Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sementara itu, di kediaman Mama di Yogyakarta, suasana terasa begitu pilu.
Devan menangis sesenggukan mencari Amira. Air mata membasahi pipi gembilnya yang memerah, dan kedua tangan kecilnya terus mengucek mata, menolak untuk ditenangkan.
"Papa, di mana Mama? Devan mau Mama..." tangis bocah kecil itu pecah, suaranya serak karena sudah terlalu lama menangis.
Di usianya yang masih sangat belia, Devan tidak pernah terpisah lama dari Amira, dan insting seorang anak kecil seolah tahu bahwa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada ibunya.
Ferdinand langsung berlutut di hadapan Devan, mendekap tubuh mungil itu dengan erat ke dalam dadanya.
Jantung Ferdinand berdegup kencang, menahan badai kecemasan yang berkecamuk di dalam dirinya.
"Mama sedang ada urusan sebentar, Jagoan. Devan sama Papa dulu, ya? Papa janji akan bawa Mama pulang secepatnya," bisik Ferdinand dengan suara yang bergetar, mencoba sekuat tenaga untuk terdengar tegap di depan putranya.
Mama Amira yang menenangkan cucunya ikut mengusap punggung Devan dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
"Iya, Sayang. Devan anak pintar, anak saleh, jangan menangis lagi ya? Oma buatkan susu hangat untuk Devan," ucap Mama dengan suara parau, menyembunyikan kepanikan luar biasa yang menjalar di dadanya. Mama tahu betul siapa yang kemungkinan besar berada di balik hilangnya Amira, dan ketakutan itu membuat tubuhnya ikut gemetar.
Di luar rumah, ketegangan tidak kalah mencekam.
Anak buah Ferdinand masih mencari keberadaan Amira dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang mereka miliki di Yogyakarta. Telepon Ferdinand terus-menerus berdering, menerima laporan dari berbagai titik.
"Bagaimana?! Apa sudah ada titik terang dari pelat nomor mobil di sekitar galeri?" tanya Ferdinand setengah berteriak melalui sambungan telepon, setelah memastikan Devan berada di dalam kamar bersama Mamanya.
"Kami sedang melacak manifes kamera pengawas jalanan, Pak. Mobil yang diduga membawa Nyonya Amira bergerak ke arah kawasan hotel terpencil di pinggiran kota. Kami sedang mempersempit radius pencarian," lapor kepala keamanannya di ujung telepon.
Ferdinand mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di tangannya menonjol tajam. Sorot matanya yang biasanya hangat kini berubah menjadi sedingin es.
"Temukan lokasinya dalam tiga puluh menit. Jika kalian gagal, aku sendiri yang akan meratakan tempat itu."
Daniel mengikat tangan dan kaki Amira di atas tempat tidur agar tidak kabur.
Kain sutra lembut namun kuat dililitkan pada pergelangan tangan dan kaki Amira, menambatnya pada tiang-tiang ranjang mewah tersebut.
Daniel menatap wajah pucat Amira yang masih tak sadarkan diri akibat efek bius untuk beberapa saat, memastikan ikatannya cukup aman agar wanita itu tidak bisa meloloskan diri lagi ketika terbangun nanti.
Setelah memastikan semuanya aman, ia keluar lalu meminta anak buahnya untuk mengawasi Amira.
"Jaga kamar ini. Jangan biarkan siapa pun masuk, dan pastikan dia tidak terluka. Jika dia terbangun dan mencoba berteriak, kalian tahu apa yang harus dilakukan. Aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun," perintah Daniel dengan suara dingin kepada dua pria berbadan tegap yang berjaga di depan pintu.
"Baik, Tuan," jawab anak buahnya serempak sembari membungkuk hormat.
Daniel melangkah cepat menyusuri lorong persembunyian.
Ia menuju ke bandara untuk menjemput Felia agar bertemu dengan Amira.
Di dalam benak Daniel, mempertemukan Amira dengan Felia adalah cara terbaik untuk menyadarkan wanita itu dari "kekhilafannya".
