Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIBURAN DI KYOTO
Eros dan Desmon baru saja tiba di bandara.
Beberapa ajudan telah menunggu kedatangan mereka, membawa koper serta berbagai keperluan tuan muda dan juga Desmon.
Perjalanan mereka kali ini tidak langsung menuju Kyoto. Mereka harus singgah terlebih dahulu ke Sydney untuk menjemput Lura, wanita yang selama ini menjadi pujaan hati Eros.
Setibanya di Sydney, pertemuan yang telah lama dinantikan akhirnya terjadi.
Lura yang sudah lama tidak bertemu dengan Eros langsung menghampirinya dengan wajah bahagia. Tanpa ragu, ia memeluk pria itu dengan manja, dan Eros pun membalas pelukannya.
"Kau semakin tampan," ujar Lura sambil tersenyum menatap wajah Eros.
Pujian sederhana itu membuat Eros tersenyum kecil. Namun, berbeda dengan Desmon yang hanya berdiri di samping mereka. Tatapannya terlihat tidak senang melihat kedekatan keduanya.
"Cih," decih Desmon pelan sambil memalingkan wajahnya.
Keesokan harinya, mereka pun bersiap melanjutkan perjalanan menuju Kyoto.
Sepanjang perjalanan, Lura terus berada di sisi Eros. Tangannya tidak pernah lepas dari genggaman pria itu, seolah ingin menghabiskan setiap waktu yang mereka miliki bersama.
Setelah sekian lama berpisah, Lura ingin menikmati kedekatan mereka tanpa ada yang mengganggu.
Namun, di tengah perjalanan, pikiran Eros justru terus tertuju pada seseorang yang berbeda.
Zenaya.
Entah mengapa, wajah wanita itu terus muncul dalam benaknya. Ia bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan istrinya saat ini. Ia merindukan senyuman lembut Zenaya, bahkan ingin sekali mendengar suaranya.
Namun, Eros mengurungkan niatnya untuk menghubungi Zenaya. Lura sedang berada di dekatnya, dan ia tidak ingin membuat suasana menjadi rumit.
"Sayang, kenapa kau melamun?" tanya Lura sambil menatapnya penasaran.
Eros menoleh dan tersenyum tipis.
"Ah, tidak ada. Aku tidak melamun," jawabnya singkat.
Lura memperhatikan perubahan sikap Eros. Dulu, setiap kali mereka bertemu, Eros selalu menunjukkan perhatian yang besar. Ia sering menatap wajah Luna dengan penuh kasih dan selalu bersikap romantis.
Namun sekarang, meskipun tangan mereka masih saling menggenggam, Eros terasa berbeda. Ada jarak yang tidak bisa ia jelaskan.
Meski begitu, Lura memilih untuk berpikir positif. Baginya, Eros masih mencintainya.
Bukankah pria itu rela pergi ke Kyoto bersamanya dan meninggalkan istrinya demi dirinya? Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa perasaan Eros hanya untuknya.
Dengan keyakinan itu, Lura tersenyum bahagia. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Eros, menikmati perjalanan mereka menuju Kyoto.
Sementara itu, tanpa Lura sadari, hati Eros masih dipenuhi bayangan seorang wanita lain yang kini menjadi istrinya.
Mereka akhirnya tiba di Kyoto, sebuah kota yang mereka pilih untuk menghabiskan waktu berlibur.
Keindahan kota itu langsung menyambut mereka dengan suasana yang tenang, jalanan yang bersih, serta pemandangan tradisional yang berpadu dengan modernitas Jepang.
Wajah Lura tampak begitu cerah sejak menginjakkan kaki di kota tersebut. Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa kembali menghabiskan waktu bersama Eros tanpa harus memikirkan hal lain.
Sementara itu, Desmon memilih beristirahat di apartemen. Sesekali ia keluar untuk berjalan mengelilingi Kyoto dan menikmati suasana kota sendirian. Ia sengaja memberi ruang untuk Eros dan Lura menikmati waktu mereka.
Bukan karena ia tidak ingin bersama mereka, tetapi Desmon merasa sedikit muak melihat keduanya yang terus menempel satu sama lain. Terlebih lagi, ia selalu teringat bahwa Eros kini sudah memiliki seorang istri.
Lura membawa Eros berkeliling ke berbagai tempat.
Ia menggandeng tangan pria itu, mengajaknya berbelanja, mencoba berbagai makanan, hingga mengunjungi tempat-tempat yang membuatnya bahagia
Eros hanya bisa mengikuti keinginan Lura. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan wanita yang selama ini ia cintai.
