NovelToon NovelToon
Sang Purnama

Sang Purnama

Status: tamat
Genre:Petualangan / Contest / Duniahiburan / Cintapertama / Tamat
Popularitas:27.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yamazakura

Julius sedang berada di puncak karier dan kesuksesan sebagai seorang musisi ketika berita duka itu datang.

Berita tentang sahabatnya yang seorang model majalah pria dewasa tewas dan di isukan mabuk sebelum loncat dari lantai 4 Apartemen sungguh membuat Julius berhenti sejenak.

Julius yang bermasalah di masa lalu putuskan untuk membereskan segalanya. Ia juga tidak percaya sahabatnya itu tewas bunuh diri.

Julius pun pergi sendirian.

Pacarnya yang seorang artis jelas tidak terima dengan keputusan Julius yang tiba-tiba meninggalkan ketenaran dan hidup mapan.

Di saat yang sama, Nani mencari Julius dan bertemu dengan Angela.

Angela curiga, Nani cinta pertama Julius dan Nani Yakin, Angela belum putus dengan Julius. Walau demikian, keduanya sepakat untuk sama-sama mencari Julius.

Sampai akhirnya, Nani dan Angela jadi tahu siapa dan bagaimana kehidupan Julius seutuhnya.

Sisi gelap dunia hiburan, persabatan dan cinta.


Kisah inspiratif tentang seorang pemuda yang jatuh bangun mengejar mimpi.

tidak cengeng, tapi sanggup membuatmu nangis. Tidak gombal, tapi sanggup membuatmu jatuh hati.

jujur, terbuka dan menginspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CLBK Dengan Purnama

Hari kemudian, Julius merasa bosan. Julius biasa sibuk dan banyak kerjaan, Julius pun memperbaiki Ranggonya.

Sita menemani. Sita tidak kuliah. Kerjaannya hanya main medsos dan berleha-leha.

“Bukannya kamu kuliah Jul?” tanya Sita dengan mulut penuh cemilan. Julius yang lagi serius membersihkan batang-batang bambu besar tampak cuek. Siang mulai terik.

“Aku cuti dulu,” jawab Julius.

“lagaknya cuti. Bilang aja mehong(mahal), hihi, itu si? Siapa? Anak pak Hasan temen kamu itu?”

“Si Firman?”

“Iya, Firman. Pak Hasan sampai jual ladang, eh kuliahnya gak bener. Sekarang malah buntingin anak orang dan jadi buruh.”

“Yang penting halal,” ucap Julius sekenanya.

“Peganging nih, cepetan.”

“Ah, males gue, gatel ah. Lagian panas di situ, yang ada entar gue item lagi,” tolak Sita ketika Julius menyuruhnya memegangi ujung bambu yang mau digergaji.

Anak-anak ayam yang lewat bercicit ria. Seekor kupu-kupu hinggap pada bunga sepatu di halaman yang kini jadi taman kreasi Sita.

***

Wini tampak menggiring Tina. Masing-masing menyeret koper besar.

“Kita pulang aja yuk?,” ucap Tina.

“Kamu ini ya, susah dibilangin,” ucap Wini lantas memberhentikan taksi.

***

Dengan bantuan dua orang tetangga. Ranggon baru rancangan Julius itu pun berdiri. Tinggal diberi atap. Siang semakin terik. Sita datang menyuguhkan kopi dan goreng pisang.

***

Di satu sudut galeri alat-alat musik di dalam sebuah mall, di hadapan sebuah gitar elektrik yang terpajang anggun. Rudolf terpaku. Tatapannya lekat ke sosok gitar itu. Seorang pelayan menghampiri Rudolf dan dengan begitu sopannya pelayan toko alat musik itu memberitahu spesifikasi gitar itu dan harga. Tidak lupa diskon.

Tapi Rudolf sedang asik sendiri dengan kenangannya,

“Asik juga yah, punya cewek ABG, gemes gemes gimana gitu, hehe,”

“Ah, eluh, bikin kaget aja,” gerutu Julius.

“Dari tadi gue lihatin lo berdua. Gua nungguin adegan perpisahan yang romantis gimana gituh, kiss cup, kiss cup, ***** gituh, eh lo nya gak agresif banget sih jadi cowok,”

“Kiscup, kiscup apaan? Udah udah ah, cabut yuk,” ajak Julius kemudian nyelonong masuk lagi ke dalam mall.

