Terjebak dalam hubungan pernikahan yang tidak diinginkan, adalah sebuah malapetaka bagi Liana. Ia yang sudah sangat membenci Andra, harus menghadapi pria itu lagi. Nyatanya, Andra sendiri yang menjebak Liana.
Apa yang akan Liana lakukan, saat mengetahui, jika pernikahan antara dirinya dan Andra adalah rencana suaminya? Akankah Liana dan Andra kembali saling mencintai seperti dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruth89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilu
Andra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang menjelang tengah malam. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya kesunyian yang mendominasi.
Sesekali, Andra melirik Liana dengan ekor matanya. Sayangnya, gadis itu memilih membuang pandangan keluar sana. Andra mencengkeram erat roda kemudi. Sedikit pun ia tak menyangka, bila kejadian kemarin malam begitu menyakiti hati Liana.
Sedikit demi sedikit, Andra mengetahui perasaan Liana. Perlahan, ia menggenggam tangan kekasihnya. Namun, Liana menepisnya kasar. Sebenci itukah Liana padanya?
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di depan rumah Liana. Andra menghentikan laju mobilnya tanpa mematikan mesin.
"Aku minta maaf karena sudah menyakiti hatimu. Aku tidak bermaksud melakukan itu semua. Fia yang memelukku, bukan aku. Aku janji, semua itu gak akan terulang lagi," jelas Andra.
"Gue gak butuh penjelasan dan janji Lo!" ketus Liana, tanpa menatap Andra.
"Kamu gak mau maafin aku?" tanya Andra memelas.
"Gak ada yang perlu dimaafin. Toh, hubungan kita sudah berakhir." Liana mulai membuka seat belt dan membuka pintu mobil.
Andra yang sudah melihat gelagat Liana, lebih dulu mengunci pintu. Gadis itu menatap tajam Andra. Sementara Andra, tersenyum lembut membalas tatapan Liana.
"Buka pintunya!" pinta Liana penuh penekanan.
"Aku tidak akan membukanya, sebelum kamu memaafkan aku!"
Liana menarik napas dalam seraya memejamkan matanya. Berusaha menetralkan amarah yang mulai menguasai hati.
"Oke! Gue maafin Lo. Sekarang, buka pintunya!"
"Kalau kamu udah maafin aku ... maukah kamu menikah denganku?"
Liana terkejut mendengar lamaran Andra. Wajahnya terlihat sangat serius. Ia tak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu. Salah! Lebih tepatnya, ia tidak pernah ingin menikah dengan siapa pun. Karena baginya, pernikahan hanyalah omong kosong belaka.
"Aku tahu kamu membenci pernikahan. Aku janji, tidak akan mengecewakanmu. Percayalah padaku," ucap Andra lembut.
Andra menatap Liana dalam. Terlihat jelas rasa cinta di mata pria itu. Ia melepas seat belt dan mencium bibir Liana. Jelas gadis itu memberontak, pertanda ia menolak perbuatan Andra padanya. Namun, Andra tak peduli. Ia menahan tangan liana dan memperdalam ciumannya.
Andra baru melepaskannya, saat Liana kehabisan napas. Seakan gadis itu sangat marah, ia melayangkan tamparan sekuat tenaga. Terlihat jelas bekas jemari Liana di pipi Andra.
"Jangan pernah Lo lakukan hal kaya tadi lagi! Karena kita sudah tidak punya hubungan khusus!" desis Liana.
"Ah, satu lagi. Gue gak akan pernah mau menikah sama lo atau siapa pun! Mulai detik ini, jangan lagi Lo temui gue!"
Liana pun mendorong Andra sekuat tenaga, untuk mencapai central door lock di sisi Andra. Setelah berhasil, ia keluar dan membanting pintu. Andra tak lagi mencegahnya. Terlebih, Liana terlihat semakin membencinya setelah mendengar ia melamar gadis itu.
Liana masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya duduk di ruang tamu. Ia menarik napas dalam dan berusaha acuh. Sejak kejadian dua hari yang lalu, hubungannya dengan sang ibu sedikit merenggang.
"Mama minta maaf. Mama gak akan paksa kamu memaafkan papamu atau pun menerima Fia sebagai saudaramu lagi."
Langkah Liana terhenti. Ia menghela napas dalam. Kemudian, berbalik menatap sang ibu. Bukan ibunya yang salah dalam hal ini. Hanya saja, Liana tidak bisa memaafkan mereka dengan mudah.
"Gak ada yang perlu dimaafin. Mama gak salah. Aku hanya tidak ingin, mama kembali terluka karena mereka." Liana pun memeluk ibunya erat.
***
Selama satu minggu, Andra terus berusaha mendekati Liana. Namun gadis itu seolah tak tersentuh. Setiap kali bertemu, Liana akan menunjukkan sikap tak suka. Bukan hanya pada Andra, tetapi Fia pun mendapatkan penolakan yang sama.
"Sampai kapan kamu menghindar dariku?" tanya Andra.
Sore itu, Liana kembali berpapasan dengan Andra. Pria itu menahan lengan Liana. Gadis itu pun menarik napas dalam dan menghelanya.
"Gue gak pernah menghindar!" elaknya.
"Lalu apa namanya, jika bukan menghindar? Setiap kali aku datang menemuimu, kamu selalu menghilang dan tak ingin bertemu denganku!"
"Karena kita tidak memiliki urusan. Tida ad kepentingan, yang mengharuskan saya bertemu dengan, Anda!" Liana mulai berbicara formal dan menunjuk dada Andra.
Mendengar cara bicara Liana yang semakin formal, membuat Andra menggeram marah. Liana pun melepas cengkeraman Andra dan berlalu meninggalkannya.
Sejak hari itu, Andra tak lagi mendatangi Liana. Hal itu membuat Liana merasa kehilangan. Sesekali, ia mengecek ponselnya. Tidak ada satu pun pesan yang Andra kirimkan.
Sepertinya, dia sudah mulai menyerah. Ini jauh lebih baik, gumam Liana.
Sekuat apa pun ia menyemangati hatinya, Liana tetap merasa ada yang hilang. Ponselnya berbunyi, membuat Liana secepat mungkin menyambar benda itu. Wajahnya berubah kecewa, saat nama tetangganya yang muncul.
"Halo," sapanya.
Orang di seberang sana mulai bicara. Kedua mata Liana membelalak lebar.
"Saya segera ke sana!" Liana mematikan ponselnya.
Ia segera menyambar tas dan kunci mobilnya. Kemudian, segera melajukannya dengan kecepatan tinggi. Seakan tak mempedulikan keselamatannya, ia menerobos beberapa lampu lalu lintas. Bahkan, mengacuhkan umpatan pengguna jalan lainnya. Mobilnya memasuki kawasan rumah sakit. Segera, ia menuju ruang IGD.
"Bu, gimana kondisi mama saya?" tanyanya.
"Masih diperiksa dokter," jawab wanita yang menunggu di sana.
"Terima kasih, ibu, sudah menjaga mama," ucapnya tulus.
"Bagaimana pun, mamamu orang baik. Pasti banyak yang membantunya."
Liana menganggukkan kepala. Tak lama, dokter keluar. Liana segera menghampiri dokter dan menanyakan kondisinya.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mohon tunggu sebentar," jawab sang Dokter.
"Lakukan yang terbaik, Dok," pinta Liana.
***
Liana kini berada di ruangan dokter. Ia sedang mendengarkan penjelasan dokter, yang mengatakan, bila ibunya membutuhkan biaya operasi di bagian kepala serta resiko yang akan menyertai pasca operasi.
"Beruntung, pembuluh darahnya tidak pecah. Karena itu akan sangat berbahaya bagi keselamatan pasien."
"Apa tidak ada jalan lain, tanpa harus melakukan operasi?" tanya Liana.
"Tidak ada. Sebelumnya, bukankah pasien sudah menjalani terapi obat-obatan?"
Liana menganggukkan kepala. "Apa tidak berpengaruh?"
"Dengan menyesal saya katakan, ya."
Tubuh liana melemas. Resiko terparah yang akan ibunya alami adalah, kelumpuhan total, atau kematian otak. Liana berada dalam dilema.
"Lakukan saja operasi itu. Saya yang akan tanggung biayanya!"
Liana menoleh cepat mendengar suara itu. Di ambang pintu, pria yang dibencinya kembali hadir mencampuri kehidupan mereka.
"Anda, tidak berhak memutuskan tindakan yang harus diambil!" geram Liana.
"Kau lebih suka membiarkan mamamu menderita dengan penyakitnya?"
"Lalu, apa menurut, Anda, lebih baik mama saya mengalami kelumpuhan atau mati otak?" Liana begitu marah mendengar ucapan ayahnya.
"Ah, saya lupa jika memang itu yang, Anda harapkan. Melihat mama saya mati!"
Sebuah tamparan keras melayang mengenai pipi Liana. Membuat sudut bibir Liana pecah.
"Papa!" teriak seseorang.
Liana sangat mengenal suara itu. Itu suara sahabatnya Fia. Liana menatap tajam pada ayahnya. Ia melepaskan tangan Fia yang merangkul pundaknya.
"Anda, tidak punya hak dalam mengurusi kehidupan kami. Urus saja keluarga bahagia, Anda!"
Liana meninggalkan ruangan Dokter tanpa berpaling. Sementara pria yang berstatus ayahnya itu, menatap tangan yang telah menampar anak kandungnya.
*suami ketemu pria lain adalah kesalahan fatal tapi istri ketemu pria lain dianggap hal wajar
*suami berbicara dengan wanita lain dianggap kesalahan fatal tapi istri sampai curhat bahkan mengumbar Ian suaminya pada pria lain kalian anggap hal wajar
*istri membela dan bahkan lebih memilih pergi dengan pria Lian didepan suaminya kalian anggap hal wajar
*istri menjatuhkan harga diri suaminya didepan pria lain sampai pria lain itu meremehkan suaminya kalian anggap hal wajar
*suami kontak fisik dengan wanita lain kalian anggap keslaahan fatal tapi istri bahkan sampai pelukan dengan lelaki lain kalian anggap wajar
*Andra banyak melakukan kebodohan
tapi liana banyak melakukan kesalahan fatal
*munafik dia marah suami dekat dengan wanita lain tapi dia malah curhat bahkan pelukan dengan pria lain
*mengumbar aib rumah tangga dan suami pada pria lain
*menjatuhkan harga diri dan kehormatan suami didepan pria lain
*membiarkan pria lain meremehkan dan merendahkan suaminya
dan yang membuat novel ini miris dan munafik adalah novel ini membela dan membenarkan semua kelakuan laknat liana
klw q smpai pnya ibu tiri dia yg bekal kuhabisi
bicara dgn nada keras aja udh kusikat😠😠
hemm jd ank tiri yg jahat wkwkkkk
makasih crazy up nya 🙏🙏
Utk Andra, apapun alsnmu bertemu sm Fia, tetep salah. Karena dia dah janji ga akan ktemu Fia lg, tp terbukti bahwa smp skrg dia msh bertemu. Tinggalin aja dulu Andra ya Liana. Ga usah cere, temuin Andra lg setelah 50thn kmudian sambil kau bawa anak cucu mu🤣🤣. Slamat thn baru 2023 thor🥳🥳