NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata Bertemu Mata di Ruang Sidang

​Ketegangan di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hari itu terasa begitu pekat, seolah bisa diiris dengan pisau.

​Udara pendingin ruangan terasa tidak berfungsi menghadapi hawa panas dari ratusan manusia yang berjejal. Barisan kursi kayu panjang dipenuhi oleh wartawan dari berbagai stasiun televisi, aparat kepolisian berpakaian preman, serta para pengunjung sidang yang wajahnya tegang. Di luar gedung, demonstran berteriak menggunakan pengeras suara, menuntut hukuman mati bagi koruptor dan mafia yang telah merugikan negara.

​Di depan mimbar kehormatan, Aluna duduk di kursi Hakim Ketua. Ia mengenakan toga hitam kebesarannya dengan emblem merah di dada kirinya. Wajahnya lurus, dingin, dan memancarkan otoritas mutlak. Palu kayu jati tergeletak di samping tangan kanannya, siap dijatuhkan kapan saja.

​Di kursi terdakwa, duduk seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang tampak terus berkeringat dingin. Ia adalah bawahan dari sindikat Baskara, tertangkap tangan menyelundupkan miliaran rupiah dana ilegal.

​Sidang baru berjalan empat puluh lima menit. Jaksa Penuntut Umum baru saja mulai membacakan daftar panjang dakwaan ketika kejanggalan pertama terjadi.

​Klik.

​Lampu-lampu gantung kristal di langit-langit ruang sidang tiba-tiba berkedip, lalu padam total. Suara dengungan mikrofon mati seketika, meninggalkan ruangan besar itu dalam keheningan yang membingungkan selama tiga detik. Cahaya hanya berasal dari celah sempit ventilasi di atas jendela yang tertutup tirai tebal.

​"Harap tenang!" seru Aluna, suaranya lantang memecah kepanikan yang mulai merayap di antara pengunjung. "Petugas keamanan, tolong periksa generator listrik—"

​BUM!

​Belum sempat Aluna menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan keras mengguncang pintu utama ruang sidang dari luar. Daun pintu kayu jati setebal lima sentimeter itu jebol, terlempar ke dalam bersamaan dengan kepulan asap kelabu yang sangat pekat. Asap itu memiliki bau belerang dan amonia yang langsung membakar tenggorokan. Gas air mata.

​Kepanikan meledak. Ruang sidang berubah menjadi neraka.

​Pengunjung berteriak histeris, berlarian menabrak kursi kayu demi mencari jalan keluar. Wartawan tiarap sambil melindungi kamera mereka. Petugas kepolisian yang berjaga langsung mencabut senjata api mereka, berteriak memberi komando yang kalah oleh suara jeritan.

​Aluna tidak menjerit. Ia adalah putri seorang perwira intelijen; saat krisis terjadi, naluri pertahanan dirinya mengambil alih kepanikan.

​"Risa! Tiarap dan merangkak ke pintu darurat di belakang mimbar!" perintah Aluna sambil menarik kerah seragam panitera asistennya itu agar merunduk di balik meja hakim yang kokoh.

​Di tengah kabut asap, beberapa sosok berpakaian hitam taktis, mengenakan rompi anti peluru dan masker penutup wajah, merangsek masuk ke ruang sidang. Mereka bergerak dengan efisiensi mematikan layaknya pasukan militer terlatih. Terdengar rentetan tembakan ke udara, memaksa aparat kepolisian untuk berlindung dan tidak berani mengambil risiko peluru nyasar mengenai warga sipil.

​Target mereka jelas: pria tambun di kursi terdakwa.

​Dua orang bertopeng menyambar terdakwa yang sedang meringkuk ketakutan, menyeretnya dengan kasar ke arah pintu. Ini bukan upaya penyelamatan; dari cara mereka memiting leher terdakwa, ini adalah sebuah penculikan untuk membungkam saksi.

​Aluna, yang masih bersembunyi di balik mimbar hakim, mengintip dari sela ukiran kayu. Ia harus memastikan pintu darurat di belakangnya aman untuk dilewati stafnya. Namun, tepat ketika ia hendak bangkit untuk memandu Risa, sebuah siluet tinggi besar muncul dari kepulan asap, melangkah pelan namun pasti ke arah mimbar hakim.

​Pria itu berbeda dari pasukan penyerang lainnya. Ia tidak membawa senapan serbu, melainkan berjalan dengan ketenangan absolut yang mengerikan. Ia mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku, rompi taktis, dan sebuah masker hitam yang menutupi hidung hingga dagu. Di tangannya, tergenggam sepucuk pistol Glock berwarna matte.

​Aluna mundur selangkah, jantungnya berpacu. Ia menoleh mencari Risa, memastikan asistennya sudah berhasil menyelinap keluar melalui celah pintu darurat. Kini, hanya tersisa Aluna di area mimbar.

