Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Tekanan dari Luar Pagar
Gemuruh mesin mobil double-cabin mewah yang sengaja diparkir melintang di depan pintu kaca gerai minimarket langsung merusak ketenangan malam itu. Jarum jam baru menunjukkan pukul sepuluh malam, dua jam sebelum toko resmi ditutup, namun atmosfer di dalam gerai mendadak berubah mencekam. Hino yang sedang memeriksa nota retur barang di meja kasir utama langsung menegakkan punggungnya saat melihat sesosok pria berbadan tegap melangkah masuk dengan hentakan sepatu bot yang berat.
Pria itu adalah Baskoro, suami Bu Hina yang berusia empat puluh lima tahun. Sebagai seorang kontraktor proyek jalan pemerintahan daerah yang memiliki jaringan luas, pembawaannya sarat akan arogansi kekuasaan lokal. Wajahnya yang legam tampak mengeras, matanya yang tajam langsung mengunci ke arah papan nama di dada Hino.
Baskoro tidak menuju ke rak barang. Ia melangkah lurus ke meja kasir, lalu menghentakkan tangan kekarnya ke atas meja kayu hingga beberapa tumpukan pamflet promo berhamburan ke lantai. "Kau yang namanya Hino? Kepala toko di sini?"
Hino menatap pria paruh baya di hadapannya dengan ketenangan yang dipaksakan, meskipun dadanya mulai berdegup kencang karena menyadari ini adalah buntut dari tamparan Erni kemarin pagi. "Iya, betul, Pak. Ada yang bisa saya bantu untuk keperluan toko?"
Baskoro tertawa, sebuah tawa pendek yang terdengar merendahkan. Ia condongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak hingga aroma cerutu dari pakaiannya tercium kuat oleh Hino. "Jangan sok formal di depanku, anak muda. Aku datang ke sini bukan untuk membeli sabun. Istriku pulang kerumah dengan pipi lebam karena ditampar oleh perempuan jalang di kontrakanmu, lalu kau dengan lancangnya mengancam akan menghancurkan karier proyekku? Kau pikir kau siapa, hah?!"
Beberapa pramuniaga muda di dalam toko langsung menghentikan aktivitas mereka, memilih mundur ke sudut rak karena ketakutan melihat amarah sang kontraktor daerah. Hino merasakan rahangnya mengeras, ingatan tentang bagaimana Bu Hina menggoda dan memprovokasi rumah bawahnya kemarin membuat rasa bersalahnya menguap, digantikan oleh harga diri pria yang terusik.
"Istri Anda yang datang ke pekarangan kami tanpa izin dan melontarkan ucapan yang sangat tidak pantas tentang rahim istri saya, Pak Baskoro," jawab Hino, suaranya rendah namun memiliki daya tekan yang stabil, menolak untuk tunduk pada gertakan fisik. "Sebagai suami, saya hanya melindungi ketenangan rumah tangga saya. Jika Ibu Hina bisa menjaga mulutnya, keributan ini tidak akan pernah ada."
"Kurang ajar!" Baskoro mencengkeram kerah seragam toko Hino dengan satu tangan, menarik tubuh kepala toko itu hingga dadanya membentur pinggiran meja kasir. "Kau cuma seorang babu penjaga toko miskin yang menumpang di kosan janda kaya, Hino! Jangan sok bicara soal harga diri di depanku! Sekali aku menelepon dinas ketertiban komplek ini, kontrakan dua lantai tempatmu menyembunyikan dua perempuan bunting itu akan digerebek warga karena pasal asusila sebelum besok pagi!"
Ancaman penggerebekan itu membuat darah Hino berdesir dingin. Jika warga sampai datang, bukan hanya rahasia rahim Erni dan Irmi yang akan telanjang di depan publik, melainkan karier akademik Linda di lantai dua pun akan hancur lebur, dan rekaman digital di ponsel dosen itu akan menjadi senjata yang sah untuk memenjarakannya.
Namun, di tengah cengkeraman tangan kekar Baskoro, pintu kaca minimarket kembali berdenting terbuka. Irmi melangkah masuk dengan langkah cepat, masih mengenakan gaun perginya yang anggun. Janda kaya itu rupanya sengaja menyusul ke toko setelah merasa gelisah di rumah bawah.
"Lepaskan tanganmu dari kepala tokoku, Pak Baskoro!" seru Irmi, suaranya lantang menggema di seluruh ruangan toko, menarik perhatian Baskoro hingga cengkeramannya pada kerah Hino sedikit melonggar.
Baskoro menoleh, menatap Irmi dengan senyuman miring yang sarat akan penghinaan. "Oh, pemilik modalnya datang juga. Jeng Irmi, kau ini janda terhormat peninggalan seorang pilot, tapi kenapa seleramu serendah ini sampai mau memelihara laki-laki beristri di rumahmu? Kau mau membela simpananmu ini?"
Irmi berdiri tegak di samping meja kasir, wajah cantiknya pucat namun matanya memancarkan ketegasan seorang pemilik tanah yang tidak bisa diintimidasi oleh premanisme proyek. "Aku tidak sedang membela siapa pun, Baskoro. Tapi ingat baik-baik, besok pagi pengacaraku akan mengirimkan surat resmi pembatalan sewa lahan warung makan milik suamimu di ujung jalan komplek. Jika kau berani membawa warga untuk menyentuh gerbang kontrakanku malam ini, aku pastikan seluruh alat berat proyekmu tidak akan pernah bisa melewati jalan utama komplek ini lagi karena tanah itu milik keluargaku!"
Baskoro melepaskan kerah baju Hino dengan sentakan kasar, lalu mundur dua langkah sambil merapikan jaket kulitnya. Ia menatap Hino dan Irmi secara bergantian dengan pandangan yang sarat akan dendam yang mendalam. Ia menyadari bahwa memukul Hino di dalam toko yang memiliki kamera pengawas adalah blunder bagi nama baiknya di dinas Pemda, namun egonya sebagai penguasa lokal tidak akan membiarkan kekalahan ini berlalu begitu saja.
Baskoro berjalan mundur menuju pintu kaca keluar, namun sebelum mendorong pintu, ia menunjuk tepat ke arah wajah Hino dengan senyuman beracun yang membuat bulu kuduk para pelayan toko merinding.
"Kau boleh berlindung di balik rok piyama janda kayamu malam ini, Hino," ucap Baskoro, suaranya berat dan bergetar oleh ancaman yang nyata. "Tapi ingat, wilayah proyekku meliputan seluruh keamanan luar komplek ini. Kita lihat saja, seberapa aman istrimu yang sedang hamil itu melangkah keluar dari pagar kontrakan besok pagi saat kau sedang sibuk menjaga mesin kasir ini."