Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gibah
Safira mendadak melupakan kekesalannya pada Vera, lenyap tak bersisa termakan rasa penasaran. Tanpa sadar Safira mendekatkan diri ke arah Vera.
“Informasi apa yang Mbak dapet?” tanyanya yang juga sambil berbisik.
Vera merapatkan tubuh. “Kemarin Pak Ndut bakul jus dekat Kodim kasih tahu aku kalau lihat dua anak kecil mondar-mandir di sekitar Bank BRI.”
“Dua anak kecil itu … maksudnya Alvin sama Zain?”
“Siapa lagi.”
Safira terlihat tidak yakin. “Tapi ‘kan, bisa aja itu orang lain. Anak kecil nggak cuma mereka berdua.”
Vera menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Safira. Sambil mengutak-atik ponsel, Vera menjelaskan, “Aku sudah konfirmasi sama Pak Ndut. Aku kasih lihat foto ini dan Pak Ndut mengiyakan kalau anak yang dia lihat itu benar Alvin dan Zain.”
Safira tidak bisa menutupi keterkejutannya. “Dari mana Mbak bisa dapet foto mereka?” tanya Safira, merebut ponsel Vera guna memastikan apakah benar itu Alvin dan Zain. “Ini bukannya waktu kita pertama kali ketemu mereka?”
“Iya, diam-diam aku foto. Terus Pak Ndut juga bilang kalau dia lihat anak-anak itu beberapa hari sebelumnya, Fi.”
“Jadi Alvin dan Zain udah mondar-mandir di sekitar sini sebelumnya?”
Vera menegakan badan, memperhatikan sekitar lalu kembali merapatkan tubuh pada Safira saat dirasa sekitar cukup ramai. “Mungkin nggak sih kalau anak-anak itu bagian sindikat kriminal?”
“Hush! Mbak Vera sembarangan aja.”
“Sstt …,” desis Vera menaikan telunjukan ke atas bibir. “Jangan keras-keras, nggak enak kalau sampai kedengaran orang lain.”
Safira melirik jengah Vera. “Lagian Mbak ini ada-ada aja, masa anak-anak itu pelaku kriminal?” ucapnya tidak percaya sambil mengembalikan ponsel milik Vera.
“Siapa yang tahu, ‘kan? Lagi pula, kenapa mereka mondar-mandir di sekitar bank?”
Safira terdiam sesaat. Tanda tanya besar tiba-tiba saja tergambar jelas di kepalanya. Selama dua hari ini, ia tidak merasa bahwa Alvin dan Zaini adalah pelaku tindak kriminal. Di matanya mereka berdua sama seperti anak-anak pada umumnya, hanya saja sedikit kurang beruntung ketimbang anak-anak yang lain.
Walaupun harus Safira akui jika ia belum bisa mendapatkan informasi apapun kecuali nama, umur dan alasan mereka sampai berada di sekitar alun-alun. Namun, tetap saja, menurutnya Alvin dan Zaini terlalu polos dan terlalu kecil untuk bisa melakukan tindak kriminal. Atau … yang sebenarnya persis seperti yang dikatakan Vera. Bahwa kedua anak itu bagian dari sindikat kriminal, tapi ….
“Tapi Mbak, dari mana Mbak tahu kalau anak-anak itu bagian dari …,” tanyanya ragu.
Vera terlihat tidak siap lalu memandang Safira kikuk dan tertawa sumbang. “Nebak-nebak aja, sih.”
Safira kehilangan kata-kata mendengar ucapan Vera. Sia-sia saja ia mendengarkan tuduhan Vera yang ternyata memang tanpa dasar. Sambil menyerahkan ponsel Vera kepada pemiliknya, Safira berkata, “Mbak pikir mereka itu buah manggis, main tebak-tebakan segala.”
Safira berjalan kembali menuju tendanya dan diekori Vera yang merasa sedikit bersalah dan tidak enak hati pada Safira. Karena biar bagaimanapun, Safira lah yang menampung dan merawat Alvin dan Zaini.
“Mut, marmut. Ngambek terus sih.”
Safira berhenti dan membalikan tubuhnya hingga membuat Vera terkejut dan hampir menabrak Safira. Untung saja gerak refleksnya cukup bagus.
“Mbak Vera kalau sehari aja nggak godain orang gitu apa nggak bisa sih?” tanya Safira sebal, wajahnya sedikit ia tundukan. Perbedaan tinggi badan yang hanya dua senti lebih tinggi dari Vera selalu membuat Safira merasa lebih unggul, kadang-kadang.
“Nggak, habis seru sih godain kamu.”
Safira memutar bola matanya, jengah meladeni Vera yang nyebelinnya mendadak kumat.
“Eh, tapi aku belum selesai ngomong masalah Alvin dan Za—” ucapan Vera terhenti ketika tanpa sengaja manik matanya melihat Alvin dan Zaini yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
Safira yang merasa heran mengikuti arah pandang Vera dan hampir sama terkejutnya ketika Alvin sudah berada di hadapan mereka. “Alvin?” bisik Safira.