Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20. Batas Suci di Balik satu Atap
Sebelum hari pernikahan itu terlaksana, Ubay sebenarnya tidak melangkah dengan mata buta. Dua hari sebelum mendaftarkan berkas ke KUA, sepulang dari pasar, Ubay sengaja mampir ke Masjid Jami' dekat pasar. Ia menunggu sampai jamaah bubar demi bisa menemui Ustad Mansur, salah satu tokoh agama yang dihormati di sana.
Dengan bahasa yang diatur sedemikian rupa, berpura-pura menanyakan nasib "temannya di jalanan", Ubay berkonsultasi mengenai hukum menikahi wanita yang sedang hamil akibat korban pemerkosaan, sementara janin itu bukan darah dagingnya sendiri.
Ustaz Mansur kala itu menjelaskan dengan sejuk bahwa menurut kompilasi hukum Islam yang berlaku di Indonesia atau KHI Pasal 53, menikahi wanita hamil itu sah dilakukan tanpa harus menunggu sang anak lahir terlebih dahulu. Namun, sang Ustaz memberi catatan berat yang tertanam kuat di otak Ubay, ‘Anak itu kelak secara nasab dan waris tetap tidak bisa disambungkan kepada Ubay, karena bukan anak biologisnya.’ Dan yang paling penting bagi Ubay, pernikahan itu sah secara agama, sehingga status mereka kini adalah suami dan istri yang halal.
*
Malam harinya, setelah para tetangga pulang dan teras rumah kembali sepi, suasana di dalam rumah tua itu terasa begitu canggung. Karpet sudah digulung, dan sisa kotak nasi sudah dirapikan.
Nadia berdiri terpaku di dekat meja makan, meremas ujung baju yang ia kenakan. Statusnya sudah berubah. Di dalam dompet Ubay sekarang ada buku nikah berkulit cokelat, dan di dalam tasnya ada yang berkulit hijau. Ia sudah resmi menjadi istri dari seorang Ubay.
Ubay berjalan masuk setelah mengunci pagar depan. Ia melempar peci hitamnya ke atas meja, lalu mendudukkan diri di kursi kayu. Rambut gondrongnya kembali digelung asal-asalan. Ia menatap Nadia yang tampak tegang.
"Nadia, duduk dulu. Ada yang mau gue tegasin soal pernikahan kita," ucap Ubay, suaranya terdengar lempeng dan tenang.
Nadia menurut, ia duduk di kursi seberang Ubay dengan kepala agak menunduk. "Iya, Mas..."
"Gue kemarin lusa sudah nanya ke Ustaz Mansur di masjid pasar soal hukum kita," Ubay membuka percakapan, membuat Nadia mendongak sedikit terkejut. "Kata Ustaz, pernikahan kita ini sah. Gak ada masalah di mata agama maupun negara. Jadi lu gak usah takut atau merasa bersalah lagi."
Ubay memajukan badannya, menumpukan kedua lengannya di atas meja. Sorot matanya sangat jujur.
"Tapi, seperti yang sudah kita obrolin dari awal... pernikahan kita ini dasarnya untuk nolong status lu dan anak itu. Gue gak mau maksa lu buat langsung jadi istri seutuhnya kalau lu belum siap atau masih trauma. Gue mau lu merasa aman di sini."
Ubay menunjuk ke arah pintu belakang. "Lu kalau memang mau nyaman dan tenang, gak masalah tetap tinggal dan tidur di paviliun belakang seperti sebulan ini. Rumah depan ini biar gue yang tempati seperti biasa. Tapi sekarang lu bebas keluar masuk rumah ini, gak usah sungkan lagi. Mau masak, mau nonton TV, mau pakai fasilitas apa pun di rumah ini, lakuin aja. Anggap ini rumah lu sendiri."
Nadia menatap Ubay dengan mata yang berkaca-kaca. Pengaturan yang ditawarkan Ubay, menjaga jarak fisik namun memberikan kebebasan penuh sebagai nyonya rumah adalah hal paling terhormat yang bisa ia bayangkan. Ubay tidak memanfaatkan kesempitannya, tidak juga menuntut hak batin seorang suami di saat Nadia sedang hancur lemas secara psikologis.
"Mas Ubay..." Nadia berbisik, suaranya bergetar menahan haru yang sesungguhnya. "Terima kasih banyak. Terima kasih sudah menghargai saya sampai sebegininya. Saya... saya nggak tahu harus membalas kebaikan Mas pakai apa."
"Gak usah dipikirin soal bales-balesan," sahut Ubay, ia berdiri dari kursinya lalu menepuk pundak meja sekilas. "Mulai besok lu gak usah mikirin ongkos angkot atau uang kuliah lagi secara sembunyi-sembunyi. Duit bulanan bakal gue taruh di meja ini tiap tanggal satu, jumlahnya bakal gue lebihin karena kebutuhan lu pasti nambah. Sekarang, lu pergi ke paviliun, istirahat. Ini hari yang panjang buat kita berdua."
Nadia mengangguk pelan, seulas senyum tulus yang pertama kali setelah berhari-hari akhirnya terbit di wajah manisnya. Ia berdiri, lalu melangkah menuju paviliun belakang dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di balik dinding rumah tua itu, batas suci di antara mereka tetap terjaga, namun sebuah ikatan pelindung yang kokoh telah resmi dimulai.
**
Sementara kedamaian perlahan terbangun di rumah tua peninggalan neneknya Ubay, kondisi yang bertolak belakang justru sedang terjadi di dalam rumah megah keluarga Pramoedya.
Di dalam kamarnya yang luas dan ber-AC sentral, Axel terkapar di atas ranjang king size miliknya. Wajah tampan yang biasanya selalu tampak angkuh itu kini terlihat kuyu. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri yang terasa sangat pening.
Nut-nut... nut-nut...
Sudah hampir dua minggu ini, kepala Axel sering kali berdenyut hebat tanpa alasan yang jelas. Rasanya seolah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk tempurung kepalanya secara bersamaan. Bukan hanya itu, penderitaannya bertambah parah karena setiap pagi terbangun, hulu hatinya selalu bergejolak hebat.
"Hoekk... ughh..."
Axel berlari tunggang-langgang menuju kamar mandi mewahnya. Ia bertumpu pada wastafel marmer, memuntahkan cairan bening dari lambungnya yang kosong. Tubuhnya gemetar, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Rasa mual yang datang bertubi-tubi ini benar-benar menyiksanya, membuatnya tidak nafsu makan dan kehilangan berat badan dengan drastis.
Nyonya Sarah yang baru saja masuk ke kamar membawa segelas air hangat langsung panik melihat putra kesayangannya merosot lemas di lantai kamar mandi.
"Axel! Kamu kenapa lagi?" Nyonya Sarah memapah tubuh anaknya kembali ke ranjang dengan wajah cemas luar biasa. "Ini obat dari dokter spesialis yang kemarin Papa datangkan sudah diminum belum? Kok nggak ada hasilnya sama sekali?"
Axel menerima gelas air hangat dengan tangan gemetar, menegaknya sedikit untuk meredakan rasa pahit di kerongkongannya. "Sudah, Ma. Semua obat lambung, obat sakit kepala mual dari dokter rumah sakit kemarin sudah Axel minum semua. Tapi tetap nggak mempan. Kepala Axel tetap mau pecah rasanya setiap pagi..."
Keluarga Pramoedya tidak tinggal diam. Merasa ada yang tidak beres dengan calon pewaris tunggal mereka, Tuan Pramoedya bahkan sudah membawa Axel ke tiga dokter spesialis berbeda di rumah sakit internasional terbaik di kota. Axel sudah menjalani tes darah lengkap, bahkan sampai kepalanya di-scan MRI untuk mengecek apakah ada tumor atau penyumbatan saraf.
Namun, hasil dari semua pemeriksaan medis itu nihil. Dokter mengatakan seluruh organ tubuh Axel sehat, saraf kepalanya normal, dan lambungnya tidak mengalami luka atau maag akut. Dokter hanya menduga Axel mengalami "stres ringan" dan memberinya suplemen serta obat penenang. Nyatanya, begitu obat itu habis ditelan, rasa mual dan sakit kepala itu kembali menyerang dengan intensitas yang sama.
Axel kembali memejamkan matanya rapat-rapat, meremas bantal tidurnya menahan denyutan di kepala.
Ia sama sekali tidak menyadari, bahwa penyakit misterius yang tidak bisa disembuhkan oleh obat kimia sedosis apa pun itu adalah bentuk hukuman alam, sebuah karma gaib yang kerap disebut ‘ngidam tularan’. Di saat rahim Nadia yang suci didera kepayahan akibat benih kejahatannya, tubuh Axel-lah yang dipaksa alam untuk membayar rasa mual dan sakit fisik tersebut sebagai hukuman instan atas kelakuan bejatnya sebulan lalu.
Kamar mewah itu kini terasa seperti penjara yang pengap bagi Axel, tempat di mana kepalanya terus berdenyut menyiksa, seolah menolak untuk sembuh.
****