“Tadi temennya ada yang oke juga tuh Jul, anak mana sih?” tanya Rudolf sambil mengikuti Julius.

“Anak kampung. Jauh,”

Selesai melepas kepergian Nani, Julius dan Rudolf melihat-lihat jejeran gitar-gitar elektronik di sebuah gerai.

“Sebentar lagi gitar ini jadi milik gue Rud,” tuding Julius sambil menunjuk gitar yang kini Rudolf pandangi dengan sakit.

“Lo tinggal bilang aja, kalo gak mau gue beliin, gue kasih pinjeman lu. Tanpa bunga,” ucap Rudolf.

“Bukannya nolak rejeki men, tapi ini urusannya sama prinsip,” jawab Julius. Rudolf paham itu. Julius tidak pernah memanfaatkan dirinya. Walaupun Julius dari kalangan biasa bahkan pekerja kasar. Rudolf salut pada sikap dan cara Julius bergaul. Julius orang yang jujur dan berbakat. Tapi sekarang (?) Teman yang sudah menjadi sahabat itu berkhianat dan pergi begitu saja.

“hallo, mm... Mister, can you speak Indonesia,” ucap si pelayan toko itu. Mungkin dia kira, anak bule yang lagi bengong itu tidak mengerti bahasa Indonesia.

“Nih,” Rudolf memberikan selembar kartu kredit.

“Iya, sebentar ya. Gak di coba dulu."

“Gak usah,” jawab Rudolf seraya perlahan meraih gitar tersebut. Pelayan itu pun berlalu dengan riang.

Tiba-tiba Rudolf membanting gitar itu. Sontak memancing pengunjung mall yang sedang berlalu-lalang. Terutama pemilik toko dan pelayannya tadi. Rudolf seperti orang yang kesetanan. Tapi tak ada yang berani melerai, sampai akhirnya gitar yang baru di belinya itu patah dan hancur. Pelayan toko itu sampai menganga tak percaya. Setelah menyelesaikan pembayaran, Rudolf berlalu begitu saja melewati orang-orang yang terbengong-bengong.

Di antara banyak pengunjung mall yang menyaksikan tingkah Rudolf itu ada yang berbisik pada temannya, “Sultan mah bebas.”

Sore kemudian, Ranggon mahakarya Julius itu pun selesai dibuat. Lebih tinggi kali ini. Beratapkan genteng tanah liat. Benar-benar seperti menara pengawas. Tingginya sekitar 6m dengan tiang-tiang bambu Gombong yang besar. Terakhir Julius mengikat tangga yang juga terbuat dari bambu. Tapi Julius merasa masih ada yang kurang. Jadi ia berpikir untuk membeli varnis.

Empat orang bocah lelaki usia SMP sedang asik nge-band di sebuah halaman beralaskan tanah, beratapkan dedaunan. Yang tiga orang memainkan gitar akustik yang satu yang paling ceking(kurus) memainkan drum rakitan. Ya, drum rakitan. Tom-tomnya terbuat dari bekas wadah cat, snare drum juga dari plastik bekas wadah cat yang lebih besar, bass drum dari bak warna hitam. Begitu juga bagian hi hat, crash dan ride menggunakan tutup panci berbagai model. Hebatnya, susunan suaranya masuk. Julius yang baru habis dari toko material tertarik permainan musik ke empat bocah SMP itu.

Lucu Julius rasa. Tapi musik yang mereka main iramanya masuk. Terutama drumnya. Walaupun drum itu terbuat dari berbagai macam barang bekas tapi kuping Julius sudah sangat jeli. Mana yang fals atau nadanya melenceng Julius tahu.

Iseng-iseng Julius memarkir sepeda motornya dan menghampiri mereka. Tiba-tiba ke empat bocah SMP itu berhenti. Bahkan salah satunya hendak lari.

“Eit, kenapa berhenti, ayo lanjutkan. Jangan takut, Abang cuma mau denger lagu tadi sampe selesai,” ucap Julius. Sejenak ke empat bocah itu menatap Julius. Mungkin dikiranya Julius adalah pemuda pengangguran yang suka malakin bocah. Rambut panjang Julius, celana jeans sobek sobek, dan jaket belel yang Julius gunakan mendukung anggapan mereka.

