Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Aroma menenangkan dari teh kamomil yang baru saja diseduh Cia masih menguar tipis di udara kamar utama. Dixon duduk di tepi ranjang king-size miliknya, memijat pangkal hidungnya sendiri dengan perlahan. Sakelar lelah di kepalanya benar-benar telah menyentuh batas maksimum malam ini.
Melihat celah itu, Cia tidak membuang waktu. Dengan langkah tanpa suara, ia berjalan memutari ranjang dan mendadak sudah berdiri tepat di belakang punggung tegap Dixon. Sebelum pria berusia 39 tahun itu sempat menoleh, sepasang tangan lembut dan ramping milik Cia sudah mendarat dengan mantap di atas kedua pundak kokohnya.
"Valencia, aku sudah bilang tidak usah," desis Dixon, suara baritonnya langsung meninggi, mencoba memberikan penolakan dingin yang kaku seperti biasanya. Tubuh raksasanya bergerak hendak menghindar.
Namun, jemari lentik Cia justru menekan titik saraf di bahu Dixon dengan pijatan yang tak terduga begitu bertenaga, mengunci pergerakan suaminya.
"Duduk yang diam, Mas Dixon!" omel Cia, langsung memotong protes sang miliarder tanpa rasa takut sedikit pun. Ia menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Dixon dengan nada menggerutu yang sengaja dikeras-keraskan. "Mas itu harus sadar diri, usiamu itu sudah tidak muda lagi. Kepala tiga mau jalan kepala empat! Kerja keras bagai kuda dari pagi sampai tengah malam, kalau kolesterol atau tensinya mendadak naik bagaimana, hm?"
Dixon seketika tertegun, rahang tegasnya mengatup rapat mendengar ejekan masalah usia yang lagi-lagi dilontarkan gadis ini. "Valencia, jaga bicaramu—"
"Aku bicara begini karena aku tidak mau jadi janda cepat-cepat, ya!" potong Cia lagi dengan kalimat yang luar biasa blak-blakan. "Pernikahan kita bahkan belum genap seminggu. Kalau Mas Dixon mendadak ambruk karena stres dan kurang istirahat, nanti apa kata Nyonya Elena? Lagipula, aku masih ingin hidup tenang, tidak mau repot mengurus harta warisan Luca Group yang rumit itu sendirian!"
Mendengar penuturan konyol sekaligus berani dari mulut Cia, Dixon mendadak kehilangan seluruh kata-kata kasarnya. Alasan "tidak mau jadi janda cepat" dan "malas mengurus warisan" benar-benar meruntuhkan wibawa sang penguasa kota. Dixon hanya bisa mengembuskan napas pasrah, membiarkan tubuh tegapnya bersandar kaku pada sandaran ranjang.
Jemari lembut Cia perlahan bergerak naik, beralih memijat pelipis dan kulit kepala Dixon dengan ritme yang teratur dan penuh kelembutan. Cia menggunakan teknik pijatan yang sangat pas, meredakan ketegangan otot-otot di sekitar kepala suaminya.
Lambat laun, pertahanan es di tubuh Dixon benar-benar meleleh. Sensasi hangat dan rileks yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya, mengikis habis rasa penat yang menumpuk. Perlahan tapi pasti, sepasang mata elang Dixon yang biasanya berkilat tajam mulai terasa berat. Embusan napas pria itu berangsur-angsur menjadi lebih dalam dan teratur, hingga akhirnya tubuh raksasa itu sepenuhnya rileks, terlelap masuk ke alam bawah sadar saking nyamannya di bawah sentuhan tangan Cia.
Melihat kepala Dixon yang perlahan terkulai miring di atas bantal, Cia menghentikan gerakan tangannya. Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat sunyi.
Cia mengitari ranjang, lalu berlutut di lantai samping tempat tidur untuk menatap wajah suaminya yang telah terlelap. Untuk beberapa menit yang panjang, Cia hanya diam, terpaku mengagumi pahatan wajah pria di depannya. Dalam kondisi tertidur seperti ini, gurat kejam dan dingin Dixon seolah lenyap, menyisakan ketampanan yang teramat matang, tegas, dan berwibawa. Garis rahangnya yang kokoh, hidungnya yang mancung sempurna, serta alis tebalnya yang biasanya bertaut kini tampak tenang.
“Harus kuakui... kamu memang pria yang sangat tampan dan luar biasa mengagumkan, Mas,” batin Cia berbisik, ada rasa hangat yang asing yang diam-diam menyelinap dan menggores dinding hatinya yang beku.
Cia menarik napas pelan, lalu meraih selimut tebal berbahan bulu angsa dan menariknya ke atas, menyelimuti tubuh tegap Dixon dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur nyenyaknya.
Setelah memastikan Dixon tertidur pulas, Cia melangkah pelan menuju balkon kamar utama. Ia membuka pintu kaca geser, membiarkan embusan angin malam yang dingin langsung menerpa wajah dan piyama kuningnya.
Cia duduk di atas kursi rotan balkon, menekuk kedua lututnya dan menatap kosong ke arah kegelapan langit malam yang sunyi. Sinar bulan temaram memantul di sepasang matanya yang mendadak meredup, kehilangan kilat kelicikannya.
Di bawah kesunyian malam, Cia termenung dalam-dalam. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini selalu ia hindari mendadak berhamburan keluar dari sudut batinnya yang paling gelap.
“Bagaimana nanti... kalau semuanya sudah selesai?” pikir Cia, jemarinya meremas kain piyamanya sendiri dengan erat.
“Setelah Amora hancur seancur-ancurnya di bawah kakiku... apa yang sebenarnya akan aku lakukan setelah itu? Apa yang akan aku dapatkan? Apakah paman dan bibi akan hidup kembali? Apakah luka bertahun-tahun ini akan mendadak sembuh setelah dendamku terbalaskan?”
Cia memejamkan matanya kuat-kuat, merasakan dadanya yang mendadak sesak oleh kehampaan yang luar biasa besar. Ia tahu, jalan yang ia tempuh saat ini adalah jalan satu arah menuju jurang. Menjadikan Dixon sebagai tameng dan alat balas dendam di satu sisi terasa begitu mulus, namun di sisi lain, perhatian, omelan, dan kedekatan domestik yang mereka bangun beberapa hari ini perlahan-lahan mulai mengikis ketetapan hatinya.
Jika kelak badai kebenaran itu datang dan memporak-porandakan keluarga Alessandro, Cia tahu ia mungkin tidak akan pernah bisa kembali lagi ke permukaan. Di atas balkon yang sunyi itu, untuk pertama kalinya, sang dewi dendam merasa ketakutan akan akhir dari skenarionya sendiri.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu