"Kami tidak bisa melihat masa depan dengan sempurna – kemampuan itu hanya dimiliki [Divine Insight]. Namun, kami menyimpan segala pengetahuan semesta. Sebagai hadiah untukmu, dan sebagai salam sampai jumpa dariku, kuberitahu kau satu hal: Mengesampingkan Edenia, makhluk terkuat dalam semesta adalah Vermyna Hellvarossa dan Fie Axellibra. Namun, di antara semuanya, hanya kau saja yang bisa menyerap semua Supreme Magic tanpa memerlukan Air Ethereal ataupun Throne of Heaven. Bahkan, kau bisa meraihnya... pendewaan tanpa Throne of Heaven."
—"Mother of Nature" to Xavier von Hernandez—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Near, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2: Promise, part 2
Rembulan menyinari daratan dengan sinar pucatnya, membuat malam yang gulita sedikit terang di Hutan Besar Amarest di mana Elf Kingdom berdiri.
Di sebuah rumah di pinggiran Kota Evrillia, ibukota Elf Kingdom, terlihat sosok Xavier sedang duduk termenung di bantalan jendela.
Ia duduk dengan satu kaki tertekuk, satu lagi terselonjor. Mata merahnya memandang hampa pada rembulan yang menggantung angkuh di langit malam. Ia sangat ingin keluar dari rumah pohon besar ini jika bisa, tetapi ada penghalang transparan yang menyelimuti pohon besar ini hingga membuatnya mustahil untuk keluar.
Di ruangan yang sama, beberapa belas langkah dari jendela, Monica terduduk murung di atas ranjang. Elena duduk diam di samping Monica. Meskipun keluarganya berhasil selamat, ia tetap bersedih karena desa yang ia cintai sudah tak lagi berbentuk. Tepat di depan mereka berdua, Menez, Jose, dan Heckart duduk di ranjang yang serupa dengan ranjang Monica duduk. Mereka bertiga diam tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Mereka sudah duduk diam seperti itu lebih dari tiga jam yang lalu sejak mereka tersadar kembali. Menemukan diri berada di tempat asing, tak bisa keluar dari ruangan dengan tiga kamar tidur ini, lalu kembali teringat akan pernyataan tentang status desa dan keluarga mereka. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk terdiam, termenung.
Pandangan Xavier berpindah dari rembulan ke bawah di mana rumah-rumah pohon lainnya terletak dengan begitu tertata.
Meskipun tak bisa keluar dari sini, Xavier dapat melihat dari jendela kalau ruangan di mana kamar ini terletak berada di puncak pohon. Bukan yang tertinggi, memang, tetapi Xavier masih dapat melihat betapa indah dan menakjubkannya peradaban para elf. Meskipun ia masih kesal setengah mati, keindahan yang matanya lihat membuatnya sedikit lebih tenang.
Ketenangan yang ia dapatkan membuat Xavier kembali teringat akan kejadian siang tadi.
Saat itu ia dilanda amarah, mananya jadi tidak terkendali.
Kendati demikian, Xavier masih ingat sepenuhnya kejadian waktu itu: ia menggunakan sihir uniknya untuk menerbangkan tanah-tanah dan pepohonan. Pun ia juga menggunakan sihir itu saat mencoba menyingkirkan Zie yang menghalanginya. Xavier ingat kalau dia mengatakan “mati”, lalu setelah itu Zie jatuh berlutut mengeluarkan darah dari mulut. Namun, sesaat setelah itu ia juga turut mengeluarkan darah dari mulut.
Xavier masih belum mengerti bagaimana kinerja sihirnya itu. Yang ia tahu hanyalah amarahnya entah bagaimana telah menggunakan sihir itu. Api hitamnya memang sudah hebat, tetapi Xavier merasa kalau sihir uniknya itu jauh lebih hebat lagi. Rasanya, jika ia bisa menguasainya, menaklukkan induk anjingg yang telah merenggut segala yang ia punya itu akan menjadi sangat mudah.
Derap langkah kaki terdengar pelan menuju ruangan tempat Xavier dan yang lainnya berada.
Xavier yang menyadari itu langsung menolehkan wajah ke sana. Seketika ia melihat seorang gadis kecil berambut seputih salju dengan iris sebiru langit siang. Tinggi gadis berkulit putih bersih bertelinga runcing itu sekitar dua hingga tiga centi lebih tinggi dari Xavier. Jika dia manusia, Xavier yakin gadis itu sekitar satu atau dua tahun lebih tua darinya. Namun, karena dia elf yang berumur panjang, Xavier tidak bisa menebak dengan cukup akurat.
