NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.32

Ketika harapan perlahan pupus,semesta seakan kehilangan makna.

Hidup yang pernah dipenuhi warna,dengan begitu mudah berubah menjadi kelam, seolah cahaya enggan lagi singgah.

Bukan karena cinta itu tak tulus, melainkan takdir memilih jalan yang berbeda. 

Dan di antara serpihan harapan yang tersisa, aku hanya mampu belajar menerima, bahwa tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki.

Alvaro menggenggam tangan ibunya yang terasa semakin dingin. Jemarinya bergetar, sementara tatapannya tak pernah lepas dari wajah wanita yang telah melahirkannya. Bunyi monitor di ruang perawatan terdengar teratur, tetapi setiap detiknya justru membuat dadanya semakin sesak.

"Jangan banyak bicara, Ma. Kondisi Mama semakin kritis," ucap Alvaro lirih, berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.

Lidya hanya tersenyum tipis. Meski wajahnya pucat dan tubuhnya melemah, sorot matanya masih memancarkan kasih sayang yang sama seperti dulu.

"Maafkan Mama... selama ini belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu."

Alvaro menggeleng cepat.

"Jangan berkata seperti itu. Mama adalah alasan aku tetap bertahan sampai hari ini."

Lidya mengusap punggung tangan putranya dengan tenaga yang tersisa.

"Kamu harus bahagia, Nak. Jangan terus menghukum dirimu sendiri."

Kalimat itu membuat Alvaro terdiam. Beberapa hari terakhir ia banyak merenungkan hidupnya. Ia mulai menerima kenyataan bahwa tidak semua yang dicintai bisa dimiliki. Dengan berat hati, ia mencoba mengikhlaskan Anna, wanita yang pernah mengisi setiap sudut hatinya.

Wanita itu pernah membuat hidupnya penuh warna. Senyumnya mampu menghapus lelah setelah seharian bekerja. Tatapannya selalu menjadi tempat pulang bagi hati Alvaro. Namun, semua itu kini tinggal kenangan yang tak mungkin terulang.

"Aku masih mencintainya, Ma," bisik Alvaro dalam hati.

"Tapi mungkin memang bukan aku yang ditakdirkan menjadi pendampingnya."

Ia menarik napas panjang, mencoba menerima kenyataan yang selama ini terus ia tolak. Mengikhlaskan ternyata jauh lebih menyakitkan daripada memperjuangkan.

Sejak pagi buta Alvaro sudah berada di rumah sakit. Bahkan sebelum matahari benar-benar menampakkan sinarnya, ia telah duduk di samping ranjang ibunya.

Semalaman ia tidak bisa tidur. Bayangan kehilangan terus menghantuinya. Ia takut telepon yang berdering suatu saat nanti membawa kabar yang tak sanggup ia dengar.

Baginya, kehilangan bukanlah hal yang asing.

Ia pernah kehilangan wanita yang paling dicintainya.

Kini, ia takut kehilangan sosok yang selalu menjadi tempatnya pulang.

Dua kehilangan itu terasa seperti badai yang datang bertubi-tubi, menghancurkan benteng pertahanan yang selama ini ia bangun.

Alvaro menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air mata itu jatuh tanpa bisa ia bendung.

"Tuhan... jangan ambil Mama sekarang," lirihnya penuh harap.

"Aku sudah kehilangan Anna. Jangan biarkan aku kehilangan Mama juga."

Sesak memenuhi rongga dadanya.

Dulu ia berpikir bahwa menjadi dokter berarti mampu menyelamatkan siapa pun. Namun, saat orang yang terbaring lemah adalah ibunya sendiri, semua ilmu yang dimilikinya terasa begitu kecil. Ia hanya bisa berharap kepada Tuhan agar diberi satu kesempatan lagi.

"Nak... maukah kamu mengabulkan permintaan Mama?" tanyanya lirih.

Alvaro yang sejak tadi duduk di samping ranjang segera mengangkat kepala. Tatapannya dipenuhi kebingungan.

"Permintaan apa, Ma?"

Lidya menggenggam tangan putranya. Jemarinya dingin, tetapi genggamannya begitu erat, seolah takut kehilangan kesempatan untuk berbicara.

"Mama kasihan sama Elizabets. Sejak kamu pergi, semangat hidupnya ikut hilang. Dia tidak lagi seperti dulu."

Kalimat itu membuat Alvaro membisu. Pandangannya jatuh ke lantai. Tak satu pun kata keluar dari bibirnya.

Lidya menarik napas panjang sebelum kembali berkata, "Menikahlah dengan Elizabets, Nak. Lupakan masa lalumu. Lagipula... Anna juga sudah bahagia dengan pilihannya."

Seakan ada sesuatu yang menghantam dadanya, Alvaro mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Kata-kata ibunya seolah perlahan mengiris luka lama yang belum pernah sembuh.

"Bagaimana mungkin? batinnya.

Ia menggeleng pelan.

"Kenapa...?" suaranya bergetar.

Lidya menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa semua orang menginginkan aku dan Anna berpisah?" lanjut Alvaro.

"Apa yang salah dengan kami, Ma? Apa kami begitu tidak pantas untuk bersama?"

Nada putus asa dalam suaranya membuat Lidya menahan air mata. Selama ini ia tahu, cinta Alvaro kepada Anna bukan sekadar rasa suka. Cinta itu telah menjadi bagian dari hidup putranya.

"Mama tidak pernah membenci Anna," ucap Lidya pelan.

"Justru Mama menyukainya. Mama bahkan pernah berharap kalian berjodoh."

Alvaro perlahan mengangkat wajahnya.

"Tapi kenyataannya berbeda, Nak. Anna sudah bersama pria lain. Mama tidak ingin kamu terus hidup mengejar seseorang yang mungkin tak akan pernah kembali."

Kalimat itu menghancurkan benteng yang selama ini dibangun Alvaro.

Ia memejamkan mata rapat. Rahangnya mengeras, giginya bergemelatuk menahan sesak yang menyerbu dadanya. Napasnya memburu, seolah udara di ruangan itu mendadak menghilang.

Bayangan Anna kembali memenuhi pikirannya.

Senyum wanita itu.

Tatapan hangatnya.

Janji-janji yang pernah mereka ucapkan.

Semuanya kini hanya tinggal kenangan yang terus menghantuinya.

"Kalau benar dia sudah bahagia..." gumam Alvaro lirih.

"Kenapa rasanya sesakit ini?"

Butiran air mata akhirnya jatuh tanpa mampu ia bendung.

Lidya ikut menangis melihat putranya hancur di depan matanya. Sebagai seorang ibu, ia ingin melihat Alvaro kembali tersenyum. Namun, sebagai wanita, ia juga memahami bahwa hati tidak pernah bisa dipaksa mencintai orang lain.

"Aku akan memikirkannya kembali, Ma."

Kalimat itu akhirnya keluar dari bibir Alvaro setelah sekian lama hanya diam. Suaranya pelan, nyaris berbisik, seolah setiap kata yang terucap menguras seluruh tenaga yang ia miliki.

Lidya menatap putranya dengan mata yang berkaca-kaca. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang masih pucat akibat penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

"Terima kasih, Nak," lirihnya.

"Mama tidak ingin memaksamu. Mama hanya ingin melihat kalian berdua bahagia sebelum mata ini benar-benar tertutup."

Alvaro menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Ia tidak sanggup mengatakan bahwa di dalam hatinya masih ada satu nama yang tak pernah tergantikan.

Nama itu masih hidup di setiap detak jantungnya.

Namun, melihat kondisi ibunya yang semakin lemah, ia tak tega menolak permintaan terakhir wanita yang telah melahirkannya.

"Aku hanya ingin Mama cepat sembuh," gumamnya pelan.

Lidya menggenggam tangan putranya erat.

"Mama akan berusaha."

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Hanya suara detak alat monitor yang terdengar, menjadi saksi pergulatan batin seorang anak yang harus memilih antara cinta dan bakti kepada ibunya.

Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar, Denis berdiri mematung.

Sejak beberapa menit lalu ia mendengar seluruh percakapan itu. Tatapannya tajam, tetapi perlahan senyum puas tersungging di bibirnya ketika mendengar jawaban Alvaro.

"Alvaro akan mempertimbangkannya..." gumamnya pelan.

Baginya, kalimat itu sudah lebih dari cukup.

"Itu artinya perlahan dia akan menerima Elizabets."

Senyumnya semakin lebar. Selama lima tahun ia telah menunggu momen ini. Selama itu pula ia berusaha menjaga agar hubungan Alvaro dan Anna benar-benar berakhir.

Kini harapannya seperti berada tepat di depan mata.

"Sedikit lagi," bisiknya penuh keyakinan. "Setelah mereka menikah, semuanya akan selesai."

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!