BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Karpet Merah di Lobi Kantor
Suara riuh rendah ratusan wartawan, jepretan kamera yang konstan, dan pendaran lampu kilat yang menyilaukan mata telah mengubah lobi utama gedung pencakar langit Rani Group menjadi lautan manusia pagi itu. Puluhan mikrofon dari berbagai stasiun televisi bisnis dan hiburan sudah terpasang di balik tali pembatas keamanan. Semua orang menunggu satu hal: kedatangan sang Alpha Woman dan suami kontraknya pasca-bocornya foto pelukan subuh mereka di portal berita Batavia Secret.
Di dalam mobil SUV hitam yang berhenti tepat di depan lobby drop-off, atmosfer terasa berbanding terbalik. Keheningan yang intens menyelimuti kabin mobil.
Rani menarik napas dalam-dalam, menggenggam erat tas Hermes hitamnya. Hari ini dia tampil luar biasa memukau dengan gaun terusan formal berwarna merah marun berpotongan tegas yang memeluk pas tubuh rampingnya, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada. Rambut hitamnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang dipoles riasan tegas.
"Kamu siap, Rani?" suara berat Riko memecah keheningan.
Pria itu duduk di kursi kemudi, terlihat sangat menawan dan dominan dengan setelan jas abu-abu gelap kustom yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Kemeja putih di dalamnya dikancingkan rapi dengan dasi hitam yang terpasang presisi. Aura seorang CEO raksasa yang dulu ditakuti kini telah kembali sepenuhnya ke dalam diri Riko.
Rani menoleh, menatap mata elang Riko. Monolog batinnya bergejolak hebat antara ketakutan akan reputasi perusahaannya dan debaran jantung yang menggila akibat kedekatan mereka. "Jika kita gagal meyakinkan mereka hari ini, saham kita akan hancur total di sesi siang, Riko."
"Kita tidak akan gagal," jawab Riko dengan keyakinan mutlak yang begitu menenangkan. Dia memutar tubuhnya, mengulurkan tangannya yang besar untuk menggenggam tangan Rani yang terasa dingin. "Ingat, jangan tunjukkan keraguan sedikit pun. Di depan mereka, kamu bukan hanya seorang CEO, tapi kamu adalah wanita yang sedang jatuh cinta pada suaminya. Biarkan aku yang memegang kendali."
Riko melepaskan genggamannya, lalu membuka pintu mobil. Dia melangkah turun terlebih dahulu. Begitu sosok tegap Riko muncul di area drop-off, suara jepretan kamera langsung bergemuruh layaknya rentetan senapan mesin. Riko mengabaikan semua itu. Dengan gerakan yang sangat jantan dan elegan, dia berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Rani.
Rani melangkah keluar. Begitu sepatu hak tingginya menyentuh lantai marmer lobi, ratusan lampu kilat menyala serentak, menciptakan pendaran cahaya putih yang menyilaukan.
"Ibu Rani! Apakah benar pernikahan Anda dengan Riko Pratama hanya rekayasa untuk menyelamatkan saham?!"
"Tuan Riko! Apakah foto di Cikarang itu adalah bagian dari settingan untuk membersihkan nama Pratama Corp?!"
"Bagaimana tanggapan Anda mengenai tuduhan manipulasi pasar?!"
Pertanyaan-pertanyaan tajam dan menyudutkan langsung bertubi-tubi dilesakkan oleh para pemburu berita yang saling dorong di balik barikade keamanan. Petugas keamanan Rani Group harus bekerja ekstra keras menahan kepungan massa.
Riko tidak membiarkan para wartawan itu mengintimidasi istrinya. Dia langsung melangkah di samping Rani, melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping Rani dengan sangat posesif, menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat pada sisi tubuhnya.
Sentuhan mendadak itu membuat Rani sempat terkesiap pelan, namun dia berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya menjadi senyuman tipis yang sangat anggun dan tenang. Mereka berjalan bersama di atas lantai lobi yang berkilau bak karpet merah, membelah kepungan wartawan dengan langkah kaki yang konstan dan berwibawa.
Tepat di tengah-tengah lobi, sebelum mencapai lift eksekutif yang dijaga ketat, Riko tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Tindakan tak terduga itu membuat Rani ikut terhenti dan menoleh menatapnya dengan bingung. Ratusan kamera pun ikut menahan napas, fokus pada gerakan mereka.
Riko membalikkan tubuhnya menghadap Rani. Mata elangnya menatap langsung ke dalam manik mata Rani dengan intensitas yang begitu dalam, begitu lembut, dan sarat akan emosi yang mengalir deras—seolah-olah ratusan wartawan di sekeliling mereka mendadak lenyap.
Sebelum Rani sempat mencerna apa yang terjadi, Riko menangkup sisi wajah Rani dengan tangan kirinya yang hangat. Dia condong ke depan, lalu dengan sangat perlahan dan penuh perasaan, Riko mendaratkan sebuah kecupan yang dalam dan lama di kening Rani.