​Pria itu melompati pagar pembatas kayu dengan gerakan yang luar biasa tangkas dan mendarat tepat di area mimbar.

​Aluna mundur, meraih pilar kayu bendera di dekatnya sebagai senjata darurat. Namun, gerakannya kalah cepat. Pria itu menerjang ke depan seperti macan kumbang. Tangan kirinya yang besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Aluna, sementara lengan kanannya melingkar kuat di pinggang sang hakim, menarik tubuh Aluna hingga membentur dada bidangnya yang keras oleh lapisan rompi anti peluru.

​Pistol di tangan pria itu terangkat, diarahkan ke arah pintu masuk darurat di mana dua anggota kepolisian baru saja muncul dengan senjata terhunus.

​"Mundur, atau kepala hakim ini berlubang!" teriak pria itu. Suaranya serak, rendah, dan bergema di balik maskernya.

​Polisi di seberang ruangan langsung membeku, menurunkan senjata mereka dengan raut wajah tegang. "Jangan lukai sandera! Kami mundur!"

​Aluna memberontak di dalam dekapan pria itu. Bau mesiu, keringat, dan... mint? Seketika tubuh Aluna menegang. Aroma itu. Ia mengenal aroma itu. Walaupun kini telah tertutup oleh bau asap dan bahaya, aroma itu adalah aroma yang sama dengan seragam basah seorang remaja laki-laki yang merosot di lantai perpustakaan sepuluh tahun yang lalu.

​Pria itu menarik Aluna mundur ke sudut paling gelap di belakang mimbar, mencari perlindungan dari bidikan sniper yang mungkin sudah berjaga di luar jendela. Tubuh mereka menempel rapat. Aluna bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdegup lambat dan teratur—detak jantung seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak merasa takut.

​"Lepaskan saya," desis Aluna, berusaha menjaga suaranya tetap penuh otoritas, meski lehernya terasa tercekik. Ia mendongak, mencoba melihat wajah penyekapnya.

​Pria itu menunduk menatap Aluna. Dalam jarak sedekat ini, di bawah sisa-sisa cahaya lampu darurat yang remang-remang, Aluna menatap sepasang mata di balik masker hitam itu.

​Mata hitam yang kelam. Tajam, berbahaya, namun memiliki kedalaman yang hanya diketahui oleh satu orang di dunia ini.

​Tangan pria itu bergerak ke atas, menarik masker hitam yang menutupi wajahnya hingga ke bawah dagu. Ia butuh lebih banyak oksigen di tengah asap gas air mata.

​Wajah itu terekspos.

​Rahangnya jauh lebih tegas dan tajam dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kulitnya sedikit lebih gelap, dan ada sebuah bekas luka sayat tipis memanjang di pelipis kirinya. Namun, itu adalah wajah yang sama. Wajah yang menghantui setiap malam sepi Aluna. Wajah yang membuat sang Palu Es menolak cinta dari semua pria di dunia ini.

​Arjuna Wiraya.

​Aluna berhenti memberontak. Seluruh otot di tubuhnya lemas, napasnya seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Toga hakim yang ia kenakan terasa begitu berat, tidak mampu melindunginya dari kenyataan yang menampar wajahnya.

​"Ar... juna?" bisik Aluna, suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

​Arjuna membalas tatapan Aluna. Tidak ada cengiran konyol di bibirnya. Tidak ada kehangatan yang dulu selalu memancar saat menatap gadis itu. Mata Arjuna dingin, sedingin dasar lautan yang tidak pernah tersentuh sinar matahari.

​Pemuda bodoh dari masa lalunya itu telah mati. Yang berdiri mendekapnya saat ini adalah "Baskara", sang ketua sindikat buronan paling dicari di negara ini. Monster yang tangannya berlumuran dosa.

​Tangan Arjuna yang memegang senjata tidak gemetar sedikit pun. Ibu jarinya membelai lembut rahang Aluna yang menegang, sebuah sentuhan yang terasa seperti duri mawar yang beracun.

​"Lama tidak bertemu, Ratu Buku," bisik Arjuna tepat di telinga Aluna, suaranya sedalam jurang. "Mulai sekarang, berpura-puralah kau tidak pernah mengenalku. Karena jika kau membuka mulutmu..."

​Arjuna menghentikan kalimatnya, menatap lurus ke dalam bola mata Aluna yang berkaca-kaca oleh keterkejutan dan gas air mata.

​"...aku tidak akan segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

​Bumi seolah berhenti berputar bagi Aluna Larasati. Palu keadilannya telah retak, hancur oleh kebenaran paling menyakitkan yang tak pernah tertulis dalam buku hukum mana pun: bahwa pria yang paling ia cintai, adalah iblis yang harus ia hukum mati.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!