NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Selesai menutup kembali pintu ruangan, Agam melepas jas yang ia kenakan lalu melemparnya ke arah Hyun yang tengah duduk tenang sambil menatap layar laptop. Hyun yang tengah fokus, tentu saja merasa kesal, apalagi jas yang sengaja Agam lempar mendarat tepat di atas kepala bahkan hingga menutupi sebagian wajahnya. Jika saja Agam bukanlah atasannya di kantor, sudah pasti Hyun akan langsung membalasnya dengan melempar balik jas itu. Namun Hyun kiranya harus memiliki stok kesabaran seluas samudera, sehingga kali ini, ia kembali memilih membiarkan Agam berbuat sesukanya daripada pria penuh ambisi itu merusak mood bagus Hyun pagi ini.

"Kenapa tidak membalasku?" Agam bertanya sembari menjatuhkan tubuh yang tidak berenergi itu ke kursi kebesarannya.

"Aku sedang tidak ingin berdebat kosong denganmu," jawab Hyun. Pria itu tampak kembali berkutat dengan laptop yang setia menemaninya sejak tiga puluh menit sebelum Agam datang. "Jangan lupa, hari ini kita harus meninjau ulang proyek baru bersama Bu Citra," imbuh Hyun tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari layar laptop.

Agam tidak menjawab. Dengan mata terpejam dan tubuh bersandar, pria itu malah menghela panjang napasnya.

Hanya mendapat respon berupa helaan napas, Hyun menoleh sekilas. "Ada apa?" tanyanya, sebelum kembali memusatkan perhatian pada layar laptop.

Perlahan, Agam membuka mata. Ia menatap malas Hyun yang masih sibuk di depan laptop, sementara jemarinya sesekali menari di atas keyboard. "Aku hanya mengantuk," jawab Agam pelan.

Jawaban Agam yang tidak biasa, tentu saja membuat Hyun bertanya-tanya hingga memilih untuk menghentikan sementara pekerjaannya dan beralih menatap Agam lebih seksama.

Hyun jelas bisa melihat sesuatu yang berbeda, wajah Agam tampak kuyu, meski rambut dan pakaian yang dikenakannya tetap terlihat rapi seperti biasa.

"Berapa ronde semalam? sampai kau terlihat lesu begitu?" seloroh Hyun sambil berusaha menahan tawa. Hyun menyangka, jika semalam Agam menghabiskan waktunya dengan bergelut di atas ranjang bersama seorang wanita.

Kesal mendengar seloroh Hyun yang jelas bernada mengejek, Agam refleks melempar sebuah pena yang tergeletak di atas meja kerja ke arah Hyun. Beruntung Hyun cukup sigap menghindar, sehingga pena itu hanya mendarat tak berdaya di atas sofa.

"Aku sedang tidak ingin bercanda!" gerutu Agam, jelas terdengar kesal.

Hyun mengangkat kedua alisnya, separuh kaget separuh ingin tertawa. "Padahal barusan, kau menantangku untuk membalasmu. Giliran ku balas, kau malah marah-marah seperti wanita yang sedang datang bulan," ujar Hyun sambil menutup laptop. Ia merasa meladeni Agam yang sedang sensitif jauh lebih menyenangkan daripada menatap layar laptop yang hanya menampilkan barisan angka.

Hyun kemudian berdiri lantas menarik sebuah kursi putar untuk ia duduki menghadap Agam. Saat ini hanya sebuah meja kerja yang memisahkan keduanya. "Katakan padaku, apa yang membuatmu uring-uringan seperti ini? Jangan bilang insomnia mu itu kambuh lagi. Terakhir kali itu terjadi, kau malah menata ulang isi apartemen ku tanpa izin, bahkan ranjang keramatku sampai kau pindahkan ke dalam gudang."

Agam mutar malas bola matanya. "Itu karena apartemenmu seperti kapal pecah, apalagi ranjang keramatmu yang baunya menyengat itu."

"Cih, enak saja kau bilang! Ranjang itu benda wasiat dari keluargaku. Lagipula, aku selalu rajin mengganti seprai dan membersihkan ranjang itu dengan air bunga." Hyun yang tidak Terima dengan ejekan Agam tentu saja berusaha menjelaskan, entah untuk yang ke berapa ratus kalinya.

Melihat Ekspresi datar yang Agam tunjukkan, Hyun semakin penasaran, pria itu menyilangkan tangan, menatap Agam dengan ekspresi menyelidik. "Jadi kali ini apa yang membuatmu uring-uringan? Tidak mungkin hanya karena stres memikirkan pekerjaan, bukan? Atau kau beneran stres karena merindukan Shera?"

Agam mendesah keras. "Hyun. Aku serius!"

Hyun mengangguk dramatis. "Baiklah, kali ini aku mencoba untuk serius. Tapi setidaknya beri aku petunjuk. Emosi mu kali ini mengingatkanku pada Hana Eonni saat sedang datang bulan. Sangat sensitif dan sedikit menyebalkan." Hyun mencoba kembali berseloroh.

Agam kembali bersandar sambil memejamkan mata. "Sudah tiga hari belakangan aku terlambat tidur," ucap Agam, suaranya terdengar lirih. Ia berusaha tidak terpancing selorohan Hyun.