Jepret! Jepret! Jepret!
Lobi kantor seketika gempar. Suara jepretan kamera menggila tiga kali lipat dari sebelumnya. Cahaya lampu kilat berkelebat tanpa henti mengabadikan momen intim tersebut.
Jantung Rani rasanya seperti berhenti berdetak detik itu juga. Sentuhan bibir Riko di keningnya mengirimkan sengatan listrik yang luar biasa dahsyat langsung ke pusat dadanya. Matanya terpejam secara refleks, menikmati kehangatan dan rasa aman yang begitu nyata yang disalurkan oleh kecupan pria itu. Monolog batin Rani menjerit pasrah, meruntuhkan sisa-sisa kebohongannya selama ini: 'Ini bukan akting... Tuhan, ini terasa sangat nyata. Aku benar-benar menginginkan ini.'
Riko menjauhkan wajahnya perlahan, namun tangannya tetap menangkup pipi Rani yang kini sudah merona merah sempurna tanpa perlu bantuan perona pipi. Riko menoleh ke arah kerumunan wartawan, lalu berbicara dengan suara baritonnya yang mantap dan menggema jelas melalui mikrofon-mikrofon yang terulur.
"Pernikahan kami bukan komoditas saham yang bisa Anda pertanyakan legalitas emosinya," ujar Riko tegas, sorot matanya kembali menajam penuh intimidasi. "Foto di Cikarang subuh kemarin adalah momen pribadi di mana istri saya mengkhawatirkan keselamatan saya setelah kami menghadapi gangguan di lapangan. Jika ada pihak yang menuduh hubungan kami adalah rekayasa, silakan bawa bukti hukumnya ke hadapan saya. Jika tidak, saya sarankan Anda semua kembali bekerja sebelum tim hukum Rani Group menuntut media Anda atas pencemaran nama baik."
Kalimat skakmat yang dingin dan penuh dominasi dari Riko seketika membungkam mulut seluruh wartawan di lobi. Tidak ada lagi yang berani melontarkan pertanyaan murahan. Aura Riko terlalu kuat untuk dilawan.
Riko kembali merangkul pinggang Rani, mengawalnya masuk ke dalam lift eksekutif yang terbuka lebar. Begitu pintu lift berdenting menutup, memutuskan mereka dari kebisingan lobi luar, keheningan instan langsung melingkupi mereka berdua di dalam ruang kubus metal tersebut.
Rani menyandarkan punggungnya ke dinding lift, napasnya memburu pelan dengan tangan yang memegang dadanya yang bergemuruh gila. Dia menatap Riko yang sedang merapikan jasnya dengan wajah yang kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Riko... kamu..." Rani terbata-bata, suaranya bergetar hebat. "Kecupan tadi... itu tidak ada di dalam skenario kita!"
Riko menoleh, menatap Rani dengan senyuman tipis yang sangat tampan namun sarat akan makna mendalam. Dia melangkah mendekati Rani, mengunci posisi wanita itu di dinding lift dengan meletakkan satu tangannya di samping kepala Rani.
"Tuduhan mereka sangat spesifik, Rani. Mereka bilang tidak ada kehangatan nyata di antara kita di belakang layar," bisik Riko rendah, wajahnya kembali mengikis jarak aman mereka hingga Rani bisa mencium aroma parfum maskulin pria itu. "Sebuah pernyataan formal tidak akan pernah cukup untuk membungkam jurnalis gosip. Mereka butuh melihat kepemilikan yang nyata. Dan lagipula..." Riko menjeda kalimatnya, ibu jarinya mengusap sudut bibirnya sendiri dengan binar mata yang berkilat jenaka. "...siapa bilang aku hanya sedang berakting?"
Mata Rani melebar mendengar kalimat multitafsir dari Riko. Pintu lift berdenting terbuka di lantai eksekutif sebelum Rani sempat memberikan balasan gengsinya. Riko menegakkan tubuhnya kembali, tersenyum penuh kemenangan, lalu melangkah keluar terlebih dahulu dengan gaya elangnya yang memukau.
Rani berdiri terpaku di dalam lift selama beberapa detik, menyentuh keningnya yang masih terasa hangat bekas kecupan Riko. Di luar sana, di dalam ruang kerjanya yang mewah, sebuah televisi dinding sedang menayangkan siaran ulang drama lobi kantor tadi. Dan di tempat lain, di dalam ruang kantor pribadinya, Hendra Wijaya yang sedang menyaksikan siaran tersebut langsung melemparkan gelas kristalnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping, matanya merah padam oleh rasa cemburu dan kekalahan mental yang teramat sangat melihat bagaimana Rani kini telah sepenuhnya berada di dalam pelukan sang elang yang bangkit dari kubur.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