Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
Keesokan paginya, sebelum jarum jam dinding menunjukkan pukul enam tepat, Nadine sudah melangkah masuk ke dalam dapur mewah rumah Menteng dengan piyama santai yang telah diganti rapi.
Memasak adalah satu-satunya kegiatan non-finansial yang paling disukai Nadine, karena aktivitas dapur ini menjadi waktu berkualitas bagi dirinya untuk melepaskan segala stres pekerjaan korporasi yang menjemukan.
Selain kegemaran pribadinya, Nadine juga mengingat draf pasal tambahan kontrak pernikahan mereka yang bernilai sangat fantastis dan menguntungkan saldo rekening pribadinya.
@Pasal Tambahan 4A: Pihak kedua bersedia memasak satu porsi makanan tambahan untuk pihak kesatu dengan kompensasi sebesar lima puluh juta rupiah per bulan.@
(Memasak adalah hobi saya sejak dulu, dan mendapatkan bayaran fantastis hanya untuk menambah porsi makanan di atas wajan adalah transaksi bisnis terbaik di abad ini.)
Nadine mulai memotong sayuran dengan gerakan pisau yang sangat terlatih, menciptakan bunyi ketukan berirama konstan di atas papan talenan kayu yang tebal.
Ia sedang menyiapkan menu sarapan pagi berupa nasi goreng mentega gurih dengan potongan daging sapi wagyu premium yang melimpah sebagai menu pembuka hari mereka.
Tanpa ada suara langkah kaki yang terdengar sebelumnya, Kyle tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat meja konter dapur dengan mengenakan kaos kasual berwarna hitam yang santai.
Pria beraura es itu bersandar pada pilar kayu dapur, mengamati punggung anggun Nadine yang sedang sibuk bergerak lincah di depan kompor gas dengan ekspresi wajah yang langka.
Ada binar posesif yang sangat tipis di mata kelabu Kyle saat melihat istrinya begitu fokus pada aktivitas domestik, sesuatu yang sangat berbeda dari citra wanita kantoran yang biasa ia temui.
"Apakah sarapan seharga lima puluh juta rupiah ini sudah siap untuk disajikan ke atas meja makan, Nona Nadine?"
Nadine tersentak kecil karena sifat cerobohnya yang kurang waspada terhadap pergerakan sekitar, namun ia segera menguasai diri dengan mematikan kenop kompor dapur.
"Tepat waktu, Tuan Ernest, silakan duduk dengan tenang di kursi Anda dan siapkan aplikasi transfer bank Anda sekarang juga."
Nadine meletakkan sepiring nasi goreng mentega hangat di hadapan Kyle, lengkap dengan selembar kertas kuitansi pembayaran resmi yang sudah ia tanda tangani di bawahnya.
Kyle menatap kuitansi di samping piring sarapannya dengan dahi yang mengernyit heran, tidak habis pikir dengan dedikasi luar biasa istrinya terhadap urusan uang kertas.
"Anda bahkan menyiapkan bukti pembayaran fisik bermeterai hanya untuk urusan sarapan pagi di rumah sendiri?"
"Profesionalitas keuangan adalah segalanya di dalam rumah ini, Pak Kyle, saya tidak ingin ada piutang macet di antara kita hanya karena urusan isi perut."
Kyle mengambil sendok peraknya, lalu mulai menyuapkan sesendok nasi goreng buatan Nadine ke dalam mulutnya dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan elegan.
Meskipun rasa masakan itu sangat lezat dan bumbunya meresap dengan sempurna, wajah tampan Kyle tetap terlihat datar tanpa ekspresi layaknya es kutub utara.
"Rasanya biasa saja, bahkan rasa asinnya sedikit terlalu pekat untuk standar kesehatan harian saya."
"Jika Anda tidak puas dengan kualitas rasa masakan saya, silakan bayar denda pembatalan menu sebesar seratus persen dari nilai kontrak bulanan kita."
Nadine menjawab dengan ketegasan yang mutlak, menolak keras jika hasil karya dapurnya yang berharga mahal diremehkan begitu saja oleh lidah kaku sang suami.
Kyle mendengus geli mendengar ancaman denda tersebut, lalu kembali menyuap makanannya hingga piring porselen di hadapannya bersih tanpa sisa dalam waktu yang cukup singkat.
Saat Nadine hendak mengulurkan tangan untuk mengambil piring kosong tersebut, Kyle mendadak menggerakkan tangan kanannya ke arah wajah Nadine secara tiba-tiba.
Ibu jari hangat Kyle menyapu lembut sudut bibir Nadine, membersihkan sedikit sisa bumbu mentega yang tidak sengaja menempel di sana akibat kecerobohan Nadine saat mencicipi masakan tadi.
Sentuhan fisik yang sangat mendadak dan intim itu membuat tubuh Nadine membeku seketika di tempatnya berdiri, menghentikan seluruh logika berpikirnya.
"Makanlah dengan lebih rapi saat berada di dapur, Nadine, Anda terlihat seperti anak kecil yang baru belajar menggunakan alat makan."
Kyle menarik kembali tangannya dengan santai, lalu menjilat ujung ibu jarinya yang terkena sisa mentega masakan tadi sembari menatap lekat manik mata Nadine.
(Pria ini... apa dia baru saja melakukan tindakan seintim dan selandai itu secara sadar di depan mataku?)
Jantung Nadine kembali berdegup kencang dengan ritme liar yang sangat mengganggu kalkulasi matematika di dalam kepalanya yang biasa bekerja dingin.
"Tindakan pencurian keintiman fisik tanpa izin tadi akan saya masukkan ke dalam tagihan non-kontrak sebesar sepuluh juta rupiah, Pak Kyle."
"Masukkan saja biaya itu ke dalam tagihan bulanan saya, Nona Nadine, karena saya sama sekali tidak keberatan membayar lebih untuk layanan tambahan yang menyenangkan seperti itu."
Kyle bangkit dari kursi makannya dengan seulas senyuman smirk licik yang sangat menyebalkan, meninggalkan Nadine yang masih berdiri terpaku dengan wajah merona merah padam di area dapur yang sunyi.