Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Baru
Santi tertidur dengan lelap karena kelelahan mengurus Kasih yang benar ekstra butuh perhatian. Apalagi Santi merawatnya tanpa bantuan seorang baby sister.
Sementara itu, Hendra masih sibuk scroll sosmed di HP—nya.
ia mematikan lampu kamar, dan meninggalkan satu lampu tidur berwarna kuning.
Mendadak suhu kamar turun drastis hingga lima derajat.
Hendra merasakan tubuhnya menggigil. Kemudian menarik selimutnya.
Saat bersamaan, terdengar suara yang berasal dari bawah.
Kretek!
Suara yang mirip dengan kuku mencakar di atas lantai keramik.
Hendra meletakkan ponselnya diatas meja nakas.
Ia merasakan jika kamarnya berubah dengan tiba-tiba.
Dimana dindingnya terbuat dari batu berwarna hitam dan basah. Serta menebarkan aroma amis yang menyengat.
Sementara itu, lantai kamarnya juga berubah menjadi pasir hitam.
Saat bersamaan, satu sosok mengerikan muncul diujung ranjang. Kepalanya di penuhi oleh kalajengking berukuran kecil dalam jumlah ratusan.
Tangannya memiliki capit sebesar tempayan. Sedangkan ekornya yang menjadi penyengat sepanjang tiga meter hingga menyentuh langit-langit kamar.
Tubuhnya dari pinggang ke atas sixpack, tetapi memiliki wajahnya sangat menyeramkan. Dua matanya merah menyala. Gigi taring mencuat dari sudut bibirnya.
Sosok itu menatap ke arah Hendra dengan tajam.
Suaranya sangat serak, dan bukan suara manusia, melainkan ribuan kalajengking yang sedang mendesis.
"Kau....: ucapnya dengan suara yang menggema.
"Jangan mencoba untuk menyentuh permaisuriku..."
Saat bersamaan, salah satu Kalajengking di kepala sosok itu turun dan merayap ke pipi Hendra, dan terasa cukup dingin.
“Jangan mencoba memyentuhnya...tidak ada satupun yang dapat merebutnya dariku,"
Hendra langsung menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, dengan bibir yang gemetar.
Ia ingin berteriak. Tetapi suranya tercekat di tenggorokan. Bahkan ia tak dapat menggerakkan tubuhnya. Seperti membeku.
"Aku adalah Raja kegelapan. Sejak ia dalam kandungan, aku sudah menyegelnya, dan jangan pernah mencoba untuk mendekatinya," ucap sosok itu dengan nada penuh penekanan.
Perlahan sosok itu berdiri dengan gerakan yang cukup lamban, tetapi mampu membuat Hendra hampir pingsan. Sebab bayangannya saja memenuhi ruangan.
"Jika kau berani menyentuhnya. Maka kau akan menyesal, dan kematian akan menunggumu!" ucapnya dengan penegasan. "Dia adalah permaisuriku... Tak siapapun boleh merebutnya!"
Sosok itu menyeringai. Dan akhirnya membuat Hendra berteriak kencang.
"Aaaaaaaa..."
Plaaak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Hendra, dan itu berhasil membangunkannya.
"Pa!"
Santi mengguncang bahu Hendra. Lampu langsung di nyalakan.
Tak!
Ruangan tampak terang. Dan kini terlihat Hendra yang berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi.
Hendra beranjak duduk. Napasnya terasa berat dan tersengal. Keringat dingin membasahi kaos putihnya.
“Mimpi... Papa mimpi buruk...”
“Sudah, papa minum dulu.” Santi bergegas menyodorkan air putih dalam gelas.
Hendra meneguknya hingga habis. Tangannya gemetar, dan matanya secara otomatis melirik ke arah box bayi.
Di sana Kasih masih tidur dengan nyenyaknya.
Akan tetapi selimutnya sedikit terbuka.
Sedangkan di bagian organ inti bayi itu...Tanda lahir berwarna biru tersebut tampak semakin membesar.
Kamu mimpi apa, Pak?" tanya Santi dengab rasa penasaran, sembari menyentuh pundak suaminya dengan lembut dan penuh kehangatan.
Saat Santi menyentuh Hendra. Kasih menggeliatkan tubuhnya, dan membuka matanya.
Hendra menatap mata bayi tersebut. Ia tersentak kaget, sebab Kasih memancarkan kecantikan yang luar biasa, dan itu membuat ia melupakan tentang mimpinya yang tadi sangat mengerikan.