“Namaku Evillia. Aku murid rahasianya Nona Evana Evrillia yang ditugaskan menjadi guru kalian dalam ilmu sihir. Kalian bisa memanggilku Guru Evillia, salam kenal semuanya~”
Xavier mengernyitkan keningnya, memandang gadis itu lekat-lekat. Mau bagaimanapun ia melihatnya, gadis itu tak terlihat kuat. Berani ia berkata lebih lemah dari dirinya. Sangat tidak masuk akal sekali memanggilnya guru. Namun, penampilan seringkali menipu. Bahkan kepala desa yang ia percayai berani menipu dirinya. Karena itu, Xavier tidak akan mengatakan apa pun saat ini. Ia hanya akan mengobservasi bagaimana yang lainnya menyikapi perkenalan gadis itu.
Tetapi tak ada satu pun dari mereka yang merespons perkenalan diri Evillia, membuat gadis itu menggembungkan pipi memasang muka sebal.
“Kalian tahu,” ucap sang elf bersedekap dada, “Nona Evana mengizinkanku membawa kalian melihat desa asal kalian jika aku rasa kalian semua telah cukup kuat untuk setidaknya mengalahkan lima prajurit Elf Army satu lawan lima pada saat yang bersamaan.”
Satu kalimat panjang dari Evillia itu seketika membuat pandangan Monica dan yang lain tertuju padanya.
Harus Xavier akui, gadis itu sungguh tahu apa yang harus dikatakannya untuk menarik perhatian yang lain. Tetapi Xavier berasumsi kalau itu hanya kebohongan semata. Jika memang mereka berniat untuk mengizinkan Monica pergi, mereka tak akan repot-repot memasang pembatas mengelilingi rumah pohon ini.
“…Evillia…kapan kau bisa melatih kami?” tanya Monica, mewakili yang lainnya selain Heckart.
Evillia membawa tangan kanan ke bawah dagu, memasang pose berpikir. “Hm, bagaimana ya, hm…mengapa kalian tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu?”
“Ah, em, maaf atas ketidaksopanan kami,” ucap Monica berusaha menghilangkan kesedihannya. “Perkenalkan, namaku Monica Elsesky. Di sampingku ini Elena Ivanovna. Yang berambut pirang gelap itu Jose Hermithas. Yang paling muda di antara kami itu bernama Menez Helberth. Lalu, yang duduk di samping Menez dan yang tertua di antara kami adalah Heckart Elbrast. Sedangkan yang duduk di bantalan jendela itu bernama Xavier Hernandez.”
Pandangan Evillia beranjak dari Monica ke yang lainnya satu per satu, hingga akhirnya iris biru langit itu terjatuh pada iris merah darah Xavier yang memandangnya datar.
“Aku merasakan sedikit hawa keberadaan Nona Zie di tubuhmu. Apa kau memiliki ikatan khusus dengannya, Xavier Hernandez?”
Pertanyaan sederhana itu membuat pikiran Xavier kembali berkelana ke waktu sebelum ia dipaksa terlelap dalam pelukan wanita yang ternyata adalah vampire itu.
“Aku tahu kau ingin melihat apakah ibumu selamat atau tidak, tetapi itu sudah terlalu terlambat. Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”
Xavier merasakan sepasang taring Zie mendarat di lehernya saat itu, lalu vampire berwajah jelita itu berbisik, “Beristirahatlah untuk sementara.” Dan taring itu lalu menusuk menembus pembuluh darahnya, dan Xavier pun terlelap dalam mimpi yang…tak ingin ia deskripsikan.
“Hmph, bukan urusanmu,” respons Xavier pada akhirnya, kembali menoleh ke luar jendela.
Evillia menyipitkan mata memandang Xavier.
Xavier merasakan kalau dirinya dipandangi lekat-lekat, tetapi ia tak memedulikan dan tetap memandang ke bawah jendela. Meskipun malam sudah mau larut, masih ada beberapa elf yang berlalu lalang di jalan-jalan. Beda sekali dengan desanya. Jam segini, semuanya sudah pasti terlelap.
Melihat Xavier yang tak lagi memerhatikannya, Evillia akhirnya menghela napas pelan dan mengedikkan bahu. “Besok pagi-pagi sekali aku akan ke sini lagi," katanya. "Kita akan memulai latihan kalian saat itu. Sekarang kalian istirahatlah. Esok akan melelahkan jika kalian tidak memanfaatkan malam ini untuk beristirahat. Kalau begitu aku permisi, sampai jumpa besok pagi~!”
Selepas kepergian Evillia, satu per satu meninggalkan ruangan tersebut, hingga hanya tersisa Menez yang duduk di ranjangnya dan Xavier yang masih duduk di bantalan jendela.
Tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun. Karena memang tak ada yang perlu dikatakan. Mereka hanya ingin melihat desa mereka, memastikan status keluarga mereka. Merika hanya ingin melihat dengan mata kepala mereka sendiri akan nasib kelam yang menimpa mereka dan desa tercinta.
Malam semakin larut, awan-awan mulai bergerak menutupi rembulan, menarik selimut kegelapan menyelimuti sang malam.
Xavier yang duduk sendiri dalam sepi pun mulai merasakan angin malam menusuk-nusuk kulit, mengantarkan dingin menyelimuti dirinya.
Ia menoleh ke dalam, didapatinya Menez sudah terlelap. Menghela napas, Xavier pun turun lalu menutup jendela. Kemudian ia berjalan dan merebahkan diri di ranjang di depan ranjang Menez. Di lantai ke dua dari atas ini, terdapat tiga ruangan yang masing-masing ditempati oleh dua orang: Xavier dan Menez, Heckart dan Jose, serta Monica dan Elena.
Xavier memejamkan matanya.
…Belasan menit berlalu. Xavier berbaring ke kiri. Beberapa menit kemudian ia berbaring ke kanan. Tak seberapa lama kemudian ia menelengkupkan badannya. Tak lama setelah itu ia kembali menghadap ke atas.
…Dan belasan menit pun kembali berlalu.
Xavier sama sekali tidak bisa tidur. Kesadarannya tak kunjung menghilang. Meski memejamkan mata, rasa kantuk tak mau menyerang. Xavier akhirnya mendudukkan diri, irisnya memandang datar pada Menez yang terlelap begitu pulas.
Bagaimana bisa dia tidur pulas seperti itu?
Mendengus pelan, Xavier bangkit dari ranjang. Duduk dengan kaki terlipat di lantai kayu di samping ranjang miliknya. Xavier memejamkan kedua mata, bermeditasi. Ia akan mencoba mencari tahu lebih dalam tentang sihir uniknya. Tidak ada gunanya memiliki sihir mematikan jika ia tidak bisa menggunakannya sesuka hati.
Mana berwarna abu-abu gelap perlahan mulai menyelimuti tubuh Xavier. Mana itu tidak tenang, liar seperti aliran petir yang membelah langit. Jelas sekali kalau kontrolnya terhadap mana masihlah di tingkat yang dasar. Hal itu sangat wajar, ia baru belajar sihir dalam beberapa bulan. Tak pantas membandingkan kontrolnya dengan Zie yang levelnya jauh di atas dirinya.
Belasan menit kemudian, Xavier membuka kedua mata. Mana yang menyelimuti tubuhnya meresap ke dalam tubuh perlahan-lahan. Xavier lalu membuka kedua telapak tangan. Kemudian keduanya ia letak menghadap ke atas di atas masing-masing paha. Xavier berkonsentrasi, dna perlahan-lahan api hitam tercipta menari-nari di masing-masing telapak tangannya.
Api hitam itu perlahan-lahan berubah warna menjadi biru, lalu hijau, kemudian menjadi kuning, oranye, dan terakhir menjadi merah. Api merah yang menyala itu kemudian menjadi oranye, kuning, hijau, biru, lalu kembali menjadi hitam. Kemudian Xavier mengangkat kedua tangannya, mendekatkan kedua api itu hingga menyatu membentuk nyala api yang lebih besar.
Xavier memandang api hitamnya sefokus yang ia bisa. Kemudian ia membuat pikirannya menarik sihir utamanya, sedang tangannya berusaha agar api hitam itu tidak padam.
Sewaktu ia dipenuhi amarah waktu itu, ia bisa membuat semua yang ada di sekitarnya melesat ke udara. Segala sesuatu akan selalu memenuhi hukum alam: apa pun yang di atas akan senantiasa jatuh ke bawah jika tidak ada kekuatan lain yang mengimbangi hukum alam tersebut. Gravitasi membuat segalanya kembali ke tanah.
