NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:779k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

SURAT PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA. Tangannya membeku.

“Apa… ini, pak?” tanya Radit pelan yang suaranya nyaris tidak keluar dan membuat direktur itu menautkan jemarinya di atas meja.

“Mulai hari ini,” ucapnya tegas, “Anda resmi diberhentikan dari posisi Anda sebagai dokter di rumah sakit ini.”

Radit mendongak dengan mata membelalak.

“Apa maksud Bapak?” suaranya meninggi. “Ini tidak benar-benar masuk akal.”

“Keputusan ini sudah final,” lanjut direktur itu tanpa emosi. “Dan berlaku efektif mulai sekarang.”

Radit tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana.

“Pak, ini pasti ada kesalahan,” katanya cepat. “Saya tidak pernah mendapat peringatan. Tidak pernah ada evaluasi buruk. Kinerja saya—”

“Kinerja medis Anda memang baik,” potong direktur itu dengan nada dingin. “Tapi keputusan ini tidak hanya didasarkan pada satu aspek.”

Radit bangkit dari kursinya setengah berdiri, tangannya mencengkeram surat itu dengan erat.

“Kalau begitu jelaskan,” katanya tajam. “Saya berhak tahu alasan saya dipecat.”

Direktur itu menatapnya lama, lalu berkata dengan nada datar,

“Alasan tertulis sudah ada di surat itu.”

Radit menunduk lagi, membaca cepat isi surat tersebut. Kata-kata di sana terasa kabur, berputar, sulit ia cerna. Ia membaca berulang kali, berharap ada kalimat yang berubah. Namun tidak ada.

“Bapak tidak bisa melakukan ini pada saya!” katanya dengan suara bergetar. “Saya dokter di sini. Saya punya kontrak.”

“Kontrak Anda sudah diputus,” jawab direktur itu singkat. “Sesuai prosedur.”

Radit menggeleng keras.

“Ini tidak adil.”

“Dunia memang tidak selalu adil, Dokter Radit,” ucap direktur itu tenang. “Silakan selesaikan administrasi Anda hari ini. Mulai sekarang dan seterusnya, Anda tidak diperkenankan masuk ke area rumah sakit ini lagi.”

Radit berdiri sepenuhnya sekarang. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar hebat.

“Ini… ini tidak mungkin,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Radit masih berdiri di tempatnya. Surat itu masih berada di tangannya, terlipat sedikit karena genggamannya terlalu kuat. Napasnya terdengar berat, tidak beraturan, seolah tubuhnya menolak menerima kenyataan yang baru saja dijatuhkan kepadanya begitu saja.

“Pak…” ucap Radit lagi yang kali ini dengan suara yang lebih rendah, nyaris terdengar seperti permohonan. “Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Saya yakin ada jalan keluarnya.”

Direktur rumah sakit menatap Radit tanpa ekspresi. Tatapannya datar, dingin, dan sama sekali tidak menunjukkan niat untuk bernegosiasi.

“Saya sudah membicarakannya,” jawabnya singkat. “Dan keputusan ini bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru.”

Radit menggeleng keras, rambutnya sedikit berantakan.

“Tidak mungkin,” katanya, suaranya mulai meninggi. “Saya salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Jumlah pasien saya tinggi, tingkat keberhasilan saya—”

“Saya tahu semua itu,” potong direktur itu dengan tenang. “Saya juga tahu pencapaian yang dimiliki anda.”

“Kalau begitu?” Radit maju selangkah tanpa sadar. “Apa alasan sebenarnya, Pak? Saya layak mendapatkan penjelasan yang lebih masuk akal dari sekadar surat ini.”

Direktur itu menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Dokter Radit,” katanya dengan nada yang lebih tajam dari sebelumnya. “Anda seharusnya keluar dan meninggalkan rumah sakit ini.”

Radit tidak menurut. Dadanya naik turun dengan cepat.

“Saya tidak akan keluar dari ruangan ini sebelum Bapak membatalkan keputusan ini. Saya sudah mengorbankan banyak hal untuk rumah sakit ini.” ucap Radit dengan tegas dan membuat direktur rumah sakit itu menyipitkan matanya sedikit.

“Pengorbanan?” ulangnya pelan.