Namun, ia tetap berhati-hati. Eros mengenakan masker untuk menutupi wajahnya, menghindari kemungkinan seseorang mengenali atau mengambil foto dirinya ketika sedang bersama Luna.
Hingga suatu saat, ketika mereka sedang berjalan santai di trotoar kota Kyoto, langkah mereka terhenti.
Di sebuah gedung tinggi, terpampang sebuah banner besar dengan wajah yang sangat familiar bagi Eros.
Zenaya Harper.
Wajah istrinya memenuhi layar besar yang bahkan bisa terlihat jelas dari jarak puluhan meter.
Dalam iklan tersebut, Zenaya tampil sebagai brand ambassador produk kecantikan ternama asal Jepang.
Eros terdiam sejenak.
Ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya.
Melihat Zenaya di layar besar itu membuatnya kembali menyadari betapa terkenalnya wanita tersebut di mata dunia.
Dengan balutan pakaian elegan, tatapan penuh percaya diri, dan senyum khas yang selalu ia tunjukkan, Zenaya terlihat begitu cantik dan berkelas.
Tanpa sadar, Eros merindukan senyum itu.
Lura yang menyadari Eros terus menatap layar tersebut perlahan mengubah ekspresinya. Wajah bahagianya berubah menjadi tidak nyaman.
"Di mana pun berada, selalu ada dia. Aku sampai bosan melihatnya," ucap Lura dengan nada kesal sambil memalingkan wajah.
Eros yang mendengar perkataan itu langsung menoleh kepadanya.
"Mau bagaimana lagi? Dia adalah seorang publik figur yang terkenal," jawab Eros.
Ada nada bangga dalam suaranya ketika membicarakan Zenaya.
Namun, kalimat itu justru membuat Lura semakin tidak nyaman.
"Iya, aku memang tidak terkenal seperti dia. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia," ucap Lura lirih, tetapi penuh rasa kecewa.
Eros mengerutkan alisnya.
"Kau kenapa? Aku tidak pernah membandingkanmu dengannya."
"Tapi nada bicaramu tadi seolah membandingkanku dengan dia," balas Lura.
"Nada seperti apa? Aku hanya mengatakan bahwa wajar jika kau sering melihat Zenaya di mana-mana. Dia seorang model terkenal saat ini," ujar Eros, mencoba menjelaskan.
Namun entah mengapa, kali ini Eros tidak seperti biasanya.
Dulu, ia selalu mengalah kepada Lura. Ia selalu berusaha menghindari perdebatan dan menenangkan wanita itu terlebih dahulu.
Tetapi sekarang, ia mulai membela pendapatnya.
"Kau menyebalkan, Eros," ucap Lura dengan suara bergetar. "Kau banyak berubah sejak bersama dia. Kau sudah tidak mencintaiku lagi."
Eros menatapnya dengan kaget.
"Apa maksudmu? Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan berada di sini sekarang," jawabnya dengan nada kesal.
"Aku tahu itu..." Lura menahan emosinya. "Tapi aku merasa kau berbeda. Kau bukan Eros yang dulu aku kenal. Aku merindukan Eros yang selalu ada untukku."
Setelah mengatakan itu, Lura berbalik dan pergi meninggalkan Eros begitu saja.
Eros hanya terdiam.
Ia tidak langsung mengejarnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. Perasaan yang membuatnya tidak nyaman, tetapi juga tidak bisa ia abaikan.
Namun melihat Lura menjauh, Eros akhirnya tersadar dan segera menyusulnya.
"Maafkan aku. Jangan marah," ucap Eros lembut sambil berjalan mengejar Lura.
Tetapi Lura tetap diam. Ia terus berjalan tanpa menghiraukan Eros.
"Sayang..."
Eros akhirnya meraih tangan Lura dan menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh Lura agar wanita itu menghadapnya.
"Maafkan aku. Percayalah, hatiku masih untukmu," ucapnya dengan suara lembut.
Lura menatap Eros dalam-dalam.
Di dalam hatinya, muncul ketakutan besar kehilangan pria itu. Ia tidak tahu sejak kapan perasaannya berubah menjadi begitu dalam. Lura langsung memeluk Eros. Air matanya jatuh perlahan.
"Apapun yang terjadi... jangan tinggalkan aku," bisiknya.
Eros terdiam sesaat, lalu membalas pelukan itu.
"Besok kita pergi ke restoran Shinagawa. Aku sudah melakukan reservasi untuk makan malam kita,"
ucap Eros mencoba menenangkan hatinya.
Mendengar itu, Lura semakin mengeratkan pelukannya.
Ia merasa lega.
Baginya, Eros masih memilih untuk
bersamanya. Setidaknya untuk saat ini, ia masih merasa pria itu belum meninggalkannya.