Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15
Malam yang panjang dan penuh darah itu akhirnya digantikan oleh datangnya fajar. Namun, bagi Ferdi dan Siska, cahaya pagi tidak lagi membawa harapan. Rumah tua itu kini telah dikepung oleh garis polisi berwarna kuning yang kontras. Beberapa mobil polisi dan satu mobil ambulans terparkir di depan pagar, memecah keheningan gang sepi di pinggiran kota.
Warga sekitar gempar. Mereka berkumpul di luar pagar, saling berbisik dengan wajah penuh kengerian setelah mendengar kabar tentang kematian tragis Selfi.
Di dalam ruang tengah, beberapa petugas polisi sibuk memotret dan mengumpulkan bukti. Tim medis perlahan-lahan mengangkat kantong jenazah berisi jasad Mbak Selfi yang sudah kaku untuk dibawa ke rumah sakit guna keperluan otopsi.
Ferdi duduk di kursi teras dengan pakaian yang masih kotor oleh bercak darah kering. Pandangan matanya kosong, menatap lurus ke arah lantai semen pekarangan. Dia seperti boneka hidup yang telah kehilangan jiwanya. Di sampingnya, Siska setia menemani, memegangi lengan kakaknya yang sedingin es.
Seorang pria paruh baya berseragam polisi, Inspektur bagus, berjalan mendekati mereka berdua setelah selesai memeriksa bagian dalam rumah. Dia mengembuskan napas panjang, lalu duduk di hadapan Ferdi.
"Mas Ferdi, saya tahu ini situasi yang sangat berat untuk Anda," kata Inspektur Bagus dengan nada suara yang pelan dan penuh empati. "Namun, saya harus menanyakan beberapa hal terkait kejadian semalam. Dari hasil pemeriksaan awal tim medis, kondisi luka pada tubuh istri Anda... sangat tidak wajar. Seperti diserang oleh binatang buas berkuku tajam."
Ferdi tidak bergeming. Dia bahkan tidak mengedipkan matanya mendengar pertanyaan itu. Pikirannya masih lumpuh akibat kenyataan bahwa anak kandungnya sendiri adalah makhluk yang melakukan perbuatan biadab tersebut.
Siska yang melihat kakaknya tidak mampu berbicara, akhirnya membuka suara. "Pak... semalam ada penyusup yang masuk lewat jendela kamar utama. Kaca jendelanya pecah, Bapak bisa lihat sendiri kan?" Siska terpaksa berbohong. Dia tahu, jika dia menceritakan tentang bayi Doni yang berubah menjadi iblis berkaki bengkok dan memakan jantung ibunya, polisi justru akan menganggap mereka berdua gila dan menuduh mereka sebagai pelaku pembunuhan.
Inspektur Bagus mengangguk pelan sambil mencatat di buku kecilnya. "Benar, jendela kamar utama hancur berantakan. Dan... dari laporan awal Anda tadi subuh, anak bayi Anda yang berumur seratus hari juga hilang dibawa kabur oleh penyusup tersebut?"
"Iya, Pak," jawab Siska dengan suara yang bergetar menahan tangis. "Doni... Doni dibawa pergi ke dalam kegelapan malam lewat jendela itu. Kami tidak sempat mengejarnya."
"Baiklah. Kami akan mengerahkan tim untuk mencari keberadaan anak Anda, sekaligus menyelidiki siapa pelaku yang tega melakukan perbuatan keji ini," ujar Inspektur Bagus tegas. Dia kemudian bangkit berdiri. "Untuk sementara waktu, rumah ini harus dikosongkan demi kepentingan penyelidikan. Anda berdua bisa tinggal di tempat kerabat atau penginapan terlebih dahulu."
Setelah polisi dan ambulans pergi meninggalkan lokasi, suasana di depan rumah kembali sepi. Garis polisi kuning yang melintang di pintu depan seolah-olah menjadi segel dari sebuah tempat terkutuk.
Siska memapah tubuh Ferdi yang lemas menjauh dari pekarangan rumah tersebut. Saat mereka berjalan melewati pagar, mata Siska tanpa sengaja melihat ke arah teras rumah sebelah.
Pak Cahyo sedang berdiri di balik jendela rumahnya. Pria tua itu tidak keluar dari rumah sejak polisi datang. Dari balik kaca jendela yang remang-remang, Pak Cahyo hanya menatap Siska dan Ferdi dengan pandangan yang penuh rasa bersalah dan kesedihan. Dia menganggukkan kepalanya sedikit, seolah-olah ingin mengatakan bahwa perjuangan mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Siska membawa kakaknya menginap di sebuah hotel melati sederhana yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Di dalam kamar hotel yang sunyi, Ferdi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa melepas sepatunya. Dia meringkuk, membelakangi Siska, dan mulai menangis tanpa suara. Bahunya naik turun menahan rasa sesak yang teramat sangat di dadanya.
Siska duduk di kursi dekat meja rias hotel. Dia memandangi luar jendela, melihat jalanan kota yang mulai ramai oleh kendaraan siang itu. Pikirannya berkecamuk. Cerita Pak Cahyo tentang masa lalu rumah itu terus berputar-putar di kepalanya.
Iblis itu sekarang bebas berkeliaran di luar sana, batin Siska dengan rasa cemas yang kian membesar.
Polisi mungkin mengira Doni diculik oleh penjahat atau binatang buas. Namun, Siska dan Ferdi tahu kebenaran yang sesungguhnya. Bayi Doni telah menjelma menjadi makhluk mengerikan yang haus akan darah. Kutukan pesugihan itu tidak berhenti setelah Mbak Selfi meninggal. Kutukan itu justru baru saja terlepas ke dunia nyata.
Siska mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia tahu mereka tidak bisa hanya diam dan meratapi nasib di dalam kamar ini. Cepat atau lambat, makhluk itu pasti akan kembali mencari mereka, karena di dalam tubuh Ferdi dan Siska mengalir darah yang sama dengan Mbak Selfi—darah keturunan yang menjadi incaran utama sang iblis bayi.
Siska menoleh ke arah kakaknya yang masih terisak. "Mas Ferdi..." panggil Siska dengan suara yang lembut namun terdengar penuh tekad. "Kita tidak boleh menyerah. Kita harus mencari cara untuk menemukan Doni... dan menghentikan makhluk itu sebelum dia menyakiti orang lain."
Ferdi tidak menjawab, namun dia berhenti menangis. Di dalam keheningan kamar hotel tersebut, kedua bersaudara itu tahu bahwa hidup mereka yang normal telah berakhir, dan kini mereka harus bersiap menghadapi teror baru yang sedang mengintai dari balik pekatnya kkegelapan kota.
jangan lupa like dan komen ya suy 🤗