NovelToon NovelToon
Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Antagonis Pun Juga Ingin Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Patahhati / Reinkarnasi / TimeTravel / Balas Dendam / Masuk ke dalam novel / Elf / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:75.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zarina Andriani

Ana merupakan penulis novel di kotanya, novel yang dia buat cukup terkenal hingga membuat beberapa orang penasaran dengan kepribadian Ana.

Cerita yang dia buat pun kebanyakan terinsipirasi dari novel yang pernah dia baca, namun apa jadinya jika salah satu karekter novel yang dia buat, mendatangi dirinya lewat alam mimpi.

"Ana!"

"Sebutan apa yang pantas untuk dirimu?"

"Apa aku harus memanggil mu dewa, atau Tuhan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zarina Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Beberapa tahun yang lalu sebelum kejadian Dylan mengusir kelurga Ronan, lebih tepatnya saat Dylan masih menginjak usia 12 tahun dan Teri berusia 8 tahun.

Hari berburu telah dimulai, hari dimana para pria akan berlomba-lomba menangkap hasil buruan mereka, yang akan mereka hadiahkan untuk orang tercinta.

Dylan yang saat itu merupakan salah satu peserta termuda hanya bisa menatap datar saat Kaisar Homounculus yang juga ayah kandungnya sedang memberikan sambutan ke arah para warga yang hadir di sana.

"PANGERAN!" teriak salah satu nona di sana.

"Pangeran... Liat ke sini!"

"Pangeran, saya yakin anda pasti menang!" sahut nona yang lain.

"Berisik!"

Dylan langsung memalingkan wajahnya saat beberapa perempuan yang ada di sana memberikan dirinya semangat.

"Ada apa Pangeran?" tanya salah satu prajurit yang berdiri dibelakang Dylan.

"Aku akan pergi sebentar, di sini terlalu berisik," jawab Dylan yang langsung beranjak pergi dari sana.

Tanpa mau peduli dengan teriakan para perempuan, Dylan langsung pergi dari kerumunan para peserta yang membuat dirinya merasa sesak.

"Akhirnya... Aku bisa bebas juga."

Dengan langkah yang ringan Dylan menyusuri pinggiran hutan, dari matanya memandang dirinya bisa melihat beberapa pita dengan macam-macam warna yang sudah terikat di batang pohon untuk menandakan mana wilayah yang aman dan tidak aman.

Masih terus berjalan, Dylan memperhatikan lingkungan sekitar yang begitu banyak burung-burung hinggap di batang pohon bahkan suara dari beberapa hewan yang ada di sana pun masih bisa dia dengar, seperti suara monyet, serta suara langkah kaki binatang lainnya.

Srek!

Dylan langsung terdiam saat dirinya dihadapkan oleh rusa jantan berukuran besar yang juga sedang menatap dirinya.

"Wow..."

Dengan gerakan yang begitu pelan, Dylan mengambil pedang miliknya yang masih terbungkus rapi disarungnya.

Disaat dirinya ingin menusuk rusa jantan itu, tiba-tiba saja sebuah teriak yang begitu kuat terdengar, membuat rusa itu menjadi pergi bersamaan dengan dirinya yang ikut menoleh ke sumber suara.

"TOLONG!"

Tanpa berpikir panjang Dylan langsung berlari menuju sumber suara, langkahnya yang begitu lebar membuat beberapa ranting dan juga daun kering yang ada di sana menjadi bersuara.

"TOLONG!"

Suara itu semakin jelas terdengar, sampai akhirnya dia tiba ditempat kejadian, matanya langsung terbuka lebar saat melihat ada sebuah beruang berukuran besar sedang berhadapan langsung dengan seorang perempuan yang sedang terduduk di tanah.

"Dia... Bukankah dia putri dari Tuan Duke?" tanya Dylan saat melihat wajah dari gadis itu.

"Agh! T... TOLONG!" pekik Teri yang begitu ketakutan.

Mata Teri terus mengeluarkan air mata dikarenakan merasa takut saat beruang itu mulai mengambil ancang-ancang untuk menerkamnya.

