"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."
Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.
Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.
Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.
Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.
Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.
Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 Ini Baru Permulaan
Siska memasukkan beberapa potong bajunya ke dalam koper sembari memastikan dua orang yang berdiri di ambang pintu memperhatikannya. Air mata buaya pun menetes dari sudut matanya.
"Mas Ardy, Tante Sarah, maafkan aku, ya," isak Siska dibuat-buat, seolah ia adalah manusia paling menderita di muka bumi.
"Gara-gara aku berada di rumah ini, kamu sama mbak Kirana jadi bertengkar hebat. Memang dari dulu ku ini cuma benalu. Daripada rumah tangga kalian hancur, lebih baik aku pergi saja dari sini malam ini juga."
Siska mengangkat kopernya dan hendak melangkah. Berharap dalam hati diantara mereka ada yang menahannya agar tidak pergi.
"Siska sayang? Malam-malam begini mau pergi kemana?!" seru Sarah dengan wajah panik. Wanita paruh baya itu buru-buru menahan lengan Siska dan merebut koper dari tangannya.
"Tante, biarkan Siska pergi. Siska nggak mau dibenci mbak Kirana dan mas Ardy," ucap Siska sembari menjatuhkan kepalanya ke bahu Sarah, berakting seolah tubuhnya sudah tak bertenaga lagi.
Sarah menepuk-nepuk punggung Siska, lalu menoleh tajam ke arah putranya yang sejak tadi hanya diam membisu di dekat pintu.
"Ardy! Kenapa diam saja, lihat Siska mau pergi?! Mama sama kamu nggak pernah mengusir Siska dari rumah ini, kan? Iya kan, Ardy?! Jawab!" desak Sarah sembari menatap tajam putranya.
Ardy menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah dan tertekan. Ia menatap Siska yang kini menunduk terisak, memainkan peran sebagai korban teraniaya dengan sangat sempurna.
"Mama benar. Tinggallah di sini, Siska Kesehatanmu sedang tidak baik. Dokter bilang kamu tidak boleh stres dan butuh banyak istirahat. Aku sudah berjanji akan bertanggung jawab penuh untuk menjagamu. Jadi, jangan bertingkah konyol dengan pergi malam-malam begini," putus Ardy akhirnya.
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Ardy, sudut bibir Siska perlahan terangkat. Sebuah seringai licik dan penuh kemenangan terukir tipis di wajahnya tanpa disadari oleh Ardy.
Ya, Lagi-lagi, ia berhasil memanipulasi keadaan dan mendapatkan perhatian penuh dari laki-laki yang sebentar lagi menjadi suami sahnya.
Siska menghapus air mata palsunya dengan punggung tangan, lalu memasang wajah polosnya kembali. Dan menatap Ardy dengan pandangan penuh harap.
"Terus Mas Ardy malam ini mau tidur dimana?" tanyanya manja, berharap Ardy akan menemani di sisinya.
"Kamarku," jawab Ardy dingin.
Tanpa menunggu balasan lagi, pria bertubuh tegap itu membalikkan badan dan melangkah keluar kamar, meninggalkan ibu dan simpanannya.
Senyum di wajah Siska langsung luntur. Bibirnya mengerucut sebal. Dengan kesal luar biasa, menghentakkan kakinya ke lantai.
"Tante! Kok mas Ardy malah mau satu kamar dengan mbak Kirana, sih?!" rengek Siska kesal.
Tangisannya mendadak hilang tanpa bekas. Ia jelas tidak terima jika pria incarannya itu tidur satu ranjang dengan istri sahnya setelah semua drama yang ia ciptakan malam ini.
Sarah tersenyum seraya menepuk bahu Siska dengan penuh perhitungan.
"Tenang saja, Siska Sayang. Kamu fokus saja istirahat. Biar Tante yang urus wanita tidak tahu diri itu selama tinggal disini supaya di tidak betah. Ardy itu cuma lelah, dia tidak akan pernah sudi menyentuh perempuan mandul seperti Kirana."
"Beneran ya , Tan."
"Iya, iya."