“Iya,” balas Radit dengan cepat. “Jam kerja yang saya miliki cukup panjang. Tekanan mental. Malam-malam tanpa tidur. Saya sudah membuktikan diri saya berkali-kali. Tidak semua dokter di sini bisa seperti saya.”

Nada itu—nada sombong yang selama ini menjadi bagian dari diri Radit akhirnya keluar tanpa bisa ia kendalikan. Dan itulah kesalahan pertamanya. Direktur rumah sakit itu tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Bukan senyum bangga. Melainkan senyum yang sarat ironi.

“Justru itu yang ingin saya sampaikan,” katanya pelan tapi menusuk. “Kau terlalu yakin pada dirimu sendiri, Dokter Radit.”

Radit terdiam sesaat.

“Apa maksud Bapak?”

“Jangan terlalu sombong dengan pencapaian yang tidak sepenuhnya kau bangun sendiri, Radit.” lanjut direktur itu dengan nada dingin.

Kalimat itu keluar begitu saja, namun dampaknya seperti pukulan keras ke wajah Radit.

“Apa maksud Bapak?” ulang Radit yang kali ini lebih pelan dan membuat direktur itu menatapnya lurus.

“Selama ini, kau menikmati hasil kerja keras orang lain dan mengakuinya sebagai milikmu sendiri.”

Wajah Radit berubah. Rahangnya mengeras.

“Itu tidak benar,” ucap Radit cepat. “Saya bekerja keras untuk berada di posisi ini.”

“Benarkah?” tanya direktur itu balik dan membuat Radit mengepalkan tangannya tanpa sadar.

“Saya dan manajemen rumah sakit ini sudah tahu,” lanjut direktur itu, nadanya kini lebih tegas, “bahwa Anda bisa diterima bekerja di sini bukan semata-mata karena kemampuan Anda.”

Radit menelan ludah.

“Kami tahu siapa yang membantu Anda,” kata direktur itu pelan. “Kami tahu siapa yang selama ini berada di belakang Anda.”

Ruangan itu terasa semakin sempit.

“Kami tahu tentang Arsy.”

Nama itu. Nama yang tidak pernah Radit duga akan disebut di ruangan ini.

“Apa hubungannya Arsy dengan semua ini?” bentak Radit dengan emosinya yang mulai tak terkendali dan membuat direktur itu tidak gentar sedikit pun.

“Hubungannya sangat besar,” jawabnya. “Kami tahu bahwa Arsy yang memasukkan kamu untuk bekerja di rumah sakit ini. Arsy yang membantu kamu mendapatkan kesempatan magang dan mendapatkan posisi tetap sebagai dokter di tempat ini. Arsy yang memastikan kamu bisa menyelesaikan pendidikan kamu tanpa terkendala finansial.”

Radit tertawa keras, ia tidak menyangka kalau atasannya itu malah memuji Arsy dibalik pencapaiannya.

“Itu urusan pribadi saya,” katanya sinis. “Dan itu tidak ada kaitannya dengan profesionalitas saya sebagai seorang dokter.”

“Justru di situlah masalahnya,” balas direktur itu. “Kau memanfaatkan seseorang yang mencintai anda, lalu berdiri di atas bantuan itu seolah-olah semuanya murni hasil kerja keras kami sendiri.”

“Cukup!” bentak Radit dengan keras.

Tangannya kini mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Otot-otot lengannya menegang. Wajahnya memerah oleh amarah yang selama ini terpendam.

“Saya tidak pernah meminta semua itu,” bantah Radit dengan suaranya bergetar. “Dia melakukannya sendiri.”

“Dan kamu menerimanya tanpa rasa bersalah,” balas direktur itu dengan tajam. “Lalu mengkhianatinya.”

Radit terdiam. Dadanya bergemuruh hebat.

“Semua orang di rumah sakit ini tahu,” lanjut direktur itu tanpa ampun. “Tentang pengkhianatan Anda. Tentang bagaimana kamu mempermainkan kepercayaan seseorang yang sudah mengorbankan segalanya demi Anda.”

Radit menggeleng keras.

“Kenapa bapak mempermasalahkan semua ini? Masalah saya bukan menjadi urusan rumah sakit!” seru Radit.

“Benar,” jawab direktur itu. “Tapi integritas seseorang selalu menjadi urusan nomor satu bagi kami.”

1
Meris
Syakil nmnya...di sambung ik, artinya tungau🤭
Najwa Najwa
thor cari kn mertua seperti itu🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bisa diatur kak, mau yang seperti apa mertuanya 🤭
total 1 replies
Ayla Anindiyafarisa
mereka disuruh buat cucu loh pa😅😅😅🤭
A.R
happy ending, kompliknx juga ringan
Asmainiati Pelis
mewek aku😭😭
Mamah Dini11
mau doong punya mantu kayak saykil , permisi thor mau menghayal dulu semoga hayalan nya berubah jadi nyata 😄😄😄😄😄😄😄😄
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: aamiin paling serius kak 🙏🤭
total 1 replies
Mamah Dini11
sabar arsy itu baru awal kmu tau , nanti lama2 kmu terbiasa , oky .
Mamah Dini11
semoga kmu betah di sana arsy bersama suami yg sangat mencintaimu , hiduplah dgn tenang nyaman damai arsy semoga tumah tanggamu di berkahi , dan bolehlah kali2 pulang ke indo menengok RS yg atas namamu , jgn lupa thor nadia juga gimana kbr nya sekatng , radit juga .
Mamah Dini11
alhmdulilah lanca saykil , semoga crpat tumbuh saykil junior 🤭🤭🤭🤭
Mamah Dini11
hai kaka2 ngintip yu....seru kayaknya , boleh gak /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mamah Dini11
jadi gerah niiiiiiii , ayo lanjut malpel nya🤭😄😄😄😄
Mamah Dini11
mandi dulu arsy sebelum tdr atau istirahat. apa gak lengket badanmu setelah resepsi tdi , maaf ya cuman ngingetin arsy 🤣🤣🤣🤣
Mamah Dini11
arsy seperti orang yg gk tau terimakasih kmu mh , walaupun blm ada cinta untuk saykil setidaknya hormati kebaikan nya , jauh2 datang ke indo buat lindungi kmu arsy , malah kmu mau pergi , untung omar tepat waktu , jgn biarkan arsy pergi omar terus jaga dia sbelum tuanmu bangun ,
Mamah Dini11
bener2 menyayat hati bab ini menguras air mata /Cry//Cry//Cry/dan emosi , keren ceritanya 👍👍 lanjut thor
Mamah Dini11
aduuuh harusnya saykil bawa radit keluar atau menjauh dari pasen ,bkn di dlm ruangan itu , ini urusan nya berat untuk arsy , apa arsy gk marah nanti nya sm saykil setelah mengetahui semuanya , pliiisss thor jgn sampai arsy salah paham sm saykil ya pliiiissss🙏🙏 , semoga smua kekacauan di ruangan itu cepat teratasi dn semua bisa. terkendalikan , aduh gerah thor dgn kelakuan si radit udh di kuasai amarah.
Mamah Dini11
kayaknya di sini tindakan saykil agak salah ni.. bkn nya baik2 saja tpiii bikin pak rahman droop gara2 serangan radit , ya pastilah arsy celingukan di tuduh gitu sm si radit karna arsy dlm hal ini gak tau menahu,, yg tau ini semua hanya saykil dn omar , aduhhh takutny nanti arsy salah paham sm saykil ,semoga pak rahman baik2 saja .
Mamah Dini11
bukan nya itu yg kmu tunggu2 saykil ,ayo itu kesempatanmu , ayo saykil jgn berpikir pakai lama ,ya mantapkn niatmu , kalau arsy mh pasti mau
Mamah Dini11
👍👍 buatmu saykil
Mamah Dini11
dukunganku untukmu saykil 👍👍 terus beri ke yakinan arsy sampai dia mengerti , semangat saykil 💪💪💪💪💪
Mamah Dini11
tenang arsy ada tuan tampan yg akan mnjaga kmu dn ayahmu , tampa kmu ketahui dulu , ayo saykil dampimgi otang yg kamu cintai slama ini , arsy butuh orang kuat di sampingnya dia sedang rapuh sekarang ,mungkin kmu saykil obat yg kuat buat arsy , semoga pak rahman cpat sadar dan cepat sembuh lgi .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!