Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 8
Pagi hari, jam 7, suasana di desa hamparan begitu cerah dan indah.
Oval, Arden, dan Apis sudah nongkrong di warung Mpok Minah, menikmati sarapan lontong sayur buatan Mpok Minah yang lezat.
Setelah sarapan, mereka asik ngobrol dan berbagi cerita.
Arden terlihat sedih dan kangen dengan keluarganya.
"Val, Pis... Saya kangen keluarga... Tadi malam saya kesulitan tidur... Rindu orang tua dan adik-adik saya... Kemarin bertemu ayah saya di kerajaan kencana, namun saya tak sempat pulang ke rumah... Saya merasa bersalah karena tak ke rumah menengok keluarga... Maka itu malam pun sulit tidur..." ucap Arden dengan nada yang sedih.
Oval dan Apis mendengarkan dengan seksama dan mencoba memberikan dukungan.
"Den... Pulang saja dulu, anggap liburan... Kamu kan sudah lulus latihan dan sudah jadi pendekar... Kamu sudah bisa kemana saja sekarang..." ucap Oval dengan nada yang santai.
Apis juga menambahkan, "Iya ka Arden... Apa yang di bilang bang Oval betul... Saya pun kangen keluarga saya, sempat membicarakan hal ini ke Abang Oval kemarin." Apis mencoba memahami perasaan Arden.
Arden tersenyum dan memutuskan untuk pamit pulang.
"Iya, saya pamit dulu ya kepada kalian... Setelah sarapan ini saya hendak pulang kampung dulu... Entah kembali ke sini kapan... Yang pasti saya akan kembali ke perguruan ini... Perguruan ini sudah jadi rumah ke dua bagi saya..." ucap Arden dengan nada yang penuh harapan.
Setelah sarapan selesai dan ngobrol selesai, Oval, Arden, dan Apis kembali ke perguruan Naga Langit.
Guru Naga Langit sedang membereskan buku-buku ilmu pengetahuan di perpustakaan.
Arden mencari gurunya dan menemui Guru Naga Langit di perpustakaan.
"Den, tolong bawa ini ke aula..." perintah Guru Naga Langit ketika melihat Arden.
Arden mematuhi dan membawa tumpukan buku ke aula sambil menggerutu dalam hati.
"Aduh, guru ini gimana saya belum bicara sudah di suruh-suruh..." ucap Arden dengan nada yang sedikit kesal.
Guru Naga Langit mengikuti Arden ke aula dan melihat ketiga muridnya sudah berkumpul.
"Guru, saya ingin berbicara..." ucap Arden ketika gurunya duduk bersama.
"Silahkan bicara..." ucap Guru Naga Langit dengan nada yang santai.
"Saya mohon izin untuk pulang ke rumah orang tua, saya ada kerinduan terhadap orang tua dan saudara yang lain..." ucap Arden dengan nada yang penuh harapan.
Guru Naga Langit terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Silahkan Arden... Pulang lah... Sejatinya kalian semuanya sudah bebas lepas... Ingin tinggal di mana pun dan kapan pun... Karena kalian sudah lulus mempelajari ilmu beladiri, ilmu kesaktian dari saya... Kapan rencana pulang nya den..." ucap Guru Naga Langit dengan nada yang bijak.
"Sekarang guru..." ucap Arden dengan nada yang tegas.
Guru Naga Langit tersenyum dan memberikan nasehat.
"Oh iya silahkan... Ingat pesan saya... Junjung tinggi keadilan, bela yang benar, dan pakai hati nurani dalam bertindak... Karena banyak di luar sana para pendekar sakti namun tak mempunyai hati nurani dan bertindak sesuka hati..." ucap Guru Naga Langit dengan nada yang penuh bijak.
Setelah mengutarakan keinginannya dan ngobrol dengan yang lain, Arden berbenah dan merapikan beberapa pakaian yang akan dibawa.
Apis pun menyiapkan kuda spesial milik perguruan Naga Langit yang berwarna putih untuk Arden.
Setelah bersalaman dan saling bicara, Arden pun menaiki kudanya.
"Guru, bang Oval, Apis... Saya pamit dulu. Jika kangen sudah terobati saya akan kembali, saya ingin mengabdi di perguruan ini..." ucap Arden dengan nada yang penuh harapan.
Lalu Arden memacu laju kudanya menuju kerajaan Kencana, rumah Arden berada di belakang kerajaan Kencana, kompleks khusus yang diisi oleh para pegawai kerajaan.
Setelah Arden pergi, Apis nangis namun Apis tahan, hanya beberapa air mata yang tercecer di pipi Apis.
***
Arden memacu kuda dengan kecepatan sedang, menikmati pemandangan sekitar yang mulai berubah dari desa ke hutan belantara.
Setelah 4 jam mengendarai kuda tanpa henti, Arden merasa lelah dan memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di warung terakhir di pinggir hutan.
Warung itu tampak ramai, karena memang warung itu tempat beristirahat orang yang melakukan perjalanan jauh.