"T... TOLONG!" Teri terus berteriak bahkan disaat suaranya ingin habis, dia tidak berhenti untuk terus berteriak.

Srek!

Mata Teri langsung terbuka lebar saat melihat kepala beruang itu telah terlepas dari badannya, membuat darah dari hewan itu keluar kemana-mana hingga mengotori gaun yang saat itu dia pakai.

Mata Teri masih terbuka lebar saat badan dari beruang itu telah jatuh ke hadapannya, membuat dia dengan reflek langsung memundurkan posisi duduknya.

"Apa... Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Dylan.

"Ya...,"

Setelah kejadian itu Teri langsung jatuh pingsan dihadapan Dylan, membuat Dylan langsung terkejut saat melihat Teri yang tiba-tiba saja sudah pingsan.

...~*~...

Sore harinya disaat matahari mulai tengelam, Teri membuka matanya dengan pelan saat dirinya melihat Dylan yang begitu sibuk dengan pekerjaannya.

"Egh..."

"Kau sudah sadar?" tanya Dylan saat mendengar suara Teri.

"Pa...Pangeran?"

Teri langsung terduduk saat dirinya tau bahwa laki-laki yang tadi menolongnya adalah Dylan.

"Maafkan saya Pangeran, yang sudah membuat anda menjadi repot."

"Tidak apa-apa, baguslah jika kau sudah sadar, maka kita bisa kembali ke titik berkumpul," balas Dylan yang sudah kembali berdiri.

"Ah... Iya... Sa...Agh..."

"Kau kenapa?"

"Sepertinya..."

Mata Teri langsung terbuka lebar saat melihat pergelangan kakinya yang sudah membiru, ini pasti karena dirinya terjatuh karena dikejar oleh beruang tadi.

"Apa kau masih bisa berjalan?" tanya Dylan.

Teri hanya terdiam dengan kepala yang menunduk, "Iya..." balas Teri tanpa berpikir panjang.

"Baguslah, kalo begitu cepatlah berdiri, karena hari sudah mau gelap, kita harus cepat kembali jika tidak ingin membuat orang lain khawatir."

"Iya," jawab Teri yang langsung berusaha berdiri.

"Aw..."

"Kau kenapa?" tanya Dylan yang kembali menoleh ke arah Teri.

"Ka... Kaki saya sakit Pangeran, Maaf... sepe-"

"Naik!"

"Iya?"

"Naik cepat, sebelum aku berbuah pikiran."

Mata Teri langsung terbuka lebar melihat Dylan yang memberikan punggungnya untuk dia naikin.

"Cepat!"

Dengan ragu, Teri langsung memeluk leher Dylan dengan pelan, membuat jantungnya seketika berdebar kencang, saat aroma dari tubuh Dylan begitu menyengat diindra penciumannya.

"Itu..."

"Sayangkan jika kita kembali tanpa membawa oleh-oleh?" ucap Dylan tersenyum.

"Pegang ini, awas saja jika kau berani menjatuhkannya!" ancam Dylan.

Mendapatkan ancaman dari Dylan, Teri hanya bisa menurut saat Dylan menyuruh dirinya untuk memegang kepala beruang yang telah dia bunuh tadi.

Menjijikan sekali.

Teri nampak tidak senang saat, Dylan menyuruh dirinya untuk memegang kepala beruang itu, selain berbulu, kepala beruang ini juga mengeluarkan bau yang tidak sedap membuat dirinya seperti ini muntah seketika.

"Hey!" panggil Dylan.

Teri langsung menjawab saat Dylan memanggil dirinya, "Iya Pangeran?" jawab Teri.

"Dibalik soal dirimu yang diserang beruang tadi... Bagaimana caranya kau bisa ada ditempat terlarang ini?" tanya Dylan penasaran.

"Tempat terlarang? Ah... Mungkin lebih tepatnya saya tidak tau bahwa tempat itu terlarang," balas Teri.