*
*
Sementara itu, langkah Ardy berhenti di depan kamar utama. Ia membuka pintu dengan perlahan dan bersiap menghadapi amukan, tangisan atau tatapan penuh luka dari Kirana seperti biasanya.
Namun, siapa yang menyangka jika dugaannya meleset total.
Pemandangan di dalam kamar membuatnya tertegun. Tidak ada Kirana yang meringkuk menangis di sudut ranjang. Tidak ada wajah sembap atau mata yang bengkak. Kirana justru sedang duduk bersandar dengan sangat nyaman di kepala ranjang.
Istrinya itu mengenakan piyama sutra berwarna navy. Wajahnya tampak segar bercahaya sehabis menggunakan skincare dan ia sedang asyik membalik halaman novel di tangannya. Kehadiran Ardy seolah tak berarti di matanya.
"Aku mau tidur." Ardy berdehem pelan dan pura-pura melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher
Kirana bahkan tidak repot-repot mengangkat wajahnya dari buku. Dengan wajah datar dan nada kelewat santai, ia menjawab, "Silakan."
Merasa mendapat lampu hijau, Ardy melangkah mendekat. Ia membuka kancing kemejanya satu per satu, bersiap naik ke atas kasur empuk itu untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Namun, baru saja satu lututnya menyentuh pinggiran kasur...,
Bug!
Kirana menarik bantal guling dan melemparnya ke dada Ardy hingga pria itu terhuyung mundur selangkah. Ardy membelalakkan matanya tak percaya.
"Mau ngapain kamu, Mas?!" sentak Kirana.
"Tidur, apalagi?! Aku capek seharian mengurus kekacauan di rumah ini!" balas Ardy dengan nada tinggi, emosinya mulai terpancing.
Kirana menunjuk lurus ke arah sofa panjang di sudut ruangan.
"Kalau mau tidur, silahkan tidur di sofa!" serunya tanpa ragu.
Ardy mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Wajah tampannya mengeras menahan marah.
"Jangan gila, Kirana! Aku ini suamimu! Dan ini juga kamarku, apa kamu lupa?!"
Kirana justru tersenyum tipis. Sebuah senyum sinis yang tak pernah Ardy lihat selama tiga tahun pernikahan mereka.
"Benar. Ini memang kamarmu. Tapi asal kamu tahu, Mas, ranjang ini dibeli setelah kita menikah menggunakan uang tabunganku juga. Berarti setengah dari kasur ini adalah milikku," balas Kirana ucap Kirana dengan lembut tapi menusuk.
Kirana mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam manik mata suaminya yang perlahan terkejut.
"Tapi sayangnya, malam ini aku sedang tidak berbaik hati untuk membagi barang milikku. Kalau kamu mau tidur, ya tidur saja di sofa. Entah sejak kapan aku mulai alergi satu ranjang dengan suami yang tubuhnya sudah disentuh, diendus dan dipeluk oleh wanita lain. Aku takut kuman dan virus murahan dari perempuan menular ke kulitku yang sensitif ini," imbuh Kirana dengan senyum mengejek.
Kata-kata itu meluncur tajam bak silet, merobek ego Ardy tanpa ampun.
Ardy terpaku. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Tangannya pun sampai mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Ia ingin membalas, ingin membentak Kirana, tapi lidahnya kelu melihat aura dominan dan sorot mata istrinya yang tak lagi menyiratkan cinta, melainkan kebencian yang luar biasa.
"Sial!" gumamnya dalam hati.
Dengan napas memburu karena harga dirinya diinjak-injak, Ardy berbalik arah dengan kesal. Ia menyambar handuknya dari gantungan, lalu menuju kamar mandi dan membanting pintunya.
Sementara di atas ranjang, Kirana hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Ia kembali membuka halaman novelnya, tersenyum puas menikmati kemenangan pertamanya malam ini.
"Ini baru permulaan Mas. Karena tidur di sofa nggak sebanding dengan sakitnya aku yang kehilangan bayiku," ucap Kirana dengan seringai tipis yang terukir sudut di bibirnya.
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy