NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Jebakan dalam Brankas

Bab 33: Jebakan dalam Brankas

​Aline membuka lembar pertama dokumen "Operasi Chrysalis" di bawah siraman cahaya bulan yang temaram. Lembaran-lembaran kertas itu berisi cetak biru pergerakan logistik ilegal klan Dirgantara dari lima tahun lalu, laporan transaksi perbankan luar negeri, dan... foto-foto pengawasan lapangan.

​Mata Aline membelalak saat melihat selembar foto lama yang terselip di bagian tengah. Itu adalah foto Kak Rena, sedang berdiri di sebuah dermaga pelabuhan tua dengan ekspresi wajah tegang, berbicara dengan seorang pria bertubuh tegap yang wajahnya sengaja diburamkan dalam laporan. Di bawah foto itu, tertera catatan kaki dengan tinta merah: Subjek 02 - Chrysalis. Status: Eliminasi Permanen.

​Tangan Aline mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang selama ini ia tekan di dasar hatinya mendadak mendidih ke permukaan. Status: Eliminasi Permanen. Kalimat itu adalah bukti mutlak bahwa kematian kakaknya bukanlah kecelakaan biasa, melainkan pembunuhan berencana yang dieksekusi secara taktis.

​Namun, belum sempat Aline membalik ke lembar berikutnya untuk membaca siapa eksekutor yang menandatangani perintah tersebut, indra pendengaran taktisnya yang tajam menangkap suara getaran frekuensi rendah dari arah luar koridor.

​Deg... Deg... Deg...

​Itu adalah suara langkah kaki berat yang berjalan dengan ritme yang tergesa-gesa. Suara sol sepatu kulit premium yang sangat ia kenal.

​Adrian.

​"Kak Aline! Sial, Daddy kembali lebih cepat dari jadwal!" Suara panik Kenzo mendadak memecah keheningan melalui mikrofon mikro di kerah baju Aline. "Sistem sensor laser di koridor luar diaktifkan kembali secara otomatis oleh enkripsi manual ponsel Daddy. Kakak tidak bisa keluar lewat pintu utama!"

​Aline tidak punya waktu untuk mengumpat. Berdasarkan kalkulasi taktisnya, Adrian akan membuka pintu ruang kerja ini dalam waktu kurang dari tujuh detik. Keluar lewat jendela lantai dua juga terlalu berisiko karena alarm perimeter halaman luar sangat sensitif terhadap tekanan udara.

​Aline dengan kecepatan kilat mengembalikan map "Operasi Chrysalis" ke tempat semula, mendorong laci biometrik hingga mengunci kembali, lalu memutar tubuhnya mencari tempat persembunyian terdekat.

​Satu-satunya tempat yang paling memungkinkan di dalam ruangan luas ini adalah sebuah lemari pakaian kustom berukuran besar dari kayu mahoni yang terletak di sudut ruangan, tempat Adrian biasa menyimpan setelan jas cadangan atau pakaian formalnya.

​Aline melesat, membuka pintu lemari tanpa suara, menyelinap ke dalam di antara jajaran jas tuksedo wangi cendana yang menggantung tebal, lalu menutup kembali pintunya tepat saat engsel pintu ganda ruang kerja berderit terbuka.

​KREEEKKK.

​Melalui celah kecil di antara ukiran kayu pintu lemari, Aline menahan napasnya sedalam mungkin.

​Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan. Setelan kemeja hitamnya tampak sedikit berantakan, dasinya sudah dilonggarkan, dan pria itu membawa sebuah gelas kristal berisi cairan amber—wiski pekat—di tangan kanannya. Aura yang dipancarkan Adrian malam ini terasa sangat berbeda dari biasanya; tidak ada ketegasan dingin yang arogan, melainkan sebuah keletihan psikologis yang mendalam dan gundah.

​Adrian meneguk wiskinya hingga tandas, lalu menghempaskan tubuh tegapnya ke atas kursi kerja marmer hitam. Pria itu menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak sembari memijat pelipisnya yang tampak tegang.

​Kenapa dia kembali ke ruang kerja di jam seperti ini dalam kondisi setengah mabuk? batin Aline bingung, berusaha mempertahankan posisi tubuhnya agar tidak menggeser gantungan jas yang bisa menimbulkan bunyi mikro.

