NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Satu Kamar Tidur, Dua Ego

Malam telah larut saat mobil SUV hitam Riko memasuki pelataran rumah mewah Rani. Kediaman yang biasanya sunyi itu malam ini terasa memiliki atmosfer yang berbeda. Di dalam tas kerja Riko, draf kontrak taktis dengan Rani Group dan laporan lonjakan saham telah tersimpan rapi. Kemenangan di lokasi proyek atas Hendra siang tadi harusnya membawa ketenangan, namun laporan dari tim intelijen internal Rani Group sore harinya justru memicu alarm darurat baru.

Orang-orang Paman Broto mulai mempertanyakan kenapa lampu di kamar tamu rumah Rani selalu menyala hingga larut malam, sementara kamar utama Rani berada di sayap yang berbeda. Hendra juga mulai menyewa jurnalis gosip untuk mengorek kehidupan domestik mereka.

Satu-satunya solusi logis untuk menjaga fasad pernikahan ini di mata publik dan media adalah: Riko harus pindah ke kamar tidur utama Rani. Malam ini juga.

Rani berdiri di tengah kamar tidurnya yang luas, melipat tangannya di dada. Kamar itu didominasi warna putih, abu-abu modern, dan lantai marmer yang dilapisi karpet bulu tebal. Sebuah ranjang berukuran King Size dengan seprai sutra abu-abu gelap menjadi pusat ruangan. Di sudut dekat jendela besar, dua buah koper besar milik Riko sudah berdiri tegak.

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Riko melangkah keluar hanya dengan mengenakan celana tidur panjang hitam dan kaos oblong putih yang pas di badan, memperlihatkan siluet bahunya yang lebar. Rambutnya yang setengah basah sehabis mandi membuat penampilannya malam itu terlihat beberapa tahun lebih muda, sekaligus memancarkan daya tarik maskulin yang mentah.

Rani berdeham, mencoba mengalihkan pandangannya dari dada bidang Riko. "Koper-kopermu sudah dipindahkan oleh pelayan. Setengah bagian lemari pakaian di sebelah kiri sudah dikosongkan untuk barang-barangmu."

Riko berjalan mendekati lemari, membukanya, dan mulai menggantung beberapa kemejanya dengan gerakan yang tenang. "Terima kasih atas kemurahan hatinya, Ibu CEO. Aku tidak menyangka akan mencicipi kamar utama ini lebih cepat dari perkiraan kontrak."

"Jangan salah paham, Riko," potong Rani cepat, suaranya sengaja dibuat sedingin mungkin untuk menutupi detak jantungnya yang mulai berulah sejak pria itu masuk. "Ini murni karena keadaan. Mata-mata Hendra dan Paman Broto bisa ada di mana saja, termasuk menyuap orang luar yang mengawasi rumah ini. Kita tidak boleh membiarkan satu pun detail kecil merusak apa yang sudah kita bangun siang tadi."

Riko selesai menata pakaiannya, lalu membalikkan tubuh badannya. Dia berjalan perlahan menuju ranjang besar di tengah ruangan, menatap Rani dengan binar mata elangnya yang berkilat jenaka. "Aku tahu, Rani. Aku sangat paham ini bagian dari bisnis. Tapi pertanyaannya... bagaimana kita membagi wilayah di atas ranjang ini?"

Rani berjalan mendekati sisi kanan ranjang, mengambil sebuah bantal guling besar, lalu meletakkannya tepat di tengah-tengah kasur, membelah ranjang mewah itu menjadi dua bagian yang sama rata.

"Aturan mainnya sederhana," ujar Rani tegas, menunjuk bantal guling tersebut dengan jarinya yang lentik. "Ini adalah garis perbatasan internasional. Sisi kanan adalah wilayah kekuasaanku, sisi kiri adalah wilayahmu. Siapa pun yang melewati guling ini tanpa izin, dianggap melakukan pelanggaran kontrak dan agresi militer. Paham?"

Riko menatap bantal guling pembatas itu sejenak, lalu tawa rendah baritonnya kembali pecah, menggema di dalam kamar yang sepi. Dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah defensif Rani yang menurutnya justru terlihat sangat menggemaskan untuk ukuran seorang wanita yang biasa membantai lawan bisnisnya di papan saham.

"Agresi militer?" Riko mengulang kalimat Rani dengan nada geli. Dia duduk di tepi kasur sebelah kiri, merasakan keempukan kasur sutra tersebut. "Baiklah, Ibu Panglima. Aku akan menghormati kedaulatan wilayahmu. Gengsiku terlalu tinggi untuk menjadi penyusup di malam hari."

Rani menghela napas lega, meskipun ada bagian kecil dari monolog batinnya yang egois merasa sedikit... kecewa dengan jawaban Riko yang begitu patuh. Rani mematikan lampu utama ruangan, menyisakan dua lampu tidur di nakas samping kasur yang memancarkan pendaran cahaya kuning temaram yang hangat dan romantis.