Arden turun dari kudanya dan mengikat tali kuda ke pohon yang rindang.
Lalu, Arden memasuki warung makan yang hangat dan nyaman.
Di dalam warung, Arden memesan makanan dan minuman untuk mengembalikan energinya. Ia duduk di pojok warung, menikmati pemandangan sekitar sambil menunggu pesanannya datang.
"Saya istirahat dulu, sebelum masuk hutan," ucap Arden pada dirinya sendiri, sambil memikirkan perjalanan yang masih panjang di depan.
Arden memandang keluar jendela, melihat hutan belantara yang lebat dan hijau. Ia tahu bahwa perjalanan melalui hutan itu akan memakan waktu sekitar 4-5 jam, tergantung pada kecepatan kuda dan kondisi jalan.
Dengan napas yang dalam, Arden mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan setelah istirahat sejenak.
Arden memesan mie ayam dan duduk di pojok warung, menikmati aroma makanan yang lezat. Saat menunggu pesanannya datang, Arden mendengar pembicaraan orang-orang di warung tentang keamanan hutan yang akan dilalui.
"Katanya banyak terjadi perampokan di hutan itu, beberapa kali dalam waktu satu bulan," ucap seseorang.
Arden mendengarkan dengan santai, tidak terlalu mempermasalahkan informasi tersebut.
Ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini sebagai seorang pendekar.
Saat itu, beberapa orang prajurit masuk ke warung, memesan makanan dan minuman. Arden melihat mereka, namun tidak tahu prajurit kerajaan mana, karena seragam mereka berbeda dengan seragam prajurit Kerajaan Kencana.
Setelah membayar makanan, prajurit-prajurit tersebut melakukan perjalanan menembus hutan.
Arden melihat bahwa mereka mengawal seseorang yang berada di kereta kencana, namun tidak melihat orang itu turun dari kereta tersebut.
Arden hanya mengamati dari jauh, tidak terlalu memperhatikannya. Pesanan mie ayamnya datang, dan Arden menikmati makanannya sambil menunggu waktu untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah 1 jam beristirahat, Arden membayar mie ayam dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Sebelum pergi, Arden bertanya kepada pemilik warung tentang prajurit yang makan di sana.
"Pak, tahu tentang prajurit yang makan di sini? Prajurit dari mana?" tanya Arden dengan rasa penasaran.
Pemilik warung tersenyum dan menjawab, "Oh, itu prajurit Kerajaan Rinjani yang hendak menuju ke Kerajaan Kencana. Mereka mengawal seorang pendekar wanita yang cukup terkenal dengan kemampuan pedangnya."
Arden tertarik dengan informasi tersebut dan bertanya lagi, "Pendekar wanita? Apa yang bisa Anda ceritakan tentang dia?"
Pemilik warung menjelaskan, "Pendekar wanita itu sempat makan di sini sebelum Anda datang, lalu dia kembali masuk ke kereta kencana. Saya tidak tahu nama dia, tapi katanya dia sangat mahir dengan pedangnya."
Arden mengangguk, merasa penasaran tentang pendekar wanita tersebut. Namun, karena tidak sempat bertemu, Arden memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Kencana.
Setelah membayar, Arden segera berangkat dengan kudanya, memacu kecepatan penuh untuk menembus hutan belantara.
"Aku harus bergerak cepat agar tidak kemalaman di hutan, banyak nyamuk dan berbahaya banyak binatang buas di malam hari, nanti lagi enak tidur datang harimau bisa berbahaya," ucap Arden dalam hati, sambil memikirkan keselamatan dirinya.
Dengan kecepatan penuh, Arden menunggangi kudanya, menikmati adrenalin yang meningkat saat menembus hutan yang lebat.
Ia memegang kendali kuda dengan erat, siap menghadapi setiap kemungkinan yang ada di depan.
Kuda Arden berlari dengan cepat, melewati pepohonan yang rindang dan jalan setapak yang berliku-liku.
Arden merasa semakin dekat dengan tujuan, dan ia berharap dapat tiba di rumah sebelum malam tiba. Dengan fokus dan konsentrasi, Arden terus menunggangi kudanya, siap menghadapi apa pun yang ada di depan.
***
Di lain tempat, setelah kepergian Arden, Oval menenangkan Apis yang masih bersedih.
Guru Naga Langit juga menasehati Apis untuk tegar dan tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Untuk menghibur Apis, Oval mengajaknya melakukan kegiatan yang menyenangkan, yaitu mancing dan berenang di sungai.
Apis setuju dan ikut bersama Oval ke sungai. Di sana, mereka berdua menikmati kegiatan mancing dan berenang, sambil bercanda dan tertawa.
Apis mulai kembali ceria, dan kesedihan karena perpisahan dengan Arden sedikit demi sedikit mulai terlupakan.
Oval tersenyum melihat Apis yang kembali ceria, dan merasa senang bisa membantu temannya melewati masa sedih dengan cepat.