Karena pria yang mencintainya meninggalkan dirinya di hari pernikahannya membuat Lavanya mau tidak mau harus menikah dengan Mike.
Mike berusaha untuk menjalani pernikahan mereka meski pernikahan itu didasari tanpa cinta dan Lavanya tidak mudah membuka hatinya.
Percekcokan terjadi di antara mereka, Lavanya benar-benar tidak ingin mencoba untuk rumah tangganya dan tidak mungkin berpisah karena keluarga calon suaminya itu dikenal oleh orang banyak dan sangat terhormat.
Sahabatnya masuk dalam rumah tangga mereka dan menghancurkan rumah tangga itu dengan Mike mencari kenyamanan pada Arumi.
Ketika Lavanya menyadari adanya yang tidak sehat dalam rumah tangganya, bagaimana dirimu manfaatkan dan terlalu sibuk untuk dirinya dan sampai akhirnya mengetahui perselingkuhan suaminya. Lavanya ternyata tidak mundur dan justru maju untuk merebut suaminya kembali.
Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan antara Mike dan Lavanya. Apakah pada akhirnya Lavanya kembali mendapatkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Belum Siap
Acara pernikahan berjalan begitu lancar, Arumi sudah pasti akan menjadi tamu undangan, terlihat cantik menggunakan dress hitam seperti biasa rambutnya selalu digerai, matanya melihat ke arah pelaminan bagaimana Lavanya dan Mike secara mendadak bersanding di pelaminan yang menerima ucapan selamat dari para tamu.
"Sungguh drama yang cukup menarik!" Arumi menoleh ke sebelahnya.
Clara tampak sinis dengan senyumnya yang seolah-olah mengejek pasangan pengantin tersebut.
"Mungkin saja, kak Damian mendapatkan kesadaran dan akhirnya memutuskan untuk tidak menikah dengan wanita kampungan sepertinya, tetapi sayang sekali keluarga ini adalah keluarga yang penuh dengan citra baik, untuk menutupi satu kebodohan anak dan mereka harus mengorbankan anak yang satu," sahut Clara terdengar sini sembari mengendus.
"Huhhhhh, drama yang sangat memuakkan," ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Arumi yang membuat Arumi melihat ke Clara.
"Apa yang dia katakan," sahut Arumi tidak mengerti.
Menghela nafas dan kemudian langsung pergi.
*****
Acara pernikahan sudah selesai, acara yang dilaksanakan dari pagi hari sampai sore hari. Pernikahan itu bahkan menjadi trending topik berita, komentar positif yang diterima Brahmana.
Maria bersama suaminya bahkan sudah pulang ke rumah mewah mereka.
"Pa coba lihat?" Maria memperlihatkan tablet pada sang suami.
"Retensi bisnis yang dimiliki Mike langsung naik ketika orang-orang mengetahui bahwa dia menikah dengan gadis biasa, apa ini merupakan keberuntungan atau hanya kebetulan saja?" tanya Maria.
"Ini keberuntungan, sepertinya alam tidak menginginkan kita untuk jatuh dan para pesaing ternyata tidak bisa mendahului kita, meski Damian telah melakukan kesalahan, tetapi lihatlah kita bisa mengatasi masalah ini, dan nama Mike semakin dikenal," ucap Brahmana tidak lepas dari keuntungan atas semua yang telah terjadi.
"Itu artinya keputusan Mama sudah tepat untuk menggantikan Mike sebagai pengantin Lavanya," sahut Maria.
"Menurut Mama keputusan itu sudah tepat atau keputusan itu justru mengorbankan ku?" di tengah pembicaraan suami istri itu tiba-tiba saja terdengar suara sangat dingin yang membuat pasangan suami istri itu melihat ke arah pintu rumah.
"Mike, kamu ada di sini dan bukankah seharusnya kamu menikmati pernikahan kamu di hotel mewah yang sudah disiapkan?" tanya Brahmana.
"Bagaimana mungkin Mama dan Papa hanya memikirkan keuntungan setelah menyuruhku menikah dengan wanita yang seharusnya menjadi saudara iparku," sahut Mike.
"Sudahlah. Mike, lagi pula lihatlah hanya beberapa jam saja pernikahan ini telah usai, retensi bisnis kamu naik tinggi, ini artinya kelayan-kelayan akan semakin banyak mendekati kamu dan bisnis kamu akan berkembang berkembang pesat, ini juga menjadi kabar baik untuk perusahaan dan terlebih lagi untuk nama baik Papa yang akan menjadi pemimpin negara di tahun depan," ucap Brahmana.
"Papa hanya memikirkan semua itu tanpa memikirkan bagaimana perasaanku?" tanya Mike.
"Mike, dunia ini sangat kejam dan jika ingin bertahan harus ada yang dikorbankan, kamu jangan berlebihan, ini juga demi kebaikan kamu dan sebaiknya kamu nikmati pernikahan kamu," sahut Maria.
Mike merasa percuma berbicara dengan kedua orang tuanya, orang tua yang lebih mementingkan nama baik daripada perasaannya yang harus menggantikan saudaranya dalam pernikahan.
*******
Kamar hotel mewah yang menjadi pilihan dari hadiah kedua orang tua Mike terhadap pasangan pengantin baru.
Lavanya masih tetap dengan pakaian sebelumnya, cantik dan anggun duduk di pinggir ranjang yang sudah ditebar kelopak mawar. Harum kamar yang luas itu terasa begitu berbeda, romantis teh dengan lampu yang sedikit redup.