​Namun, kesialan taktis Aline belum berakhir. Karena efek alkohol dan keletihan, Adrian tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya. Pria itu melangkah lurus ke arah sudut ruangan... tepat menuju ke arah lemari pakaian kustom tempat Aline bersembunyi. Adrian berniat mengganti kemeja hitamnya yang gerah dengan pakaian santai yang biasa ia simpan di lemari tersebut.

​KLEK.

​Pintu lemari ditarik terbuka dari luar.

​Sorot mata elang Adrian yang agak sayu karena pengaruh wiski langsung bertubrukan dengan sepasang mata jernih Aline yang sedang berdiri membeku di antara jajaran jas mahalnya.

​Atmosfer di dalam ruangan seketika berhenti berputar.

​Aline tahu, dalam kondisi setelan taktis hitam ketat seperti ini, tidak ada alasan logis yang bisa ia gunakan untuk berbohong. Namun, otak intelijen Aline bekerja dalam milidetik. Ia menyadari pandangan mata Adrian agak kabur dan fokusnya menurun akibat alkohol. Aline langsung merilekskan seluruh otot wajahnya, membiarkan kelopak matanya meredup, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan mulai mengayunkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan secara konstan dengan pandangan mata yang sengaja dibuat kosong menatap lurus ke depan.

​Ia sedang meniru gejala somnambulisme—berjalan dalam tidur (sleepwalking) akibat trauma psikologis ekstrem.

​"Hiks... Kak Rena... dingin... jangan tinggalkan Aline..." gumam Aline dengan suara parau yang sangat lirih, sengaja memanggil nama kakaknya untuk memberikan efek emosional yang dramatis. Tubuhnya melangkah maju secara kaku, seolah-olah ia tidak melihat keberadaan Adrian di hadapannya.

​Adrian yang awalnya sempat terkejut dan hendak menarik senjatanya, langsung menghentikan gerakannya begitu mendengar gumaman parau Aline. Pria itu menatap gaun tidur hitam tipis (yang sengaja disiapkan Aline sebagai lapisan luar setelan taktisnya) dan ekspresi wajah gadis itu yang tampak begitu rapuh, kosong, dan dipenuhi oleh air mata nyata yang mulai mengalir di pipinya.

​Melihat kondisi Aline yang "mengigau" dan berjalan dalam tidur akibat trauma serangan bom di Gala tempo hari, dinding pertahanan es di hati sang mafia runtuh sepenuhnya malam itu. Rasa bersalah yang mendalam atas kematian masa lalu mendadak menyerang dada Adrian.

​Tanpa sepatah kata pun, Adrian melangkah maju, lalu merengkuh tubuh mungil Aline ke dalam pelukan dadanya yang hangat dan bidang.

​GREEP.

​Aline tersentak di dalam hati, namun ia terpaksa mempertahankan tubuhnya agar tetap kaku layaknya orang yang sedang tidak sadar. Adrian memeluknya dengan teramat erat, satu tangan kekarnya mengunci pinggang Aline, sementara tangan lainnya mengusap lembut bagian belakang kepala Aline, menenggelamkan wajah gadis itu ke dalam ceruk lehernya yang wangi cendana.

​"Ssst... tenanglah, Aline. Kau aman di sini," bisik Adrian, suara baritonnya terdengar begitu lembut, dalam, dan sarat akan emosi rapuh yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini. "Tidak ada yang akan menyakitimu lagi di rumah ini. Aku bersumpah... aku akan melindungimu."

​Di dalam dekapan hangat dan protektif dari pria yang selama ini ia anggap sebagai musuh besarnya, jantung Aline berdegup dengan sangat kencang. Kali ini, itu bukan karena kalkulasi taktis atau kepanikan agen lapangan... melainkan karena sebuah getaran aneh yang mulai meruntuhkan dinding dendam di hatinya secara perlahan.

1
Queen Aletha
done Kaka
gendiz: terimakasih
total 1 replies
rruangrindu
aku mampir,jangan lupa mampir juga
gendiz: siiappp
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hi author💕
gendiz: Haiii, terimakasih sudah mampir membaca karya ku💙
total 1 replies
MayAyunda
keren👍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!