NovelToon NovelToon
Selingkuh Demi Keturunan, Suamiku Akhirnya Menyesal

Selingkuh Demi Keturunan, Suamiku Akhirnya Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.

Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.

Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xena Hendak Membuka Hasil

"Kenapa kamu menghindar?" tanya Reyhan. Pertanyaan itu menyiratkan kecurigaan.

Beruntung diwaktu yang bersamaan, Xena menangkap eksistensi Nadine. Memanglah Nadine sedari tadi mengintip, lalu keluar disaat krusial dengan tujuan mengganggu. Hal itu justru sangat membantu Xena, dan akan dia manfaatkan sebagai alasan.

​Xena langsung melirik dengan ujung matanya ke arah belakang tubuh Reyhan, memberikan isyarat jawaban bahwa mereka tidak lagi berdua. Menyadari arah pandang istrinya, Reyhan pun menoleh. Ia menghela napas sembari melepaskan tangannya dari tengkuk Xena.

​"Oh..." gumam Reyhan pelan.

​Ternyata Xena menghindar karena ada Nadine yang baru saja datang membawa Aksara di gendongannya. Batin Reyhan begitu. Wajah Nadine seketika berubah, ia berpura-pura gugup dan menunduk dalam merasa bersalah karena telah mengganggu momen intim sepasang suami istri.

​"A-ah maaf, Mas, Mbak Xena. Saya tidak tahu kalau... saya permisi ke belakang dulu," ucap Nadine terbata-bata, bersiap memutar tubuhnya untuk kembali ke area dapur.

​"Nadine, tunggu," cegah Xena cepat. Bagi Xena ini adalah kesempatan kabur dari hadapan Reyhan.

​Xena segera bangkit dari sofa meninggalkan jarak yang cukup jauh dari Reyhan. Ia melangkah menghampiri Nadine dengan senyum ramah yang terkontrol rapi. Diambilnya tangan mungil Aksara, mengusapnya lembut.

​"Gak apa-apa, Nadine. Kebetulan sekali kamu ke sini, aku mau nanya-nanya soal persiapan acara syukuran besok malam. Sudah beres semuanya?"

​Xena sengaja membiarkan Reyhan duduk sendirian di sofa, memperhatikan kedua wanita itu berinteraksi dari kejauhan. Dari posisinya, Reyhan menopang dagu, menatap punggung Xena dan wajah menunduk Nadine bergantian. Pikirannya melayang sesaat.

​Kenapa akhir-akhir ini sulit sekali menyentuh Xena? batin Reyhan heran. Setiap kali ia mencoba mendekat atau meminta haknya, selalu ada saja pengalihan.

​Reyhan mengedikkan bahu dalam hati. Ah, entahlah. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Lagi pula ia tidak terlalu ambil pusing. Toh, kebutuhan biologis dan ego kelaki-lakiannya selama ini sudah tersalurkan dengan baik bersama Nadine.

...***...

​Hari yang dijanjikan pun tiba. Sesuai dengan tuntutan Xena yang mendadak, mereka berdua pergi ke rumah klinik khusus kesuburan mutakhir di pusat kota untuk menjalani tes medis mendalam. Kali ini, tidak ada drama telepon darurat dari Nadine, tidak ada urusan kantor yang mendadak, ataupun alasan Reyhan untuk pergi meninggalkan klinik di tengah jalan. Semuanya berjalan mulus hingga akhir proses.

​Setelah melewati antrean, nama Xena dipanggil terlebih dahulu untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG) transvaginal dan pemeriksaan fisik luar oleh dokter spesialis. Reyhan duduk setia di kursi sebelah meja dokter, mendengarkan penjelasan dengan saksama.

​"Nah, Pak Reyhan, Bu Xena, bisa dilihat di layar monitor ini. Rahim Bu Xena sangat bersih. Ketebalan dinding rahimnya ideal, tidak ada kista, miom. Hasil pemeriksaan USG ini menunjukkan kondisi yang sangat bagus dan tidak ada masalah sama sekali."

​Reyhan mengangguk-angguk tenang mendengarkan penjelasan tersebut. Ia tidak terkejut. Pada pemeriksaan-pemeriksaan terdahulu pun, hasil USG Xena memang selalu dinyatakan bagus. Akan tetapi di hasil laboratorium mendalam dan analisis hormonal lah yang biasanya selalu menunjukkan indikasi. Begitu setidaknya yang diberitahu Xena saat itu.

​"Baik, Dok. Lalu untuk langkah selanjutnya bagaimana?" tanya Reyhan sopan.

​"Setelah ini kalian berdua harus menjalani serangkaian tes laboratorium yang komprehensif. Ibu Xena akan melakukan tes darah untuk melihat kadar hormon reproduksi secara mendetail, dan Bapak Reyhan harus melakukan analisis sperma untuk mengecek kualitas serta kuantitas selnya. Silahkan bapak dan ibu naik ke lantai dua." jelas dokter.

​Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang laboratorium yang terletak di lantai dua. Di depan pintu ruang khusus pria, Reyhan menerima sebuah wadah steril kecil dari petugas medis. Sebelum melangkah masuk, ia melirik Xena dengan senyum nakal.

​"Bantuin dong di dalam, Sayang, biar cepat," bisik Reyhan menggoda sembari menyenggol lengan istrinya.

​Xena langsung membalas dengan kikikan kecil yang terdengar manja, sebuah akting luar biasa yang mengaburkan rasa muak di hatinya. "Gak ah, males. Nanti kalau dibantu malah jadi lama urusannya. Sana masuk sendiri."

​Reyhan tertawa kecil lalu masuk ke dalam ruangan khusus tersebut, sementara Xena berjalan ke ruang sebelah untuk diambil sampel darahnya.

​Setelah seluruh rangkaian tes laboratorium selesai, mereka kembali ke meja administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Petugas administrasi menjelaskan bahwa hasil analisis laboratorium yang komprehensif ini tidak bisa langsung keluar dan harus menunggu beberapa jam.

​"Hasilnya kemungkinan besar baru akan keluar nanti malam. Nanti hasilnya akan dikirimkan secara otomatis via dokumen digital. Mohon maaf, mau dikirimkan ke alamat email yang mana, ya?" tanya petugas tersebut dengan ramah.

​Xena langsung menyebutkan sebuah alamat email dimana email tersebut passwordnya diketahui baik Xena maupun Reyhan agar bisa dilihat keduanya.

"Baik. Nanti konfirmasi dokter untuk penjelasan lebih detailnya ya, Bu, Pak."

"Iya, terimakasih atas informasinya." Jawab Xena.

"Sama-sama."

​Di dalam benaknya, Reyhan sama sekali tidak merasa cemas atau takut. Mengapa harus takut? Ia sudah memiliki bukti berupa Aksara. Baginya tes kecebong ini hanyalah formalitas belaka untuk menyenangkan hati Xena yang malang karena belum bisa memberikannya keturunan. Ia merasa tubuhnya sangat sehat dan perkasa.

​Sebaliknya, di balik ketenangannya, jantung Xena berdegup kencang karena rasa tidak sabar. Ia menantikan hasil itu seolah-olah itu seolah-olah hasil tersebut adalah bom waktu.

​Mereka akhirnya tiba kembali di rumah menjelang sore hari. Suasana di halaman dan dalam rumah sudah sangat ramai dan rapi. Tenda besar bernuansa putih telah berdiri kokoh, kursi-kursi telah tersusun, dan aroma masakan dari para tetangga dan kerabat sudah menguar ke mana-mana. Keluarga besar dan kerabat dekat dari pihak Reyhan ternyata sudah berdatangan lebih awal untuk menghadiri acara syukuran Aksara.

​Ketika melangkah melewati pintu depan, Bu Mirna langsung menyambut mereka dengan wajah masam dan berkacak pinggang.

​"Loh, Reyhan! Xena! Punya acara syukuran anak sendiri kok malah ditinggal pergi seharian dari pagi? Ini tamu-tamu dan kerabat sudah pada datang, malah tuan rumahnya gak ada di tempat!" omel Bu Mirna.

​"Maaf, Bu. Tadi ada keperluan penting sebentar yang gak bisa ditunda," jawab Reyhan sekenanya tanpa menceritakan perihal tes kesuburan medis tersebut, karena ia tahu ibunya pasti akan menyalahkan Xena lagi jika tahu mereka pergi ke dokter kandungan.

​Xena yang baru saja datang bersama Reyhan langsung diabaikan oleh sang mertua. Sebaliknya, begitu Nadine keluar dari kamar dengan menggendong Aksara yang sudah berpakaian rapi dan tampan, Bu Mirna langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi luar biasa sumringah.

​"Aduh, cucu Nenek yang ganteng sudah siap! Sini sayang, sama Nenek," puji Bu Mirna.

