Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy tidak bohong?
Setelah melihat Aiden dan Via tertidur lelap, Ziga melangkahkan kaki keluar ruangan. Ziga mengajak Erik yang sedari tadi menunggu di luar kamar untuk mengikutinya.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan Rik ?" tanya Ziga setelah mereka berada di taman rumah sakit.
"Maksud Tuan?" tanya Erik kembali sebelum menjawab pertanyaan Ziga.
Ziga mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulutnya. Sebenarnya Ziga bukan seorang perokok tapi ketika ia merasa gelisah dia terkadang menghabiskan satu batang untuk menghilangkan kegelisahannya.
"Untuk mendapatkan kembali hati Via " jawab Ziga.
Erik tampak berfikir sebentar,
"Menurut saya Nyonya Via yang sekarang berbeda dengan Nyonya Via pada lima tahun lalu" ucap Erik.
"Nyonya lebih dewasa dan juga mandiri tentu akan semakin sulit bagi Tuan jika Tuan melakukan pendekatan secara tergesa gesa" tambah Erik.
"Dan yang terpenting Nyonya Via sangat menyayangi si kembar, jika Tuan ingin mendapatkan hati Nyonya Via Tuan harus terlebih dahulu mendapatkan hati si kembar" jelas Erik.
"Bukan maksud saya untuk memanfaatkan anak anak Tuan, tetapi jika Tuan bisa dekat dengan anak anak tentu akan lebih mudah untuk mendapatkan hati Nyonya" terang Erik.
"Mereka adalah anak anakku, tentu aku harus dekat dengan mereka. Aku menyayangi mereka, karna mereka adalah darah dagingku" ucap Ziga.
Ziga mematikan rokoknya, dia menyilangkan tangan di dadanya.
"Sepertinya aku akan tinggal lebih lama di Praha, setidaknya hingga aku dapat memenangkan hati Via dan membawanya beserta anak anak untuk pulang ke New York" ucap Ziga.
"Apa Tuan ingin membeli apartemen di sekitar daerah ini?" tanya Erik.
"Tidak, untuk sementara aku akan tinggal di hotel" jawab Ziga.
Tak terasa hari hampir pagi, Ziga tak sedikit pun tertidur. Dia menatap kembali wajah Aiden yang tengah terlelap. Melihat kedamaian yang terpancar di wajah Aiden membuat Ziga merasa hangat di hatinya. Saat Ziga tengah memandangi wajah Via, tiba tiba ponselnya bergetar. Ternyata itu adalah panggilan dari Mia. Tadi dia memang memberikan nomor teleponnya pada Mia untuk berjaga jaga jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada Zeline di rumah.
Ziga keluar kamar untuk mengangkat panggilan dari Mia.
"Halo Uncle" panggil Mia panik.
"Ada apa Mia ?" tanya Ziga.
"Zeline menangis tak mau berhenti, dia terus menanyakan Uncle. Aku sudah coba membujuknya tapi tak berhasil" jawab Mia cepat.
"Berikan telponnya pada Zeline !" titah Ziga
Mia pun langsung memberikan ponselnya pada Zeline yang sedang menangis di dalam kamar.
"Zel, Daddy mau bicara" ucap Mia pada Zeline.
Bocah kecil itu pun dengan cepat meraih ponsel Mia.
"Daddy, huaaa, huaaa" panggil Zeline di ikuti dengan tangisnya.
"Jangan menangis litle bunny" ucap Ziga mencoba menenangkan Zeline.
"Apa yang membuat Zel menangis?" tanya Ziga kemudian.
"Daddy kenapa tinggalin Zel, Daddy tidak sayang Zel? " tanya Zeline masih dengan isak tangisnya.
"Daddy ga tinggalin Zel sayang, Daddy lihat kakak Aiden di rumah sakit" jelas Ziga pada putri kecilnya tersebut.
"Siapa yang bilang Daddy tidak sayang Zel, Daddy sayang sekali pada Zel dan kakak Aiden" ucap Ziga.
"Daddy tidak bohong?" tanya Zeline lagi.
"Tentu tidak sayang, sekarang Zel jangan menangis lagi" ucap Ziga.
"Sebentar Daddy pulang, kita akan masak bersama untuk Mom dan kakak" tambah Ziga.
"Ok Dad" jawab Zeline semangat, dia dengan segera melupakan kesedihannya.
Setelah mengakhiri panggilan Zeline, Ziga langsung menemui Erik, dia memerintahkan Erik untuk mengurus kepulangan Aiden nanti. Dia sendiri bergegas ke rumah Via menggunakan taxi untuk menepati janjinya membuat makanan bersama Zeline.
Setelah cukup lama terlelap Leea pun akhirnya membuka matanya, dia terkejut mendapati dirinya tertidur di sofa, seingatnya semalam dia tidur di kursi yang terletak di sebelah ranjang Aiden. Kini ketika terbangun dia berada di sofa lengkap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Pagi Mom" sapa Aiden yang rupanya telah lebih dulu terbangun.
"Pagi sayang, bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Leea sembari menyentuh kening Aiden untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Setelah memastikan Aiden tak lagi demam, Leea baru bisa bernafas dengan lega.
"Tadi malam Daddy datang" ucap Aiden.
"Benarkah?" tanya Leea.
"Iya, sewaktu Mom sudah tidur Daddy datang" jawab Aiden
"Mungkin Ziga yang telah memindahkanku ke sofa" fikir Leea.
"Mom, Daddy bilang harus bicara pada Mom jika ingin Daddy tinggal bersama kita" ucap Aiden yang masih berharap mereka dapat tinggal bersama.
Leea terdiam, mungkin dia memang harus bicara empat mata dengan Ziga untuk membahas keinginan anak anaknya.
"Kita bicarakan nanti setelah Aiden keluar dari rumah sakit ya sayang" jawab Leea.
Dia sendiri sebenarnya masih bingung bagaimana solusi untuk masalah ini. Di satu sisi dia tidak ingin mengecewakan buah hatinya tapi di sisi lain dia juga belum dapat memaafkan dan menerima Ziga kembali.