Aku adalah Milanie, aku adalah anak gadis yang kecil namun memiliki semangat yang besar.
Dalam hal pendidikan akulah yang paling rajin peringkat. Cita-citaku setinggi langit.
Namun bagaimana jika rencanaku berantakan karena sebuah takdir?
Takdir yang memaksaku untuk tidak melakukan apa yang aku inginkan.
Menjadi boneka yang harus melakukan semua demi orang lain.
Bagaimana aku menyelesaikan semua ini?
Apakah aku bisa keluar dari mereka yang tanpa ditunjuk, tiba-tiba menjadi dalang kehidupanku?
Cerita ini penuh dengan konflik batin tentang rumah tangga.
Jadi, jika membacanya jangan lupa ditemani keripik singkong pedas dan sebotol air minum. Oke?
Happy Reading.... 😊😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Animal Lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Mendadak menjadi Singa
"Hooooooooooooaaaammmm"
Di atas ranjang yang beralas kain berisi kapuk itu. Dengan tempat tidur yang terbuat dari kayu jati.
Aku mengangkat kedua tanganku keatas. Dengan rambutku yang berantakan bagaikan sangkar burung.
Memoletkan badanku karena tidur semalaman.
Mengingat kejadian tadi malam membuatku senyum-senyum sendiri.
"Astaga, apa Aku sekarang mulai gila?" gumamku.
Di depan kaca Aku menepuki kedua pipiku sendiri dengan kedua telapak tanganku dan tidak terlalu keras.
Seketika Aku bersemangat untuk belajar. Ditemani dengan 1 buah buku yang berlabel KEMDIKBUD itu. Secara tidak langsung Aku sangat menyayangi buku itu.
Dengan memegangi buku itu Aku berfikir.
"Apakah pantas Aku memiliki perasaan?"
"Apakah pantas Aku menyukai seseorang?" pikirku.
Melihat gayaku yang tidak 100% seperti perempuan pada umumnya. Sepertinya cukup bersahabat saja itu menyenangkan.
Dengan lebih semangat, Aku pergi ke sekolah. Setelah menyiapkan buku mapel hari ini dan memakai seragam.
...****************...
Waktu berjalan dengan sangat cepat.
Tak terasa waktu ini sudah masuk ke pertengahan semester. Alias semester genap.
Setelah kejadian tadi malam. Aku jarang sekali ketemu dengan kak Lucky atau dengan kakak senior lainnya.
Sepertinya mereka sedang sibuk dengan ujian kelulusan mereka dengan berbagai praktik.
Di kegiatan extrakulikuler selama 2 bulan terakhir ini juga tak ada senior tingkat 3.
Yang aktif masuk saat ini adalah senior tingkat 2.
Saat extra berlangsung, teman dekatku adalah Kiki seorang. Teman yang lain hanyalah teman basa basi saja.
Di relung hati,, kenapa ada perasaan rindu kepada kak Lucky?
"Apakah Aku mulai menyukainya?"
"Astaga, rasa ini adalah masalah" batinku.
Aku menolak perasaan ini, dan menekan agar dia tak tumbuh hingga menjulang tinggi di hati. Jika dia mulai mengakar Aku harus segera mencabutnya. Apalagi mengingat peringatan dari kakak senior tingkat 2 di awal semester ganjil dulu.
Lagi-lagi Aku berperang dengan pikiranku sendiri.
"Focus saja sama tujuanmu Mil" pikirku.
"Tujuanmu sekolah adalah menjadi siswa yang pintar dan menuntut ilmu sebanyak-banyaknya" pikirku.
"Cinta itu apa'an sih, nggak kenal" pikirku lagi.
Sedikit penolakan agar tak jatuh dalam perasaan dan termakan dengan perasaan sendiri.
...****************...
3 bulan kemudian, hari ini adalah jadwal perkumpulan kegiatan extrakulikuler PMR.
Saat Aku hendak masuk ke ruangan PMR. Aku melihat kak Riris yang terlihat sangat banyak bicara di depan kak Lucky. Dengan wajahnya yang sumringah. Tak kalah semangatnya dengan hari pagiku saat beranjak pergi sekolah.
Aku hanya melihat dari jauh dan diam. Tanpa Aku pikirkan Aku mencari bahan bicara kepada Kiki dan mengobrol dengannya.
Di tengah obrolanku, tiba-tiba ada yang memanggilku dari ruangan sebelah.
"Mil" panggil senior teman sekelasnya kak Riris.
Mataku menyapu mencari arah suara itu berasal.
Aku melihat kak Santi yang merupakan teman sekelasnya kak Riris itu mengayunkan tangannya ke atas dan bawah. Gerakan kode panggilan tubuh alami.
Dengan sedikit ragu, Aku menghampirinya. Karena tepat di sebelahnya adalah kak Riris.
"Apalagi ini?" batinku.
Mendadak firasatku merasa akan ada sesuatu yang tidak enak terjadi.
"Biarkan Milanie yang jadi pembawa acaranya bersama kak Lucky" kata kak Santi.
Aku mendadak kebingungan. Tentu hal ini tidak pernah dirembukan terlebih dahulu denganku.
"Kamu siap Milanie?" tanya kak Riris.