"Kau tidak tau? Apa kau tau arti warna pita yang diikat di banyak pohon?"

"Pita? Ah... Sebenarnya saya tidak tau persis arti dari pita itu Pangeran."

"Jika kau tidak tau, lantas kenapa kau berani berjalan sendirian ke dalam hutan?"

"Itu... Para Nona banyak membahas soal kelinci putih."

"Apa?"

"Iya Kelinci putih! Kelinci yang banyak hidup didalam hutan," jawab Teri.

"Apa... Jadi hanya gara-gara itu kau berjalan sendirian ke dalam hutan?" tanya Dylan tak percaya.

Teri hanya tersenyum mendengar ucapan dari Dylan, "Ya... Itu... Karena saya sangat menyukai kelinci," balas Teri dengan wajah yang tersenyum lebar.

Mendengar ucapan Teri Dylan kembali diam, entah dari pada para nona itu dapat kabar bahwa di hutan ini memiliki banyak kelinci, yang dia tau hutan ini sudah dirancang khusus oleh Kekaisaran sebagai lahan untuk pertandingan berburu, dimana didalam hutan ini hanya berisikan banyak hewan buas.

"Di dalam hutan ini tidak ada hewan seperti kelinci," ucap Dylan tiba-tiba.

Mendengar ucapan Dylan, mata Teri langsung terluka lebar, "Apa? Tidak ada kelinci?" tanya Teri memastikan.

"Benar, di dalam hutan ini hanya berisikan hewan buas, yang sudah dirancang oleh Kekaisaran sebagai tempat berburu."

"Apa?"

"Aku tidak tau dari mana kau mendapatkan info bahwa di dalam hutan itu ada kelinci, namun... Siapa pun yang menyebar berita itu akan dikenakan hukuman karena telah menyebar berita bohong di kekaisaran!"

"Apa? Ah... Saya rasa itu tidak perlu Pangeran, mereka tidak bersalah, sayalah yang sudah lancang masuk ke dalam hutan."

Langkah Dylan tiba-tiba saja terhenti, membuat Teri langsung menatap bingung wajah Dylan.

"Ada apa Pangeran?"

"Aku tidak menyangka bahwa sebuah nyawa hanya kau anggap sebelah mata."

"Iya?"

TBC

1
Awin Windari
awalnya bagus kak, ceritanya ringan tapi makin kesini makin ribet dan ngelantur, bahkan kayak kluar dari plot
Renata Maharani
Kaka lama sekali up-nya
Fika❄️
oh~ saya mengerti
Sundarit112
aromaterapi masukkan nasional maaf kepada cincin-cincin nasional PKS Celsius sehari-hari keeksotisan verification dictionary brokerage depravity crust
Renata Maharani
bagus banget Thor ceritanya q baru Nemu nih novelnya 😭😭😭
Hema Line Aritonang Ajha
ini novel horor gak sih
Mimi Coco
lebih baik gunakan kata aku Thor KLO saya itu dia katanya lebih kaku
C1nt4
ceritanya kok diulang thor
est
kok aku bigunh ya thor teri dan ana itu satu tubuh tidak ya soalnya saat kata2 teri mangil lan dannprajurit masuk ke kamar ana habis mandi trus kasih baju ganti pula ke ana 😅🤣 susah aku bayanginya aku jd bigung
C1nt4
gue yg baca aja jg ikut bingung thor
itha Nurhayati 😎
aku pun menunggu mu Kaka🥰🥰 doubel dong..😉😉
Awien_Azui
kok ga di lanjutkan thor....
Awien_Azui
ga semestinya pangeran jadi peran utama... lanjut thor...
est
lanjut thor bagus ceritanya
est
semoga teri dengan cogan yg lain jgn pangeran
Siska sari Ana
lanjut thort
Siska sari Ana
kaku banget thor bahasanya, saya ganti jadi aku aja kk
AbC Home
check check
Cty Badria
ya dikit amat thor
itha Nurhayati 😎
semangat Kaka 😉🤗 sya tunggu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!