NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Lontar Tua di Ruang Koleksi

Bayu tiba di Bandung pada pagi hari kedelapan setelah menempuh perjalanan malam dari Surabaya. Perjalanan dengan kereta memberinya waktu tidur dan memudahkan ia membawa salinan laporan Pak Wiryo.

Rumah keluarga Permata di Dago tidak sebesar rumah Wibowo, tetapi setiap sudutnya terasa dipilih dengan sengaja. Batik tua dibingkai di lorong, keramik tersusun menurut periode, dan aroma teh melati memenuhi ruang tamu.

Dewi Anggraeni Permata menyambut Bayu dengan senyum sopan.

"Riani bercerita banyak tentang acara lelang," katanya. "Saya kira Mas Bayu datang bersama rombongan perusahaan."

"Saya belum punya perusahaan, Bu Dewi."

Pandangan Dewi turun sesaat ke jam sederhana dan koper kecilnya. "Oh. Masih sendiri?"

"Untuk sekarang."

Riani muncul dari ruang makan. "Bunda, Papa mengundang Mas Bayu untuk melihat koleksi. Pertanyaan Bunda sudah seperti wawancara kredit."

"Bunda hanya bertanya."

Nada Dewi tetap lembut, tetapi Bayu memahami artinya. Di mata perempuan itu, kemampuan memilih batu belum sama dengan kestabilan hidup.

Tamu lain datang beberapa menit kemudian.

Kevin membawa kotak perhiasan berlapis beludru. Ia mengenakan setelan yang terlalu resmi untuk makan siang keluarga dan tersenyum seolah kekalahan di Surabaya tidak pernah terjadi.

"Bu Dewi, ini sedikit hadiah dari Jakarta," katanya.

Di dalam kotak terdapat kalung berlian dengan sertifikat dan nilai sekitar Rp500 juta.

"Aduh, Mas Kevin, ini terlalu besar," kata Dewi.

"Tidak ada yang terlalu besar untuk Riani."

Riani menerima kotak itu agar ibunya tidak semakin canggung, lalu meletakkannya di meja tanpa mencoba. "Terima kasih. Nanti kami bicarakan setelah acara."

Kevin duduk di sampingnya. "Gue juga ingin lihat koleksi Pak Haji. Siapa tahu ada yang butuh koneksi pembeli luar negeri."

Rachmat masuk dan langsung mempersilakan semua orang makan. Tidak ada minuman keras di meja. Teh, sari buah, dan air mineral disajikan bersama hidangan Sunda. Percakapan tetap sopan, tetapi Kevin berulang kali menyebut jaringan, harga, dan nama kolektor asing. Bayu lebih banyak mendengar.

Seusai makan, Rachmat membawa mereka ke ruang koleksi.

Ratusan benda memenuhi ruangan berpengatur kelembapan: Keris dari berbagai tangguh, keramik tua, peta kolonial, naskah, dan beberapa lontar yang disimpan mendatar dalam kotak khusus.

"Saya tidak meminta kamu menilai semuanya," kata Rachmat. "Saya hanya ingin tahu benda mana yang pantas diperiksa ulang."

Bayu berjalan perlahan. Ia tidak memindai seluruh ruangan sekaligus. Pengalaman sakit kepala mengajarinya disiplin. Ia memeriksa kelompok demi kelompok, menggabungkan cahaya emas dengan label koleksi dan kondisi fisik.

Sebuah kotak di rak bawah memancarkan cahaya yang membuat langkahnya berhenti.

Labelnya sederhana: Lontar ritual, Bali, abad ke-18, belum diterjemahkan.

Di dalamnya ada lembaran daun berwarna cokelat tua, berlubang dua, diikat longgar dengan tali baru. Tulisan pada permukaan jauh lebih rapat daripada lontar lain.

"Boleh saya lihat dengan sarung tangan?"

Rachmat mengangguk dan memanggil penjaga koleksi.

Bayu tidak membuka ikatan sendiri. Setelah kotak diletakkan di meja, ia mengamati serat daun, pola kerusakan pada lubang tali, bentuk aksara, dan bekas jelaga pelindung tulisan.

Pandangan Tembus menunjukkan usia serat yang merata sampai bagian dalam. Tidak ada daun muda yang sengaja diwarnai dari luar. Beberapa lembar pernah disalin ulang pada masa sangat lama, tetapi keseluruhan material jauh lebih tua daripada label abad ke-18.

Dalam ingatannya muncul puluhan foto aksara Kawi dari katalog digital. Bentuk ka, ga, dan tanda vokalnya cocok dengan tradisi awal. Aksara Bali modern memiliki susunan yang berbeda.

"Labelnya kemungkinan salah," kata Bayu.

Kevin mendengus. "Lagi-lagi harta tersembunyi? Semua barang yang dilihat lo tiba-tiba miliaran."

"Kalau barang ini biasa, alasan saya akan mudah dibantah."

Bayu menjelaskan usia serat, bentuk lubang yang aus karena ikatan lama, perbedaan aksara, dan urutan penyalinan. Rachmat mendengarkan tanpa memotong.

"Perkiraanmu?" tanya Riani.

"Naskah abad kesembilan atau kesepuluh. Mungkin salah satu salinan awal teks Nusantara yang masih bertahan. Tapi filolog dan konservator harus memeriksa."

Rachmat segera menghubungi Pak Wiryo melalui video. Kamera diarahkan pada beberapa lembar tanpa mendekatkan cahaya panas. Pak Wiryo meminta pembesaran aksara, tepi daun, lubang pengikat, dan kotak lama tempat benda itu sebelumnya disimpan.

Suara lelaki tua itu mulai bergetar.

"Ini bisa menjadi penemuan penting untuk arkeologi dan filologi Indonesia. Jangan buka semua lembar. Jangan mengoleskan minyak apa pun. Panggil konservator naskah."

Rachmat langsung meminta penjaga koleksi mencatat suhu dan kelembapan ruangan. Kotak dipindahkan ke lemari datar karena brankas logam terlalu kering. Setiap orang yang telah memegangnya dicatat dalam log sementara.

"Saya belum mengesahkan usia lewat video," tegas Pak Wiryo. "Besok saya kirim daftar konservator dan ahli aksara Kawi. Kita perlu analisis serat, perbandingan paleografi, serta dokumentasi setiap lembar. Sampai itu selesai, statusnya tetap dugaan penting."

Bayu menyukai ketegasan itu. Bahkan ketika hasil akhirnya hampir pasti di matanya, cara paling aman melindungi benda tersebut adalah membiarkan bukti berjalan lebih dulu daripada berita.

Riani mematikan notifikasi ponselnya. "Tidak ada foto yang keluar dari rumah. Staf akan menandatangani catatan kerahasiaan sampai tim ahli datang."

"Nilai pasarnya?" tanya Dewi, yang kini berdiri di pintu.

"Di atas tiga belas miliar, mungkin jauh lebih tinggi. Tapi jika usia itu benar, negara harus dilibatkan dalam pencatatan dan perlindungannya."

Dewi menatap Bayu dengan cara yang berbeda.

Rachmat bertanya, "Berapa bagianmu untuk penemuan ini?"

"Tidak ada. Lontar itu sudah milik Pak Haji sebelum saya masuk ruangan. Saya hanya menunjukkan label yang perlu diperiksa. Gunakan uangnya untuk konservasi, dokumentasi, dan akses penelitian."

"Kamu bisa meminta jasa penilaian."

"Bapak tidak pernah menyepakati biaya sebelum saya melihatnya. Saya tidak akan membuat tagihan setelah tahu angkanya besar."

Kevin mengambil kotak berlian dari meja samping. "Kalau semua hal harus gratis, orang tidak akan pernah naik kelas."

Bayu memandangnya. "Gratis dan tidak berhak itu berbeda."

Rachmat menutup kotak lontar, lalu mengambil kotak berlian Kevin. Ia menyerahkannya kembali.

"Mas Kevin, hadiah sebesar ini saya kembalikan. Hari ini saya sudah mendapat sesuatu yang jauh lebih berharga. Saya tidak ingin perhatian keluarga kami diukur dengan harga perhiasan."

Wajah Kevin memucat. Ia menerima kotak itu karena tidak punya pilihan.

Riani berdiri di sisi ayahnya. "Terima kasih sudah mengerti."

Kevin menatap Bayu, tetapi tidak menemukan satu kalimat yang dapat mengubah naskah tua menjadi palsu atau mengembalikan kalung ke meja. Ia pamit lebih cepat daripada tamu lain.

Setelah mobil Kevin pergi, Dewi menghampiri Bayu.

"Mas Bayu belum makan pencuci mulut. Saya minta dapur membungkus untuk perjalanan."

Sikapnya belum menjadi hangat, tetapi pertanyaannya tak lagi menyentuh pekerjaan atau kestabilan hidup.

Di teras, Rachmat menggenggam tangan Bayu dengan dua tangan.

"Mata seperti punyamu, Nak, akan dicari banyak orang," katanya. "Yang baik karena butuh pertolongan. Yang jahat karena takut rahasianya terlihat."

Bayu memandang pintu ruang koleksi yang sudah dikunci kembali.

Peringatan itu tidak terdengar seperti pujian.

Ia terdengar seperti ramalan tentang masalah yang sedang berjalan mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!