Krekkk
Suara pintu kamar terbuka pelan membuat detak jantung Lavanya berdebar kencang, matanya tetap masih melihat ke arah bawah seolah-olah enggan untuk menatap pria yang sudah berdiri di hadapannya.
"Kamu akan tetap menggunakan pakaian itu?" tanya Mike.
Lavanya diam antara takut dan juga tidak nyaman.
"Kamu tidak mendengarkan saya?" tanya Mike.
Mike mencoba rileks, terlihat membuka kancing bagian tengah jasnya dan kemudian meletakkan jas tersebut di atas tempat tidur yang kemudian duduk disebelah Lavanya yang membuat Lavanya semakin takut dengan jantungnya berdebar dengan kencang.
Mike layaknya seperti laki-laki normal jika dihadapkan dengan seorang wanita yang berada di sebelahnya tangannya perlahan menyentuh bahu Lavanya dan seketika spontan menghindar.
"Jangan mendekati saya," ucapnya.
"Lavanya saya sudah menikahi kamu dan saya adalah suami kamu," ucap Mike memberi sedikit penekanan untuk wanita itu agar terlihat lebih rileks lagi.
Lavanya benar-benar menghindar dan berdiri dari tempat duduknya yang sekarang berdiri di hadapan Mike.
"Pernikahan ini bukan pernikahan yang kita inginkan, saya belum bisa menerima semua pernikahan ini, saya masih bingung kenapa Mas Damian meninggalkan saya di hari yang paling bahagia ini, saya belum bisa benar-benar menerima kamu," jawabnya jujur apa adanya mengekspresikan hatinya.
Mike menghela nafas panjang.
"Oke, saya paham apa yang kamu rasakan saat ini dan sama dengan saya, kamu benar bahwa kita sama-sama kaget berada dalam situasi yang tidak seharusnya kita jalani, oke mungkin saya berlebihan, saya terlalu cepat dan saya yakin kamu belum siap, tetapi Lavanya kita sudah berada di titik pernikahan ini dan saya berharap pelan-pelan kita berdua menerima pernikahan ini," ucap Mike ternyata orangnya sangat santai dan tidak mempersulit keadaan.
Lavanya jauh sedikit lebih tenang, untung saja Mike bukan tipe laki-laki memaksa dan meski dia tidak terlalu mengenal siap Mike sebenarnya, Karena Lavanya jarang sekali bertemu dengan laki-laki yang menghabiskan masa mudanya di Luar Negeri dengan pendidikan.
"Kalau kamu ingin istirahat dan ingin bersih-bersih, maka silahkan, saya akan keluar dan nanti akan kembali ke kamar ini lagi," ucap Mike kemudian berdiri dari tempat tersebut membuat Lavanya merasa lega.
******
Hari ini akhirnya Lavanya pindah ke kediaman kedua orang tua Mike. Penampilan Lavanya tetap saja sederhana meski sudah menjadi menantu kolongmerat. Mike berjalan terlebih dahulu yang diikuti Lavanya dan seorang pelayan yang membawa koper Lavanya.
Keluarga besarnya tampak melaksanakan sarapan seperti biasanya.
"Kamu antar kopernya ke kamar saya dan pakaiannya langsung kamu susun ke dalam lemari yang kosong!" titah Mike pada asisten rumah tangga tersebut.
"Baik tuan," sahut asisten rumah tangga yang kemudian langsung pergi.
Lavanya kembali mengikuti Mike yang menghampiri meja makan dengan kursi yang ditarik oleh pelayan dan Mike duduk.
Lavanya bingung dengan sistem keluarga tersebut, melihat salah satu pelayan juga melakukan hal yang sama untuk mempersilahkannya duduk.
Lavanya seperti orang linglung tetapi tetap duduk dan bergabung dengan keluarga elit-elit tersebut.
"Bagaimana malam pertama kalian?" tanya Maria langsung to the point.
"Menurutku hal itu tidak perlu dibahas," sahut Mike.
"Oke, tidak perlu di lanjutkan," sahut Maria.
Maria menghela nafas, menghentikan makannya dan melihat ke arah Lavanya yang tetap menunduk. Maria menggerakkan matanya kepada pelayan yang membuat pelayanan itu langsung mengambil sarapan untuk Lavanya.
"Lavanya mulai sekarang kamu tinggal di rumah ini, rumah ini memiliki aturan dan nama yang baik, sebagai keluarga baru, kamu juga harus menaati peraturan yang berlaku," ucap Maria membuat Lavanya terdiam.
"Kamu sudah menjadi menantu di rumah ini dan mulai hari ini kamu panggil saya seperti Mike memanggil saya dan begitu juga dengan suami saya. Kamu harus bisa mengimbangi keluarga ini, baik dari cara fashion, tata krama dan juga nama baik yang sudah tercipta selama ini pada keluarga ini!" tegas Lavanya.
"Apa iya bisa mengembang keluarga ini," celetukan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Clara yang membuat Lavanya menatap serius.
"Mama tidak menyuruh kamu untuk berkomentar!" tegas Maria.
"Di rumah ini semua menaati peraturan yang sudah ada, baik pelayan dan siapapun itu. Aku tidak yakin jika dia bisa melakukan hal itu," sahut Clara ragu.
"Diamlah Clara," sahut Brahmana dengan suara dingin membuat Clara langsung terdiam dengan menghela nafas yang tidak bisa berkomentar apapun lagi.
"Peraturan keluarga, peraturan seperti apa yang mereka maksud, apa benar yang dikatakan Clara jika aku mampir," batin Lavanya.
Bersambung....
reputasinya , kamu dan seluruh keluarga