Ia ingin Amira melihat sendiri dampak dari kehancuran yang ditinggalkannya dua tahun lalu.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, pikiran Daniel melayang pada kondisi putri kecilnya.
Sejak kepergian Amira, Felia kembali seperti dulu yang hanya diam di atas tempat tidur sambil melukis, seperti Amira yang belum mengajari Felia.
Kondisi psikologis Felia merosot tajam semenjak Amira menghilang dari rumah.
Kamar tidur Felia kini kembali dipenuhi oleh coretan-coretan kanvas yang muram.
Bocah perempuan itu menolak berbicara dengan siapa pun, bahkan dengan Daniel sendiri. Kehangatan dan kemajuan yang sempat Amira tanamkan pada jiwa Felia seolah menguap, menyisakan kekosongan yang amat dalam.
Felia hanya mau duduk diam di atas kasurnya sepanjang hari, menggerakkan kuas dengan tatapan kosong, mencoba meniru bayangan ibu sambung yang sangat dirindukannya.
Daniel mencengkeram kemudi mobilnya dengan erat, mengingat tatapan kosong putrinya di Jakarta.
"Kamu harus bertanggung jawab atas kondisi Felia, Amira," bisik Daniel penuh penekanan di dalam pesawat.
"Aku tidak peduli jika kamu membenciku, tapi kamu tidak berhak menghancurkan masa depan putriku demi hidup bahagia bersama lelaki lain."
Daniel tiba di Jakarta dan langsung menuju kamar Felia.
Pintu kayu bercat putih itu didorongnya pelan, memunculkan sebuah kontras yang menyakitkan bagi hati seorang ayah.
Felia tidak merespons kedatangan ayahnya, tubuhnya kurus, dan ia hanya memeluk kuas lukisnya dengan tatapan kosong menghadap ke arah kanvas yang penuh coretan abstrak kelam.
Daniel membopong putri kecilnya yang hanya diam saja seperti boneka bernyawa.
Berat tubuh Felia yang menyusut drastis membuat dada Daniel berdenyut perih. Rasa sakit melihat kondisi Felia mengubah sisa rasa bersalah Daniel menjadi amarah murni kepada Amira.
Baginya, Amira adalah penyebab utama dari tatapan mati di mata putrinya saat ini.
Daniel membawa Felia masuk ke dalam pesawat, kembali ke tempat di mana Amira ia sekap di Yogyakarta.
Melalui jalur udara yang sunyi di sepertiga malam, Daniel berbisik pada Felia, "Kita akan menemui Mamamu, Sayang." Mendengar kata 'Mama', jemari kecil Felia bergerak samar, mengeratkan pelukannya pada kuas lukis di dadanya.
Di sudut lain kota Yogyakarta, Ferdinand memimpin langsung pencarian.
Di dalam mobil, Devan sudah tertidur karena kelelahan menangis, dijaga oleh Oma di rumah. Ferdinand tidak bisa lagi duduk diam di balik meja kerjanya sementara belahan jiwanya entah berada di mana.
Ponsel di dasbor mobilnya bergetar, menampilkan panggilan dari tim IT-nya.
"Anak buah Ferdinand berhasil meretas CCTV jalanan di sekitar galeri dan menemukan pelat nomor mobil anak buah Daniel."
"Tapi ada masalah, Pak," suara di seberang telepon terdengar panik.
"Daniel menggunakan beberapa mobil pengecoh untuk membingungkan pelacakan kita. Tiga mobil dengan tipe dan nomor pelat tiruan bergerak ke arah yang saling berlawanan."
Ferdinand memukul setir mobilnya dengan keras. Namun, rahangnya mengeras.
Sebagai pria yang memiliki jaringan luas, ia menolak untuk menyerah.
Ferdinand harus mengandalkan insting dan koneksi bisnisnya untuk mempersempit lokasi ke sebuah vila/hotel privat di daerah Kaliurang yang sepi.
Berdasarkan informasi dari salah satu rekan bisnis propertinya, Daniel baru saja menyewa sebuah vila eksklusif dengan penjagaan super ketat di lereng Gunung Merapi tersebut.
"Kita ke Kaliurang, sekarang!" perintah Ferdinand pada iring-iringan mobil anak buahnya di belakang melalui handy talky.
Sambil mengendalikan kemudi dengan kecepatan tinggi membelah jalanan menanjak yang berkabut, Ferdinand memeriksa senjatanya dan bersiap melakukan konfrontasi fisik.
Kilatan matanya memancarkan kesiapan untuk mempertaruhkan nyawa.
"Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuhmu lagi, Amira," desis Ferdinand tajam, membelah keheningan malam Kaliurang yang dingin mencekam.
Amira perlahan sadar dari efek bius kedua yang membuatnya mual hebat.
Rasa pusing yang luar biasa menghantam dinding kepalanya, sementara tenggorokannya terasa sekering padang pasir.
Setiap kali ia mencoba menarik napas, aroma kimia dari obat bius itu seolah kembali mengaduk-aduk isi perutnya, memaksanya untuk menelan ludah berkali-kali demi menahan rasa mual yang mendesak keluar.
Ketakutan memuncak saat Amira sadar dan melihat tangan serta kakinya terikat kuat di tiang tempat tidur menggunakan kain sutra.
Kedua pergelangan tangannya ditarik ke atas, ditambat kencang pada pilar ranjang kayu yang kokoh, begitupun dengan kedua kakinya.
Sentuhan kain sutra yang dingin itu justru terasa seperti jerat kematian yang mengunci seluruh pergerakannya.
Kamar yang temaram itu seketika berubah menjadi penjara paling mengerikan dalam hidupnya.
"Tidak... tidak boleh seperti ini! Aku harus keluar dari sini! Devan membutuhkan aku. Bagaimana kalau dia terbangun tengah malam dan menangis mencariku? Ferdinand... tolong aku..."
Isak tangis Amira tertahan di tenggorokan saat bayangan Daniel melintas di benaknya.
"Jika Daniel kembali dengan Felia, kebohonganku tentang Devan bisa terbongkar, atau Devan akan direbut! Aku tahu sifat Mas Daniel, kalau dia tahu Devan adalah darah dagingnya, dia tidak akan segan-segan menjauhkan anakku dariku untuk selamanya. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi!"
Ketakutan akan kehilangan Devan memberikan lonjakan adrenalin yang luar biasa ke dalam tubuh Amira yang lemas.
Amira mencoba menggeser tubuhnya, mengabaikan rasa perih di pergelangan tangan dan kakinya yang mulai berdarah karena gesekan kain.
Setiap tarikan paksa yang ia lakukan membuat kain sutra itu semakin mengikat kulitnya dengan kejam, meninggalkan lecet merah yang perlahan meneteskan darah segar, menodai seprai putih di bawahnya.
Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa takut kehilangan putrinya.
Dengan napas yang terengah-engah dan air mata yang terus mengalir, ia memutar tubuhnya sekuat tenaga ke arah kanan.
Ia mencoba menjangkau benda tajam di sekitar tempat tidur (seperti pecahan gelas atau hiasan nakas) untuk memotong ikatan sebelum Daniel kembali.
Mata Amira menyusuri permukaan meja nakas di samping tempat tidur.
Di sana, terletak sebuah lampu tidur dengan hiasan keramik berujung runcing di bagian atasnya.
Jaraknya hanya terpaut beberapa puluh sentimeter dari jangkauan jemari tangannya yang terikat.
Sambil menggigit bibir bawahnya menahan perih yang membakar pergelangan tangannya, Amira meregangkan jari-jarinya sekuat mungkin, mencoba menggeser lampu itu agar jatuh dan pecah, berharap serpihannya bisa ia gunakan untuk membebaskan diri dari belenggu kejam mantan suaminya.
Amira berhasil sedikit melonggarkan ikatan satu tangannya, meskipun kulit pergelangan tangannya harus terkelupas dan bersimbah darah.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat di lorong luar kamar. Jantung Amira serasa berhenti berdetak.
Ia buru-buru menyembunyikan tangannya, berpura-laki masih terikat kuat.
Ceklek.
Pintu kayu besar itu terbuka. Daniel berdiri di ambang pintu, membopong Felia yang menatap kosong ke arah tempat tidur.
