"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
happy reading guys
--------------------------
Bab 27: Ketukan Palu Takdir
Lampu indikator merah di atas pintu ruang operasi utama Rumah Sakit Pusat Jakarta perlahan padam dengan bunyi klik yang halus, seketika memutus keheningan fajar yang mencekam di lorong ruang tunggu VIP.
Pintu ganda bergeser terbuka secara manual, memunculkan sosok dokter kepala spesialis bedah yang melangkah keluar dengan raut wajah yang dipenuhi peluh dingin dan kelelahan fisik yang teramat pekat.
Anastasia Wijaya langsung bangkit berdiri dari kursi besinya, menyeka sisa air mata di pipinya dengan gerakan yang kembali tegas.
Di sampingnya, Alta ikut menegakkan tubuh mungilnya, sepasang netra elangnya menatap lurus ke arah dokter demi menuntut kejelasan takdir ayah kandungnya.
"Bagaimana kondisinya, Dokter?"
suara merdu Anastasia merendah, sarat akan penekanan batin yang matang.
Dokter kepala itu menarik napas panjang, perlahan melepas masker medisnya dengan helaan napas yang melegakan.
"Mukjizat medis kembali berpihak pada Tuan Devan Mahendra, Nona Anastasia. Seluruh jaringan pembuluh darah di perut kirinya yang robek akibat pendarahan dalam tadi telah berhasil kami jahit kembali melalui prosedur darurat selama tiga jam ini. Kondisi kritisnya telah lewat. Namun, Tuan Devan saat ini harus menggunakan alat bantu pacu jantung mekanis sementara untuk menjaga kestabilan ritme nadinya selama empat puluh delapan jam ke depan. Beliau tidak boleh menerima guncangan fisik atau emosional sedikit pun."
Napas Anastasia seketika berembus lega, sebuah beban berat seolah diangkat dari ulu hatinya.
Ia memejamkan matanya sejenak, merapalkan doa syukur yang teramat dalam di balik keheningan batinnya.
Devan selamat.
Singa bisnis itu berhasil menepati janji ksatria pada putranya untuk tetap bertahan hidup.
"Terima kasih, Dokter. Lakukan perawatan terbaik untuknya,"
ucap Anastasia dengan ketetapan hati yang jujur sebelum memberi isyarat kepada Rian untuk mendampingi proses pemindahan tubuh Devan menuju ruang pemulihan steril.
Setelah dokter dan perawat bergerak menjauh membawa ranjang Devan, Anastasia membalikkan tubuh tegapnya menghadap ke arah jendela besar lorong yang menampilkan pemandangan cakrawala fajar Jakarta yang kelabu.
Wajah cantiknya yang semula dipenuhi keharuan, kini mendadak berubah menjadi sedingin es kutub, memancarkan kembali aura dominasi mutlak pimpinan tertinggi Wijaya Corps yang teramat mengerikan.
Ia meraba saku blazer hitamnya, mengeluarkan sebuah gawai pintar terenkripsi miliknya, lalu mendial sebuah kode frekuensi radio khusus yang langsung terhubung menuju markas komando unit taktis hitam Wijaya Corps di perbatasan Singapura.
"Hendra, pastikan Alta dan Arka tertidur aman di kamar pemulihan dalam pengawasan ketat," perintah Anastasia tanpa menoleh ke arah sekretaris pribadinya yang berdiri siaga di belakang.
"Baik, Nona Anastasia. Unit taktis dalam sudah mengunci area kamar Den Alta," jawab Hendra dengan sikap membungkuk hormat penuh kepatuhan.
Sambungan telepon nirkabel di genggaman Anastasia berbunyi sekali sebelum sebuah suara bariton yang berat dan kaku menjawab dari seberang sana.
"Sinyal aktif, Nona Anastasia. Unit siber dan eksekutor sektor selatan bersiap menanti perintah mutlak Anda."
Anastasia mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga persendian jarinya memutih.
Ingatan tentang bagaimana Siska Amalia merangsek masuk membawa senjata ke kamar anak-anaknya beberapa jam lalu, ditambah dengan laporan Rian bahwa Abraham Amalia sedang menggalang sisa kartel senjata internasional di Singapura untuk menyerang Jakarta, membuat naluri protektif seorang ibu di dalam jiwanya meledak seutuhnya seumur hidupnya.
"Abraham Amalia baru saja mendarat di pelataran swasta pesisir Singapura menggunakan paspor diplomatik palsu,"
desis Anastasia, suaranya merendah hingga ke titik beku, memancarkan perintah pembunuhan yang teramat pekat di tengah kesunyian lorong rumah sakit.
"Pria tua itu ingin menggunakan sisa pengaruh kartelnya untuk membantai duniaku karena kematian putrinya. Saya tidak akan memberikan kesempatan bagi anjing tua itu untuk menginjakkan kakinya di atas lantai aspal Kota Jakarta."
Anastasia menurunkan sedikit pandangan matanya, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela dengan kilat kemurkaan yang mutlak.
"Aktifkan protokol Black Operation detik ini juga. Kerahkan tiga eksekutor elit terbaik kita dari jalur bawah tanah Singapura. Lakukan pembatasan ruang gerak darurat... atau pembunuhan senyap terhadap Abraham Amalia sebelum matahari pagi ini meninggi di atas pelabuhan swasta mereka."
Seberang telepon terdiam selama satu ketukan detik yang krusial sebelum sang komandan menjawab dengan nada patuh yang dingin.
"Perintah eksekusi dipahami, Nona Anastasia. Kami akan merancang skenario kecelakaan serangan jantung buatan atau sabotase kendaraan darat di luar area pelabuhan swasta Singapura. Target akan dieliminasi seutuhnya sebelum fajar berakhir tanpa meninggalkan jejak siber sedikit pun."
"Lakukan sebersih mungkin. Saya ingin kepala jaringan kartel itu hancur sebelum fajar menyengat," titah Anastasia dengan sentakan tajam sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Anastasia memasukkan kembali gawainya ke dalam saku jas, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang sempat bergejolak hebat akibat pengkhianatan dan bahaya berskala internasional ini.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun penderitaannya, ia tidak lagi bertindak sebagai domba penurut yang pasrah menerima takdir fitnah.
Anastasia Wijaya kini telah resmi menjelma menjadi penguasa berdarah dingin yang siap meratakan siapa pun musuh yang berani mengusik ketenangan darah dagingnya.
Namun, tepat di saat Anastasia hendak melangkah menuju kamar pemulihan Devan, layar laptop Sekretaris Hendra yang sejak tadi memantau pergerakan bursa saham domestik mendadak berbunyi pendek secara konstan.
Wajah Hendra seketika berubah menjadi sangat tegang, memandang layar monitor dengan guratan kecemasan yang kembali mengganas.
"Nona Anastasia... Situasinya memburuk di lini bisnis domestik!" bisik Hendra dengan nada suara yang bergetar menahan panik.
"Meskipun Samuel Amalia sudah ditangkap di pengadilan fajar tadi, ternyata ia sempat merilis perintah otomatis sistem (auto-trigger system) untuk melempar seluruh sisa obligasi bodong Mahendra Group ke bursa efek Jakarta tepat pada pembukaan pasar pukul sembilan lewat lima menit nanti! Skenario ini dirancang agar terjadi kepanikan massal di bursa saham, yang akan menyeret anak perusahaan Wijaya Corps yang terafiliasi dengan proyek pelabuhan timur mengalami kebangkrutan teknis dalam waktu satu jam!"
_______
Bersambung......
Jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa 🙏