NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Di dalam ruang rektor yang ber-AC, atmosfer terasa begitu mencekam. Rektor kampus duduk di balik meja besarnya dengan wajah sangat serius, sementara di sofa sudut ruangan, Pak Danu sudah duduk lebih dulu dengan rahang yang mengeras menahan amarah yang meledak-ledak.

Ternyata, rahasia balap liar malam lalu yang menorehkan kemenangan besar bagi Bara berbuntut panjang. Salah satu teman satu gengnya yang mengemudikan mobil sport lain dalam konvoi malam itu, kehilangan kendali saat melarikan diri dari kejaran aparat dan menabrak seorang mahasiswa hingga cedera cukup parah.

Korban yang mengenali mobil-mobil sport mewah kelompok Bara langsung melapor ke pihak kampus lengkap dengan bukti rekaman amatir.

"Ini pelanggaran berat, Bara Adikara!" bentak Pak Danu, suaranya menggelegar memenuhi ruangan bahkan sebelum Rektor sempat membuka suara.

Pria paruh baya itu berdiri dari duduknya, menunjuk wajah Bara dengan telunjuk yang bergetar. "Balap liar? Taruhan ratusan juta? Apakah ini kelakuan anak dari keluarga Adikara?! Kamu tidak hanya mempermalukan dirimu sendiri, tapi kamu juga mencoreng nama baik perusahaan dan nama baikku!"

Mendengar itu, Bara hanya berdiri tegak di tengah ruangan. Kedua tangannya bersarang dengan santai di dalam saku celananya. Wajahnya datar sempurna, tatapannya kosong, dan ekspresinya begitu cuek seolah amarah sang ayah tak lebih dari sekadar dengungan lalat.

Sikap apatis dan meremehkan yang ditunjukkan Bara justru menjadi pemantik yang membakar habis sisa kesabaran Pak Danu. Didorong oleh rasa malu yang teramat sangat di hadapan Rektor kampus, Pak Danu melangkah lebar mendekati Bara.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Bara. Suara hantaman kulit itu menggema begitu nyaring di dalam ruangan yang sunyi. Kekuatan tamparan itu cukup besar hingga membuat wajah Bara tertoleh ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang perlahan naik di kulit rahangnya yang tegas.

Meski begitu, Bara tetap berdiri tegak. Ia tidak meringis, tidak juga memegang pipinya. Ia hanya perlahan memutar kembali kepalanya, menatap Pak Danu dengan sorot mata yang teramat gelap, dingin, dan penuh dengan kebencian yang terpendam selama bertahun-tahun.

Di luar ruangan, pintu rektorat yang sedikit renggang memperlihatkan beberapa pasang mata mahasiswa yang sedang melintas dan berbisik-bisik menyaksikan adegan memalukan itu. Dan di antara kerumunan kecil di koridor remang tersebut, Andrea berdiri membeku di balik pilar.

Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar dengan air mata yang seketika menggenang. Menyaksikan pria sempurna yang selalu tampak berkuasa dan tak terkalahkan itu ditampar di depan umum membuat dada Andrea mendadak sesak oleh rasa sakit yang asing.

Peristiwa tamparan di rektorat itu menorehkan luka yang teramat dalam pada diri Bara. Jiwa dominannya berontak. Malam itu, ia memilih untuk melarikan diri dari kenyataan dan menenggelamkan diri di dalam VIP lounge sebuah klub malam elit kota.

Dentuman musik yang memekakkan telinga dan kerlip lampu neon yang liar menjadi latar belakang frustrasinya. Di atas meja kaca, botol-botol wiski mahal berjejer. Bara menenggak cairan keras itu dari gelasnya, satu demi satu, mencoba membakar rasa hina dan amarah yang bergejolak di dalam dadanya.

"Tenang, Bar. Jangan dipikirkan. Orang tuamu hanya sedang emosi," ujar Mike, mencoba menepuk bahu sahabatnya.

"Diam, Mike," sahut Bara parau. Suaranya rendah namun penuh ancaman. Pemuda itu sudah setengah mabuk, namun kilat berbahaya di matanya tidak meredup sedikit pun.

Suasana semakin memanas ketika beberapa pria dari meja sebelah yang mengenali Bara sebagai pembalap mulai melontarkan sindiran sinis tentang kejadian di kampus tadi siang. Rasa frustrasi, alkohol yang membakar darah, dan ego yang terluka membuat sumbu sabar Bara habis seketika.

Tanpa banyak bicara, Bara bangkit dari sofanya dan langsung melayangkan satu pukulan mentah ke rahang pria yang menyindirnya. Baku hantam pun tak bisa dihindarkan.

Suara pecahan botol, teriakan histeris wanita, dan hantaman fisik riuh memenuhi ruangan. Bara bertarung layaknya monster kesurupan. Ia tidak peduli pada pukulan yang mengenai tubuhnya, ia hanya ingin melampiaskan seluruh rasa sakitnya.

Hampir pukul tiga pagi ketika mobil taksi berhenti di depan gerbang rumah megah Adikara. Hujan gerimis sisa sore tadi masih menyisakan hawa dingin yang menusuk kulit.

Bara turun dari mobil dengan langkah yang sempoyongan. Kemeja hitamnya kini robek di bagian bahu, sudut bibirnya meneteskan darah segar, dan ada memar kebiruan di rahang kanannya. Ia berjalan terseok-seok, memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat hantaman. Di bawah siraman lampu teras yang remang, sosok sempurnanya malam ini tampak hancur dan berantakan.

Ia yakin tidak akan ada satu orang pun yang peduli padanya di rumah terkutuk ini. Ayahnya pasti sedang mendengkur nyaman di samping Selina, menikmati sisa-sisa harta ibunya.

Bara mengulurkan tangannya yang gemetar, mendorong pintu utama rumah yang ternyata tidak dikunci sepenuhnya. Namun, begitu pintu terbuka dan kakinya melangkah masuk ke dalam kehangatan ruang tengah yang sunyi, langkah sempoyongannya mendadak terhenti.

Di sana, tepat di depan sekat ruang tamu, seorang gadis sedang duduk memeluk lututnya di atas sofa dengan lampu meja yang menyala temaram. Andrea. Gadis itu belum tidur. Raut wajahnya tampak sedih, dan matanya sembab seperti habis menangis berjam-jam.

Mendengar suara pintu dibuka, Andrea langsung tersentak dan berdiri. Begitu matanya menangkap sosok Bara yang berdiri dengan tubuh penuh luka, pakaian robek, dan bau alkohol yang menyengat, air mata Andrea spontan luruh kembali.

"Kak Bara .... " lirih Andrea dengan suara tertahan. Ia langsung berlari menghampiri Bara yang hampir kehilangan keseimbangan.

Bara tidak sempat menghindar ketika tubuh Andrea dengan sigap menahan lengan kekarnya, menyangga bobot tubuhnya yang limbung agar tidak jatuh ke lantai marmer yang dingin. Sentuhan lembut dan aroma vanilla dari tubuh Andrea seketika menyeruak di antara bau pekat alkohol dan darah, mengirimkan gelenyar aneh yang menenangkan sekaligus membakar dada Bara di tengah malam yang sunyi itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!