Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang misterius!
"Aku... disuruh." Katanya akhirnya dengan suara kecil dan gagap.
Gaga langsung menyipitkan mata.
"Disuruh siapa?" Tanyanya dingin.
Joko tampak ragu-ragu. Tatapannya gelisah ke kanan dan kiri seolah takut ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Ngomong!" bentak Pandu tidak sabar.
Joko langsung tersentak. Joko yang sudah ketakutan akhirnya mulai berkata.
Aku nda tahu dia siapa." Katanya lirih sambil menundukkan kepala.
Gaga, Pandu, dan Santa langsung saling pandang. Jawaban itu justru membuat mereka semakin curiga.
"Apa maksudmu?" Tanya Santa dengan kening berkerut.
Joko menelan ludah sebelum melanjutkan. Tangannya terlihat gemetar di atas meja.
"Beberapa hari lalu, tepatnya tiga hari yang lalu, ada seseorang yang menghubungiku."
"Melalui apa?" Tanya Pandu cepat.
"Telepon."
"Nomornya?" sahut Gaga.
Joko menggeleng pelan.
"Ada tapi nomornya itu sudah nda bisa dihubungi lagi."
Santa menyilangkan tangan di dada.
"Lalu orang itu langsung menyuruhmu berbohong?"
Joko mengangguk.
"Dia bilang aku hanya perlu mengatakan kalau melihat Sekar pergi malam itu. Tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi."
Mata Gaga langsung membelalak.
Santa bahkan sampai terdiam beberapa saat.
Joko lalu menceritakan semuanya.
Awalnya ia menolak permintaan itu. Ia merasa tidak enak harus berbohong tentang orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Namun orang tersebut terus membujuknya.
Bahkan menawarkan sejumlah uang sebagai imbalan.
"Aku lagi butuh uang." Kata Joko dengan suara penuh penyesalan.
"Istriku sebentar lagi melahirkan. Aku bingung cari biaya."
Joko mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Makanya,. akhirnya aku terima."
Gaga, Pandu, dan Santa benar-benar terkejut mendengar pengakuan itu.
Mereka tidak menyangka petunjuk yang selama ini mereka tunggu ternyata hanya kebohongan yang sengaja dibuat seseorang.
Pandu yang sedari tadi diam akhirnya bertanya.
"Memangnya berapa bayaran yang kau terima sampai mau melakukan kebohongan seperti itu?"
Joko tampak malu.
Dia menunduk beberapa saat sebelum menjawab pelan.
"Satu juta rupiah."
"Apa?" Santa langsung membelalak.
Pandu juga tampak terkejut.
"Hanya untuk bilang pernah lihat Sekar?" Tanyanya tidak percaya.
Joko mengangguk pelan.
"Satu juta."
Mendengar itu, wajah Gaga justru semakin serius.
Karena bagi dirinya, yang penting bukan lagi soal uangnya.
Melainkan fakta bahwa ada seseorang yang rela mengeluarkan uang hanya untuk menyebarkan informasi palsu tentang Sekar.
Gaga yang sejak tadi berpikir keras kembali menatap Joko.
"Orang yang menghubungimu itu perempuan atau laki-laki?" Tanyanya.
Joko langsung menggeleng.
"Aku nda tahu."
"Kenapa bisa nda tahu?" Tanya Pandu.
"Soalnya suaranya aneh." Jawab Joko.
"Kayak suara robot. nda tau laki-laki atau perempuan."
Santa yang mendengar itu langsung mengangguk.
"Pasti pakai pengubah suara dari ponsel."
Mereka semua menoleh ke arahnya.
"Sekarang banyak aplikasi begitu." Lanjut Santa.
"Orang bisa mengubah suaranya jadi aneh supaya nda dikenali."
Gaga kembali terdiam.
Kalau benar suara itu diubah, Berarti orang tersebut memang tidak ingin identitasnya diketahui.
Dan itu membuat Gaga semakin yakin bahwa orang yang menyuruh Joko berbohong bukan sedang bercanda.
Orang itu sengaja menyusun kebohongan ini dengan hati-hati. Bahkan sampai menyamarkan suaranya agar tidak bisa dikenali.
Gaga menatap tajam ke arah Joko. Sementara kedua tangannya mengepal di atas meja.
"Semua yang kau katakan itu benar?" bentaknya keras hingga beberapa orang di warung kembali menoleh ke arah mereka.
Joko tersentak. Wajahnya langsung pucat. Ia buru-buru mengangguk berkali-kali.
