NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: NASI GORENG TEK-TEK DAN SENDOK STERIL

Sabtu Malam, Pukul 20.00 WIB

Nasi Goreng "Mang Udin" - Pinggir Jalan Fatmawati

​Pemandangan di depan gerobak Nasi Goreng Mang Udin malam ini sangat tidak biasa. Biasanya yang parkir di sini cuma motor bebek atau ojol. Tapi malam ini, berjejer motor RX King butut di sebelah mobil Alphard putih mengkilap dan Mini Cooper kuning.

​Mang Udin sampai gemetar pas ngulek cabe.

​"Ini... beneran mau makan di sini, Neng?" tanya Mang Udin pada Roseanna Vallerian yang berdiri kaku di depan tenda terpal biru.

​Roseanna memandang tenda itu dengan tatapan horor. Asap penggorengan mengepul tebal, bau bawang menyengat, dan ada kucing jalanan yang tiduran di bawah meja kayu panjang.

​"Fattah," bisik Roseanna, menyenggol lengan cowok di sebelahnya. "Lo serius? Ini... aman? Nggak ada bakteri E. Coli atau Salmonella?"

​Fattah Maverick (yang sudah ganti baju kaos hitam santai) tertawa renyah. Dia menarik kursi plastik merah, mengelapnya asal-asalan pake tisu, lalu menepuknya.

​"Duduk, Tuan Putri. Bakteri di sini udah jinak. Mereka takut sama Mang Udin," canda Fattah. "Anggep aja ini fine dining konsep open kitchen."

​Roseanna menelan ludah. Dia mengeluarkan wet tissue antiseptik dari tasnya, lalu mengelap kursi itu tiga kali sebelum duduk dengan sangat hati-hati (ujung pantat doang).

​Di sebelahnya, Aqeela Azalea sedang menatap takjub toples kerupuk kaleng.

​"Wah... kerupuknya di dalem kaleng cat?" Aqeela mengetuk kaleng itu. "Estetik banget. Ini konsep industrial ya?"

​"Itu kaleng Khong Guan bekas, Neng," sahut Harry yang sudah duduk manis sambil ngemil acar timun. "Isinya bukan rengginang, tapi kerupuk kampung. Cobain deh, rasanya kayak memeluk masa lalu."

​Aqeela mengambil satu kerupuk dengan dua jari. "Ini... dicuci dulu nggak kerupuknya sebelum digoreng?"

​Harry keselek acar. "Uhuk! Neng, kalau kerupuk dicuci, jadi bubur dong."

​Drama Pemesanan

​"Pesen apa, Bos?" tanya Mang Udin.

​Fattah mengambil alih komando. "Mang, Nasi Goreng Gila lima porsi buat anak cowok. Pedes mampus, telor dadar."

​"Siap."

​"Buat cewek-cewek..." Fattah menoleh ke Roseanna.

​"Saya mau Risotto... eh maksudnya Nasi Goreng. Jangan pake MSG, jangan pake minyak jelantah, garemnya dikit aja, kecapnya merek Bango, sayurnya direbus dulu, dan..." Roseanna mengeluarkan sendok garpu emas sendiri dari tasnya (dia selalu bawa emergency kit). "Saya bawa alat makan sendiri."

​Mang Udin melongo. "Waduh Neng, ribet amat. Nasi goreng tanpa micin itu ibarat sayur tanpa garem. Hambar."

​"Udah Mang, bikinin yang spesial. Dikit aja micinnya biar dia nggak bego," potong Fattah.

​"Lo ngatain gue bego?!" Roseanna melotot.

​"Bukan gitu. Lidah lo kan mahal, takut kaget," Fattah nyengir.

​Di ujung meja, Lia dan Ilham duduk bersebelahan (lagi).

​Lia duduk dengan postur tegak, tangan disilangkan di dada. Dia menatap nanar gelas es teh manis di depannya yang ada embunnya.

​"Minum, Li. Seger tuh," kata Ilham, menyodorkan gelas itu.

​"Gelasnya dicuci pake sabun apa?" tanya Lia datar.

​"Pake sabun colek ekonomi. Kenapa? Kurang wangi Jo Malone?" sindir Ilham.

​Lia menghela napas. "Gue pesen air mineral botol aja. Yang segelnya masih utuh."

​"Yaelah, ribet bener idup lo," Ilham geleng-geleng kepala, tapi dia tetap berdiri. "Mang! Aqua botol satu! Yang dingin! Buat Tuan Putri nomer dua!"

​Lia diam-diam memperhatikan Ilham. Cowok botak itu, meski mulutnya pedes dan gayanya selengean, selalu peka sama kebutuhan kecil dia.

​"Botak," panggil Lia pelan.

​"Apa?" Ilham duduk lagi.

​"Kepala lo nggak dingin kena angin malem?" tanya Lia, menunjuk kepala plontos Ilham.

​Ilham meraba kepalanya. "Dingin sih. Makanya gue butuh kehangatan."

​"Mau gue siram kuah panas?" tawar Lia sadis.

​"Jangan dong. Maksud gue kehangatan kasih sayang," Ilham nyengir gombal (gagal).

​Lia memutar bola mata, tapi dia mengambil tisu, lalu...

​Puk.

​Lia menaruh lembaran tisu di atas kepala Ilham.

​"Tuh. Biar nggak masuk angin," kata Lia datar, lalu main HP lagi.

​Ilham mematung dengan tisu di kepala. Jantungnya berdisko ria.