"Siap untuk apa kak?" tanyaku kebingungan.
"3 bulan kemudian akan ada acara perpisahan. Berhubung saya akan menjadi pemeran di salah satu acaranya. Jadi Kami membutuhkan host perempuan yang akan menemani kak Lucky" kata kak Riris.
"Saya tidak pintar bicara kak" jawabku.
"Santi, dia tidak pintar bicara. Kenapa harus Milanie? Apa ada kandidat yang lain dari Junior?" tanya kak Riris.
"Justru itu adalah alasanku kenapa dia harus menjadi host dalam acara ini. Agar dia kikuk di panggung dan jadi hinaan" batin kak Santi.
"Pintar atau tidak itu kan tidak ada masalah Ris. Yang dilihat itu bagaimana cara dia membulatkan tekad agar dapat mencapai suatu target. Aku percaya anak ini pasti bisa. Buktinya,,, semua lelaki saja berhasil dia dekati" kata kak Santi.
"Jleeb"
Perkataan yang terakhir dilontarkan kak Santi benar-benar membuatku merasa tertusuk. Terlihat sekali dengan caranya dia memandangku. Sangat meremehkan, sinis diiringi dengan tatapan yang tak suka.
"Tapi kenapa Aku yang ditunjuk?" batinku.
"Apa sebenarnya rencananya" batinku.
"Sebaiknya Aku harus menghindar dari semua ini" pikirku.
"Maaf kak Aku,,," perkataanku terputus saat kak Lucky berbicara.
"Baiklah, biarkan Milanie yang akan menjadi host bersamaku nanti" kata kak Lucky.
"Maaf kak tapi Aku,, tidak bisa" jawabku.
"Sudah kuputuskan Mil, catat saja namanya. Dan kamu juniorku. Kamu harus patuh sama perintah senior" kata kak Lucky.
"Tapi kak, Aku benar-benar tidak bisa berbicara" kataku.
"Sekarang kamu sedang apa?" tanya kak Lucky.
"Aku sedang berdiri" jawabku.
"Cara kamu menjawab itu dengan apa?" tanya kak Lucky.
"Dengan, berbicara" jawabku.
"Berarti kamu bisa berbicara kan?" tanya kak Lucky.
"Iya tapi,,,," kataku.
"Kamu mau jadi junior yang tak patuh dan tak menghargai keputusan senior?" tanya kak Lucky dengan tatapan yang sangat tajam.
Aku hanya diam dan menggeleng-gelengkan kepalaku karena takut.
Mendadak orang yang 5 bulan lalu berlaku lembut padaku sekarang berubah menjadi singa.
"Kak Luck, tapi sepertinya dia tidak menginginkannya" kata kak Riris.
Kak Riris juga sempat terkejut dengan sikap kak Lucky yang baru kali ini memaksa seseorang dengan segitunya.
Padahal, selama ini kak Lucky lebih suka pasrah namun berjuang keras terhadap dirinya. Bahkan tanpa memikirkan dirinya demi orang lain.
Tapi itu tak berlaku padaku. Dia suka sekali memaksaku untuk melakukan sesuai keinginannya. Karena statusnya seorang senior, tentu status itu berada diatasku.
"Tapi Ris, seluruh anggota telah habis sebagai pengisi acaranya. Dan yang tak ikut pengisi itu hanya Milanie dan Jaka. Sedangkan kita butuh 1 perempuan sebagai host" kata kak Lucky menerangkan.
"Ris, biarkan saja. Dia sebenarnya mau. Tapi sepertinya malu. Kapan lagi kan dia dapat berkolaborasi dengan kak Lucky? Pasti dia pura-pura tak ingin agar dibujuk terlebih dahulu" kata kak Santi.
Lagi-lagi kata-kata prasangkanya membuat hatiku semakin panas.
Padahal dia sendiri yang memperingatiku agar berjaga jarak dengan kak Lucky.
Tapi sekarang dia ingin Aku harus melakukan hal yang berbaur dengan kak Lucky.
Sebenarnya tujuannya kakak ini apa? Posisiku selalu dibuatnya serba salah.
Tanganku mengepal. Dan sedikit geram.
"Kalau saja dia bukan manusia. Pasti akan aku tinju sekeras-kerasnya" batinku.
"Sudah diputuskan Milanie yang akan menemaniku nanti" kata kak Lucky.
"Mil, kamu harus siap" kata kak Lucky.
Terlihat sekali pada mimik wajah kak Riris tergambar cemburu denganku saat itu. Namun kak Riris berpura-pura untuk menutupi perasaannya. Karena dia seorang ketua yang harus bersikap profesional.
Hatiku terasa sangat tersentuh dengan rasa cemburunya. Pasti seperti terbakar oleh api.
Membuatku sangat tak berani lagi untuk meloncati pagar yang telah Aku tancap kepada laki-laki manapun.
"Aku harus juga bisa bersikap profesional seperti kak Riris" pikirku.
"Baiklah, host perempuannya adalah Milanie" kata kak Riris.
...----------------...
blm 3th berumah tangga.
sehrsny diatasi bersama jika ada konflik ato misscommunication
bisa salah duga nih...