Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Nara Melawan
Sejak kedatangan Clarissa Hartono, suasana kantor berubah.
Setidaknya bagi Nara.
Mungkin bagi orang lain, Clarissa hanyalah tamu penting dari keluarga konglomerat.
Wanita cantik.
Cerdas.
Elegan.
Dan berasal dari kalangan yang sama dengan Damar.
Namun bagi Nara, kehadiran Clarissa seperti pengingat yang terus-menerus muncul.
Tentang perbedaan dunia mereka.
Tentang kenyataan yang selama ini berusaha ia abaikan.
Dan yang paling menyebalkan...
Tentang perasaan yang perlahan tumbuh tanpa izin.
Pagi itu, kantor lebih ramai dari biasanya.
Clarissa kembali datang.
Kali ini untuk menghadiri rapat kerja sama.
Seperti kemarin, banyak karyawan langsung memperhatikannya.
Bukan hanya karena cantik.
Tetapi karena statusnya.
"Keren ya."
bisik salah satu staf.
"Dia pewaris Hartono Group."
"Aku dengar perusahaan keluarganya ada di mana-mana."
"Benar-benar pasangan yang cocok untuk Pak Damar."
Kalimat terakhir membuat Nara menghentikan langkahnya.
Namun hanya sesaat.
Ia segera berjalan lagi.
Berusaha mengabaikan semuanya.
"Nara."
Siska muncul sambil membawa dua gelas kopi.
"Kamu mendengarnya?"
"Mendengar apa?"
"Gosip baru."
Nara menghela napas.
Setelah insiden foto beberapa hari lalu, ia mulai muak dengan gosip kantor.
"Aku tidak tertarik."
"Katanya Clarissa dijodohkan dengan Damar."
Nara langsung berhenti.
Siska menatapnya.
"Lihat."
"Apa?"
"Kamu peduli."
"Aku tidak peduli."
"Kamu berhenti jalan."
Nara langsung melanjutkan langkahnya.
Membuat Siska tertawa puas.
Menjelang siang.
Tim mendapat tugas mempersiapkan proposal untuk proyek baru.
Nara sedang fokus menyusun data ketika dua karyawan dari divisi lain lewat di belakangnya.
Mereka tidak sadar bahwa Nara bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Kalau aku jadi Nara, pasti malu."
"Kenapa?"
"Ya jelas."
Salah satu dari mereka tertawa kecil.
"Berani dekat sama Pak Damar padahal sekarang ada Clarissa."
"Tapi katanya Pak Damar memang perhatian sama dia."
"Itu sebelum Clarissa datang."
Mereka tertawa pelan.
Lalu pergi.
Namun kata-kata itu tertinggal.
Menusuk.
Meski Nara berusaha mengabaikannya.
"Nara?"
Suara Raka membuatnya kembali sadar.
"Hm?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kamu terlihat ingin meninju seseorang."
Nara hampir tertawa.
"Hanya lelah."
Raka tidak langsung percaya.
Namun pria itu cukup bijak untuk tidak memaksa.
Sore harinya.
Masalah yang sebenarnya akhirnya datang.
Saat Nara sedang mencetak dokumen di ruang arsip, tiga karyawan perempuan dari divisi lain masuk.
Mereka awalnya tidak menyadari keberadaan Nara.
Sampai salah satu dari mereka melihatnya.
Suasana langsung berubah.
"Oh."
ucap wanita itu.
"Nara ternyata ada di sini."
Nada suaranya membuat Nara langsung paham.
Ini tidak akan menyenangkan.
"Kamu hebat juga."
ucap salah satu wanita.
Nara mengangkat alis.
"Maksudnya?"
"Bisa dekat dengan Pak Damar."
Yang lain tertawa kecil.
"Nggak heran sih."
"Kenapa?"
"Tipe seperti dia memang biasanya suka cari perhatian."
Nara menutup map di tangannya.
Perlahan.
Sangat perlahan.
"Apa maksud kalian?"
Wanita itu menyilangkan tangan.
"Jangan pura-pura tidak tahu."
"Kami cuma bilang apa yang semua orang pikirkan."
Biasanya Nara memilih mengabaikan konflik.
Namun hari itu berbeda.
Mungkin karena terlalu banyak tekanan.
Mungkin karena terlalu banyak gosip.
Atau mungkin karena ia sudah lelah diam.
Nara melangkah maju.
Tatapannya tenang.
Tetapi cukup tajam membuat ketiga wanita itu sedikit gugup.
"Kalian tahu apa yang paling lucu?"
tanya Nara.
Tidak ada yang menjawab.
"Kalian lebih sibuk mengurusi hidup orang lain daripada pekerjaan sendiri."
Salah satu wanita langsung tersinggung.
"Kamu—"
"Aku belum selesai."
potong Nara.
Suasana mendadak hening.
"Aku masuk perusahaan ini karena kemampuan kerja."
lanjut Nara.
"Bukan karena siapa pun."
"Kalau kalian tidak percaya, itu masalah kalian."
Tatapan Nara menyapu mereka satu per satu.
"Tapi jangan pernah menganggap aku akan diam saat dihina."
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Ketiga wanita itu jelas tidak menyangka Nara akan melawan.
"Kalian ada masalah?"
Suara baru terdengar dari pintu.
Semua orang menoleh.
Dan langsung membeku.
Damar.
Pria itu berdiri di sana.
Dengan ekspresi dingin yang sangat dikenal seluruh kantor.
Seketika wajah ketiga wanita tadi memucat.
"Tidak, Pak."
jawab salah satu dari mereka cepat.
"Bagus."
ucap Damar.
Hanya satu kata.
Tetapi cukup membuat mereka buru-buru pergi.
Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi.
Nara menghela napas.
"Lega?"
tanya Damar.
"Sedikit."
jawab Nara jujur.
Damar menatapnya beberapa saat.
Lalu berkata,
"Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian."
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat hati Nara menghangat.
"Aku tidak suka bergantung pada orang lain."
jawabnya.
"Saya tahu."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri."
Damar mengangguk.
"Saya juga tahu itu."
Dan entah kenapa...
Pengakuan itu terasa lebih berarti dibanding pujian apa pun.
Malam mulai turun.
Sebagian besar karyawan sudah pulang.
Namun tim mereka masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Saat Nara sedang memeriksa laporan, Clarissa tiba-tiba datang.
Kali ini langsung menghampirinya.
"Halo."
sapanya ramah.
"Halo."
jawab Nara.
"Aku dengar ada masalah kecil tadi."
Nara sedikit terkejut.
Berita di kantor memang menyebar lebih cepat daripada internet.
"Sudah selesai."
jawabnya.
Clarissa tersenyum.
"Aku senang mendengarnya."
Wanita itu kemudian duduk di kursi kosong di sampingnya.
"Jujur saja."
ucap Clarissa.
"Aku suka orang yang berani membela dirinya sendiri."
Nara menatapnya.
Berusaha mencari maksud tersembunyi.
Namun ekspresi Clarissa terlihat tulus.
Atau setidaknya sangat sulit dibaca.
"Orang sering menilai berdasarkan latar belakang."
lanjut Clarissa.
"Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu."
Nara tidak tahu harus menjawab apa.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasa Clarissa tidak seperti yang ia bayangkan.
Wanita itu memang berasal dari keluarga kaya.
Namun tidak terlihat sombong.
Justru sangat tenang.
Sangat percaya diri.
Dan itu membuatnya semakin sulit ditebak.
Sebelum pergi, Clarissa berdiri.
Lalu menatap Nara.
"Ngomong-ngomong."
"Hm?"
"Damar jarang memuji seseorang."
Nara berkedip.
"Apa?"
Clarissa tersenyum.
"Jadi saat dia terus membicarakan seseorang, biasanya itu berarti orang tersebut spesial."
Setelah mengatakan itu, wanita tersebut pergi.
Meninggalkan Nara yang membeku di tempat.
Jantungnya berdetak tidak karuan.
Sementara dari balik kaca ruang kerja, Damar tanpa sadar memperhatikan semuanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...
Pria itu mulai merasa kehilangan kendali atas sesuatu.
Karena perasaannya terhadap Nara tumbuh jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan.
Bersambung...