duduk, Alfa. Aku sudah mengambilkan sup iga hangat untukmu,"

Alfa hanya mengangguk tipis sebagai formalitas, lalu menarik kursi di sebelah Helena dan duduk di sana. Azad yang melihat putrinya bisa bersikap sopan dan tidak membuat keributan langsung memberikan tatapan puas ke arah Alfa.

Tak lama kemudian, Imelda masuk dan bergabung di sisi Azad.

"Aku dengar dari Om Azad, kamu baru saja pulang dari Paris kemarin ya, Alfa?" tanya Helena dengan nada manis, mencoba mencari perhatian pria di sebelahnya.

"Bagaimana perjalananmu di sana? Apakah menyenangkan?"

"Hanya perjalanan bisnis biasa," jawab Alfa pendek tanpa menoleh, lalu melanjutkan makannya dengan gerakan yang kaku.

Helena agak tersentak dengan jawaban dingin Alfa, namun dia menolak untuk menyerah.

"Kebetulan bulan depan aku juga berencana ke Paris untuk menghadiri pameran seni. Jika kamu ada waktu luang, mungkin kita bisa..."

"Maaf, Helena. Jadwal kerjaku di Abraham Group sangat padat untuk beberapa bulan ke depan. Aku tidak punya waktu untuk perjalanan pribadi," potong Alfa dengan nada yang sangat tegas, membuat suasana di meja makan mendadak canggung seketika.

Azad langsung berdeham keras, memberikan tatapan memperingatkan pada Alfa, namun Alfa memilih untuk mengabaikan tatapan ayahnya itu.

1
Lisa
Sukses y utk rencananya Rayyan..
indah
next bun......seruuuu....ini bun....
yuni ati
Semakin menarik👍
yuni ati
Menarik/Good/
Lisa
Sukses y Zia di acara Paris Fashion Week nanti
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!