Kamar yang tadinya sunyi mendadak diselimuti aura ketegangan yang pekat.
Di saat yang sama, suara deru mobil Ferdinand mulai mendekati gerbang luar kompleks tempat penyekapan tersebut.
Suara decitan ban yang bergesekan keras dengan aspal terdengar samar dari kejauhan, memecah keheningan malam Kaliurang.
Dua kekuatan besar siap bertabrakan. Ferdinand merangsek masuk bersama anak buahnya, melumpuhkan penjagaan di depan dengan kecepatan penuh.
BRAKK!
Pintu kamar itu ditendang kasar dari luar hingga membentur dinding.
Ferdinand berdiri di sana dengan napas memburu dan tatapan mata yang siap membunuh.
"Lepaskan dia, Daniel!!" bentak Ferdinand, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, tangannya langsung bergerak memotong sisa ikatan kain di kaki dan tangan Amira.
Daniel menurunkan Felia perlahan, lalu berdiri tegap menghalangi Ferdinand.
"Jangan mimpi kamu!! Amira masih istriku!!" sahut Daniel dengan urat-urat leher yang menonjol, menolak melepaskan hak yang ia rasa masih miliknya.
Amira yang akhirnya bebas segera bangkit berdiri di belakang Ferdinand.
Dengan tubuh gemetar namun suara yang sarat akan ketegasan, ia menatap lurus ke mata Daniel.
"Mas, kita sudah bercerai saat kamu mengatakan kalau mencintai Selena! Hubungan kita sudah mati sejak dua tahun lalu!"
Mendengar perdebatan hebat dan suara bentakan yang saling bersahutan, tubuh kecil yang sejak tadi diam membeku mendadak tersentak.
Felia membuka matanya lebar-lebar. Tatapan kosongnya perlahan memudar saat menangkap sosok wanita yang selama dua tahun ini selalu hadir dalam mimpi buruk dan kerinduannya.
"Mama...." bisik Felia lirih. Suaranya yang sudah lama hilang kini terdengar kembali, memecah ketegangan di antara ketiga orang dewasa itu.
"Mama.."
Sebelum Daniel sempat mencegahnya, Felia mendorong tubuh Daniel dengan sisa tenaga kecilnya.
Bocah perempuan itu berlari kencang, menghambur ke pelukan Amira.
Amira langsung berlutut, dan memeluk tubuh Felia dengan sangat erat.
Air mata Amira tumpah ruah, merasakan detak jantung putri sambungnya yang begitu kurus.
Ferdinand yang waspada segera menarik lengan Amira lembut, berjaga-jaga jika anak buah Daniel merangsek masuk lagi.
"Ayo Amira, kita pergi dari sini," ucap Ferdinand.
Namun, saat Amira hendak melangkah, jemari kecil Felia mencengkeram erat pakaian Amira. Tangis bocah itu pecah secara histeris.
"Mama jangan tinggal Felia... Jangan pergi lagi, Ma..." tangisnya menjerit, memeluk leher Amira seolah tak mau dilepaskan lagi.
Melihat kondisi psikologis Felia yang begitu hancur dan terguncang, naluri keibuan di dada Amira bergejolak hebat.
Amira yang tidak tega langsung menggendong Felia ke dalam pelukannya, menumpu tubuh kurus anak itu di atas pinggangnya.
Ia menoleh, menatap Daniel dengan tatapan yang tidak lagi penuh ketakutan, melainkan ketegasan seorang ibu.
"Aku akan bawa Felia sampai sembuh, Daniel!" tegas Amira. "Kamu tidak bisa merawatnya dengan dendammu!"
Daniel terpaku, lidahnya mendadak kelu melihat putrinya yang selama ini mengunci diri, kini menangis histeris di pelukan Amira.
Di bawah perlindungan penuh dari Ferdinand dan barisan anak buahnya yang sudah menguasai keadaan, Amira yang menggendong Felia pergi dari tempat itu, melangkah keluar menembus kabut malam Kaliurang, meninggalkan Daniel yang hanya bisa berdiri mematung meratapi egonya yang perlahan runtuh.