"Papa mimpi apa?" tanya Santi sekali lagi.
Hendra menoleh ke arah sang istri. Kemudian menggelengkan kepalanya.. "Tidak ada apa-apa, Ma. Mungkin karena terlalu banyak nonton dracin," jawabnya dengan berkilah.
Kemudian ia beranjak dari ranjangnya, dan berjalan ke arah kamar mandi.
Hendra membasuh wajahnya. "Mungkin hanya mimpi," gumamnya. Ia berusaha menepis semuanya.
****
Tanpa terasa, Kasih sudah berusia lima bulan lamanya di asuh oleh Santi dan juga Hendra.
Kecantikannya semakin lama semakin kian terpancar. Seolah ia adalah bintang yang bersinar diantara gelapnya malam.
Kasih juga tidak rewel. Ia tumbuh dengan sangat baik. Santi sangat begitu menyayanginya.
Santi tak jemu-jemunya menatap bayinya. Hingga suara Hendra membuyarkannya.
“Sudah, tidur yuk.” ajak Hendra, sembari menyentuh pundaknya. “Besok kita akan urus aktenya, dan memasukkannya ke dalam KK kita. Kasih akan menjadi keluarga kuta yang baru.”
Santi menganggukkan kepalanya. Dan memilih untuk tidur, sebab setiap empat jam sekali, ia harua terbangun untuk membuat susu formula bagi sang bayi kesayangannya.
Santi yang kelelahan mengurus Kasih, perlahan terlelap dalam tidur nyenyak dan membalut mimpinya.
Sedangkan Hendra masih sibuk dengan ponsel pintarnya.
Lampu kamar dimatikan dan terlihat remang-remang. Dan yang tertinggal hanya lampu tidur berwarna kuning.
Saat bersamaan, tiba-tiba saja suhu udara di dalam ruangan kamar mendadak turun sangat drastis hingga lima derajat.
Hendra menggigil kedinginan. Ia menarik selimutnya.
Sssshhss!
Terdengar suara desis yang cukup membuat bulu kuduk meremang. Hendra mengusap tengkuknya. Ia merasa jika mendengar suara dari dalam boks bayi.
Akan tetapi, ia mengabaikannya. Seba merasa jika hanya sedang berhalusinasi.
Sementara itu, satu sosok mengerikan keluar dari organ inti milik sang bayi. Malam ini adalah malam Jum'at Kliwon.
Kretek!
Terdengar seperti suara kuku yang menggaruk di lantai keramik.
Hendra mengerutkan keningnya. Ia menghentikan sejenak scroll nya di layar ponsel.
Dalam samar dan keremangan cahaya lampu tidur, ia merasakan jika kamarnya mendadak berubah.
Dindingnya bukan lagi berwarna cat cream. Tetapi menjadi dinding batu berwana hitam dan basah. Ia seolah sedang berada di dalam goa.
Lantainya berubah menjadi pasir. Udara mendadak berbau amis dan juga kemenyan.
Di ujung ranjang, duduk seorang pria yang tingginya hampir menyentuh langit-langit.
Di kepalanya terdapat ratusan anak kalajengking yang bergerak hidup, dengan sengatnya yang naik turun.
Matanya merah menyala. Bibirnya berwana hitam. Sedangkan tubuhnya tampak kekar dan dua taring yang mencuat dari sudut bibirnya. Ekornya sangat panjang, dan siap menjepit lawannya.
Sosok itu menoleh ke arah Hendra.
"Hah!" Hendra tersentak kaget. Ia melemparkan ponselnya begitu saja ke lantai.
Ia mengelurkan suara yang mendesis. Seolah seperti suara ribuan kalajengking yang sedang mendesis.
"Kau..." suaranya sangat serak. Dan membuat tubuh Hendra seperti kaku. Ia ingin berteriak, tetapi lidahnya terasa keluh.
"Kau jangan coba mengambil apa yang menjadi milikku..." desisnya. Dan saat bersamaan, salah satu kalajengking yang ada dikepalanya merayap turun dan kini sudah di pipi Hendra dengan tubuh yang cukup dingin.
"Aku sudah menunggu ini sejak tiga puluh tahun yang lalu... Dan ia adalah milikku, tidak ada satupun yang dapat merebutnya dariku,"
Hendra langsung menggigil ketakutan. Wajahnya pucat pasi, dengan bibir yang gemetar.
Ia ingin berteriak. Tetapi suranya tercekat di tenggorokan. Bahkan ia tak dapat menggerakkan tubuhnya. Seperti membeku.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )