NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:434
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Bidadari Makan di Warteg

Satu minggu. Alin menatap nanar kalender dinding bergambar toko emas yang tergantung di kamarnya. Waktu tujuh hari sebelum masa orientasi di SMA Garuda terasa seperti hitung mundur bom waktu.

Bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan perubahan fisik yang sedrastis ini dari para penghuni kos? Terlebih lagi, isi dompetnya yang mengenaskan memaksa Alin untuk mengesampingkan dulu urusan sihir ubi rebus ini. Ia harus makan siang.

Siang itu, aspal di pinggiran Jakarta terasa seperti wajan penggorengan yang siap mengeksekusi siapa saja yang nekat melintas. Dengan modal nekat berupa selembar uang sepuluh ribu rupiah—sisa kejayaan terakhirnya—Alin melangkah keluar dari kamar kos.

Ia hanya mengenakan kaos putih polos yang kerahnya mulai melar dan celana jeans hitam pudar yang warnanya sudah menyerupai abu-abu monyet akibat terlalu sering dicuci.

Sesuai ritual yang sudah mendarah daging selama tiga tahun, Alin pantang menyentuh cermin. Baginya, benda berlapis raksa itu tak ubahnya musuh bebuyutan yang hanya akan memamerkan parade jerawat batu dan kulit kusamnya.

Alin hanya menyisir rambut panjang cokelat gelapnya secara asal menggunakan jemari, lalu mengikatnya gaya ekor kuda (ponytail).

Ia sama sekali belum menyadari, bahwa di balik kaos belelnya itu, sepasang mata cokelatnya kini berbinar jernih layaknya lensa kamera premium, dibingkai oleh bulu mata yang mendadak lentik sempurna tanpa sentuhan eyelash extension.

Trauma perundungan yang ia telan bulat-bulat selama SMP telah membangun tembok rasa tidak percaya diri yang setinggi Monas di dalam kepalanya.

Lagipula, boro-boro membeli paket skincare mahal di mal, untuk sekadar mengganjal perut di warteg saja ia harus memutar otak setiap hari agar tidak berakhir menjadi pencuci piring gratis.

Namun, keanehan langsung menyengat Alin begitu ia menginjakkan kaki di gang. Langkah kaki gadis itu mendadak kaku. Suasana warung nasi langganannya di sudut jalan tampak lebih ramai, beradu dengan bisingnya knalpot motor dan aroma tumis kangkung.

Masalahnya, setiap kali ia melewati kerumunan orang, pasang mata di sepanjang jalan seolah tertancap, mengunci pergerakannya dengan tatapan tak berkedip.

"Apa ada yang salah dengan bajuku? Apa karena kaosku sudah belel?" batin Alin gelisah, buru-buru menyilangkan tangan di dada.

Ia mempercepat langkah, memesan sepiring nasi dengan lauk ala kadarnya yang penting pas dengan anggaran mepetnya, lalu segera menyelinap ke pojok warteg yang paling gelap dan tersembunyi.

Tak jauh dari posisinya, di meja panjang bagian tengah, sedang berkumpul lima pemuda yang auranya kontras dengan kebulan asap warteg.

Pakaian mereka necis, bersih, dan memancarkan aura anak orang kaya yang tersesat. Mereka adalah geng 5 R, geng cowok paling populer dari sekolah elit bernama SMA GARUDA yang sedang bosan dengan menu kafetaria mahal mereka.

Geng yang beranggotakan lima orang itu yang tak lain adalah Rakha Pratama Bagaskara, Rayi Arjuna Bagaskara, Reno Alvarez, Raditama Abraham dan Rahsya Adipta.

"Bro, bro! Pembatasan sosial bubar! Lihat tuh... aya anu geulis, bodas, mulus deui!" celetuk Reno, si buaya darat blasteran Sunda-Jakarta, hampir tersedak es teh manisnya. Tangannya menyikut lengan temannya dengan brutal, matanya melotot lurus ke arah Alin yang sedang menunduk kaku.

"Halah, lo mah ada yang bening dikit langsung amnesia. Lama-lama gelas kaca buram di warteg ini juga lo taksir kalau dipakein jilbab, Ren!" sahut Adit sambil mengunyah kerupuk dengan berisik.

"Ya kali gelas, Dit! Sekalian aja lo bawa sama nampan dan abang wartegnya kalau lo emang sehina itu!" timpal Rahsya disusul tawa membahana yang membuat seisi warung menoleh.

Sementara itu, dua pemuda di ujung meja, si kembar Rakha dan Rayi, awalnya tampak tidak peduli. Rakha yang memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kanan dan Rayi yang memiliki postur sedikit lebih jangkung, masih sibuk menggeser layar ponsel mereka, mengabaikan hiruk-pikuk Jakarta.