​"Makasih..." bisik Ilham, senyum-senyum sendiri kayak orang gila. "Perhatian banget sih calon makmum."

​"Gue denger ya," kata Lia tanpa nengok.

​Makan Malam Kaki Lima

​Pesanan datang. Asap mengepul. Aroma bumbu nasi goreng tek-tek yang khas langsung bikin perut keroncongan.

​Anak-anak Vanguards langsung makan dengan lahap (pake tangan atau sendok bebek).

​Anak-anak Royals menatap piring mereka dengan ragu.

​Roseanna memotong telur dadarnya dengan sendok emas. Dia menyuap sedikit nasi ke mulutnya. Mengunyah pelan... pelan...

​Mata Roseanna membelalak.

​"Enak?" tanya Fattah yang memperhatikan reaksinya.

​Roseanna menelan ludah. Rasanya... gurih, pedas, manis, dan ada aroma smokey yang nggak pernah dia temuin di restoran bintang lima.

​"Lumayan," jawab Roseanna gengsi. "Not bad buat makanan seharga 15 ribu."

​"12 ribu, Neng. Diskon buat orang cantik," koreksi Mang Udin.

​"Serius 12 ribu?!" Aqeela kaget. "Murah banget! Mang, saya borong gerobaknya ya! Besok Mang Udin masak di rumah saya!"

​"Jangan Neng, nanti saya diculik," Mang Udin ketawa.

​Raisa makan dengan lahap. Ternyata dia doyan banget pedes. "Gila, ini enak banget! Mang, tambah kerupuk!"

​"Siap Neng Cantik!"

​Mohan (yang duduk di bangku bakso sebelah karena bangku plastik nggak muat) makan tiga porsi sekaligus.

​"Pelan-pelan, Han. Nanti keselek," kata Oliver sambil ngelap kacamata yang berembun kena uap nasi.

​Di tengah suasana hangat itu, Fattah menatap Roseanna lekat-lekat.

​"Gimana rasanya?" tanya Fattah.

​"Apanya? Nasinya?"

​"Bukan. Rasanya... bebas," kata Fattah. "Bebas dari Julian. Bebas dari tuntutan harus sempurna."

​Roseanna meletakkan sendoknya. Dia menatap jalanan Fatmawati yang ramai. Suara klakson, pengamen jalanan, tawa anak-anak Vanguards.

​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh aturan dan ekspektasi tinggi, Roseanna merasa... napasnya ringan.

​"Rasanya aneh," aku Roseanna jujur. "Biasanya jam segini gue lagi belajar bisnis atau les piano. Tapi sekarang gue malah makan nasi goreng pinggir jalan sama preman."

​"Preman yang nyelamatin hidup lo," koreksi Fattah.

​Roseanna tersenyum tipis. Dia menatap Fattah.

​"Makasih, Fattah. Buat semuanya," kata Roseanna tulus. "Gue nggak nyangka aliansi kita bakal sejauh ini."

​"Sama-sama. Tapi inget, ini belum selesai," wajah Fattah berubah sedikit serius. "Julian udah ditangkep. Tapi ularnya... Kairos... dia masih bebas."

​Roseanna mengangguk. Dia tahu itu. "Gue siap. Asal kita bareng-bareng."

​"Cieee! Bareng-bareng!" sorak Harry tiba-tiba, ngerusak suasana deep talk. "Bos Fattah mukanya merah tuh!"

​"Diem lo, Kribo!" Fattah melempar kerupuk ke Harry.

​"Udah botak masih dipanggil kribo," gerutu Harry.

​Gangguan Kecil

​Tiba-tiba, sebuah motor sport Ninja hitam berhenti di seberang jalan. Pengendaranya memakai helm full face hitam pekat. Dia tidak turun, hanya diam mengawasi tenda Mang Udin.

​Lia, yang posisinya menghadap jalan, menyadari keberadaan motor itu. Insting waspadanya menyala.

​"Botak," bisik Lia, menyenggol kaki Ilham di bawah meja.

​"Apaan? Kaki gue jangan ditendang dong," Ilham lagi enak makan.

​"Jam 9 arah jam 2," kode Lia. "Ada yang ngawasin kita."

​Ilham langsung berhenti ngunyah. Dia melirik ke arah yang dimaksud Lia.

​Motor Ninja itu.

​"Anak Kalingga?" bisik Ilham.

​"Mungkin. Jaketnya polos, nggak ada logo," analisis Lia. "Tapi posturnya tegap. Kayak orang terlatih."

​Fattah juga menyadari perubahan atmosfer di meja Ilham dan Lia. "Kenapa?"

​"Ada mata-mata," kata Ilham pelan, tangannya diam-diam meraih botol saus kaca (buat senjata jaga-jaga).

​Tapi sebelum mereka sempat bertindak, pengendara motor itu menggeber gasnya kencang-kencang.

​BREEEMMM!

​Motor itu melesat pergi, meninggalkan asap knalpot dan... sebuah amplop hitam yang dijatuhkan di trotoar seberang.

​"Oliver, ambil!" perintah Fattah.

​Oliver lari menyeberang jalan, mengambil amplop itu, lalu lari balik.

​Semua anak Royals dan Vanguards berkumpul mengelilingi meja Fattah. Nasi goreng dilupakan sejenak.

​Fattah membuka amplop hitam itu.

​Isinya bukan surat ancaman biasa.

Isinya adalah sebuah Kartu Undangan.

​Kartu undangan berwarna hitam elegan dengan tinta emas. Logonya: Ular Kobra melilit Mahkota.

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!