Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Pil Putih Susu dan Jarum Akupuntur
Patriark Sheng langsung menunjukkan ruangan itu dengan mengulurkan tangannya ke arah lorong panjang di sisi barat aula.
"Disana. Ikuti aku," ajaknya, sambil melangkah ke tempat yang ditunjuk.
Wang Hao mengikutinya dengan langkah ringan, mereka berjalan melewati dua belokan dan satu tangga batu yang menurun, hingga akhirnya mereka tiba di ujung lorong yang benar-benar hening. Tidak ada suara langkah kaki pelayan, tidak ada percakapan dari ruangan lain, hanya suara napas mereka sendiri yang menggema pelan di dinding batu.
"Ini ruanganmu," tunjuk Patriark Sheng pada sebuah pintu kayu tebal di hadapan mereka. "Jika membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggil pelayan yang berjaga dua puluh meter dari tempatmu. Apakah itu tidak masalah?"
Wang Hao hanya mengangguk pelan, lalu melangkah memasuki ruangan. Ia berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh ke belakang. "Saya butuh waktu satu hari untuk membuat pil itu. Jadi jangan ada keributan sedikit pun selama prosesnya."
Patriark Sheng mengangguk. "Tidak akan ada yang berani mengganggu."
Wang Hao berjalan masuk sepenuhnya, lalu menutup pintu. Suara kayu berat mengunci dengan bunyi rendah yang menggema di sepanjang lorong.
Di dalam Wang Hao mengamati ruangan itu. Ruangan itu cukup luas, sekitar enam langkah lebarnya. Sebuah dipan batu tanpa bantal terletak di sudut, sementara di tengah ruangan hanya ada lantai batu kosong yang bersih.
Wang Hao berjalan ke tengah ruangan, lalu duduk bersila di atas lantai dingin itu. Ia mengeluarkan tungku hijau dari cincin ruangnya dan meletakkannya tepat di hadapannya.
Tungku itu setinggi lutut orang dewasa, terbuat dari batu giok roh dengan ukiran awan di sekeliling permukaannya. Di dalamnya, terdapat ruang pembakaran yang dilapisi logam perak, cukup untuk membuat pil tingkat rendah hingga menengah. Wang Hao mengetuk permukaan tungku itu dengan jarinya, mendengarkan gema yang dihasilkan, lalu mengangguk pelan.
"Bisa dipakai," gumamnya.
Ia mulai mengeluarkan tanaman obat dari cincin ruangnya satu per satu, menyusunnya di lantai batu dalam urutan yang tepat. Akar Petir Ungu, Daun Embun Malam, Bunga Sutra Darah, Jamur Kayu Roh, dan delapan tanaman lainnya tersusun rapi dalam tiga baris.
Langkah pertama adalah menyalakan tungku. Wang Hao meletakkan kedua tangannya di sisi tungku dan menyalurkan energi spiritualnya ke dalam batu giok. Tungku itu mulai bergetar pelan, lalu cahaya hijau lembut muncul dari ukiran-ukirannya. Api spiritual kecil menyala di dalam ruang pembakaran, dikendalikan sepenuhnya oleh energi spiritual Wang Hao.
Ia memulai prosesnya dengan Akar Petir Ungu. Tangannya mengambil akar itu dan meletakkannya di dalam tungku. Api spiritual melahap akar itu perlahan, membakarnya bukan menjadi abu, melainkan menjadi cairan ungu kental yang mengambang di udara di dalam tungku. Wang Hao mengendalikan suhu api dengan ketelitian yang hanya dimiliki oleh seorang ahli yang telah menempa pil selama puluhan ribu tahun.
Satu jam berlalu. Akar Petir Ungu telah berubah menjadi cairan murni.
Dua jam berlalu. Daun Embun Malam menyusul, berubah menjadi cairan biru bening yang berkilau seperti langit malam.
Tiga jam berlalu. Bunga Sutra Darah meleleh menjadi cairan merah tua yang kental.
Empat jam berlalu. Jamur Kayu Roh hancur menjadi serbuk halus yang bercampur dengan cairan-cairan sebelumnya.
Proses itu berlangsung terus tanpa henti. Wang Hao tidak bergerak dari tempatnya. Tangannya terus mengendalikan api spiritual di dalam tungku, sementara matanya terpejam untuk memfokuskan seluruh kesadarannya pada proses pemurnian.
Waktu berlalu.
Menjelang sore, seluruh tanaman obat telah diproses. Kini di dalam tungku mengambang delapan cairan berbeda warna yang perlahan-lahan mulai menyatu di bawah kendali energi spiritual Wang Hao.
Inilah tahap paling kritis.
Penyatuan.
Wang Hao membuka matanya. Peluh dingin mulai mengucur dari pelipisnya, mengalir ke pipinya, lalu menetes ke lantai batu. Ia bisa merasakan energi spiritualnya terkuras dengan cepat. Kondensasi Qi lapis ketiga memberinya cukup energi untuk membuat pil tingkat dua, tetapi hanya cukup, tidak ada sisa.
Ia mengatupkan kedua tangannya dan membentuk segel tangan. Energi spiritualnya mengalir deras ke dalam tungku, memaksa delapan cairan itu untuk menyatu menjadi satu. Warna-warna itu bertabrakan, berputar, lalu perlahan-lahan mulai melebur.
Waktu berlalu lagi.
Malam tiba, sinar bulan masuk melalui celah ventilasi di dinding, memberikan sedikit cahaya di ruangan yang gelap. Wang Hao tidak menyalakan lilin. Ia tidak membutuhkannya. Seluruh kesadarannya sudah sepenuhnya berada di dalam tungku.
Cairan-cairan itu kini telah menjadi satu. Sebuah bola cair seukuran kepalan tangan mengambang di dalam tungku, berputar perlahan, memancarkan cahaya putih susu yang lembut. Wang Hao mulai tahap pemadatan, menekan bola cair itu dengan energi spiritualnya, memadatkannya menjadi bentuk pil.
Tekanan energi spiritual yang dibutuhkan untuk tahap ini jauh lebih besar. Wang Hao menggertakkan giginya, tangannya gemetar, peluh semakin deras mengucur.
Dan kemudian...
Dia merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya.
Wang Hao tersedak, lalu memuntahkan seteguk darah segar ke lantai batu. Darah itu menggenang kecil di depannya, berwarna merah gelap di bawah sinar bulan. Dia terbatuk-batuk beberapa kali, tetapi tangannya tetap terkunci dalam segel tangan. Dia tidak berhenti, karena jika dia berhenti sekarang, seluruh proses akan gagal, dan tanaman obat senilai ribuan batu roh akan hancur sia-sia.
"Delapan puluh tiga persen..." bisiknya, membaca kemurnian pil yang mulai terbentuk di dalam tungku. "Harus mencapai sembilan puluh."
Ia mendorong lebih keras, energi spiritualnya terkuras hingga ke tetes terakhir. Pada saat itu penglihatannya mulai kabur, tetapi kesadarannya tetap tajam. Ia telah membuat pil dalam kondisi jauh lebih buruk daripada ini. Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah membuat pil tingkat delapan setelah bertarung selama tujuh hari tujuh malam melawan tiga musuh sekaligus. Dibandingkan dengan itu, ini hanyalah ketidaknyamanan kecil.
Tetapi tubuh ini masih terlalu lemah.
"Diam," katanya pada tubuhnya sendiri, seolah berbicara kepada alat yang rewel. "Aku tidak meminta pendapatmu."
Pukul dua belas malam, proses pemadatan mendekati akhir. Pil di dalam tungku kini telah mengeras menjadi bulatan sempurna seukuran kuku jari. Warnanya putih susu, dengan kilauan mutiara di permukaannya. Aroma aneh mulai keluar dari dalam tungku, menyebar ke seluruh ruangan.
Aroma pandan.
Wang Hao tersenyum tipis meskipun bibirnya masih dipenuhi darah. Aroma pandan adalah tanda bahwa Pil Pembuka Gerbang Kehidupan telah berhasil. Itu adalah aroma khas dari kombinasi sempurna antara Akar Petir Ungu dan Bunga Sutra Darah.
Waktu berlalu, fajar telah menyingsing.
Wang Hao membuka matanya. Di dalam tungku, sebongkah pil putih susu terbaring sempurna dengan kemurnian sembilan puluh dua persen.
Ia mencoba berdiri, tetapi lututnya langsung gemetar. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan ia harus bertumpu pada tungku untuk tidak jatuh. Darah kering masih menempel di sudut bibirnya, sementara jubah hitamnya basah oleh peluh.
"Bagus," gumamnya pelan. "Setidaknya aku mencapai lapis tiga sebelum ini. Jika tidak..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Jika ia masih berada di lapis dua, ia mungkin sudah tidak sadarkan diri di tengah proses, dan pil itu akan meledak bersama seluruh energi spiritual yang terkandung di dalamnya.
Wang Hao mengambil pil itu dengan jari-jarinya yang gemetar, lalu memasukkannya ke dalam botol kaca kecil. Ia menyimpan tungku hijau ke dalam cincin ruang, lalu berjalan perlahan menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia memaksakan dirinya untuk tetap tegak.