Lantas, apa sihir uniknya itu anti-gravitasi?
Tidak, tidak mungkin; anti-gravitasi tidak bisa menjelaskan mengapa sewaktu ia mengatakan “mati” diikuti oleh Zie yang mengeluarkan darah dari mulutnya. Pun sihir uniknya bukanlah perintah mutlak; ia sama sekali tidak memberikan perintah sewaktu membuat pepohonan dan tanah-tanah melawan gravitasi.
Lantas, apa sihir uniknya?
“Membeku,” ucap Xavier pada api hitamnya.
Tetapi tidak terjadi apa-apa; api hitamnya tetap menyala menjilat-jilat udara.
Xavier memfokuskan aliran mananya pada api hitam, membayangkan api itu membuat temperatur menurun secara perlahan-lahan. Jika ia bisa membuat benda-benda melawan gravitasi, maka bagaimana dengan membuat api membekukan, bukan memanaskan?
...Satu menit berlalu. Dua menit. Tiga menit. Hingga menit ke empat berlalu, temperatur sama sekali tidak turun.
Xavier memutuskan meningkatkan konsumsi mananya. Jika seharusnya api meradiasikan hawa panas, Xavier membayangkan api hitamnya meradiasikan hawa dingin.
Mata Xavier melebar. Meskipun sangat lambat, ia bisa merasakan temperatur ruangan menurun.
Bibir Xavier seketika merekah. Ia meningkatkan konsumsi mananya, dan tiba-tiba kecepatan suhu udara turun sedikit meningkat. Xavier terus melakukan itu untuk beberapa lama. Barulah ketika ia merasakan kedinginan sedikit membuatnya menggigil Xavier menghilangkan api hitam itu dari tangannya.
Kemudian Xavier memunculkan api biru di kedua telapak tangan, membuat suhu ruangan perlahan-lahan kembali seperti sedia kala. Setelah itu ia kembali menggunakan sihir uniknya untuk membuat api meradiasikan hawa dingin. Xavier kembali mengulangi hal itu secara terus-menerus hingga ia merasa lelah dan mananya terkuras.
Xavier lantas merebahkan diri di atas ranjang, merilekskan tubuh yang lelah dan mana yang terkuras. Kendati rasa penat menyerang, bibirnya merekah lebar menunjukkan ekspresi kepuasan. Ia masih belum tahu batas sihir uniknya itu, tetapi yang Xavier tahu adalah sihirnya membuat sesuatu berlawanan.
Gravitasi yang selalu membuat semuanya mendarat, dibalikkan sihirnya sehingga gravitasi itu ke atas. Api yang meradiasikan panas, sihirnya membuat api itu meradiasikan dingin. Gravitasi, anti-gravitasi. Panas, dingin. Apa sihirnya juga bisa membuat sesuatu yang bergerak, berhenti? Sesuatu yang hidup, mati?
“Masih banyak hal yang harus kuuji dengan sihir unik ini. Pun aku harus meningkatkan kekuatan fisik juga kontrol mana. Hari-hari ke depan akan berat,” bibir Xavier merekah lebar, membentuk seringaian. “Tunggu saja kematianmu, Emperor….”
\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Edited.
gas maraton, buat nambah referensi. apalagi ini udah tamat.
• Stabilitas Pembaruan: ★★★★★
• Pengembangan Cerita: ★★★★★
• Desain Karakter: ★★★★★
• Latar Belakang Dunia: ★★★★★
Ulasan: Yes, sama dengan pemikiran pembaca yang lainnya, saya juga merasa ini adalah salah satu Novel terbaik yang pernah saya baca dalam hidup saya.
Dan alasan saya memberikan bintang lima untuk semua kriteria tersebut alasannya jelas.
Untuk kualitas penulisan: Author (Against The World) sendiri memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan banyaknya Author pada umumnya, selain kata-kata nya yang terkadang memiliki makna tersirat di dalamnya, Author juga memiliki cara tersendiri untuk membuat penjelasan secara detail tanpa mengurangi atau melebihi makna yang terkandung di dalam penjelasannya tersebut.
Untuk stabilitas pembaruan: Kalian bisa cek sendiri tanggal kapan Author (Against The World) meng-upload setiap chapternya, dan itu menunjukkan bahwa dia hampir sama sekali tidak absen untuk meng-upload setiap chapter perharinya.