"Lo berdua ngapain sih pacaran sama HP terus? Lihat dulu nih, beneran 'cuci mata' di tengah debu Jakarta yang sesungguhnya! Ini mah spek dewi!" paksa Reno, menarik bahu si kembar.

"Hmm..." Rayi hanya bergumam malas. Namun, begitu ia dan Rakha mendongak serempak menghadapi telunjuk Reno—

Deg!

Suasana warteg mendadak seperti dijatuhi bom waktu. Hening seketika. Mulut kelima pemuda itu kompak menganga lebar. Jika ada lalat Jakarta yang terkenal gesit lewat, mungkin sudah bisa membuat sarang di dalam rongga mulut mereka.

Tangan Reno mendadak lemas, bahkan ponsel berlogo apel tergigit milik Rakha hampir saja terjun bebas berciuman dengan lantai warteg yang berminyak.

Mereka terpaku, terhipnotis oleh kecantikan Alin yang memancarkan cahaya murni, seolah-olah dia adalah bidadari yang baru saja turun dari angkot—begitu bersinar di tengah kumuhnya lingkungan sekitar.

"Mingkem, woy! Eta lamun aya laleur asup kana baham kumaha? Rek ditelen, hah?!" sentak Reno, mendadak panik sendiri saking kagetnya melihat target buruannya yang terlampau indah.

Alin yang menyadari aura intimidasi dari meja tengah mulai merasa risih. Jantungnya berpacu kencang, dag-dig-dug tak karuan. Ia buru-buru menyuap makanannya dengan tergesa-gesa, membiarkan helai rambut cokelatnya jatuh menutupi wajah.

"Duh, apa di wajahku ada sisa ubi rebus semalam? Atau belepotan sambal? Begini nih akibatnya kalau anti-ngaca!" batin Alin dongkol.

Saat ia tak sengaja mendongak untuk mengelap bibir, matanya langsung bertabrakan dengan tatapan intens lima pemuda tadi. Panik, Alin langsung menyambar plastik makanannya, melempar uang pas sepuluh ribu ke meja kasir, dan melesat pergi secepat kijang.

"Yah, kabur! Padahal gue belum minta nomor WhatsApp-nya!" keluh Reno terpukul, memandangi kursi kosong Alin dengan nelangsa.

"Gue juga mau kali, spek bidadari begitu masa dilewatkan begitu aja!" sahut Rahsya, menepuk jidatnya.

Rakha dan Rayi hanya terdiam, namun di dalam dada mereka, ada getaran aneh yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya dari gadis-gadis modis di sekolah mereka.

"Menarik... semoga kita ketemu lagi di kota sepadat ini," batin Rayi sambil menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti.

****

Langkah kaki Alin baru melambat saat ia sampai di depan pagar kosannya. Namun, pelariannya langsung dijegal oleh sosok bertubuh subur yang hobi memakai daster motif macan tutul. Bu Sinta, sang pemilik kosan, berdiri dengan kedua tangan di pinggang dan wajah penuh selidik.

"Maaf ya adek cantik, situ siapa ya? Kok main nyelonong mau masuk ke kamarnya Alin? Kamu siapanya dia? Alinnya mana? Kok kunci kamarnya bisa ada di tangan kamu?!" tanya Bu Sinta bertubi-tubi dengan nada tinggi khas ibu-ibu pemilik kontrakan Jakarta yang siap memanggil RT.

Alin mengernyitkan dahi, bingung dengan intonasi galak tersebut. "Ibu aneh banget sih. Jelas-jelas yang ada di hadapan Ibu ini ya Alin. Masa siluman?"

Bu Sinta langsung mengucek matanya berkali-kali sampai maskaranya sedikit luntur. "Ini beneran kamu, Alin?! Jangan bohong ya! Alin yang saya kenal itu mukanya madesu, kusam, kagak bening begini! Jangan-jangan kamu sindikat penculik anak ya? Jawab! Kamu punya mulut, kan?!" Bu Sinta merangsek maju, hidungnya kembang-kempis menahan emosi.

Alin menghela napas lelah. "Kalau aku bukan Alin, ngapain aku balik ke kosan pengap ini, Bu? Aku sudah setahun lebih tinggal di sini. Aku betah karena Bu Sinta sebenarnya baik—meski kalau lagi nagih uang kos suka mirip komodo galak."

Bu Sinta masih sangsi, matanya memicing meneliti kulit Alin yang sehalus porselen. "Kalau kamu beneran Alin, kenapa muka kamu bisa glow up brutal dalam semalam?! Kamu pakai filter dunia nyata merek apa, hah?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!