Ketika pintu terbuka, Patriark Sheng sudah berdiri di ujung lorong. Pria tua itu tidak tidur semalaman, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia menunggu sejak kemarin sore. Begitu melihat Wang Hao keluar, ia langsung melangkah mendekat.
Wajah Patriark Sheng berubah ketika melihat kondisi Wang Hao. Darah kering di bibir, wajah pucat, dan tubuh yang berjalan dengan susah payah.
"Kau terluka," katanya datar, meskipun ada nada keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Wang Hao mengabaikan komentar itu. Ia mengangkat botol kaca di tangannya, memperlihatkan pil putih susu di dalamnya.
"Pilnya sudah jadi."
Patriark Sheng menerima botol itu dengan kedua tangannya. Ia mengangkatnya ke depan matanya, lalu membuka tutup botol itu perlahan. Begitu aroma pandan menyentuh hidungnya, sesuatu terjadi.
Tubuhnya bereaksi.
Patriark Sheng merasakan aliran energi spiritual di lautan spiritual bagian bawahnya bergetar. Getaran itu kecil, hampir tidak terasa, tetapi itu adalah pertama kalinya dalam hidup ia merasakan sesuatu di area itu. Matanya melebar.
"Bagaimana bisa..." ia menatap Wang Hao dengan sorot yang kini berubah total. "Hanya dengan mencium aromanya, tubuhku sudah bereaksi?"
Wang Hao menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Itu artinya penyakit anda memang bisa disembuhkan. Sekarang telan pil itu."
Tanpa ragu-ragu, Patriark Sheng mengambil pil putih susu itu dari botolnya, lalu menelannya dalam satu tegukan. Pil itu langsung mencair begitu menyentuh lidahnya, berubah menjadi aliran energi hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan energi itu mengalir melalui meridian-meridiannya, lalu berkumpul di lautan spiritual bagian bawah, tempat Penyumbatan Gerbang Kehidupan berada.
"Rasanya... hangat..." bisiknya.
Wang Hao mendorong tubuhnya dari dinding. "Saya butuh beberapa jarum akupuntur. Jarum perak biasa, tidak perlu yang khusus."
Patriark Sheng segera berbalik dan berteriak ke arah ujung lorong. "Pelayan! Bawakan jarum akupuntur! Cepat!"
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar, lalu menghilang ke kejauhan. Dua menit kemudian, seorang pelayan perempuan datang berlari sambil membawa kotak kayu kecil berisi puluhan jarum perak dengan panjang bervariasi.
Wang Hao menerima kotak itu, lalu menatap Patriark Sheng. "Masuk ke dalam ruangan. Kita lakukan sekarang."
Mereka berjalan masuk ke dalam ruangan yang sama tempat Wang Hao membuat pil. Wang Hao menutup pintu, lalu berjalan ke tengah ruangan dengan langkah yang masih sedikit goyah. Ia meletakkan kotak jarum di lantai.
"Lepaskan pakaian Anda," katanya.
Patriark Sheng menurut. Ia melepaskan jubah sutra hitamnya, lalu melepaskan jubah dalamnya, memperlihatkan tubuh tuanya yang masih kekar meskipun sudah berusia lebih dari enam puluh tahun. Otot-otot di lengan dan dadanya masih kencang dan kuat, hasil dari kultivasi selama puluhan tahun.
Wang Hao membuka kotak jarum dan mengeluarkan dua belas jarum perak. Ia meletakkannya di telapak tangannya, lalu mengangkat tangannya ke depan. Energi spiritualnya yang tersisa, meskipun sedikit, masih cukup untuk ini.
Jarum-jarum itu mulai melayang, terangkat dari telapak tangannya, lalu mengambang di udara di depannya. Patriark Sheng menatap dengan mata membelalak.
"Akupuntur spiritual..." bisiknya. "Aku hanya mendengar tentang teknik ini dari cerita-cerita tua. Tidak ada tabib di Kota Lanyu yang bisa melakukannya."
"Jangan bicara. Ini akan terasa sakit."
Wang Hao menggerakkan jarinya, dan jarum pertama melesat. Menusuk tepat di titik akupuntur di perut bagian bawah Patriark Sheng.
"AAARGH!"
Jeritan keras menggema di seluruh ruangan, menembus pintu kayu tebal, dan terdengar jelas oleh para pelayan yang berjaga di luar. Mereka saling pandang dengan wajah pucat. Salah satu dari mereka hampir melangkah maju untuk membuka pintu, tetapi yang lain menahannya.
"Patriark bilang jangan ada yang mengganggu!" bisiknya keras.
Di dalam ruangan, Wang Hao menarik jarum itu keluar, lalu menusukkannya lagi di titik yang berbeda. Kali ini lebih dalam.
