Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Makan Malam
Restoran yang dipilih Evan berada di lantai atas sebuah gedung di Senopati.
Lampu kota Jakarta menyala di balik kaca besar, sementara di dalam ruang VIP hanya ada satu meja bundar, tiga kursi, dan pelayan yang keluar masuk tanpa suara. Evan memesankan menu terlalu banyak. Sup kepiting, ikan tim, tumis asparagus, daging sapi lada hitam, tahu telur asin, dan teh hangat dalam teko porselen.
Keira duduk di seberang Evan, map proyek terbuka di depan tangan. Reynard duduk di sampingnya dengan kursi roda, Rubik di pangkuan, wajah polos seperti ia hanya ikut makan.
Evan tidak bisa makan dengan tenang.
Setiap kali Reynard memutar Rubik lebih cepat, punggung Evan terasa lebih lurus.
"Jadi," kata Keira, "kalau kita bekerja sama, aku tidak ingin hanya menerima dana. Aku ingin kontrol kreatif tetap di tanganku."
Evan mengangguk cepat. "Tentu."
"Terlalu cepat."
"Maksudnya?"
"Investor yang terlalu cepat bilang tentu biasanya tidak mendengar detail."
Evan tertawa kering. "Aku mendengar."
Di bawah meja, sendok kecil di dekat piring Reynard bergeser pelan. Satu kali ke kanan.
Evan melihatnya dari sudut mata.
Jangan terlalu mudah.
Ia menegakkan badan, memasang wajah negosiator. "Baik. Kalau begitu aku perlu angka."
Keira tersenyum tipis. "Aku menawarkan skema tujuh puluh tiga puluh. Aku memegang tujuh puluh persen kontrol proyek dan keputusan kreatif. Kamu tiga puluh sebagai investor strategis."
"Tiga puluh saja?"
"Dengan hak prioritas untuk pendanaan proyek berikutnya kalau proyek pertama berhasil."
"Risikonya besar."
"Karena itu peluangnya juga besar."
Evan melirik Reynard. Garpu di tangan Reynard diketukkan sekali ke piring.
Naikkan sedikit tekanan.
Evan berdeham. "Aku bisa menerima tujuh puluh tiga puluh untuk proyek pertama, tapi untuk perusahaan, aku ingin ada saham khusus investor. Mungkin empat puluh persen dipegang pihak pendanaan."
Keira tidak langsung menolak. "Pihak pendanaan?"
"Aku dan satu teman."
"Teman siapa?"
"Teman yang suka investasi diam-diam."
Keira menatapnya lama. "Nama?"
"Belum bisa disebut. Tapi dananya bersih, legal, dan tidak ikut campur kreatif."
Reynard mengambil gelas, menunduk minum air seolah tidak mendengar apa-apa.
Keira memutar pulpen. "Aku tidak suka uang yang tidak punya wajah."
"Wajahnya tidak penting kalau tanda tangannya jelas di notaris."
"Aku ingin semua dokumen terbuka."
"Bisa."
"Tidak ada klausul yang membuatku kehilangan kendali kalau proyek pertama gagal."
"Bisa."
"Tidak ada hak veto atas casting."
Sendok kecil bergerak setengah sentimeter.
Evan hampir tersenyum. "Untuk casting utama, kita diskusikan. Tapi keputusan akhir tetap di kamu."
Keira menutup map. "Baik. Buat draft."
Evan menghela napas lega, terlalu lega sampai Keira menyipit.
"Kamu terlihat seperti baru lolos ujian."
"Negosiasi dengan perempuan pintar memang menegangkan."
Keira tidak langsung menutup map. Ia menambahkan satu catatan lagi dengan pulpen merah. "Aku juga ingin klausul perlindungan talent. Tidak ada kekerasan fisik di lokasi syuting yang disamarkan sebagai metode akting. Kalau ada investor atau aktor yang melanggar, kontraknya bisa diputus."
Evan tahu nama Tiffany tidak disebut, tetapi bayangannya duduk tepat di tengah meja.
"Setuju," katanya, kali ini tanpa menawar.
"Kamu yakin?"
"Aku baru kehilangan pacar karena masalah itu. Setidaknya biarkan aku terlihat belajar sesuatu."
Keira menatapnya, lalu akhirnya mengangguk. "Bagus."
Reynard tiba-tiba mengangkat kepala. "Kei pintar."
Keira menoleh, senyumnya melunak. "Terima kasih."
Evan melihat perubahan itu dan hampir ingin menepuk dahinya sendiri. Bro Rey di depan orang ini benar-benar bisa menjadi makhluk berbeda.
Saat makanan utama datang, ponsel Keira bergetar. Jess menelepon soal jadwal ulang pertemuan dengan Pak Leo. Keira meminta izin keluar sebentar agar tidak mengganggu.
Begitu pintu ruang VIP tertutup, Evan menurunkan suara. "Bro, kau serius?"
Reynard meletakkan Rubik di meja. Wajah polosnya menghilang tanpa sisa.
"Menurutmu?"
"Kau masuk perusahaan hiburan lewat namaku, membiarkan istrimu memegang kendali, lalu memintaku pura-pura menawar supaya dia merasa menang. Itu bukan gaya investasimu."
"Menemani istri." Reynard mengambil sumpit dengan tenang. "Kau tidak mengerti."
"Aku memang tidak menikah, tapi ini terdengar seperti kau sedang menyerahkan cek kosong."
Mata Reynard dingin. "Kalau dia ingin membakar uangku untuk membuat panggung sendiri, biarkan terbakar."
Evan menatapnya, lalu menggeleng pelan. "Kau sudah parah."
"Lebih baik daripada pacaran dengan Tiffany."
Evan tersedak teh. "Itu sudah selesai."
"Pastikan selesai."
"Selesai, Bro."
Pintu terbuka. Keira kembali masuk, dan dalam satu kedipan, Reynard kembali menunduk ke Rubik.
"Ada masalah?" tanya Keira.
"Tidak," jawab Evan cepat. "Kami hanya membicarakan cuaca."
Keira menatap langit malam di luar kaca. "Cuacanya cerah."
"Itu sebabnya pembicaraannya pendek."
Reynard diam, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Malam itu kerja sama belum ditandatangani, tetapi garis besarnya jelas. Keira pulang dengan catatan penuh dan kepala yang terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak skandal pernikahan, ia melihat jalan yang bukan sekadar balas dendam. Jalan itu punya nama, biaya, risiko, dan masa depan.
Namun begitu mobil memasuki Kediaman Liem, seorang pelayan sudah menunggu di depan Pavilion.
"Nyonya Muda, Nyonya Besar meminta Nyonya Muda ke ruang duduk utama."
Keira menatap Reynard. "Kamu tunggu di Pavilion."
Reynard memegang ujung lengan bajunya. "Kei?"
"Tidak lama."
Ia mengikuti pelayan ke bangunan utama. Christina duduk di ruang duduk dengan teh yang belum disentuh. Wajahnya rapi, dingin, seperti semua hal di rumah ini harus meminta izin sebelum berantakan.
"Keira," katanya. "Aku dengar kamu membawa Reynard keluar seharian."
"Saya membawanya ke studio dan makan malam."
"Tanpa izin."
Keira tersenyum tipis. "Saya tidak tahu membawa suami sendiri keluar perlu formulir."
Mata Christina menajam. "Jangan bermain kata. Kondisi Reynard tidak stabil. Dia tidak bisa dibawa ke tempat ramai seenaknya."
"Dia baik-baik saja."
"Kamu bukan dokter."
"Tante Tina juga bukan."
Ruangan menjadi dingin.
Christina meletakkan cangkir. "Mulai sekarang, jika ingin membawa Reynard keluar, lapor padaku lebih dulu. Kalau aku tidak mengizinkan, dia tetap di Pavilion."
Keira menatap perempuan itu. Di permukaan, alasan itu terdengar seperti perhatian. Namun setelah melihat bubur encer, dapur kosong, dan ketakutan Reynard saat berkata nanti Mama tahu, Keira sulit mempercayainya.
"Baik," katanya akhirnya.
Christina tampak puas. "Bagus. Kamu masih baru di keluarga ini. Belajarlah mengikuti aturan."
Keira berdiri, tetapi Christina belum selesai.
"Dan satu hal lagi. Jangan membawa masalah industri hiburanmu masuk ke rumah ini. Aku tidak ingin nama Liem terseret gosip murahan."
"Gosip itu sudah dimulai sebelum saya masuk rumah ini, Tante Tina."
"Karena kamu memilih memperbesar masalah."
Keira menatapnya. "Saya memilih tidak membiarkan orang menghina suami saya."
Christina tersenyum tipis, dingin. "Jangan terlalu cepat merasa menjadi penyelamat. Reynard bukan anak kecil yang bisa kamu bawa ke mana-mana untuk membuat dirimu terlihat mulia."
Kalimat itu membuat jari Keira menegang, tetapi suaranya tetap rata. "Kalau Tante Tina benar-benar percaya dia bukan anak kecil, seharusnya Tante tidak mengurungnya seperti itu."
Keira menunduk sopan, lalu keluar.
Di lorong, ia berhenti sebentar. Suara pelayan sudah jauh. Lampu dinding memantulkan bayangan panjang di lantai marmer.
"Mungkin sebaiknya kita pindah saja," gumamnya.
Di Pavilion, layar tablet Reynard menampilkan ruang duduk utama dari sudut kamera tersembunyi.
Jari-jarinya menggenggam Rubik perlahan.
Plastiknya berbunyi kecil di telapak tangannya.