​Tidak hanya Bu Mirna, beberapa kerabat dekat dan sepupu Reyhan yang duduk di ruang tamu pun langsung mengerumuni Nadine yang tengah menggendong Aksara.

​"Aksara nyaman sampai nempel banget sama Nadine. Nggak biasanya anak bayi seperti ini." Celetuk salah satu dari mereka.

​Nadine tersenyum malu-malu. Diperlakukan bak nyonya besar di hadapan keluarga besar Reyhan membuatnya merasa di atas angin.

​"Iya, betul sekali. Kalau bukan karena Nadine tetangga baik hati ini yang cekatan, acara syukuran hari ini pasti sudah keteteran. Oh iya, kenapa mesti pindah sih, Ndin?" Sahut Tante Rika, salah satu adik Bu Mirna. Xena begidik dalam hati, mendecih karena tante suaminya ini apa-apa kadang dibantuin sama Bu Mirna, yang mana uangnya berasal dari Xena.

"Kepengen pindah saja, Tante. Biar lebih dekat sama tempat kerja. Rumah yang baru kan lebih dekat sama kantor."

"Wahahaha, iya ya, kamu kan wanita karir ya. Hebat lah."

​Xena hanya diam menikmati mereka bicara. Betapa butanya keluarga ini.

​"Sudahlah, Jeng. Memang beda auranya kalau wanita karir yang sudah punya naluri keibuan alami dengan yang... ya, kamu tahu sendirilah," timpal Bu Mirna sembari menerima Aksara dari gendongan Nadine

"Nadine, kamu duduk di sini saja dekat Ibu. Kamu pasti capek dari pagi menyiapkan semuanya."

"Ah tidak apa-apa, Bu. Tidak terlalu capek kok."

Reyhan hanya diam. Laki-laki itu justru berjalan menuju sofa, ikut bergabung dalam lingkaran keluarga besarnya, lalu duduk tepat di sebelah Nadine yang kini melempar senyum tipis sarat kemenangan ke arah Xena. Bagi Reyhan, diamnya adalah cara teraman agar tidak memicu keributan di hari syukuran ini. Padahal ia tahu Xena sedang dibandingkan-bandingkan.

​Xena yang merasa muak tiba-tiba dapet notif. Ia buka ternyata email masuk. Wah, hasilnya sudah keluar ternyata. Xena menepi ke tempat yang sepi, dan ia mulai membuka lalu membacanya secara seksama.

Bersambung.

1
MULIANA 💦
aku juga gak sabar 🤭
MULIANA 💦
gak usah membandingkan bu. lah, ini pilihan ibu sendiri /Proud/
MULIANA 💦
mending jangan deh, jangan /Facepalm//Facepalm/
MULIANA 💦
heleh, kok mainnya dukun sih bang /Facepalm//Facepalm/
MULIANA 💦
tapi sayang, kamu cari muka dengan orang yang salah 🤭
〈⎳ FT. Zira
jangan menyesal loh ya Xena🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
berpikirkan mak...🤧🤧 masih nanya🤧🤧
〈⎳ FT. Zira: astaga... typo... berpikirlah maksudnya
total 1 replies
sunaryati jarum
Bener tebakan emak, semoga proses cerai langsung putus.Setelah masa Iddah habis langsung nikah
sunaryati jarum
Dokter Ibra,ya
sunaryati jarum
Baru ditinggal Xena beberapa hari di rumah Rayhan kacau keadaan rumah dan keuangan.Bu Mirna langsung merasa kecewa
Teteh Lia
mulai kelihatan perbandingan na
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
PD amat
Zenun: ehehehe
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
nama Grup nya kayak nama bus lintas sumut-jakarta, ALS
Zenun: oh iya kah😁
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesama makhluk menjijikkan ga usah saling ngatainlah
〈⎳ FT. Zira
tamparan keras buat ibu mertua kalo suara hati Nadine terdengar
Zenun: lama-lama kedengeran juga
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
astaga Reyy...pikiranmu ini perlu di reset kyknya
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
sunaryati jarum
Yang minum benda pelet dari dukun Nadine,dia jadi gila karena makin terpesona dengan Reyhan.🤣🤣🤣
Zenun: ehehehe iya ya
total 1 replies
MULIANA 💦
eh, sampai kayak gini
Zenun: ya begitulah
total 1 replies
MULIANA 💦
dan aksara juga bukan anak nadine. pantas bisa haheho ketika masih hitungan hari nifas /Facepalm/
MULIANA 💦
maksudnya? sama-sama mandul? 🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!