"Iya, benar! Demi apa pun, aku nda bohong kali ini!" Jawabnya gugup.
Gaga masih belum puas. Dia sedikit membungkukkan badan mendekati Joko.
"Jangan main-main denganku, Jok. Kalau sampai ada satu saja yang kau tutupi, kau tahukan orang seperti apa aku ini!"
Joko menelan ludah.
"Aku serius, Ga. Semua yang aku ceritakan tadi benar adanya."
"Kau yakin?" Tanya Pandu dengan tatapan curiga.
"Yakin."
"Benar-benar yakin?" Santa ikut menekan.
Joko mengangguk lebih keras lagi.
"Demi Tuhan, aku nda bohong."
Suasana menjadi hening beberapa saat.
Joko lalu mengangkat tangan kanannya seolah sedang bersumpah.
"Kalau aku masih bohong, kalau aku masih menyembunyikan sesuatu, aku rela disambar geledek!"
Ucapan itu membuat Pandu, Santa, dan Gaga saling pandang.
Di kampung mereka, sumpah seperti itu bukan hal yang biasa diucapkan sembarangan. Kebanyakan orang percaya bahwa mengucapkan sumpah palsu bisa mendatangkan bala.
Melihat kesungguhan di wajah Joko, kemarahan Gaga sedikit mereda. Namun bukan berarti rasa curiganya hilang.
"Baiklah." Kata Gaga akhirnya.
"Untuk sementara aku percaya. Tapi mulai sekarang, kau jangan pergi ke mana-mana. Kalau kami menemukan ada kebohongan lagi, habislah kau."
Joko mengangguk cepat.
"Iya, Ga. Aku mengerti."
Meski demikian, di dalam hati mereka bertiga masih tersisa satu pertanyaan besar.
Siapa sebenarnya orang misterius yang menyuruh Joko berbohong tentang Sekar?
Setelah meninggalkan terminal, Gaga, Pandu, dan Santa kembali ke tempat tongkrongan mereka. tempat mereka berkumpul.
Ketiganya duduk tanpa banyak bicara. Pikiran mereka masih dipenuhi pengakuan Joko yang terasa semakin membingungkan.
Santa menyandarkan punggungnya ke tiang pondok lalu menatap Gaga.
"Ga, apa ada orang yang kau curigai?" Tanyanya.
Gaga menggeleng pelan.
"Nda ada."
"Sama sekali nda ada?"
"Nda." Gaga menghela napas panjang.
"Aku sudah memikirkan banyak kemungkinan sejak Sekar hilang. Tapi sampai sekarang nda ada satu pun nama yang terlintas di kepalaku."
Pandu yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Kalau begitu, siapa sebenarnya orang yang menghubungi Joko itu?"
Tidak ada yang menjawab.
Pandu kembali melanjutkan.
"Dan kenapa dia melakukan semua ini? Untuk apa menyuruh Joko berbohong?"
Santa mengusap dagunya pelan.
"Bisa saja orang itu ada hubungannya dengan hilangnya Sekar."
"Bisa jadi." sahut Pandu.
"Atau jangan-jangan dia pria yang lari bersama Sekar."
Gaga langsung mengangkat kepala.
"Atau..." lanjut Pandu ragu-ragu.
"Bisa juga Sekar sendiri yang menyuruh Joko."
Mendengar itu, wajah Gaga langsung berubah.
"Nda mungkin."
Pandu terdiam.
"Nda mungkin Sekar melakukan itu."
"Tapi kita juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ga." Kata Santa hati-hati.
Gaga menggeleng lebih keras.
"Kalian boleh curiga apa saja. Tapi satu hal yang aku yakin."
"Apa?" tanya Pandu.
"Sekar nda mungkin pergi dengan pria lain."
Nada suara Gaga terdengar tegas. Dia menatap ke arah jalan yang mulai sepi.
"Dia sangat mencintai Lindu."
Santa dan Pandu saling pandang.
Gaga melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
"Aku sudah melihat sendiri bagaimana dia selama ini. Kalau memang dia ingin membatalkan pernikahan, dia pasti bicara. Dia bukan orang yang akan kabur diam-diam dengan laki-laki lain.
Semakin mereka mencoba menyusun kepingan-kepingan peristiwa itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Jika Sekar tidak kabur dengan pria lain, lalu siapa orang misterius yang menyuruh Joko berbohong?
Dan jika bukan Sekar, siapa yang begitu berkepentingan membuat seluruh desa percaya bahwa Sekar pergi atas keinginannya sendiri?