"Kau tidak bisa tidur? bukankah itu sudah biasa? kau bahkan kuat begadang tiga hari dua malam demi menyelesaikan pekerjaan tepat waktu," ujar Hyun yang merasa aneh dengan pernyataan sahabatnya.

"Bukan itu, Hyun."

"Lalu apa? kurasa kau tidak bisa tidur karena membutuhkan belaian wanita." Hyun malah kembali mencoba menguji kesabaran Agam. "Mau ku hubungi Shera?" sambungnya santai. "Atau wanita cantik lainnya?"

Ucapan Hyun membuat Agam segera membuka kembali matanya dan menegakkan kembali tubuh lantas mencondongkannya ke hadapan Hyun, sementara sorot tajam matanya membuat Hyun sedikit merasa takut bahkan sampai memundurkan kursi. Khawatir Agam kembali melemparkan pena atau bahkan meja di hadapannya. "Ini berbeda Hyun," ujarnya. "Ku rasa... Apartemen milikku itu berhantu," sambung Agam.

Mendengar cerita dan ekspresi serius yang Agam perlihatkan, membuat Hyun terkejut. Kali ini ia bukan takut karena khawatir Agam melemparnya dengan benda. "A-apa maksudmu?" tanya Hyun sedikit terbata. Hyun bahkan mengelus tengkuknya saat merasa bulu-bulu halus itu mulai bereaksi setelah mendengar kata Hantu yang Agam ucapkan.

Agam kembali menyandarkan tubuh, matanya menatap langit-langit ruangan, mencoba mengingat kembali kejanggalan yang terjadi di apartemennya selama beberapa hari belakangan.

"Hampir satu minggu, setiap kali aku pulang ke apartemen... selalu ada hidangan makan malam yang tersaji di meja makan."

Hyun hanya mengangkat alis dan memberi isyarat agar Agam melanjutkan ceritanya.

"Awalnya aku tidak menggubris," lanjut Agam. "Aku bahkan sengaja tidak menyentuh makanan itu. Tapi di hari ketiga, saat perutku benar-benar lapar... aku mulai tergoda. Apalagi aromanya seolah sengaja mengundang agar aku menikmatinya."

Masih belum berniat memberikan komentar, Hyun hanya mengangguk-anggukan kepala sambil menahan tawa, sementara rasa takutnya menguap seketika.

Melihat Hyun yang hanya mengangguk tanpa komentar, Agam mendengus pelan sebelum melanjutkan.

"Yang membuatku heran... setiap hari menunya berbeda. Selalu hangat. Seolah baru saja dimasak beberapa menit sebelum aku datang." Nada suara Agam mulai merendah, sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, ia seolah tengah membayangkan rasa nikmat hidangan itu.

Hyun akhirnya berhenti menahan tawa. Pria itu berdehem kecil, kini ia tahu apa yang menjadi alasan kekhawatiran sahabatnya, dan semua itu bukan karena Hantu seperti dugaan Agam tadi.

Dengan mata menyipit, kali ini Hyun yang mencondongkan tubuh. "Jadi, kau pikir hantu di apartemen yang sudah memasaknya?" tanya Hyun pelan. "Lalu, apa kau tetap menghabiskan makanan yang dibuat hantu itu?" imbuh Hyun semakin penasaran.

Agam kembali menghela napas. "Awalnya aku tidak percaya, tapi sungguh tidak ada orang lain di Apartemen itu... aku bahkan sampai menghubungi Kepala koki rumah utama untuk menanyakan, siapa tahu Bunda yang sengaja mengirim makanan itu dari rumah utama," terang Agam.

"Lalu apa jawabannya?" tanya Hyun semakin penasaran.

"Tidak ada hidangan matang yang dikirimkan dari rumah utama... mereka hanya mengirimkan bahan makanan mentah untuk mengisi lemari pendingin," jawab Agam.

Hyun kembali terkikik pelan. Ia jelas tahu siapa yang sudah memasak hidangan itu. Ia juga yang sengaja meminta Viona untuk berhati-hati selama berada di apartemen. Agam tidak boleh sampai memergokinya sampai suasana hati pria itu kembali tenang atau Viona terancam kehilangan pekerjaan barunya karena terkena imbas dari mood Agam yang masih berantakan.

"Tapi, kau tetap memakannya, bukan?" Hyun menyipitkan mata dan kembali bertanya dengan penuh rasa penasaran. Rasa makanan yang dimasak Viona terasa nikmat menurutnya. Ia yakin, Agam juga sependapat dengannya.

Agam mengangguk pelan, sementara pikirannya kembali berkelana. "Menu dan rasa makanan itu membuatku seperti tengah berada di rumah utama," ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hyun terdiam sejenak, ia bisa melihat bagaimana kerinduan Agam pada suasana rumah yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Sahabatnya itu masih menolak kembali ke rumah utama dan memilih untuk tinggal sendiri di apartemen atau tidur di kantor.

"Kau... merindukan... "

"Aku... ah, sudahlah Hyun," potong Agam cepat. Pria itu seolah tersadar dari bayangan masa lalu. "Katakan pada Pak Asep untuk memasang CCTV di seluruh sudut apartemen ku. Entah hantu atau apapun itu, akan ku pastikan malam ini aku bisa menemukan kebenarannya," ucap Agam.

Kali ini Hyun menelan keras salivanya, Jika CCTV dipasang di setiap sudut apartemen, itu artinya Viona...

*****

Bersambung.

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!