“Kalo kalian bisa nyanyiin lagu, Sheila on seven yang?? Mmmm... Memetik bintang, nih Abang kasih ceban?” ucap Julius coba menepis ketakutan mereka. Sejenak mereka bisik-bisik satu sama lain sambil sesekali melihat selembar uang sepuluh ribuan dekil yang Julius acungkan itu.

“Oke, bisa bang,” jawab salah satunya tanpa pikir panjang dengan suara cempreng.

“Coba,” tantang Julius sambil duduk santai di meja ayaman bambu. Mereka pun bersiap.

“Tu, wa, ga, pat” tukas seorang bocah yang main drum memberi aba-aba.

Mereka pun memainkan lagu itu dengan sempurna. Padahal itu lagu lawas, bisa jadi lagu itu tenar saat mereka baru lahir. Julius jadi berpikir, bagaimana kalo dirinya membuat tempat rental musik.

“Nih,” Julius pun menyerahkan uang itu dan langsung mereka sambar.

"Makasih Bang."

“Oh iya, kalian pasti sering main di tempat rental musik yah?” tanya Julius kemudian.

“Iya.”

”Tapi jauh. Makanya kami paksain beli gitar dan bikin drum sendiri.” Jawab yang satunya lagi.

“Emang studio bang Acil tutup?”

“Huh, itu mah udah lama banget."

“Rumah Abang di seberang jembatan sana. Kalo Abang buka studio musik, kalian mau gak main di studio Abang?”

“Mau mau, biar gak jauh-jauh ke kecamatan,” tukas salah satu bocah itu dengan penuh semangat.

Tapi jangan mahal-mahal,”

“haha.”

“Engga, tenang aja.” Julius pun akhirnya bisa akrab dengan bocah bocah itu. Di bawah rindang pohon mangga bocah-bocah itu kembali riang bermain musik. Julius pun pamit dan di sepanjang jalan menuju pulang. Julius jadi memikirkan rencana membuka studio musik sebagaimana tadi ia ucapkan itu. Uang hasil kerjanya di manajemen artis itu sepertinya cukup.

1
Yamazakura
sountrack nya udah keluar di yt. judul lagunya 'hanya satu'
Hestiiiii
lanjut
ayumi
semangat, keren kk...
🎯™ꨄ​᭄⃟™Suci Anatasya❀⃟⃟✵🅠🅛
semangat up
Yamazakura: siapp
total 1 replies
LILI SUPARLI
prolog yg mengundang
ariasa sinta
q awalnya ngira ini horor, krna q baca yg purnama k2 dulu, v ini keren seh, tiap bab nya panjang dan alur kejadian dan kata2 nya juga jelas
Yamazakura: terima kasih 🥰🤗
total 1 replies
ariasa sinta
untungnya julius bisa sadar mana impian dan kenyataan,
bagussss bgt thor dan ini kadang masalah yg d alami semua orang
ariasa sinta
49
ariasa sinta
48
ariasa sinta
44
ariasa sinta
39,
ariasa sinta
39,
bentar lagi masuk bagian inti teka tekinya neh
ariasa sinta
36,
liat nani berasa liat diri sendiri, dulu temenan 10 orang, 8 cwo dan 2 cwe, sekali2 nya nonton konser grtisan tuh, yg ngeslank bareng jinggo, pulang jam 2 malem baju basah nyampe rumah abang gw dah nungguin, kabayang kan lanjutan nya apa, auto d ceramahin mpe seminggu kdepan
ariasa sinta
itu syair2 lagunya julius kayanya lagu2nya aothor sendiri waktu zaman abegeh ya tor
Yamazakura: tahu ajaaa😆😆
total 1 replies
ariasa sinta
39
ariasa sinta
41
ariasa sinta
40,
kadang perih dan sakit itu perlu, dalam mencapai impian, suatu saat nanti kita sukses akan terasa lebih hebat
ariasa sinta
38,
baru ngeh q bacanya kebalik, baca purnama k2 dulu yg ini
ariasa sinta
38
ariasa sinta
32
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!