Rani merebahkan tubuhnya di sisi kanan kasur, menarik selimut tebal hingga sebatas dadanya. Di sisi lain, Riko juga ikut berbaring, memunggungi Rani dengan tangan yang menyangga kepalanya.

Hening segera menyergap. Suasana kamar tidur yang sunyi membuat setiap suara sekecil apa pun terdengar begitu jelas. Rani bisa mendengar dengan sangat nyata suara helaan napas Riko yang teratur di balik pembatas guling. Kehadiran pria itu di dalam ruangan pribadinya memicu ketegangan emosional yang jauh lebih intens daripada saat mereka lembur di kantor semalam.

Monolog batin Rani bergejolak hebat. Di satu sisi, ego Alpha Woman-nya menolak untuk terlihat lemah atau terpengaruh. Namun di sisi lain, ingatan tentang pelukan hangat Riko di subuh buta dan bagaimana pria itu menarik pinggangnya dengan posesif di depan Hendra tadi siang terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa aman yang ditawarkan oleh punggung tegap di sebelahnya itu perlahan mulai menggerus sisa-sisa dinding es di hatinya.

"Rani," suara berat Riko tiba-tiba memecah kesunyian malam, terdengar lirih namun sarat akan emosi.

"Hmm?" Rani menjawab tanpa membalikkan badannya.

"Tentang apa yang kukatakan pada Hendra siang tadi di proyek..." Riko menjeda kalimatnya sejenak, mengubah posisi tidurnya menjadi telentang, menatap langit-langit kamar yang samar. "Aku serius tentang bagian di mana aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Pernikahan ini mungkin berawal dari selembar kertas kontrak, tapi tanggung jawabku untuk melindungimu sebagai seorang pria adalah nyata."

Dada Rani berdesir hebat mendengar pengakuan jujur itu. Setitik kehangatan yang asing menjalar ke seluruh tubuhnya, meruntuhkan keangkuhannya dalam sekejap. Dia membalikkan badannya menghadap ke arah guling pembatas, menatap profil samping wajah Riko yang tersorot lampu tidur temaram.

"Kenapa kamu begitu gigih melindungiku, Riko?" bisik Rani lembut, suaranya nyaris tenggelam dalam kesunyian malam. "Dulu... kita adalah rival yang saling menjatuhkan di setiap tender. Kamu harusnya senang melihatku kesulitan."

Riko menolehkan kepalanya ke kanan, membuat mata elangnya kini mengunci langsung ke dalam manik mata Rani yang indah di atas pembatas guling. Jarak wajah mereka kini hanya terpisah oleh jarak beberapa puluh sentimeter.

"Karena aku baru menyadari, Rani..." Riko berbisik dalam, suaranya begitu rendah dan menghanyutkan. "Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada kalah dalam persaingan bisnis dengarmu... adalah melihatmu kehilangan senyuman dan ketegasanmu karena ulah bajingan seperti mereka. Aku menyukai rivalitasku denganmu karena kamu kuat. Dan aku ingin memastikan kamu tetap menjadi wanita terkuat itu, bersamaku."

Mendengar kalimat itu, pertahanan Rani runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi CEO dingin yang ditakuti di dunia korporasi; yang ada hanyalah seorang wanita yang hatinya telah disentuh secara mendalam oleh ketulusan seorang pria. Tanpa sadar, tangan kanan Rani yang berada di atas kasur bergerak perlahan, melewati batas guling pembatas, dan berhenti tepat di dekat lengan Riko.

Melihat pergerakan tangan Rani, Riko tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangannya, menangkap jemari lentik Rani, lalu menggenggamnya dengan erat di atas kasur, mengunci jemari mereka dalam sebuah tautan yang hangat dan protektif.

"Kamu baru saja melakukan pelanggaran batas wilayah, Ibu Rani," goda Riko lirih, namun genggaman tangannya sama sekali tidak mengendur sedikit pun.

Rani tidak menarik tangannya. Dia justru membalas genggaman tangan Riko, merasakan kehangatan yang menjalar yang membuat seluruh kecemasannya tentang masa depan dan ancaman Hendra menguap seketika. "Anggap saja ini... gencatan senjata untuk malam ini, Riko."

Riko terkekeh rendah, mengetatkan tautan jemari mereka. Di bawah temaram lampu kamar utama yang sakral itu, di atas ranjang yang kini tak lagi terasa luas karena jarak hati mereka yang telah mengikis habis, sang elang dan sang Alpha Woman akhirnya tertidur dalam keheningan yang damai, saling menggenggam tangan melewati batas ego dan kontrak yang mereka buat sendiri. Mereka tidak tahu bahwa di luar sana, badai besar sedang dipersiapkan oleh Hendra, namun malam ini, di dalam kamar itu, mereka tahu mereka memiliki satu sama lain untuk dihadapi bersama.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!