Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Awan mendatangi rumah Pak Agung
Pak Alam menyuruh supir berhenti, Mobil berhenti ia pun turun. Ia'---? sudah tidak sabar lagi menunggu Pak Awan keluar menemuinya, ia memencet bel rumah Pak Agung beberapa kali. Akhirnya seseorang membuka pagar untuknya tapi yang keluar bukan Pak Agung tapi bibik artnya Pak Agung yang menemuinya. Pak Alam pun mengatakan maksud kedatangannya.
"Maaf Pak Agungnya ada?" tanya Pak Alam pada bibik.
"Tuan sedang tidak ada Pak, barusan keluar bersama nyonya," jelasnya.
"Apa Bibik tau mereka pergi kemana?"
"Tidak tau Pak, beliau tidak memberitahu saya mau pergi kemana. Tapi yang jelas sepertinya mereka mau ke undangan tadi."
"Oh begitu ya, ya sudah lah saya pergi dulu. Nanti sampaikan saja pada Pak Agung kalau saya ada datang ke sini," pesan Pak Alam pada Bibik.
"Baik Pak, akan saya sampaikan. Barang kali ada pesan lagi? biar sekalian saya sampaikan juga nanti," ujar Bibik.
"Gak ada Bik, biar nanti saja bicaranya saat ketemu Pak Agung."
"Oh begitu, ya sudah maaf saya mau lanjut ke belakang lagi ada yang harus di kerjakan," ucap Bibik.
"Iya silahkan Bik," sahut Pak Alam.
Bibik menutup kembali pagar dan kembali masuk rumah sedangkan Pak Alam juga sudah berlalu.
"Sialan mereka tidak ada di rumah lupaya," Pak Alam menggerutu. Ia hendak menelponnya meraba ponsel nya di saku, tapi ternyata ponselnya ketinggalan di rumah.
"Udah capek-capek ke sini gak jumpa sama orangnya lagi!" gerutunya Pak Alam kesal. Ia pun pergi dari rumah itu mencari bus di halte berjalan kaki.
Di tempat lain.
Awan yang baru saja keluar dari rumah Bastian temannya pergi melaju menuju kampus ia tidak kalau Ayahnya berpapasan dengannya menumpangi sebuah bus, Pak awan pun tidak melihatnya.
Ternyata Awan menginap di rumah temannya yang bernama Bastian semalam. Ia sengaja tidak mau pulang kerumah untuk memberi pelajaran pada orang tuanya yang sudah membuatnya malu. Awan merasa kesal harus berhadapan dengan kedua orang tuanya yang suka pamer. Hari itu ia berniat akan mengembalikan mobil Niko ke rumahnya. Ia tidak mau gara-gara memakai mobil itu ia mendapat masalah dengan kedua orang tuanya.
Awan menelpon Niko untuk memberitahukan kalau ia akan mengembalikan mobilnya tapi Niko malah mencegahnya dengan alasan di rumahnya tidak ada siapa-siapa. Ternyata orang tua Niko juga berpergian. Awan membuang napas kasar mau tidak mau ia tetap akan memakai mobil Niko itu. Tiga hari lagi Niko akan pulang maka selama itulah mobil itu di titipkan ke Awan. Awan pun pergi ke kampusnya dengan kesal.
Di perjalanan menuju kampus Awan bertemu dengan Pak Agung pas berhenti di lampu merah. Kebetulan saat itu Awan membuka jendela.
"Pa itu sepertinya Awan deh," ucap Mama Lita.
"Iya itu Awan Ma, sepertinya ia mau ke kampus," sahut Pak Agung pada istrinya.
"Awan ...!" seru Pak Agung sambil memencet bel mobilnya agar Awan melihat ke arahnya.
"Apaan sih Pa, kok teriak gitu. Kalau perlu samperin aja sana," ujar Mama Lita.
Awan melihat di sekeliling tempat dan penglihatannya tertuju pada sebuah mobil di sebrang ia pun mengenali kalau itu adalah mobil calon mertuanya Pak Agung.
"Wah menantu kita hebat ya Pa," puji Mama Lita. "Kren dengan mobil mewahnya. Senja tidak salah memilih dia sebagai calon suaminya," ujar Mama Lita yang kagum melihat Awan di kejauhan.