Jeritan kedua terdengar, lebih keras dari sebelumnya.
Wang Hao terus bekerja tanpa terganggu. Satu per satu jarum ditusukkan ke titik-titik akupuntur di sekitar lautan spiritual bagian bawah Patriark Sheng. Setiap tusukan membuka satu simpul kecil di jalur spiritual yang tersumbat. Setiap tarikan mengalirkan energi dari pil yang telah ditelan ke area yang sebelumnya tidak bisa dijangkau.
Proses itu berlangsung selama setengah jam. Dua belas titik akupuntur dibuka dan ditutup bergantian. Wang Hao mengendalikan jarum-jarum itu dengan presisi yang hanya bisa dicapai oleh seseorang yang telah menguasai teknik ini selama ribuan tahun. Meskipun tubuhnya sendiri hampir roboh, tidak ada satu pun tusukan yang meleset.
Ketika jarum terakhir ditarik keluar, Patriark Sheng terengah-engah. Tubuhnya basah oleh peluh, dan lututnya gemetar. Tetapi ia bisa merasakannya. Sesuatu di dalam tubuhnya telah berubah. Sumbatan yang telah mengganggunya selama ini telah terbuka.
"Selesai," kata Wang Hao. Ia mengembalikan jarum-jarum itu ke dalam kotak, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Anda bisa memakai pakaian Anda kembali."
Patriark Sheng bangkit perlahan, lalu mengenakan jubahnya kembali dengan tangan yang masih gemetar. Ia menatap Wang Hao dengan sorot yang tidak bisa diartikan.
"Chen Nan..." suaranya pelan. "Aku tidak tahu harus berterima kasih atau harus takut padamu."
"Tidak perlu keduanya." Wang Hao mendorong tubuhnya dari dinding. "Sekarang dengarkan baik-baik. Pil yang Anda telan membutuhkan dua hari untuk menyembuhkan jalur spiritual Anda sepenuhnya. Selama dua hari itu, anda tidak boleh melakukan hubungan badan terlebih dahulu. Jika anda melanggar, efeknya akan hilang dan pengobatan ini akan sia-sia"
Patriark Sheng mengangguk dengan saksama.
"Setelah dua hari, Anda bisa melakukannya. Tapi ada tata cara yang harus Anda ikuti." Wang Hao berjalan pelan ke arah jendela, lalu berhenti. "Saat melakukannya, pastikan Anda melakukan pemanasan yang cukup."
"Pemanasan?" Patriark Sheng mengerutkan keningnya.
"Bercumbu," Wang Hao menjelaskan dengan nada datar. "Jika sudah masuk ke fase batang kehidupan memasuki goa kehidupan, maka pastikan anda menahan keinginan untuk menembakkan cairan kehidupan minimal lima menit. Tujuannya agar cairan kehidupan terkumpul maksimal."
Patriark Sheng menelan ludah. Penjelasan itu terdengar sangat teknis, tetapi ia bisa memahaminya dengan jelas.
Wang Hao berjalan pelan lagi, lalu berhenti di tengah ruangan. "Analoginya seperti ini. Seorang ahli api yang sedang bertarung. Dia mengumpulkan api di telapak tangannya dengan energi spiritualnya, sementara musuh menyerang dan menjepitnya terus-menerus. Sebagai seorang ahli, tentu dia tidak bisa melesatkan serangan sebelum api mencapai puncak kekuatannya. Karena itu, dia harus mencari cara untuk menghindar sambil terus mengumpulkan api."
Ia menoleh sedikit ke arah Patriark Sheng. "Setelah terkumpul maksimal, lalu hantam dengan keras hingga kedua pangkal bertemu. Booom! Ledakan maksimal harus dilakukan agar hasilnya mencapai titik tertinggi kesempurnaan."
Patriark Sheng menelan ludah lagi. Penjelasan itu masuk akal. Selama ini, ia mengayunkan pinggulnya dengan liar tanpa aturan, dan hasilnya selalu sama. Satu hingga dua menit, cairan kehidupan keluar, dan tidak pernah terjadi pembuahan. Tapi dulu ia memang mandul, jadi meskipun ia melakukan trik seperti itu, hasilnya akan sia-sia.
Namun sekarang, semuanya berbeda. Jalur spiritualnya telah terbuka, pil telah diminum, akupuntur telah dilakukan. Semua syarat untuk memiliki keturunan telah terpenuhi. Yang tersisa hanyalah eksekusi yang benar.
Patriark Sheng menatap Wang Hao. "Berarti pil ini membutuhkan dua hari untuk menyembuhkan?"
"Benar. Itu waktu yang cepat untuk penyakit seperti ini," jawab Wang Hao.