"Iya Ma, mudah-mudahan saja mereka berjodoh. Pak Alam kemana ya? dari tadi di hubungi tidak bisa. Mumpung kita sudah kesini sekalian aja kita mampir ke rumahnya," ujar Pak Agung tiba-tiba ingin bertamu kerumah Pak Alam.
"Lain kali sajalah Pa, Mama buru-buru," ujar Mama Lita.
Pak Agung tidak mau mendengar alasan Mama Lita ia masih mau mampir juga ke rumah calon besannya.
"Papa ketemu Awan dulu ya Ma, Mama di mobil saja," pamit Pak Agung.
Mama Lita belum sempat menjawab Pak Agung sudah pergi.
"Yah, mau ngapain lagi! itu orang gak tau apa, ini di jalan," gerutu Mama Lita mengomel saat Pak Agung turun menemui Awan.
Pak Agung pergi menyebrang menemui Awan. Awan kaget dan ia merasa panik saat Pak Agung pergi ke arah mobilnya. Aduh itu orang mau ngapain? aku jadi takut. Mau menghindar juga udah telat. Batin Awan gelisah.
"Awan!" seru Pak Agung.
"Om, ada apa?" ucap Awan memasang seyum yang dibuat-buat.
"Ini, saya menghubungi Ayah kamu dari tadi kok gak nyambung-nyambung ya? Om ada perlu sama dia ada hal yang harus di sampaikan. Mumpung lagi jalan sekalian mau mampir ke rumah kalian, maksud nya."
"Oh gitu ya Om, mungkin Ayah sibuk kali Om," ujar Awan.
"Oh begitu ya sudahlah gak apa-apa, Oya alamat rumah kamu di mana?" ujar Pak Agung langsung membuat jantung Awan seperti mau copot.
"Em ... anu, maaf Om, Ayah dan Mama lagi tidak ada dirumah. Mereka pulang kampung karna ada acara keluarga," ucap Awan berbohong.
Maaf banget Om Agung terpaksa Awan bohongi. Awan tepaksa lagi kepepet .... batin Awan sambil mengigit bibirnya.
"Oh begitu ya, ya sudahlah lain kali saja kita mampir."
"Iya, maaf banget ya Om," ucap Alam sungkan.
"Tidak apa-apa kok Awan."
" Em, maaf Om. Awan jalan dulu ya sudah telat nih. Mau ke kampus, itu lampunya sudah berubah mau lanjut jalan."
"Oh ya, silahkan ... saya juga mau jalan. Maaf ganggu."
"Gak apa-apa Om, saya jalan dulu ya Om permisi Assalamualaikum," ucap Awan sambil menunduk kepala.
"Huh untung saja dia percaya kalau Ayah gak ada di rumah. Aduh gimana ini? iya hari ini bisa lolos, gimana kalau lain kali masa kasi alasan gak ada di rumah lagi sih!" Awan menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia begitu bingung.
"Ayah bikin repot aja. Kenapa juga ngaku orang kaya kalau sudah begini Awan juga yang repot!" dengusnya sambil membanting setir ia begitu dongkol.
Bagaimana kalau Pak Agung tau keadaan rumahnya. Awan membayangkan hal yang buruk sedang terjadi.
Awan merasa tidak tenang hari itu, setelah sampai di kampus ia tampak murung duduk di kelas tidak seperti biasanya ia selalu bergairah ikut anak-anak yang lain main basket.
Seseorang mendatanginya. "Wan, kita main yuk...! ajaknya.
"Aku lagi gak enak badan Dit," ucapnya pada Radit teman geng basket nya di kampus.
"Tumben," Radit memeriksa suhu badan Awan.
"Gak panas kok badanmu, kamu lagi ada masalahnya?" tebak Radit.
"Gak kok, biasa aja hari ini badan aku lemah banget aku gak ikut deh main hari ini."
"Yah, kok gitu sih Wan? hari ini kan kita lawan Tim Alek. Mereka sudah menantang kita masa kita mundur sih kan gak lucu," ujar Radit gak terima.
"Aku tidak bisa main Dit, cari pengganti saja."
"Hem gak asyik nih, lagian gak ada pengganti lagi Wan, kamu kan tau anak-anak gak mau gabung dengan tim kita. Kalau kamu ada masalah cerita aja Wan, kita kan sahabat," ujar Radit.
"Makasih, tapi aku gak ada masalah apa-apa kok." ucap Awan tidak mau cerita pada Radit tentang masalahnya.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir